Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 85: Peristiwa di Hotel


__ADS_3

"Mas kenapa? " Tanya Layla yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan


hanya memakai selembar handuk.


"Aku tidak sengaja menjatuhnya! "


"Handphone nya rusak? "


"Sepertinya begitu" Sahut Yahya memungut sedikit pecahan casing handphone di lantai.


"Mas.... "


"Hm... " Yahya masih dengan aktivitas nya.


"Aku belum selesai mandi" Lirih Layla manja.


"Aku akan menunggumu! "


"Aku butuh bantuan mas... " Yahya mendongakkan kepalanya.


"Bantu aku menggosok punggung ku di bath-up! " Pinta Layla tanpa rasa canggung. Yahya sontak mematung.


"Mau kan mas? "


"Ha?"


"Bantu aku menggosok punggung ku. Mas mau melakukannya kan? " Tanya Layla mengulang kembali pertanyaannya.


"Eh.. I... Iya... " Yahya mengangguk setelah berpikir sejenak.


"Yeaaayyy, ayo sini mas!" Layla langsung girang. Ia mendekati Yahya dengan sedikit berlari kecil dan mengambil tangan pemuda itu untuk mengikutinya.


***


"Ilyas, seumur hidup aku tidak pernah ke tempat seperti ini!" Ucap seorang pria yang terus menunduk. Gemerlap lampu yang berkelap kelip dan dentuman suara musik membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Raafi, aku pun tak pernah! Maaf aku terpaksa mengajakmu untuk menemaniku! Kalau kau merasa terbebani, aku tidak masalah kalau kau menunggu di lobby hotel" Sahut Ilyas pada teman barunya itu. Bertemu orang Aceh di Jakarta pada Internasional Conference membuatnya seperti bernostalgia. Hanya dalam beberapa bulan mereka langsung bisa akrab.


"Tidak, kita akan keluar bersama-sama saat misimu selesai! " Sahut Raafi menepuk pundak Ilyas. Mereka memutuskan untuk duduk di pojokkan.


"Tunggu aku di sini! Aku akan berkeliling mencari Dara! "


"Aku juga akan memesan minuman non-alkohol untukmu! " Raafi mengangguk.


"Hi... mau berdansa bersama? " Tanya seorang wanita cantik berpakaian minim menghampiri Raafi saat Ilyas sudah melesat pergi.


"Tidak!" Sahut Raafi tegas. Ia kembali memainkan handphone mengabaikan wanita tersebut.


Huh.


Ilyas berkeliling. Matanya berpendar.


Pada sebuah diskotik di sebuah hotel ternama dengan suasana remang-remang, ia memfokuskan penglihatannya.


"Brengsek!! Lepaskan Dara! " Titah Ilyas emosi saat melihat Dara yang menangis dalam pangkuan mantan suaminya. Dua orang gadis mengelilingi pria tersebut memberikan pijatan pada pundak nya.


"Cih! Siapa kau?! " Bentak mantan suami Dara. Para gadis menghentikan aktifitas nya.


"Aku kekasihnya!! Lepaskan dia!! Kau bukan lagi suaminya!!" Ilyas menarik Dara. Pria tersebut terkejut, namun Ilyas tak kalah terkejut saat Dara langsung memilih memeluknya. Tampaknya ia sangat ketakutan.


"Aku akan membawanya pergi bersamaku! Jangan menganggunya lagi! Jika tidak, Kau akan tau akibatnya! " Ancam Ilyas menunjuk mantan suami Dara dengan tangan kirinya. Ia langsung menggiring wanita yang masih menangis tersebut untuk keluar dari ruangan.


"Aku akan mengantarmu pulang" Ucap Ilyas memberikan sapu tangan nya.


"Kau ta... tadi mengatakan a... aku ke.. kasihmu? " Dara mengusap airmatanya. Sesegukan.


"Kau tidak salah paham kan? Aku terpaksa mengatakan hal itu agar urusan dengan mantan suamimu cepat selesai!"


"Dia tidak akan berhenti! Dia akan terus menjahatiku! " Lirih Dara menunduk.

__ADS_1


"Nanti kita akan pikirkan solusi terbaik! Yang penting sekarang kau aman bersamaku! " Sahut Ilyas menenangkan. Ia melajukan mobilnya meninggalkan hotel Ardh. Co.


Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba Ilyas teringat pada Raafi yang masih ia tinggalkan di diskotik pada hotel tersebut. Ilyas bertekad akan menjemputnya kembali setelah urusannya dengan Dara selesai.


