
Iqlima terbangun dan mendapati dirinya sudah berada di atas kasur. Ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal di telapak tangan saat meraba kepalanya yang terasa sakit. Kain kasa yang sudah dirembesi oleh obat merah membalut di sana.
Iqlima bangkit, ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seketika hatinya merasa lega mendapati Yahya yang juga berada di dalam kamar. Pemuda tersebut tertidur di atas sofa yang tidak jauh dari tempat tidur berada.
Iqlima perlahan melangkah mendekati Yahya. Mata beningnya berkaca-kaca. Ia menatap sang suami lekat-lekat. Iqlima berinisiatif untuk duduk di sampingnya.
“Maafkan kesalahanku yang tak termaafkan!” Lirih Iqlima. Air menggenang di sudut matanya.
“Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakiti atau tidak menghargai kedudukan abang sebagai seorang suami… Dan sekarang aku tidak tau harus berbuat apa untuk mengobati luka itu! Maafkan aku!” Tenggorokan Iqlima tercekat. Ia mengulurkan tangan meraba alis tebal Yahya. Jarinya menelusur di sana. Yahya sedikit mengeliat. Iqlima sontak menghentikan aktifitasnya. Ia kembali memandang Yahya lekat-lekat.
“Setidaknya perjuanganku hari ini untuk melihat Bang Yahya tidaklah sia-sia. Walau nanti aku harus menjalani seribu macam hukuman, aku rela. Walau tubuhku remuk dan hancur, aku tidak akan mengeluh! Sungguh!” Ucap Iqlima tersenyum. Perlahan Ia mendekatkan wajahnya. Wajah tersebut semakin lama semakin dekat. Iqlima memejamkan matanya.
Cup.
Iqlima memberanikan diri mengecup bibir Yahya.
Sedetik, dua detik, tiga detik… Hingga sepuluh detik. Iqlima menempelkan bibirnya dengan penuh perasaan di sana.
Klik
Tiba-tiba mata Iqlima terbuka lebar. Seketika ia tersadar dan dengan cepat langsung menjauhkan dirinya. Iqlima bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia meraba bibir merah jambunya. Jantung Iqlima berdegup kencang. Wajahnya bersemu merah.
Apa yang sudah kulakukan? Iqlima menepuk-nepuk pipinya untuk menyatakan bahwa ini semua tidak nyata. Namun sayang, ia memang melakukannya. Iqlima mengetuk kepala merutuki keberaniannya.
Perlahan Iqlima mengintip keluar. Sebentar kemudian ia meraba dadanya merasa lega. Yahya masih tertidur dengan pulas.
Bang Yahya harum sekali... Berada di dekatnya benar-benar membuatku lupa diri. Tuk sejenak Iqlima berpikir, ia melirik pakaian lusuhnya dan mengendus-endus di sana. Iqlima langsung membuka pakaian tersebut dan mulai mencuci menggunakan sabun seadanya.
***
“Ridhoo,, Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan aku!!” Layla meronta-ronta saat Ridho memaksa untuk menjamahnya. Laki-laki ini murka sebab Layla mengatakan bahwa ia akan segera menikah. Tanpa angin dan hujan gadis tersebut memutuskan ikatan tali kasih mereka secara sepihak.
“Aku tidak akan melepaskanmu! Bagaimana mungkin dengan mudahnya kau mengatakan akan meninggalkan ku dan menikah dengan orang lain sedang kita berada dalam sebuah hubungan?! Kau itu milikku!!”
Sreekk
Ridho tidak sengaja merobek pakaian Layla di area pundak hingga menampakkan kulit putihnya. Pemuda tersebut membungkam mulut Layla dengan mulutnya. Berkali-kali ia menyesap di sana. Layla sangat kewalahan. Ia terus meronta saat pemuda tersebut mencoba melepaskan pakaian bawahnya. Ridho Mengunci Layla dengan tangan kekarnya. Ia seperti kehilangan akal sehat.
“Baj*ngan!!! Lepaskan aku!!! Cuiihh!!” Layla meludahi wajah Ridho.
__ADS_1
"Kau pengkhianat!! Aku tidak akan melepaskanmu!!" Sahut Ridho menyapu kasar saliva Layla yang melekat di wajahnya. Dengan brutal ia terus menggagahi Layla hingga gadis tersebut tak berdaya.
