
Iqlima dan Dokter Jelita masuk bersamaan. Mata mereka terbelalak melihat posisi Yahya yang tampak memeluk Layla dan seperti ingin menciumnya. Jantung Iqlima sendiri seperti hendak melompat dari tempatnya. Pasokan oksigen dalam ruangan serasa berkurang.
“Kalau mau bermesraan, memeluk, atau berciuman kenapa tidak di kamar saja? Jomblo sepertiku mual melihat pemandangan dadakan begini!” Ucapan sarkas Dokter Jelita berhasil mengejutkan Yahya. Ia spontan melepaskan dekapan tangannya di mulut Layla dan berbalik arah.
“Iqlima?” Lirih Yahya melihat Iqlima. Bibir istri pertamanya tersebut bergetar menahan tangis.
“Hmh... Kami memang mau ke kamar!” Yahya mulai memperjelas suara. Ia merapatkan tubuh Layla dan merangkulnya. Tatapannya tidak lepas dari menatap Iqlima.
Iqlima, Ini yang kau harapkan, kan? Yahya berbalik. Masih dengan merangkul Layla, pemuda tersebut mengiring istri keduanya ke arah kamar mereka. Dokter Jelita tersenyum masam tak percaya.
“Gila! Yahya sudah gila!!” Pekik Dokter Jelita berbisik.
Tes. Airmata Iqlima jatuh tak terbendung.
“Ki.. Kita ke kamarku, Dok!” Ajak Iqlima dengan suara parau. Diam-diam ia mengusap air matanya.
Hhhh. Dokter Jelita mendengus.
Yahya mengarahkan kepalanya sedikit ke belakang. Ekor matanya melirik ke ruang tengah. Kosong. Iqlima dan Dokter Jelita sudah tidak berada di sana. Hati Layla terasa begitu sejuk. Bunga-bunga serasa bermekaran. Gadis tersebut semakin merapatkan diri ke tubuh Yahya. Mengeratkannya.
Ceklek.
Mereka mulai memasuki kamar. Harum semerbak wewangian floral masih terasa kuat.
Seet
Dengan satu jari telunjuk, Yahya menjauhkan kepala Layla dari pundaknya.
“Mas??” Layla hendak melayangkan protes.
“Maaf, berat!” Sahut Yahya sekenanya. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Layla yang belum menyelesaikan kalimatnya.
Yahya menyalakan kran shower. Air berjatuhan membasahi kepalanya. Perlahan-lahan air yang jatuh tersebut membasahi seluruh tubuhnya. Membasahi pakaian yang memang tidak berniat untuk ia buka. Yahya memgusap-usap kasar kepalanya. Mengepalkan tangan menepuk-nepuk dinding kamar mandi yang sudah dipenuhi butiran rinai. Ia tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini.
Tok Tok Tok
“Mas, kenapa mandinya lama sekali?" Terdengar Layla memanggil-manggil dari luar. Yahya mematikan kran air.
“Iya, ini sudah selesai” Sahut Yahya. Ia buru-buru memakai handuk setelah selesai melakukan ritual nya dan membuka pintu.
Layla sudah memakai mukenahnya. Gadis tersebut tampak sangat cerah dengan make up yang dipolesnya. Yahya berjalan ke arah lemari dan mengambil salah satu jubahnya.
Layla menatap tubuh Yahya dengan tak berkedip. Berbeda dari Razil ataupun Ridho, abs yang sudah terbentuk matang itu membuatnya terpesona. Binar-binar matanya terlihat jelas. Setelah mengambil pakaian seperlunya, Yahya masuk beranjak ke ruang ganti pakaian.
Huh. Layla mendengus. Ia mengambil kaca kecil yang disembunyikannya dibawah mukenah. Layla memperhatikan polesan make-up nya. Sempurna. Gumamnya tersenyum. Kalau di malam pertama ia memakai lingerie, maka kali ini ia mencoba memakai mukenah untuk menarik perhatian Yahya.
Drrrt Drrrt
Getaran handphone membuyarkan konsentrasinya. Sebuah pesan dari Nilam menghias di sana. Dengan cepat Layla membukanya,
Ning Layla, Ana sudah mengkoordinir akhawat di pesantren untuk melaksanakan rencana kita. Ana tinggal menunggu titah dari Ning Layla untuk melakukan langkah selanjutnya.
