
"Kau memang cantik sayang... kau s*xy, kau membuat laki-laki berg*irah" Bisik Hilman.
"Kau bohong! Kalau Mas Yahya itu laki-laki normal, kenapa ia menolakku?? Hahahahaha... hiks hiks hiks! Aku harus ke surga untuk bertanya pada Tuhan... Ya, aku akan ke surga... hahahaha" Layla kembali meminum beer yang disodorkan oleh bartender. Hilman membiarkannya. Ia kembali melirik Raafi.
"Laki-laki itu, dia tau jalan ke surga, dia titisan Yahya!" Ucap Hilman menunjuk Raafi. Layla membesarkan dan mengecilkan matanya. Pandangan gadis tersebut mengabur.
"Bodooh!! Dia bukan Yahya! Mas Yahya ku tampan! Hahahaha" Layla kembali berusaha membesarkan matanya walau harus bersusah payah dengan mengerutkan kening.
Drrrttt Drrrttt
Handphone Hilman bergetar. Seseorang menelfonnya.
“Ya?”
“Tuan, Saya melihat nona Iqlima keluar dari kediamannya!” Lapor seseorang yang diperintahkan mengintai pergerakan Iqlima.
“Apa? Iqlima keluar? Bersama siapa?” Hilman terkejut. Ia sontak berdiri.
“Nona Iqlima berdiri sendirian di teras! Saya belum tau apakah nona Iqlima akan pergi atau hanya ingin menghirup udara segar atau tengah menanti seseorang! Raut wajahnya tampak cemas!”
“Baik! Aku akan ke sana sekarang juga!” Ucap Hilman. Ia melirik Layla yang tidak sadarkan diri.
****! Bagaimana ini?! Hilman tampak berpikir. Orang berlalu lalang silih berganti tanpa mempedulikan keberadaan mereka. Hilman tidak bisa lagi menunggu.
“Jangan kemana-mana! Kalau kau pergi, kau akan merepotkan ku! Aku akan segera kembali!” Ucap Hilman pada Layla. Kemudian ia beranjak pergi. Namun baru beberapa kaki melangkah, Hilman berbalik dan kembali. Dengan cepat ia membuka jaket dan menyelimuti tubuh Layla.
“Aku berjanji akan segera kembali dan menjemputmu!” Lanjut Hilman mengusap kepala gadis tersebut. Kali ini ia benar-benar pergi meninggalkannya sendirian.
Di pojokkan ruangan, Raafi tampak cemas. Pasalnya Ilyas belum juga kembali.
Huft. Kemana d**ia? Raafi memijat pelipisnya. Dentuman suara musik dan para gadis yang berpakaian minim membuatnya merasa tidak nyaman. Sudah hampir dua jam Raafi menunggu. Namun batang hidung Ilyas belum terlihat kembali. Raafi bangkit dari duduknya. Ia merasa harus keluar dari ruangan yang membuat kepalanya sakit tersebut.
Bruuukkkk
Raafi terkejut, seorang gadis remaja yang berjalan sempoyongan menabraknya.
Hoeeekkk
Lalu gadis tersebut memuntahkan isi perutnya ke rompi luar milik Raafi dan ambruk di hadapannya.
Haiiss. Keluh Raafi yang langsung membuka pakaian luarnya. Ia merasa jijik. Raafi menghampiri Bartender dan meminta sebuah plastik kresek. Pemuda tersebut meneruskan kembali niatnya untuk keluar dari sana. Namun melihat gadis yang menabraknya masih menelungkup di lantai dan tidak juga bergerak, Raafi mengurungkan niat. Hatinya merasa iba.
“Nonaa… Nonaa…” Panggil Raafi dengan suara keras namun tak ada sahutan.
“Nonaa… apa nonaa baik-baik saja??” Panggil Raafi lagi. Kali ini ia sedikit mengguncang tubuh gadis tersebut.
“Nona… Bangunlah!”
“Nona…!” Masih tak ada sahutan. Raafi membalikkan tubuhnya. Dalam remang-remang pencahayaan, Raafi sedikit terkejut melihat kecantikan paras yang terpancar dari wajahnya. Pipinya pun merona cerah akibat panasnya suhu tubuh yang berasal dari alkohol.
“Nona.. Nona!” Tak punya pilihan, Raafi menepuk-nepuk pipi gadis tersebut. Ia melihat ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ada kerabat yang mencarinya. Namun nihil. Tiada sesiapapun yang mempedulikan mereka. Hanya ada suara musik, tarian random serta aroma alkohol yang menyengat.