Ridho berhasil melepaskan pakaian Layla. Ia hampir menyelesaikan seluruh tahapan ritual. Hanya tersisa satu tahapan lagi. Layla tampak pasrah. Ia sudah tak berdaya untuk melawan. Ridho membuat tubuhnya penuh memar.
"Berhenti sebentar... aku tidak akan melawan lagi! Aku akan menikmatinya! Aku akan membuatmu merasakan surga" Lirih Layla menarik tubuh Ridho, kali ini Layla berinisiatif mencium nya. Gadis tersebut benar-benar lihai. Tak membutuhkan waktu lama, Ridho terlena dengan seluruh perlakuan Layla yang membuatnya serasa di awang-awang. Ridho terlentang menikmati lebih jauh apa yang selanjutnya akan gadis itu lakukan.
Di sela-sela aktifitas, Layla mengambil b*ra yang telah diletakkan ke sembarang arah oleh Ridho.
“So se*xy…” Lirih Ridho berbinar menatap sendu pergerakan gadis yang ada di hadapannya. Ia memegang tangan Layla untuk mengisyaratkan agar meletak kembali dalaman tersebut. Layla tersenyum. Ia kembali memberikan Ridho ciuman maut namun tetap dengan tangan yang terus bekerja. Namun tiba-tiba,
Awww. Ridho memekik kuat. Layla menancapkan kawat tajam (kawat penyangga, terdapat di beberapa jenis pakaian dalam) yang berhasil dilepaskan dari b*ra nya ke tubuh Ridho dengan kuat hingga menembus dagingnya.
Dengan cepat ia bangkit dan menendang alat vital Ridho. Belum sempat pemuda tersebut bernafas lega, Layla kembali menancapkan kawat tajam tersebut ke lengan tangannya berulang kali. Tak menunggu lebih lama, Layla langsung berpakaian dan membuka kunci pintu. Wajah Ridho memerah menahan rasa sakit yang teramat sangat.
“Urusan kita selesai! Rasa sakitmu anggap saja sebagai balasan untuk kenikmatan yang sudah kau nikmati dariku! Aku anggap kita impas! Kau pikir aku akan merelakan kep*raw*nanku begitu saja?! Cuih!! Aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi! Aku akan menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari berandalan bodoh seperti mu!” Ucap Layla yang sedari tadi handphone nya sudah merekam Ridho dengan tanpa busana.
“Kalau kau kembali macam-macam, aku akan menyebarkan video ini dan karir mu akan hancur!” Layla menunjuk handphone dan tersenyum sinis.
Praaankk
Kaca pecah berhamburan. Layla melemparkan sebotol kaca minuman wine ke lantai sebagai tanda bahwa ia tidak main-main dengan perkataannya. Setelah menyelesaikan aksi heroic mengamankan dirinya dari kebrutalan Ridho, Layla langsung melesat pergi.
Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskannya!
***
Yahya membuka mata ketika mendengar suara bising dari dalam kamar mandi.
Prankkk
Yahya mengerutkan kening. Ia mendengar Iqlima memekik ketika sebuah benda yang entah benda apa seperti jatuh ke lantai. Penasaran, Yahya langsung bangkit dan bergegas melihat apa yang terjadi. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, pemuda tersebut langsung membuka pintu.
Ceklek.
Yahya mematung melihat Iqlima memakai sehelai kaos tipis dan rok transparan tengah menguap-uapkan gamisnya menggunakan hairdyer yang di fasilitasi oleh kamar hotel. Ternyata suara yang ditimbulkan oleh pengering rambut yang sudah membangunkannya.
“Ba.. Bang Yahya..” Lirih Iqlima berbinar. Ia sudah tidak mempedulikan tampilannya yang berpakaian minim. Yahya langsung menutup pintu kamar mandi dan kembali ke tempatnya semula. Iqlima tak tinggal diam. Ia meletakkan hairdyer yang tadi sempat terjatuh ke lantai karena ia belum berpengalaman menggunakannya dan bergegas mengekori Yahya.
“Bang Yahya sudah bangun?” Sapa Iqlima memberikan senyum nya.
__ADS_1
“Kau membangunkanku!” Ketus Yahya tanpa menoleh.
“Maaf, aku mencuci bajuku dan bingung bagaimana mengeringkannya!” Lirih Iqlima memilin baju kaosnya. Yahya kembali duduk di sofa dan dengan cuek mengambil salah satu majalah bacaan.
