Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 30: Beban Mental, Beban Moral!


__ADS_3

“Ceraikan dia!” Titah Hajjah Aisyah ketika mendengar pengakuan Yahya tentang pernikahannya.


“Mi, Istighfar!”


“Bah, gadis itu sudah keterlaluan! Dia menyihir anak kita! Yahya harus di ruqyah!”


“Mi, jangan menyalahkan orang lain! Anak kita yang bersalah!” Haji Zakaria memijat pelipisnya.


“Yahya, ceraikan gadis itu kalau kau memang masih menganggapku sebagai ibumu!” Tidak ada kelembutan seperti biasa dari tutur kata hajjah Aisyah. Beliau benar-benar murka. Yahya hanya bisa menunduk dalam.


“Yahya, coba sampaikan apa yang ingin kamu jelaskan!” Titah Haji Zakaria memberi Yahya kesempatan.


Yahya mulai menceritakan kronologi kejadian dari peng-grebekan hingga menikah di KUA tanpa ia kurangi atau lebihkan.


“Bodoh kamu Yahya! Apa guna nya Ummi menyekolahkan kamu hingga ke luar negeri jika masalah sepele begitu saja kau masih terpedaya! Ummi kecewa!” Hajjah Aisyah tersenyum masam, bagi beliau masalah yang menimpa Yahya benar-benar sepele. Apalagi masalah pernikahan. Bukankah menikah itu adalah hak prerogatif individu?


“Ummi tidak mau mendengar cerita apapun! Ceraikan gadis itu! Nikahi Layla! Ummi tidak menerima gadis manapun sebagai menantu kecuali dari keluarga Pranawa!” Titah Hajjah Aisyah.


“Yahya tidak bisa menceraikan Iqlima, Mi!” Lirih Yahya.


“Kalau begitu kau bunuh saja Ummi-mu ini! Kau tikam dengan belati jauh lebih baik daripada kau sakiti hati ini dengan perbuatanmu!” Hajjah Aisyah meradang. Tak terasa Yahya meneteskan airmatanya. Pemuda ini bangkit, ia langsung memeluk erat ibunya yang memalingkan wajah.


“Ummi, Yahya jauh lebih mencintai Ummi dibandingkan gadis manapun di dunia ini! " Yahya mengecup puncak kepala Hajjah Aisyah.


"Ummi adalah Ibu Yahya. Melalui kedua tangan Ummi, Allah menurunkan kasih sayang-Nya. Yahya tidak berani mengkhianati cinta ini” Yahya benar-benar menangis. Ia merenggangkan pelukannya lalu kemudian berlutut.


“Ummi… Maafkan Yahya, Yahya tidak bisa menceraikan Iqlima. Bukan karena Yahya tidak mencintai Ummi.. Bukan. Bukan itu masalahnya, tapi ada beban mental dan moral di sini!” Yahya menunjuk ke arah jantungnya.


“Abah selalu mengajarkan Yahya bahwa laki-laki sejati adalah ia yang bisa bertanggung-jawab setelah berani mengambil tindakan. Di sini Yahya memang bersalah. Yahya salah. Yahya mengakui kesalahan Yahya! Tapi izinkan Yahya bertanggungjawab dengan kesalahan ini!" Hajjah Aisyah yang murka ikut menangis.


"Ummi, bagaimana mungkin Yahya menceraikan Iqlima begitu saja setelah memintanya pada Allah melalui akad yang sah? Yahya akan dzolim terhadap nya...." Yahya menjeda kalimatnya.


"Dan... Bagaimana mungkin Yahya dzolim terhadap seorang wanita sedangkan ibu Yahya sendiri juga adalah seorang wanita?" Haji Zakaria mengangguk-angguk mendengar penuturan putranya. Beliau ikut menitikkan air mata.


Kamu tidak salah, Nak! Putra Ummi tidak bersalah. Yang bersalah adalah wanita yang tidak tau malu itu! Dia pasti sengaja memanfaatkan ketidakberdayaan mu! Hajjah Aisyah mengepalkan tangannya.


"Bawa istrimu ke sini, Nak! Kenalkan pada Abah dan Ummi!" Titah Haji Zakaria pada akhirnya.

__ADS_1


"Bah!" Hampir saja bola mata Hajjah Aisyah meluncur keluar dari tempatnya.


"Alhamdulillah... Baik Bah, Terima kasih banyak! Dalam waktu dekat Yahya akan menjemput Iqlima! " Yahya bangkit.


"Love You Ummi,,, Bidadari Abah tercantik sejagat raya!" Yahya mengecup pipi Hajjah Aisyah dan dengan cepat bergegas pergi dari ruangan mencekam tersebut sebelum ibunya kembali murka.


***


"Thur, Aku menitip Hilman di sini! " Ucap Ampon Din.


"Bang Din jangan sungkan! Thur sudah terlalu banyak berhutang budi pada bang Din!"


"Ha.. Hahahaa... Kau tau balas budi, Thur! " Puji Ampon Din.


Hilman melihat-lihat seisi rumah. Tampak nyaman. Besar dan mewah dengan design klasik. Sepertinya ia akan betah sambil mencari dimana keberadaan Iqlima.


"Apa Keuchik sering mengunjungi mu, hm? " Ampon Din menyalakan cerutu nya. Thursina menggeleng.


"Pesona ku masih kalah jauh dibanding pesona si Yusra, istri pertamanya! "


"Ha.. Hahahahhaha... kau cantik dan kaya! Seharusnya Kau lebih lihai dari Yusra! "


"Hahahahaha... Si Keuchik memang brengs*k! Lagian apa yang kau liat dari si Keuchik Mahdi itu, hah?!" Umpat Ampon Din.


