Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 34: Gerbang Bustanul Jannah


__ADS_3

Iqlima menyeret koper sambil menenteng dua tas bersusah payah. Gadis ini ketinggalan beberapa meter di belakang Yahya yang berjalan santai di depannya. Dua hari lalu, pemuda tersebut mengunjunginya memang tanpa membawa serta apapun.


“Lelet banget! Keong pun bisa menang kalau jalanmu begitu!” Yahya berbalik arah mensedekapkan tangannya.


“Langkah kaki abang terlalu besar. Lagian aku kan punya banyak bawaan!” Iqlima bersungut. Dalam hati Ia berharap sang suami berinisiatif membantunya yang sedang kesulitan membawa banyak barang.


“Salah sendiri! Terlalu merepotkan! Barang-barangmu ditinggalkan saja! Nanti di sana ada mba yang bantu belikan pakaian!” Titah Yahya acuh lalu berbalik dan kembali berjalan santai.


Iqlima berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya. Mana mungkin ia meninggalkan koper dan tas-tasnya. Huh. Iqlima mendengus sebal. Iqlima terus berjalan tergopoh-gopoh hingga netranya menangkap satu sosok yang ia kenal.


“Kak Daraaaa!” Panggil Iqlima melambaikan tangan. Dara menoleh. Panggilan Iqlima membuat langkah Yahya terhenti. Nama yang tidak asing. Dara yang berlawanan arah dari mereka ikut melambaikan tangan melebarkan senyumnya.


Deg.


Ada desiran yang sangat halus terasa. Yahya mematung di tempat. Dara mendekat dengan cepat. Namun langkahnya ikut terhenti ketika menyadari ada Yahya yang tengah menatapnya. Senyum lebar tersebut lenyap seketika.


Yahya? Gumam Dara. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya.


“Kakak dan bang Yahya sudah saling mengenal ya?” Iqlima menyadari kecanggungan mereka.


“Ya. Yahya itu... kekasihku! Em... Mantan kekasih-ku!” Sahut Dara gamblang melirik Yahya yang tersenyum masam.


Mantan kekasih? Hati Iqlima mencelos.


“Kau mau kemana bawa koper besar? Kau juga mengenal Yahya?”


“Aku… Hm…” Iqlima melirik suaminya.


“Dia mau belajar di salah satu pesantren yang ada di Jakarta!” Sahut Yahya cepat. Pemuda ini mengambil kilat tas-tas yang iqlima pegang juga kopernya.


“Aku mau check in ke dalam!” Ucap Yahya pada Iqlima. Pemuda tersebut langsung melesat ke dalam meninggalkan Dara yang matanya terus menatap punggung Yahya sampai menghilang dibalik tembok. Gesture tubuh mereka tidak luput dari penglihatan Iqlima.


“Iqlima, kau dan Yahya ada hubungan apa? Dia tidak mungkin suamimu kan?” Todong Dara.


“Kami….. hmh….”


“Haha pertanyaanku konyol! Mana mungkin dia suamimu! Yahya tidak mungkin menikah secepat itu!” Dara tersenyum menggelengkan kepalanya.


“Kak Dara ke Jakarta dalam rangka apa?”


“Aku menghadiri sidang perceraianku dan suami! Doakan semuanya lancar, ya! Anak manis, Aku ke toilet dulu!” Dara menepuk pundak Iqlima dan langsung melesat. Setengah jalan ia berhenti dan menoleh kebelakang. Dara mengerutkan kening tampak berpikir.


***

__ADS_1


Hilman memasuki rumah elegan bergaya American Classic. Semua tertata rapi sesuai proporsi. Pemuda ini tampak keren dengan rambut yang telah di pangkas dan anting baru yang menempel di daun telinga. Parfum dengan aroma mewah pemberian Melati membuatnya terlihat classy. Melati memperoleh parfum tersebut dari hasil kencan one night stand nya dengan seorang pria asing. Tidak ada rasa cemburu di hati Hilman.


Entah apa yang dipikirkan oleh pria berdarah biru ini, yang jelas seluruh pikirannya hanya di penuhi oleh Iqlima, Iqlima dan Iqlima. Kemarahan, rasa cemburu, cinta yang dalam serta harga diri yang tercoreng membuat keinginannya untuk bisa menemukan Iqlima semakin besar. Ia ingin sekali menumpahkan segala rasa sakit yang mendera jiwa, melampiaskannya pada gadis yang telah membuatnya tergila-gila tersebut.


“Hilman… Duduk-lah!” Suara panggilan membuat konsentrasi Hilman buyar.


“Buleun… Rumah mu sangat indah! Kau sendirian saja di sini?” Puji Hilman menatap ke sekeliling. Tidak butuh waktu lama, ia dan Buleun langsung akrab satu sama lain.


“Ini rumah pemberian kakek buyut untuk Ibu-ku! Tapi sekarang ibu masih berlibur di Australia!”


“Wah. Kakek buyutmu itu pasti orang yang hebat! Bolehkah kalau aku mengetahui beliau itu siapa?”


“Ah, Kau juga hebat Teuku Hilman!” Sahut Buleun cepat.


“Kakek buyutku.. Hmh... Beliau adalah Ampon Polem Pasha. Biasa dipanggil Ampon Lem!”


Apa?? Ampon Polem Pasha?! Hilman terperangah. Gelas yang ada ditangannya ikut bergetar. Ia tau persis siapa orang yang pernah menjabat sebagai Wali Nanggroe tersebut. Benar-benar bukan orang sembarangan. Hilman menutupi keterkejutan nya dengan mengangguk-angguk.


