Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 23: Orasi Yang Berapi-api


__ADS_3

Mata buas warga menyoroti Yahya dan Iqlima yang tengah berduaan di dalam kamar dengan pintu terkunci.


“Dik, kita dijebak!” Lirih Yahya. Entah Iqlima mendengarnya atau tidak. Namun gadis tersebut perlahan beringsut mundur. Warga maju, mereka memegang tangan Yahya menyeretnya keluar. Ekor mata Yahya bisa melihat bahwa mereka juga akan menyeret Iqlima.


“Hentikan!!” Teriak Yahya tak tega. Namun suaranya kalah dengan suara ricuh warga yang terang-terangan sedang menghakimi mereka.


“Cambuk mereka! Pezina jangan diberi ampun!!!”


“Sikaattt!!!”


“Jangan lengah pada pezina!! Berikan hukuman sesuai dengan syari’at Islam!!” Provokator memanas-manaskan. Suasana semakin tak terkendali.


Dari bahu jalan, Maryam tiba-tiba muncul dengan wajah terkejut. Kantong plastik yang berisikan roti dan berbagai cemilan yang ditenteng oleh nya terlepas dari tangan hingga jatuh berhamburan. Yahya melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Iqlima masih meronta-ronta. Maryam menggeleng tak percaya.


“Iqlima! Jangan meronta!” Titah Yahya berusaha menjangkau pendengaran Iqlima. Meronta juga percuma. Dengan meronta akan lebih menyakitinya. Setidaknya, begitulah yang Yahya pikirkan. Mereka pasrah diarak ke tanah lapang.


“Ikat mereka di tiang! Kita tunggu pak Keuchik tiba untuk menjatuhkan hukuman apa yang cocok untuk para pezina!” Teriak provokator. Warga lain ikut mendukung.


Sebuah mobil Pajero Sport berwarna hitam berhenti di lokasi yang tak jauh dari keramaian. Kaca pintu diturunkan. Orang yang berada dalam mobil mengambil gawainya.


“Bagaimana keadaan di lokasi?”


“Mereka tengah diikat dengan tali, Tuan!”


“Bagus! Jangan sampai lepas! Atur agar mereka berdua mendapatkan hukuman cambuk masing-masing 100 kali! Jangan sampai lepas! Hitung-hitung sebagai hukuman awal karena telah membuat putra-ku di penjara! Hukuman berikutnya? Masih aku pikirkan! Hahahaha”


“Siap Tuan Ampon!” Ampon Din mengangguk-angguk.


“Tapi Ampon, kalau mereka dinikahkan bagaimana?”


“I don’t care. You pikir saya peduli? Yang penting arahkan agar mereka dicambuk! Semoga langsung mati!” Wajah sangar Ampon Din tampak puas.


“Baik. Laksanakan!”


“Good!” Ampon Din menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.

__ADS_1


Memang dibutuhkan otak yang pintar untuk menjatuhkan lawan. Gumam Ampon Din. Mobil nya dibawa berlalu menjauh dari keramaian.


“Lepaskan kami!” Ucap Yahya dengan rahang mengeras.


“Lepaskan?! Hahahaha Hahahaha” Suara tawa membahana.


“Harusnya pezina seperti kalian diarak dan dipermalukan ke sekeliling kampung! Masih baik kalian hanya diikat di tiang gawang! Tunggulah beberapa saat lagi! Semoga kalian sanggup menahan sakitnya hukuman cambuk!” Sahut warga.


“Takutlah kalian… perbuatan tidak senonoh yang kalian lakukan akan mengundang murka Allah!” Sahut bapak-bapak sepuh yang menatap miris ke arah mereka.


Di mata mereka, Yahya dan Iqlima tak lebih dari sepasang manusia yang tengah memadu kasih namun dengan berada pada jalan yang haram.


Cuiiiih. Seseorang meludah tepat di wajah Yahya. Pemuda tampan ini memejamkan mata semakin geram.


Sekelompok orang tiba-tiba datang berbondong-bondong membawa berember-ember air berbau busuk. Baunya sangat menyengat. Di saat bersamaan Pak Keuchik pun tiba.


“Yang mana yang berzina?” Kepala desa menatap wajah Yahya dan Iqlima lekat-lekat.


“Jadi kalian orang yang sengaja bertandang ke kampung orang hanya untuk berzina?!”


“Pak, mereka harus kita cambuk! Kalau dibiarkan, kapan hukum islam bisa ditegakkan?” Cuit warga yang sedari tadi sudah gencar mengompor-ngompori. Pak Keuchik mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.


“Siram air-air got ini ke tubuh mereka!!” Teriak warga. Suasana menegang. Mereka mengangkat ember-ember bersiap menyiram. Tenggorokan Yahya tercekat. Namun tiba-tiba,


“اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ. اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ


Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih” Iqlima berteriak lantang membacakan isi surah Asy-Syura ayat 42 dengan terengah-tengah. Potongan dari ayat al-Qur’an ini berhasil menghentikan pergerakan mereka. Hampir saja, sepersekian detik.


“Kalian orang-orang beriman! Kalian tau syari’at! Kenapa kalian malah zhalim?! Sebenarnya kalian mengerti hukum atau tidak?!” Iqlima masih berteriak lantang. Yahya tercengang. Ia tidak menyangka seseorang selembut Iqlimabisa bicara keras lagi berapi-api.


“Hahahaha… Pezina! Tutup mulutmu! Jangan rusak kesucian ayat suci al-Qur’an dengan mulut kotormu!”


Cuihhh. Dengan penuh keberanian Iqlima meludahi wajah orang tersebut.


“Kurang ajar!!” Laki-laki yang diludahi oleh Iqlima hendak menamparnya.

