Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 42: Hukuman Mu Di Mulai Dari Sekarang!


__ADS_3

Ustadzah senior baru akan masuk kelas saat seorang santriwati datang tergopoh-gopoh menghampirinya.


Hh Hh Hh. Santriwati tersebut terengah-engah. Ustadzah senior mengerutkan keningnya.


“A.. Assalamu’alaikum Ustadzah Ayuni, gawat ustadzah... gawat!”


“Wa’alaikumussalam, ada apa?!”


“Asrama tengah gempar! Santriwati baru bernama Iqlima tidak ada di kamarnya. Ia diperkirakan telah menghilang sejak semalam”


“Apa?! Bagaimana bisa?!”


“Saya juga tidak tau, tapi para ustadzah lain juga tengah mencarinya!” Ayuni langsung memutar haluan. Ia tidak jadi masuk ke dalam kelas. Dengan langkah cepat ia menuju asrama santriwati.


Brakkkk


Pintu kamar yang memang sudah terbuka, Ayuni buka dengan lebih lebar.


“Dimana Iqlima?!” Santriwati yang ditanya saling melirik lalu menggeleng.


“ ‘Afwan ustadzah, dari tadi subuh kami tidak melihat Iqlima, namun tas pakaiannya masih ada di sini!” Ucap teman sekamar Iqlima. Ayu masuk memeriksa. Ia melihat barang-barang milik Iqlima tersebut namun tidak ada yang mencurigakan.


“Apa mungkin Iqlima masih di kamar mandi atau makan di kantin?”


“Keberadaannya tidak ada dimana-mana ustadzah! Saya dan teman-teman sudah terlebih dahulu memeriksa di semua tempat!” Ayi, ustadzah pengasuh ikut masuk. Entah mendapat kabar darimana, para santriwati lain juga telah berkumpul di depan kamar Iqlima.


Besar sekali nyali anak baru itu! Dia ga tau apa kalau melanggar bisa dapat hukuman!


Dia seperti nya memang anak nakal yang dimasukkan ke pesantren untuk memperbaiki akhlak! Tidak lihat, belum sehari di sini dia sudah membuat onar dengan mencari masalah pada pengasuh! Santri baru itu harus diberi hukuman biar sadar! Mereka saling berbisik-bisik. Suara sumbang mulai terdengar.


“Apa Iqlima tidak meminta izin ketika keluar kamar?” Tanya Ayuni menyelidik.


“Sama sekali tidak, pasti Iqlima kabur karena takut di sidang. Semalam kan ia mencari masalah dan berbuat jahat pada kami!” Sahut Ayi menunduk berpura-pura sedih.


“Ustadzah Ayuni, apa kita perlu melaporkan hal ini pada Ummi Hajjah?” Tanya ustadzah yang lainnya.


“Tahan, jangan dulu. Jika dalam 12 jam Iqlima tidak kembali, baru kabar ini kita sampaikan pada Ummi Hajjah! Namun jika Iqlima ternyata kembali sebelum 12 jam, maka aku sendiri yang akan memberinya pelajaran!” Sahut Ayuni. Yang lain mengangguk setuju.


Diam-diam Ayi tersenyum. Saat ini, ia adalah orang yang paling bahagia atas kabar menghilangnya Iqlima.


***


Yahya menurunkan Iqlima setelah mereka berhasil melewati tangga besi yang lumayan curam.


Prok Prok


Yahya menepuk tangan. Seketika ruangan menjadi terang. Lampu di ruangan tersebut memakai sensor yang otomatis akan menyala jika mendengar suara nyaring. Tiga daun pintu langsung terlihat di hadapan mereka.


Pikiran Iqlima berkelana kemana-mana. Dugaan akan ditinggal pergi atau akan dihukum dengan dikurung dalam salah satu ruangan tersebut membuat Iqlima tidak melepaskan cengkraman tangannya pada jubah suaminya.

__ADS_1


“Pilih salah satu pintu!” Titah Yahya.