"Bagaimana pun Bang Mahdi itu cinta pertamaku " Lirih Thursina menunduk.


"Hhhhh kau masih saja cengeng seperti biasa! Thur, tenanglah! Selama masih ada aku, Mahdi akan bertekuk lutut padamu!" Ampon Din mencoba menenangkan.


Hilman masih mengedarkan pandangan ke sekeliling. Netranya menangkap sebuah foto lawas yang ukuran nya tidak terlalu besar namun gambar nya masih jelas terlihat. Seorang gadis muda cantik tengah mengayunkan tongkat golf menyita perhatian nya.


"Bu Thur, ini siapa? " Tanya Hilman penasaran. Wajah orang yang ada di foto sangat tidak asing.


"Itu adalah cucu ke lima dari pemilik rumah ini sebelumnya! Tapi wanita yang ada di foto itu sudah tiada. Cucu keempatnya menjual rumah ini padaku dan lupa mengangkut foto tersebut. Karena aku jarang menempati rumah ini, aku membiarkan foto itu berada di sana!" Terang Thursina. Hilman mengerutkan kening nya. Foto tersebut sangat mirip dengan seseorang yang begitu ingin ia peristri, yaitu Iqlima.


Apa ini hanya kebetulan semata? Atau wanita itu ada hubungan nya dengan Iqlima? Pikir Hilman.


"Sekarang orang yang menjual rumah ini ada dimana, Bu Thur?"

__ADS_1


"Tengah keliling dunia menikmati harta warisan. Sebagai cucu konglomerat, ia tidak perlu memikirkan hidup. Hartanya tidak akan habis walau di makan 7 turunan! " Lanjut Thursina menerangkan.


"Bu Thur, aku ingin menjumpai cucu ke empat pemilik rumah ini! Tolong kenalkan aku dengannya! " Pinta Hilman. Ampon Din mengerutkan keningnya.


***


Iqlima terkejut ketika mendapati Ilyas sudah berada di depan kediamannya dengan se bucket mawar merah dan se bucket coklat Swiss.


"Di rumah lagi tidak ada dokter Jelita. Sebaiknya Ustadz Ilyas pulang saja! " Ucap Iqlima tanpa basa basi.


"Kau mau mengusir ku setelah aku bersusah payah melakukan perjalanan jauh menemuimu? " Tanya Ilyas kecewa.


"Kita makan siang di luar! Di tempat umum!" Lanjut Ilyas lagi. Ia menyodorkan barang bawaannya. Iqlima menggeleng.


Apa aku harus mengaku kalau aku sudah menikah dengan bang Yahya? Iqlima dilema. Sedangkan pernikahan nya memang belum diumumkan ke khalayak ramai.


"Pulanglah! Berikan hadiah-hadiah tersebut pada tunangan ustadz Ilyas! " Iqlima hendak menutup pintunya.


"Iqlima tunggu! Dengarkan aku!" Ilyas menahan daun pintu agar tidak menutup.


"Aku akan memutuskan pertunanganku dengan Rumi! Kami tidak saling mencintai! Jika dilanjutkan, Pernikahan kami hanya akan menimbulkan borok di hati! " Aku Ilyas.


"Lalu? "


"Aku ingin kita menikah, Iqlima! Izinkan aku menebus semua kesalahanku! Aku menyesal.. sangat menyesal! Seumur hidup aku tidak pernah menyesali apapun kecuali ke alpa-ku dalam menilaimu!" Tukas Ilyas. Matanya mengembun. Ia bersungguh-sungguh.


"Aku tersiksa. Rumi juga tersiksa... Aku menunggu persetujuan mu lalu membatalkan pertunangan kami agar aku bisa beralasan dengan jelas pada Abah dan Ummi mengapa sampai memutuskan pertunangan! " Terang Ilyas. Iqlima menggeleng.


"Iqlima, Rumi tidak mencintai ku! Asal kau tau... Rumi mencintai Yahya! Hanya Yahya seorang yang ada di hatinya! " Tambah Ilyas menyakinkan. Iqlima terenyak. Gadis ini terkejut dengan pernyataan yang Ilyas lontarkan.


Rumi cinta bang Yahya? Apa mereka saling mencintai?


Dokter Jelita yang baru pulang dari rumah sakit mendapati Ilyas mengunjungi Iqlima. Diam-diam, wanita yang berprofesi sebagai Psikiater itu mengambil foto mereka yang tengah berbincang di depan pintu. Dokter Jelita Memotret dengan jelas Ilyas berikut hadiah yang pemuda itu bawakan untuk Iqlima. Iseng, ia pun mengirimkan pesan pada Yahya.


Lihat Yahya! Kalau kau menyia-yiakan Iqlima, akan ada banyak pria yang datang untuk berebut mempersuntingnya. Ketik dokter Jelita mengirim pesan ke Yahya di sertai dengan gambar-gambar kebersamaan Ilyas dan Iqlima yang terlihat begitu akrab.


Yahya yang tengah menge-lap dan membersihkan lukisan-lukisan milik Iqlima di gudang terkejut bukan kepalang. Ia langsung mengambil gawainya.

__ADS_1


"Pak Saleh, tolong liat penerbangan ke Kota Medan dengan jadwal terdekat sekarang juga! Pesankan kilat dan antar aku ke bandara!" Titah Yahya. Wajahnya merah padam.


***


__ADS_2