***


Layla dan Yahya berdiri saling bertatapan saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi. Bath up sudah terisi penuh. Yahya terus diam terpaku saat Layla menuntun tangannya untuk melepaskan pengait pada handuknya.


"Sebenarnya aku sangat malu melakukan ini, Mas! Tapi demi baktiku padamu! Seorang gadis p*rawan yang belum pernah tersentuh dan disentuh sepertiku membuang semua tabir rasa malu itu! Aku harap kau mau menghargainya" Lirih Layla sendu. Perkataannya membuat Yahya tersentuh. Tangan yang telah berada di atas handuknya beralih ke wajah.


Yahya mengusap-usap pipi merona Layla. Ia kembali mencari g*irah. Kali ini dengan lebih menetralisir perasaan di hatinya. Perang batin ini harus usai. Demikian tekadnya. Yahya menggiring Layla ke samping bath-up. Dengan terus menatap mata Layla, perlahan Yahya menarik turun handuk gadis tersebut ke bawah. Tubuh polos Layla terekspos sempurna.


Deg.


Jiwa Yahya bergemuruh. Tanpa sadar ia memalingkan wajahnya. Yahya gamang. Ia sama sekali tidak bisa melakukan nya.


Memori kebersamaan bersama Iqlima untuk pertama kali kembali terngiang-ngiang. Yahya bisa mengingat dengan jelas bagaimana ia menuntun Iqlima memasuki bath-up yang dipenuhi busa sabun. Bagaimana tangan nakalnya menjelajah setiap inci kulit halus milik wanita tersebut dengan perasaan membuncah-buncah.


Bagaimana ia menginginkan itu semua. Bagaimana Iqlima membuatnya mabuk sampai ia tidak bisa berhenti memikirkan nya. Bagaimana Iqlima membuatnya menggila karena perasaan cinta lalu membuatnya terbakar karena api cemburu juga membuatnya sakit dan terluka karena permintaan yang tidak masuk akal.


"Mas, mas kenapa?? " Layla sedikit mengguncang tubuh Yahya. Pemuda tersebut tersentak. Ia memaksakan diri untuk kembali menatap Layla. Perlahan mata Yahya beralih pada tubuh indah Layla yang sama sekali tidak tampak adanya sedikit pun kecacatan di sana. Yahya terus menatapnya berlama-lama tanpa melakukan apapun. Yahya kesulitan menelan salivanya. Tubuhnya bereaksi. G*irahnya hadir.


"Aku milikmu, Mas! Aku sangat mencintaimu" Layla mend*sah manja. Yahya hanya diam bergeming. Tak sabar, Layla mengambil tangan Yahya, menuntun tangan pemuda tersebut untuk diletakkan ke atas tubuhnya. Yahya menghela nafas. Dengan memejamkan mata, ia menepis tangan Layla. Dengan cepat Yahya mengambil handuk yang tergeletak begitu saja di lantai.


"Maafkan aku Lay..la... Aku tidak bisa meneruskan ini! " Ucap Yahya setelah kembali membalut asal handuk ke tubuh Layla dengan tanpa melihatnya.


"Tapi kenapa mas?! Kenapa?!" Tanya Layla tercengang tak percaya.


"Kali ini g*irahku muncul, tubuhku bereaksi... Tapi itu bukan karena mu! Itu semua karena pikiran dan hatiku memikirkan Iqlima... Aku tidak menginginkan mu, tapi menginginkan nya! Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri atau membohongi mu! Aku tidak ingin mendzalimi mu dengan ketidakmampuan-ku! Sedari awal, ini semua memang merupakan kesalahan! Maafkan aku! Aku benar-benar tidak bisa...! Dan aku.... aku tidak mencintaimu... sama sekali tidak...!!" Ucap Yahya frustasi dengan nada tinggi. Ia keluar dari dalam kamar mandi dan memilih keluar dari kamar hotel setelah mengacak kasar rambutnya dengan meninggalkan Layla yang ternganga. Gadis tersebut benar-benar terguncang. Dengan memakai kembali pakaiannya, Layla mencoba mengejar Yahya.


Mas Yahya... Mas Yahya ku... Mas Yahyaku tidak boleh pergi! Lirih Layla pada dirinya sendiri. Layla benar-benar terkejut sampai ia sudah tidak bisa menangis. Layla berjalan cepat menuju pintu keluar namun handphone Yahya yang tergeletak di lantai mengganggu penglihatan nya. Nama kontak Iqlima istri ku tertera di sana.