__ADS_1
Raafi akhirnya terpaksa mengangkat gadis tersebut dan menidurkannya di sofa. Raafi mengecek handphonenya berulang kali. Balasan pesan dari Ilyas belum juga terlihat. Ia bingung harus melakukan apa.
Apa aku tinggalkan saja dia di sini? Pikir Raafi menghela nafas.
Tapi.. Kalau ada orang yang berbuat jahat padanya bagaimana? Raafi memijat pelipisnya. Di sela-sela rasa bingung yang mendera, sebuah spotlight menyorot ke arah leher jenjang gadis tersebut. Sebuah benda membuat matanya silau.
Kalung? Raafi mendekatkan tangan mengambil kalung tersebut untuk membaca tulisan yang tertera di sana. Tulisan dengan bentuk Algerian yang diselimuti bulan berkilauan.
Layla? Jadi dia bernama Layla? Raafi mengerutkan kening. Lamunannya terusik saat gadis tersebut mengeliat. Raafi mengambil sapu tangan dari saku celananya dan mengusap mulut Layla yang tampak belepotan kareka bekas muntahan.
“Maaf atas kelancanganku, nona!” Raafi terpaksa mengambil tas slempang yang Layla bawa. Ia mengacak-acak di sana mencari dompet untuk melihat identitas gadis tersebut. Raafi berencana akan mengantarkannya pulang.
Ck. Kosong. Dia hanya membawa lipstick. Bagaimana ini? Aku harus mengantarkannya kemana? Raafi terus berpikir keras. Sementara kepalanya sudah terasa berat. Aroma alkohol yang menyengat semakin membuatnya pusing. Ia kembali melirik ke arah jam tangannya. Sudah pukul 23.50 pm.
Sreeeg.
Tiba-tiba Layla menarik baju kaosnya. Gadis tersebut meremas ujung pakaiannya seolah-olah tak membiarkannya pergi.
“Nona, Aku sudah tidak tahan berada di sini! Maafkan aku, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di tempat seperti ini!” Ucap Raafi mengangkat Layla ala bridal. Ia pun meletakkan Layla ke atas pundaknya.
Aku tidak mungkin membawanya ke Yayasan Ummi Wirda. Akan terlalu beresiko! Beliau dan seluruh penghuni Yayasan akan berpikir yang tidak-tidak! Pikir Raafi ketika ia menuntun Layla keluar.
Aku akan memesankan sebuah kamar untuk nona ini dan menidurkannya di sana! Aku akan menuliskan pesan di kertas lalu pulang!
Ya! Begitu saja! Raafi mengangguk-angguk membenarkan apa yang ia pikirkan.
***
Ini semua adalah konsekuensi yang harus aku terima! Tidak seharusnya aku menangis. Inilah takdirku! Ucap Iqlima pada dirinya sendiri dengan bibir gemetar. Ia menyangkal semua perasaan sakit yang mendera. Namun sayang, tubuhnya malah menghianatinya. Iqlima terus saja menangis.
Sreegg
Hah? Iqlima terkejut. Seseorang menepuk pundaknya.
"Nona, mengapa berada di sini? " Tanya Sri terkejut.
"Aku hanya merasa penat dan ingin menghirup angin segar. Mbak Sri belum tidur? "
"Saya mau ke Bustanul Jannah. Ayo Saya antar ke dalam Nona... " Ajak Sri.
"Mbak...."
"Ya?"
"Sepertinya aku harus menyerah! " Lirih Iqlima sendu.
"Me... Menyerah? " Iqlima mengangguk. Hidungnya memerah berair. Mata nya terlihat begitu sembab. Sri terdiam.
"Aku hanya jadi benalu di sini. Tiada satupun yang menginginkan ku... " Ucap Iqlima hampir tak terdengar. Suara lembutnya diterbangkan oleh angin malam yang berhembus.
"Jangan bicara begitu nona... Ada Gus Yahya, ada saya, juga Abah Zakaria! " Sergah Sri. Ia yang awalnya menginginkan Iqlima melarikan diri jadi berubah haluan. Sri berpikir, Iqlima harus memperjuangkan haknya.
__ADS_1
"Nona, Gus Yahya mencintai Nona... Saya bisa melihat itu dari sorot mata beliau" Lanjut Sri. Iqlima tersenyum pahit.
"Nona harus memperjuangkan hak Nona! Kali ini saya ingin Nona bertahan. Nona lah istri sah Gus Yahya. Nona yang pertama. Bukan siapapun! Kalau pun ada yang harus menyerah, itu bukan Nona! " Ucap Sri memegang tangan Iqlima. Ia seolah membalikkan semua perkataan yang pernah wanita tersebut ucapkan.