__ADS_1
Layla tersenyum penuh arti. Setahun berada di pesantren membuatnya terbiasa dengan istilah-istilah Arab yang digunakan di sana.
Aku akan segera menghubungimu. Hati-hati, jangan sampai pihak Mahkamah mengetahui kau memakai handphone. Kalau ketahuan aku tidak akan bisa menyelamatkanmu. Hapus se...
“Aku ke mesjid dulu!” Ucap Yahya yang muncul secara tiba-tiba.
Prankkk
Terkejut akan suara Yahya, handphone di tangan Layla terjatuh ke lantai.
“I.. Iya mas…” Yahya langsung berlalu pergi tanpa mempedulikan handphone Layla yang layar kacanya pecah terburai di lantai yang dingin.
"Mas.... Mass... Tunggu! " Cegat Layla di depan pintu.
"Aku sudah berwudhu' "
"Tapi Mas tidak akan mengingkari janji mas malam ini, kan?" Tanya Layla penuh harap.
"Aku mengingatnya! " Senyum Layla kembali mengembang. Ia mengangguk dengan penuh semangat.
***
"Ceraikan Iqlima! Biarkan dia ikut tinggal bersamaku!" Pinta Dokter Jelita ketika Yahya keluar dari mesjid. Wanita tersebut sengaja menunggunya.
"Apa Iqlima memintamu menemuiku untuk mengatakan hal ini? "
"Aku sama sekali tidak menemukan kebahagiaan disorot mata Iqlima. Ia menderita. Aku juga tidak melihat kebahagiaan di mata mu! Aku hanya tidak ingin melihat Iqlima terus tersiksa. Pernikahan kalian tidak sehat! Kau harus mengakhirinya, Yahya!" Pinta Dokter Jelita yang frustasi setelah menyaksikan sendiri kesedihan Iqlima. Ia menangkupkan tangannya memohon.
"Menikahi Iqlima, walau pada saat itu dalam keadaan terpaksa, namun sampai detik ini aku tidak pernah menyesalinya" Ucap Yahya sendu. Ia mengenang kebersamaan mereka. Pikiran nya menerawang jauh berkelabat pada kenangan-kenangannya bersama Iqlima. Dokter Jelita terenyak.
"Apa kau mencintai Iqlima? Seberapa berharga Iqlima bagimu? " Pertanyaan dokter Jelita membuat Yahya menoleh. Ia terdiam.
"Kenapa kau tidak menjawabnya?? "
Bagaimana mungkin aku menjawab pertanyaan mu? Sedangkan pada Iqlima saja, aku belum pernah mengutarakan apa yang aku rasakan. Ucap Batin Yahya.
"Aku harus pulang. Layla sudah menantiku! Lagipula tidak baik kita berbicara dalam kegelapan seperti ini. Aku permisi! "
"Tungguuu! " Langkah Yahya terhenti.
"Tadi Iqlima menangis. Aku tidak bisa menenangkannya...." Ucap Dokter Jelita. Yahya mengayunkan langkahnya setelah mendengar kalimat tersebut dengan tanpa menoleh.
Mas tidak akan mengingkari janji mas malam ini, kan? Kata-kata Layla kembali memenuhi kepala Yahya. Janji yang sudah ia buat tidak mungkin untuk ia ingkari. Bagaimanapun Layla adalah istrinya. Wanita yang telah sah ia nikahi baik secara agama maupun negara.
Ah. Iqlima... Aku bahkan belum mendaftarkan pernikahan kami secara negara...
Yahya mempercepat laju langkahnya memasuki rumah. Ia sampai pada persimpangan. Langkahnya terhenti. Yahya menatap kamarnya bersama Layla. Ia hendak kembali masuk ke sana. Namun ekor mata Yahya melirik ke kamar utamanya.
Seketika perkataan dokter Jelita akan bayang-bayang tangisan Iqlima mencegatnya untuk berbalik arah. Yahya tak kuasa menahan langkah kakinya. Dengan langkah gontai ia menuju kamar Iqlima dan mengetuknya.
Ceklek.
__ADS_1
Mata sembab Iqlima terlihat. Melihat Yahya, Iqlima langsung ingin kembali menutup pintu.
"Tunggu" Yahya menahan pintu tersebut dengan tangannya.