“Aku sangat tertarik. Keluarga mu pasti akan sangat menginspirasi! Bisakah kalau kau menceritakan padaku tentang keluarga mu? Berapa banyak kakek buyutmu memiliki putra putri hingga memiliki keturunan cerdas sepertimu!” Hilman terus memberikan umpan pancingan. Ia menyeruput minuman bersiap mendengar hal hebat lainnya.


“Kakek buyutku hanya memiliki seorang anak tunggal, yaitu kakekku. Kakek memiliki 5 orang anak perempuan. Ibu adalah putri ke 4” Sahut Buleun. Dari tadi kepiawaian Hilman telah membuat gadis ini sudah tersipu. Ia berpikir, pebisnis hebat nan tampan seperti Hilman tertarik pada kehidupan pribadinya. Itu berarti......


"Oh Wow... Okay... Nice!" Sahut Hilman elegan. Hilman bersiap untuk menggali informasi lebih dalam. Namun panggilan telepon dadakan mengalihkan perhatian nya.


Oh Tuhan.. Dia benar-benar menawan!!! Pekik hati Cut Buleun yang sudah tertawan.


"Bagaimana hasilnya?"


"Saya sudah berhasil menemukan alamat kediaman nona Iqlima, Tuan! " Asisten bayaran langsung memberitahukan dengan detail.


Yassss!


"Good! Siapkan tiket untuk-ku ke sana! Aku akan menemuinya sebelum ke Jakarta! " Hilman sumringah.


***


Bandara Soekarno Hatta


Yahya dan Iqlima duduk di sebuah café setelah mendarat. Mereka mengganjal perut ala kadar.


“Kak Dara itu… Benar-benar mantan kekasih Bang Yahya?” Tanya Iqlima sendu. Yahya menghentikan kunyahan makanannya.


“Kami hanya pernah merencanakan untuk menikah! Itu saja! ” Sahut Yahya malas. Entah mengapa jawaban Yahya membuat hatinya panas.

__ADS_1


“Kenapa tidak jadi menikah? Tapi Bang Yahya masih suka kak Dara, kan? Lalu tadi kenapa seperti orang yang lagi marahan?” Tanya Iqlima bertubi-tubi. Ia tidak bisa untuk tidak penasaran.


“Kenapa dalam waktu semalam kau bisa berubah jadi cerewet begini?!"


Aww. Pekik Iqlima. Yahya menyentil pelan hidung mancungnya.


"Habiskan makananmu! Saat ini Aku sedang tidak mood mendiskusikan apapun!” Ketus Yahya. Iqlima bungkam.


Gadis ini mengingat-ingat sosok Dara Keumala, kakak kelas nya dulu. Wanita cantik yang menjadi primadona sekolah. Bersama Rafi, wanita itu juga pernah jadi Duta Agam Inong Provinsi Aceh.


Hhhhh Wanita yang bang Yahya sukai sekelas itu. Aku? Mana ada apa-apanya. Iqlima mengacak-acak isi piring tanpa berniat memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Huft... Kenapa dia harus mengerucutkan bibir seperti itu sih? Benar-benar meresahkan! Gerutu hati Yahya yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh Iqlima.


“Apa yang kau pikirkan? Apa kau sedang cemburu?”


Tembak Yahya. Tepat sasaran. Iqlima bersungut.


“Huh, baru begitu saja sudah cemburu! Cepat habiskan makanannya! Lebih dari 5 menit lagi kau kutinggal di sini!” Ancam Yahya, ia bangkit dari duduknya menuju kasir.


“Ha? Bang… Tungguuu!” Iqlima yang panik buru-buru menyendokkan makanannya ke mulut. Diam-diam Yahya menaikkan sudut bibirnya ke atas menunjukkan smirk.


***


"Ingat pesanku! Jangan membantah Ummi. Apa yang beliau katakan, terima saja! Anggap kita sebagai tawaran perang! Kau tau kan kalau kita bersalah karena menikah diam-diam? " Yahya mewanti-wanti Iqlima sambil memakai Jubah dan sorban yang dibeli kilat dalam perjalanan tadi.


Pondok Pesantren Bustanul Jannah. Pondok Pesantren Taman Surga. Iqlima membaca pamflet gerbang masuk. Pesantren besar dengan luas tanah berhektar-hektar terlihat nyata di hadapannya.


Mobil Yahya memasuki halaman. Dua orang asisten yang berjaga di gerbang datang menghampiri. Para asisten tersebut biasanya akan membawakan tas Yahya atau sekedar memayungi nya agar terhindar dari sengatan matahari.


"Belum ada yang mengetahui tentang pernikahan kita! Aku akan turun terlebih dahulu, baru setelah itu kau menyusul. Nanti akan ada khadimah yang menjemputmu! " Ucap Yahya dengan intonasi teratur. Ia terlihat berwibawa dengan sorban dan jubah nya. Iqlima tegang. Ia hanya bisa mengangguk.


Asisten membukakan pintu Mobil.


"Assalamualaikum, Gus! "


"Waalaikumsalam Wr Wb. Tolong bawa kan koper dan tas yang ada dibagasi belakang! " Titah Yahya.


"Baik Gus. Abah Haji dan Ummi Hajjah sudah menunggu Gus Yahya di ruang keluarga! " Ucap Asisten. Yahya mengangguk. Ia melirik ke Iqlima mengisyaratkan bahwa ia akan masuk.


Iqlima tercengang. Gadis ini baru menyadari siapa Yahya sebenarnya. Ternyata Ia telah di nikahi oleh seorang anak kiayi besar. Iqlima menggigit bibit bawahnya cemas. Hatinya cenat cenut tak karuan.


***

__ADS_1


__ADS_2