“Ha?” Iqlima menggeleng kuat. Ia benar-benar tidak ingin di kurung.


“Cepat! Hukuman mu tergantung dari pilihanmu! Apa kau mau aku yang memilihkannya?! Aku sudah tau pasti apa saja yang ada di balik pintu-pintu tersebut!” Yahya berbicara serius dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Iqlima.


“Satu… Dua…. Ti…” Yahya mulai menghitung.


“Pintu no. 2!” Sahut Iqlima cepat. Ia meraba jantungnya yang berdetak kuat. Diam-diam Yahya tersenyum. Ia langsung mengambil kunci dari saku celana dan mulai membuka pintunya.


“Pintu pertama adalah jalan menuju sungai yang jernih dengan air terjun yang mengalir. Biasanya kalau penat dengan urusan kampus atau kantor, aku ke sana untuk healing sambil mendengarkan suara air!” Kenang Yahya.


“Memangnya hukuman apa yang cocok untukku kalau bang Yahya membawaku ke sana?” Tanya Iqlima spontan.


“Kutenggelamkan!” Sahut Yahya asal. Iqlima bersusah payah menelan salivanya. Ia benar-benar menyesal telah bertanya.


“Pintu nomor 3 adalah jalan pintas ke pesantren. Melalui pintu tersebut, kau akan langsung tiba di gerbang asrama putri!”


“Kenapa harus di depan asrama putri bukan putra? Pasti bang Yahya mau mencuri-curi kesempatan kan?” Tuding Iqlima.


Pletak*


Aww. Lagi-lagi Yahya menyentil kening Iqlima.


“Pikiranmu harus kusterilkan! Itu Ummi yang merancangnya. Lagipula letak kamarku hanya cocok menuju gerbang santriwati. Kalau asrama putra kan letaknya jauh di gedung seberang!” Terang Yahya. Iqlima bersungut.


Ceklek.


“Abang mau menyuruhku berenang?” Yahya hanya diam tidak menanggapi pertanyaan yang Iqlima lontarkan. Ia melangkah masuk lebih dalam dan membuka pintu berikutnya.


“Masya Allaaaaah… Indah sekali!” Mata Iqlima langsung berbinar-binar. Dari lantai 3 tempatnya berpijak sekarang, ia bisa melihat pemandangan danau dan air terjun yang terpampang nyata di hadapannya. Iqlima dan pemandangan tersebut hanya terpisah oleh sebuah dinding kaca.


“Kau belum mandi dari 2 hari yang lalu kan?” Yahya langsung memicingkan matanya.


“Aku tidak punya baju renang!” Sahut Iqlima mengelak.


“Bodoh! Siapa yang mau mengajakmu berenang?! Kau hanya akan merepotkan ku jika ternyata hanya bisa berenang gaya batu!” Yahya bergerak menghidupkan air untuk mengisi bath-up.


Saat ini, mereka berada dalam kamar mandi dengan peralatan yang lengkap serta suguhan pemandangan yang memanjakan mata.


“Karena tubuhmu kotor dan baunya tidak sedap, jadi kau membutuhkan ini!” Yahya melepaskan jubahnya ke atas dengan menyisakan kaos putih. Ia mulai menaburkan bath-salt, kombinasi garam dan mineral. Tak lupa, Yahya juga menuangkan bubble-bath. Terakhir ia juga meletakkan bath-bomb, sekilas seperti kamper dengan ukuran yang lebih besar. Namun seketika bath-bomb ini melebur dan mengeluarkan semburan berupa busa yang melimpah dan mengeluarkan harum aroma terapi yang menenangkan.


Iqlima dari tadi hanya memperhatikan apa yang Yahya lakukan. Ia tidak menyangka, kamar Yahya memiliki lorong labirin dan menyimpan banyak kejutan.


“Lepaskan pakaianmu!” Titah Yahya tiba-tiba tanpa basa basi.