__ADS_1


“Sebentar!” Pak Keuchik memegang tangan warganya yang sudah dikuasai amarah. Iqlima menatapnya tajam lalu melanjutkan perkataannya.


“DALAM SYARI'AT ISLAM berdasarkan surah An-Nur ayat 4, seseorang menuduh orang lain melakukan perbuatan zina harus dengan mendatangkan 4 orang saksi. Baiklah! Kalian datang beramai-ramai. Tapi adakah diantara kalian yang melihat kami sedang melakukan perbuatan zina?”


“Bagaimana posisi kami saat kalian temukan? Apa kami tengah berzina??! Jawab!!!” Iqlima meradang. Lengkingan suaranya memenuhi tanah lapang. Mendengar perkataan Iqlima, warga saling menatap satu sama lain.


“Bapak-bapak dan Ibu-ibu terhormat… Syarat untuk dilakukan hukuman cambuk harus dengan ketentuan hukum Al-Ishalah yaitu menyaksikan secara langsung perbuatan zina! Mendatangkan 4 saksi yang benar-benar melihatnya. Lalu saksi tersebut melakukan sumpah atas kesaksiannya! Sedang kami tidak melakukan apapun! Posisi kami juga tidak berdekatan!”


“Stopp!” Teriakan warga provokator kembali terdengar.


“Para warga… Jangan dengarkan bualannya! Dia sedang melindungi dirinya sendiri! Dia takut untuk dicambuk!!! Abaikan perkataannya!!” Provokator tak kalah beraksi. Iqlima tidak mempedulikan nya. Wanita ini menganggapnya tidak ada. Ia meneruskan orasinya.


“DAN… Menuduh orang baik-baik melakukan perbuatan Zina tapi itu semua tidak terbukti, akan dikenakan hukuman 80 kali cambukan! Panggil Dinas Syari’at Islam ke sini! Panggil Wilayatul Hisbah (Polisi Syari’ah)! Jangan main hakim sendiri!! Aku akan memperkarakan kalian semua!!!” Iqlima semakin berapi-api. Pemuda provokator kesulitan menelan ludahnya.


“Lalu, Kalau bukan karena ingin berzina, kenapa kalian berduaan dengan mengunci pintu kamar?!” Sambar warga lainnya.


“Pak, berada dalam kamar yang sama, tentu saja ada alasan disebaliknya. Hal tersebut memang salah. Sekilas kami tampak bersalah. Tapi bukan berarti dengan begitu kalian bisa menuduh bahwa kami sedang berzina! Bagaimana kalau kami dijebak? Baiklah… anggap kami sengaja mengunci pintu, anggap kami sengaja berduaan, tapi itu namanya bukan berzina melainkan berkhalwat!” Terang Iqlima melanjutkan orasinya. Suasana hening seketika.


“Apa hukuman bagi orang yang berkhalwat? Menurut Qanun Jinayat orang yang berkhalwat mendapatkan hukuman cambuk paling banyak 10 kali atau denda paling banyak 100 gram emas atau dipenjara paling lama 10 bulan. Sedangkan menurut sanksi adat, maka pelaku khalwat dikenakan hukuman berupa teguran, nasihat, penyataan maaf, denda, di usir dan sebagainya. Aku tidak membenarkan perbuatan khalwat! Tapi khalwat yang bagaimana yang mendapatkan hukuman seperti itu?!”


“Apa kalian yakin kami sudah lama berada di dalam kamar tersebut. Wallahi, Aku bersumpah atas nama Allah, Aku baru masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Aku tidak tau di dalam kamar tersebut ada bang Yahya, sebab beliau berada di dalam kamar mandi yang letaknya ada di dalam kamar. Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa memanggil polisi untuk mengeceknya! Sekalian, aku juga akan memperkarakan kalian atas tuduhan palsu! Atas tuduhan tidak berdasar!! Kalian akan dicambuk 80 kali cambukan!!!” Suasana semakin menegang.


“Pak, Bu… Kalian begitu mengagung-agungkan syariat tapi tidak tau bagaimana menjalankan syari’at itu sendiri! Jujur saja, tuduhan ini sangat mencoreng harga diri kami! Kami bukan warga Blang Oi, kami tamu. Kami adalah tamu yang dilindungi oleh tuan rumah. Seharusnya kalian menanyakan kepada tuan rumah mengapa kami berada di sana, bukan menghakimi kami secara sepihak!!!" Iqlima ber-orasi dengan sisa-sisa kekuatannya. Warga bungkam. Perkataan Iqlima begitu menyihir.


“Buka ikatan tali mereka! Cepat!!! Siapa yang kurang ajar berani mengikat mereka?!” Titah Pak Keuchik gelagapan.


Yahya terpana. Sedari tadi ia menyaksikan orasi Iqlima dengan mulut ternganga. Siapa yang menyangka, gadis muda yang disangka rapuh bisa begitu berani. Pengetahuan ilmu hukumnya juga tidak main-main. Padahal Iqlima adalah seorang gadis yang baru saja tamat SMA.


“Nak, kita bisa bicarakan ini baik-baik! Tolong jangan melaporkan kami ke polisi syariat!” Pak Keuchik melunak. Mata Yahya langsung berpendar mencari keberadaan Maryam. Sedang Iqlima, netra nya beredar mencari keberadaan pemilik rumah. Bagaimana pun permasalahan ini belum selesai.


“Sebentar…. Sebentar!!” Seorang pria tiba-tiba menerobos kerumunan yang mengelilingi Yahya dan Iqlima.


“Kalian mungkin bisa lepas dari hukuman zina atau hukuman khalwat. Tapi kalian berdua tetap harus menikah! Kalian harus menikah hari ini juga di KUA!”


***

__ADS_1


__ADS_2