"Aaaaargh... Huhu.... aaaaaaaa..... hiks hiks.... " Tangis Layla akhirnya pecah. Ia merasa sangat gagal. Kali ini Yahya benar-benar memperlakukan nya seperti sampah tak bernilai.


Praaankkkk


Layla membuang semua benda yang ada di atas nakas. Ia menggigit-gigiti kuku pendeknya. Dunianya runtuh.


Aaaargh... manusia tidak berguna itu! Aku tidak akan pernah menghubungi nya lagi! Ucap Layla pada dirinya sendiri namun ia terus saja mencari nama kontak yang bisa dihubungi.


"Ya, ada apa? " Tanya orang yang Layla panggil melalui gawainya di seberang.


"Osman, jemput aku... ku mohoon! "


"Aku tengah berada di Bustanul Jannah! Sebentar lagi aku akan menampakkan wujud ku di hadapan Iqlima, ini yang kau inginkan bukan? "


"Kau bisa mengurusnya besok! Sekarang, Aku hanya ingin kau menjemputku! Hiks hiks... " Tangis Layla semakin pecah.


"Kau gila! Aku sudah menyusun rencana dengan matang! "


"Aaaaa aaaa hiks hiks! Kau menjemputku atau tidak, aku akan tetap pergi! Aku akan meminun racun atau menyayat pergelangan tanganku!" Rengek Layla dengan menangis semakin menjadi-jadi.


"Baiklah! Baiklah! Aku akan menjemput mu sekarang! Kirimkan alamatmu! "


Huh. Dasar cengeng! Manja! Semena-mena persis Ayahnya. Gerutu Hilman kesal. Ia memberikan tinju kosong ke udara. Rencana yang telah ia susun rapi harus gagal. Hilman harus menggunakan rencana kedua.


Ting Tong Ting Tong


Bel berbunyi berkali-kali. Layla membuka pintu. Terlihat Hilman yang tampak keren dengan jaket kulitnya.


"Apa-apaan ini? Kau benar-benar akan membuat kamar ini seperti kapal pecah atau berniat bunuh diri?! " Tanya Hilman heran.


"Bawa aku dari sini! Mas Yahya meninggalkanku! Dia lebih memilih Iqlima daripada aku! " Ucap Layla frustasi. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Peristiwa yang baru saja terjadi benar-benar seperti sebuah tamparan hebat baginya.


Yahya sialan! Tampaknya dia harus kuberi pelajaran! 2 tahun, kesempatan yang cukup lama! Setelah ini, aku tidak akan lagi membiarkan mu mendekati Iqlima! Hilman mengepalkan tangannya.


"Ayo keluar dari sini! " Hilman menarik tangan Layla keluar.


"Kita kemana? "

__ADS_1


"Kau lagi sedih kan? Jadi kita harus bersenang-senang!" Ucap Hilman, Layla mengikuti kemana pemuda tersebut melangkah. Apakah Layla sudah menyerah terhadap Yahya dan Iqlima? Sama sekali tidak. Ia hanya butuh suasana baru untuk memperbaiki suasana hatinya dan bersiap-siap untuk rencana berikutnya.


***


Bruuuuuk


Praankkk


Yahya menabrak sebuah mobil yang ada di hadapannya. Mobil tersebut oleng ke kiri dan berhenti setelah menabrak trotoar jalan. Bunyi kaca pecah terdengar.


Hah Hah. Ya Rabb... Apa yang telah kulakukan? Keringat sebesar biji jagung bermunculan dari pelipisnya. Ia tidak punya pilihan selain harus turun menge-cek kondisi orang yang ia tabrak.


Terlihat seorang pengemudi tak bergerak yang tubuhnya menelungkup ke stiur. Pengemudi tersebut membawa dua gadis muda di kursi belakang.


Tok Tok Tok


Brak


Seorang gadis muda keluar dari dalam mobil di ikuti dengan gadis lainnya. Yahya tidak tinggal diam. Ia langsung membuka pintu utama.


"Mas Gibran... Mas! " Panggil gadis tersebut.


"Sebentar, saya periksa! " Ucap Yahya cekatan. Ia melihat wajah yang tidak asing.


"Beliau pingsan! Saya akan panggilkan ambulance! Semoga semua baik-baik saja" Yahya langsung mengambil gawainya. Ia tidak hanya menelpon ambulance namun juga menelepon Rusdi.


"Maafkan kelalaian saya! Apa kalian tidak apa-apa? " Tanya Yahya merasa bersalah. Gadis yang satu mencoba mengoleskan minyak kayu putih ke hidung pria yang bernama Gibran.