"Keberadaan ku hanya sebagai penghambat baginya, Mbak! Aku juga tidak bisa memberikan keturunan. Bang Yahya sudah mendapatkan segalanya dari Layla. Aku dan beliau statusnya hanya menikah siri. Kami menikah juga karena terpaksa dan tidak memiliki ikatan batin maupun emosional" Ucap Iqlima dengan kembali menitikkan air matanya.
"Aku pernah berkata kalau aku akan bertahan selama bang Yahya tidak menceraikan ku. Tapi ternyata, aku merasa aku menjadi manusia paling egois. Aku hanya menjadi penghambat hubungan bang Yahya dan Layla. Hari ini, ketika melihat beliau tersenyum manis merangkulnya dengan begitu mesra, di sini aku tersadar, aku hanyalah sebuah dinding penghalang"
"Tapi Nona.... "
"Bang Yahya bisa mendapatkan keturunan yang jelas dari Layla sebagai istri sahnya di mata agama dan negara. Layla juga menjadi satu-satunya orang yang di perkenalkan sebagai istri sah ke publik. Mereka pasangan yang sempurna dan memang sudah seharusnya begitu. Bang Yahya mempertahankan ku hanya karena keshalihan dan rasa kemanusiaan semata. Kalau begini, aku merasa tak lebih dari sekedar wanita simpanan yang hanya memberatkan kehidupannya! " Tukas Iqlima nelangsa.
"Nonaaaa... " Sri memeluk Iqlima erat-erat. Air matanya jatuh berhamburan.
"Saya mengerti apa yang Nona rasakan... Nona berkorban begitu banyak hal...."
"Bang Yahya tidak salah! Aku tidak mengorbankan apapun. Aku hanya membantu meletakkan semua ke tempatnya semula. Ke tempat yang seharusnya! Pernikahan kami hanyalah sebuah kesalahan " Ucap Iqlima menahan gemuruh yang tak terperi di dadanya. Sri merasa sesak. Perkataan Iqlima mengenai statusnya yang seperti wanita simpanan ada benarnya.
"Maka dari itu, aku akan menyerah demi kebaikan bersama. Kalau tidak begini... aku akan menghancurkan kebahagiaan orang lain... " Iqlima menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas sekelak.
"Juga... Aku akan menghancurkan hatiku sendiri, remuk tak bersisa hingga jadi menjadi abu" Ucap Iqlima penuh penekanan. Sri terenyak.
***
Raafi meletakkan Layla ke atas kasur. Ia sudah membayar kamar khusus untuk Layla tempati. Raafi berharap esok gadis tersebut akan siuman. Raafi pun membuka jaketnya. Ia berencana akan membersihkan sedikit pakaiannya yang tadi terkena imbas muntahan di kamar kecil terlebih dahulu sebelum meninggalkannya.
"Panaasss... Ssss... Panaasss" Lirih Layla yang tiba-tiba meracau. Suara yang terdengar membuat Raafi berbalik. Ia memeriksa suhu AC. Titik terendah. Suhu ruangan sudah sangat dingin.
"Panasss.... Panaaaas" Lanjut Layla lagi mengacak-acak pelan rambutnya. Ia mengeliat.
"Nona... Nona sudah siuman? Nona... " Panggil Raafi. Layla masih tidak sadarkan diri.
"Panaasssss"
Kriik
Layla melepaskan kancing-kancing yang menempel di tubuhnya. Mata Raafi membelalak.
"No... Nona... Ja... Jangan lakukan itu! " Cegah Raafi menahan tangan Layla.
"Mas... Sssss panaaass" Mata yang menutup erat perlahan terbuka. Dalam pandangan buram, Layla bisa melihat seseorang tengah berdiri di hadapannya. Di tengah ketidakberdayaan nya, Layla memberikan senyum sebab alam bawah sadarnya tengah mendeteksi keberadaan Yahya.
"Nona... Nona sudah siuman? " Tanya Raafi saat melihat mata Layla sedikit membuka.
Sreeeggg
Mata Raafi membeliak lebar. Layla bangun dan menarik bajunya dengan kuat hingga mereka jatuh tejerebab ke atas kasur. Layla langsung menempelkan bibir mereka. Raafi hendak menjauhkan tubuhnya. Namun jemari halus Layla menyentuh bagian terlarang miliknya. Gadis tersebut tampak begitu ranum. Mata sayu dan bagian tubuh yang beberapa kancingnya sempat ia buka begitu memanggil-manggil. Bisikan dari alam lain membuat Raafi terlena.
***
Last Call untuk yang belum memberikan nomor handphone pada event kemarin ya~ Ditunggu sampai besok~ Kalau tidak berikan, dianggap hangus ya 😇🤗
__ADS_1
IG: @alana.a**lisha**