"Mengapa kau tidak mengizinkanku masuk?? "
"Sampai seminggu ke depan bang Yahya masih harus membersamai Layla! " Tegas Iqlima dengan suara parau. Ia berkata dengan berbalik arah. Iqlima terlalu malu memperlihatkan wajah muramnya.
"Seminggu bersama Layla, apa itu artinya selama seminggu aku sama sekali tidak boleh mengunjungimu?" Tanya Yahya.
"Bu... Bukan be... Begi... "
"Aku haus, buatkan aku teh tanpa gula! " Titah Yahya menyelonong masuk ke dalam kamar dan mengambil tempat di sofa. Iqlima ternganga. Ia terpaku.
"Kenapa diam? Aku sungguh-sungguh menginginkan nya! "
"I...Iya... " Dengan gerakan cepat Iqlima menyeduhkan teh. Yahya memperhatikan setiap detail gerakan istrinya tersebut. Jari jemari lentik Iqlima yang menyeduh. Gesture tubuhnya yang anggun. Tatapan matanya yang sayu dan penuh kehangatan. Harum alami tubuhnya. Yahya begitu merindukan Iqlima. Sangat rindu.
"Kita minum di rooftop! " Ucap Yahya setelah Iqlima memberikan tehnya. Ia membawa teh tersebut menuju connecting door. Iqlima mengikuti setiap langkah kaki sang suami yang mengarahkannya ke atas atap. Yahya duduk ngasal dengan berselonjor setiba di sana. Cuaca terlihat cerah. Namun sayang, bintang tak menunjukkan batang hidungnya.
"Duduklah di sini! " Titah Yahya menepuk tempat di sebelahnya.
"La.. Layla pasti menunggu abang" Lirih Iqlima berhati-hati.
"Menurutmu apa itu cinta? " Tanya Yahya tiba-tiba tanpa menggubris pernyataan Iqlima.
Deg.
Apa bang Yahya akan mengakui perasaannya pada Layla? Iqlima menunduk sedih. Hati yang terluka bertambah perih. Luka yang sengaja ia ciptakan sendiri.
"Jawablah..."
"Cinta... Hmh..." Iqlima tampak berpikir. Ia bangkit dari duduknya dan menepi ke pagar besi. Melihat-lihat di sana. Merasakan semilir angin yang membuat perasaan nya sedikit membaik.
"Cinta itu pengorbanan..." Sahut Iqlima mengulum senyum ke bawah. Ia menjawab dengan membelakangi Yahya. Untuk sesaat pemuda tersebut terpaku lalu kemudian mengangguk-angguk. Yahya meneguk habis teh tanpa gulanya lalu bangkit berdiri. Ia bergerak menuju Iqlima.
Sreet
Yahya memeluk istrinya dari belakang. Wanita tersebut tersentak karena terkejut. Sontak ia melepaskan pelukan Yahya.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh lagi menyentuhmu? " Tanya Yahya sarkas menahan gemuruh di dadanya. Iqlima menunduk. Bayang-bayang Yahya menyentuh Layla menari-nari di kepala nya. Iqlima tidak ingin membayangkan nya. Namun pikiran tersebut terus saja hinggap. Seperti tadi Yahya terang-terangan dan dengan mesranya merangkul Layla. Berkali-kali Iqlima harus meredam perasaan sakitnya. Apalagi ketika mengingat kenyataan rambut basah Layla, bibirnya yang terluka. Membayangkan itu semua membuat dada Iqlima semakin bergemuruh hebat. Jujur saja Ia masih belum siap untuk kembali disentuh oleh Yahya setelah suaminya tersebut bersenang-senang dengan wanita lain walau pun itu istri sahnya.
"Layla sangat cantik dan menawan. Bang Yahya sangat menyukainya. Kalian pengantin baru yang serasi. Ketika bersamanya, bang Yahya akan melupakan tubuh kurusku... Maka temuilah dia dan dapatkan apa yang bang Yahya mau!" Ucap Iqlima dengan nada tinggi dan tempo yang cepat. Demi apapun, mata hitam Yahya membola sempurna.
"A...apa katamu???" Yahya sangat terkejut. Sesaat Iqlima tersadar akan perkataannya. Ia melihat ke sembarang arah dan tak berani menatap Yahya.
***
Berikan komentar terbaikmu 💕💕💕
#event_8
__ADS_1