"Alhamdulillah kami tidak apa-apa! "


"Saya benar-benar minta maaf dan saya bersedia bertanggung jawab penuh! Kalau boleh tau kalian siapa? Apa kerabat dari pria yang mengemudi?" Gadis yang mengoles minyak kayu putih menoleh.


"Saya Yura, adik nya mas Gibran. Dan ini Hana, calon istri beliau! Anda... mas Yahya yang baru menikah kan? Waktu itu Kami menghadiri pernikahan akbar Anda"


"Pantas saja kalian seperti tidak asing. Kalian anak pak Syarif dari Global Grup ternyata! " Yura mengangguk-angguk. Tampak raut cemas di wajahnya. Hana, calon istrinya sedari tadi sudah menangis tak bersuara.


Setelahnya, tidak ada lagi pembahasan di antara mereka. Yahya mengalihkan kegundahan hatinya sambil terus berdzikir dan beristighfar serta berupaya untuk membuat Gibran siuman.


Aku berdosa. Aku bersalah. Allah menegurku melalui orang lain. Ya Allah, maafkan aku... aku keterlaluan, benar-benar keterlaluan... Lirih hati Yahya. Pikiran nya mengawang pada Layla yang ia tinggalkan sendirian di kamar hotel.


***


"Kenapa membawaku ke tempat seperti ini?" Tanya Layla. Suasana hatinya semakin memburuk.


"Kau harus bersenang-senang! Suara musik dan minuman akan membuatmu membaik" Sahut Hilman.


"Aku tidak pernah minum minuman ber-alkohol! " Ketus Layla.


"Apa kau ingin mencobanya?" Tanya Hilman.


"Alkohol itu haram! " Cebik Layla. Setahun lebih di pesantren sedikit banyak membuat nya menyerap apa yang di ajarkan di sana.


"Baiklah! Biar aku saja! " Ucap Hilman. Ia meminta segelas beer pada bartender. Sembari menunggu, Mata Hilman berpendar. Pupil matanya mengecil ketika melihat seorang pria di sudut ruangan.


Cih. Si belagu itu ternyata di sini! Ku pikir dia cupu, ternyata suhu! Sok alim, ternyata... Cuih! Dia salah satu pemuda yang mengejar-ngejar Iqlima... Hmh... apa dia ke Jakarta untuk kembali mengejarnya? Pikir Hilman ketika melihat Raafi.


"Ini minuman nya tuan! " Bartender menyodorkan gelar Beer. Namun belum sempat ia meminum minuman nya, Layla lebih dulu menyerobot minuman tersebut dan menelannya sampai habis sambil sedikit terbatuk-batuk. Layla tidak suka rasanya yang aneh. Namun ketika mengingat nama Iqlima di layar handphone Yahya, ia benar-benar kehilangan kendali. Hilman tersenyum.


"Mas Yahya... Kenapa kau jahat! Kau laki-laki paling tidak normal yang ada di dunia ini! Kau seorang G*y, mana mungkin ada laki-laki menolak pesona dan keindahan tubuhku... Hiks Hiks" Layla sudah mabuk. Harum alkohol menguar dari mulutnya.


"Kau memang cantik sayang... kau s*xy, kau membuat laki-laki berg*irah" Bisik Hilman.


Kau memang lebih cantik dan menawan dari Iqlima. Tapi aku tidak bisa tergoda. Kalau membanding-bandingkan kecantikan, Mawar dan Melati tidak kalah dari artis ibukota, tapi aku sudah tidak berh*srat untuk bersenang-senang dengan wanita! Fokus utamaku hanya Iqlima... Permata hatiku yang telah kembali setelah sempat menghilang dari genggaman.


"Kau bohong! Kalau Mas Yahya itu laki-laki normal, kenapa ia menolakku?? Hahahahaha... hiks Hiks hiks! Aku harus ke surga untuk bertanya pada Tuhan... Ya, aku akan ke surga... hahahaha" Layla kembali meminum beer yang disodorkan oleh bartender. Hilman membiarkannya. Ia terus memandang Layla. Laki-laki tersebut kembali melirik Raafi.


"Laki-laki itu, dia tau jalan ke surga, dia titisan Yahya!" Ucap Hilman menunjuk Raafi. Layla membesarkan dan mengecilkan matanya. Pandangan gadis tersebut mengabur.


***

__ADS_1


Bab ini panjang banget ya... 2 Bab menjadi 1...Kalau bisa jangan ada part yang di skip yaa mommies... karena setiap peristiwa punya keterikatan satu sama lain... Maciii


🌹🌹🌹


__ADS_2