“A.. Aku buru-buru mengeringkan baju karena mau kembali ke pesantren. Malam ini ada pengajian kitab al-Hikam” Lanjut Iqlima melapor. Yahya sama sekali tidak menggubris. Pemuda tersebut membalik-balikkan halaman majalah tampak serius. Iqlima menghembuskan nafasnya ke udara dengan lesu. Ia berniat ke kamar mandi untuk kembali menghidupkan hairdyer.
“Aku tidak suka suara bising!” Tukas Yahya.
Kalau pakaianku tidak kering bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Iqlima tetap kembali ke dalam kamar mandi untuk menge-cek pakaian yang sudah berulang kali ia peras dengan sisa-sisa tenaga seadanya. Namun sepertinya akan sulit jika tidak dibantu dengan alat pengering.
Iqlima kembali ke kamar dengan wajah yang ditekuk. Ia memilih duduk di sofa yang ada di hadapan Yahya dengan menyilangkan kaki dan memainkan handphone. Sebelum nya Iqlima berniat mengambil selimut menutupi tubuhnya. Namun ia urung melakukannya. Yahya juga tidak mempedulikannya. Melirik saja pemuda tersebut enggan. Posisinya masih sangat aman. Setidaknya itulah yang Iqlima rasakan.
Ingin sekali rasanya Iqlima menghubungi dokter Jelita, bercerita untuk mengusir kepenatan. Namun sayang, dokter tersebut sama sekali tidak bisa diganggu karena sedang menjalani karantina medis.
Set Set
Yahya gelisah. Ia duduk dengan tidak tenang. Berulang kali pemuda tersebut mengubah posisi duduknya. Sering kali tanpa dipinta matanya melirik ke arah Iqlima yang tengah sibuk menonton drama. Seketika pikiran liarnya melesat tanpa batas. Yahya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Yahya harus mengecam respon tubuhnya yang tidak bisa diajak berkompromi.
Posisi duduk Iqlima dengan pakaian yang gagal menutupi lekuk tubuhnya dengan baik benar-benar mengundang h*srat hingga ia kesulitan menelan saliva. Entah mengapa, tiba-tiba nafasnya memburu.
Set Set
Iqlima mengganti posisi duduknya. Cahaya yang masuk membuat kaos tipisnya semakin menerawang.
Fokus fokus fokus. Yahya berusaha kembali memusatkan perhatiannya pada majalah otomotif yang berada ditangannya. Namun suasana panas semakin membuatnya merasa gerah dan tidak tenang. Ia memejamkan mata mencoba usaha terakhir untuk menetralisir gejolak dijiwanya.
Hhhhh Yahya mendengus. Dengan membuang nafas ke udara ia meletakkan majalah ke atas sofa dan menutup gorden kamar. Senja hampir berubah malam. Iqlima menatap bingung dengan apa yang Yahya lakukan. Pemuda tersebut melewati saklar lampu begitu saja tanpa menghidupkan nya dan berjalan mendekat. Iqlima mendongak.
“Aku mau menjalankan kewajibanku!” Ucap Yahya dengan nafas memburu. Di tengah temaram cahaya, matanya masih bisa menyusur apa yang terlihat dihadapannya. Iqlima mengerutkan kening sesaat namun setelahnya ia paham apa yang suaminya inginkan. Yahya langsung menarik tubuh langsing Iqlima ke atas kasur dan menarik pita hingga rambut hitamnya tergerai. Pemuda ini seolah lupa bahwa saat ini hatinya masih sangat marah pada Iqlima. Namun Yahya gagal menghentikan gejolak yang sudah berminggu-minggu dipendam dan kini ia mulai melampiaskannya dengan sepenuh keinginan. Hati Iqlima berdebar-debar.
“Bang….” Lirih Iqlima setelah berada dalam kungkungan Yahya.
“Hm…”
“Sekarang Aku harus kembali ke pesantren agar tidak mendapat hukuman…” Bisik Iqlima menyapu wajah Yahya.
“Tidak akan ada hukuman!” Sahut Yahya cepat dengan merasa sedikit kesal karena aktivitas nya terusik. la kembali membungkam mulut Iqlima dengan mulutnya. Tangan nakal Yahya mulai menjelajah apapun yang ingin ia jelajah.
***
__ADS_1
🙏🙏🙏