“Ha?” Iqlima terenyak. Wajahnya berubah pucat. Spontan Ia menyilangkan tangannya ke dada dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Yahya menghentikan aktifitas memperbanyak busa gelembung sabun ketika melihat Iqlima yang tidak juga beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


“A… Aku bisa ma…mandi sendiri! Beneran bisa! Aku ga bohong! Bisa kok!” Ucap Iqlima meyakinkan dengan nada panik.


“Mau kau buka sendiri atau aku yang membukanya?!” Tanya Yahya seduktif. Iqlima ternganga.


“Iqlima Noor Azkiya, Hukumanmu dimulai dari sekarang!” Lanjut Yahya lagi. Ia mulai berjalan mendekati Istrinya.


***


Cahaya matahari yang masuk melalui gorden jendela mengenai wajah Layla. Gadis cantik tersebut terbangun. Matanya berpendar ke sekeliling. Netranya menangkap sosok Razil yang baru keluar dari kamar mandi dengan meminggang handuk.


“Sayang… kau sudah bangun?” Tanya Razil.


“Hm” Sahut Layla menguap dan mengusap


wajahnya. Ia baru ingat kalau kemarin ia meminta izin pada ibu untuk menginap di rumah Mayang, sahabatnya. Razil berjalan mendekat. Pemuda ini langsung mengecup puncak kepala Layla.


“Aku telah menyiapkan sarapan untukmu!” Bisik Razil. Layla menyingkirkan selimut tebalnya. Udara villa di pagi hari terasa begitu dingin. Gadis yang hanya memakai tanktop dan celana pendek ini buru-buru memakai kembali jaketnya. Ia langsung ke wastafel untuk mencuci muka.


“Makanlah!” Titah Razil lagi. Nasi goreng telur mata sapi dan segelas susu hangat terhidang di nakas. Layla mengambil makanannya. Razil langsung memeluknya dari belakang.


“Aku selalu suka dengan harum rambutmu!” Ucap Razil menghirup dalam-dalam aroma rambut Layla. Gadis ini dengan santai meminum susu dan memakan nasinya tanpa berkomentar.


“Lalu… Hmh, Kapan kau akan menyerahkan itu untukku?! Kapan aku bisa mencicipinya? Kita sudah lama berpacaran!” Pertanyaan Razil membuat Layla berhenti mengunyah.


“Sayaaang, Kita belum bertahun-tahun pacaran. Aku butuh pembuktian cinta yang lebih dalam dari mu baru aku akan menyerahkannya !” Layla berbalik arah. Pelukan Razil terlepas.


“Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku, hm?”


“Apa yaaa? " Layla tampak berpikir.


"Mungkin jika kau mau melompat ke jurang yang di bawahnya terdapat banyak binatang buas demi aku! Atau…. Kau mau berdiri di atas rel kereta api, dan ketika Masinis membunyikan klaksonnya, kau dengan gagahnya tetap berada di sana kemudian Wuuuuuuusssss” Sahut Layla merentangkan tangannya. Tenggorokan Razil mendadak tercekat.


“Hahahahaha.." Layla tertawa memegang perutnya melihat wajah tegang Razil.


"Wajahmu berubah menjadi buruk rupa jika begitu, Jangan terlalu tegang! Rileks saja!" Layla menepuk-nepuk pipi Razil.


"Oh iya, Terima kasih untuk hadiah mobilnya sayang! Aku pulaaang dulu, pasti papa mencariku... Muach!” Layla mengecup pipi kiri Razil lalu melesat keluar setelah mengambil barang-barangnya.


Lumayan untuk sekedar bersenang-senang! Gumam Layla berjalan keluar villa dengan melambung-lambungkan kunci mobil barunya.


Drrrrttt Drrrrtttt


Handphone Layla tiba-tiba bergetar. Hajjah Aisyah mengirimkan pesan,


Nak, nanti siang datanglah ke rumah. Ummi memasak special mu dan kau juga harus mencoba makanan favorit Yahya.


Membaca pesan dari calon ibu mertuanya tersebut, Layla bertambah sumringah.


Bang Yahya, See you soooon!

__ADS_1


***


__ADS_2