
Dini hari, Yahya terbangun. Ia masih berada di atas sofa saat matanya tak menemukan keberadaan Iqlima di kasur.
Iqlima kemana? Apa di toilet? Yahya menutup mulutnya karena menguap.
Mata pemuda tersebut berpendar. Ia hendak bangkit menghidupkan lampu agar menjadi lebih terang. Namun alangkah terkejutnya Yahya ketika melihat Iqlima yang tidur bersandar di dinding sofa tepat di bawah kakinya.
Astaghfirullah, Iqlima? Yahya bangkit. Dalam pencahayaan yang terbatas, Ia melirik jam tangannya. Subuh masih 2 jam lagi. Yahya dengan sigap mengangkat Iqlima ke atas kasur dengan gaya bridal. Ia perlahan-lahan merebahkan istrinya di sana. Dekatnya jarak mereka menyebabkan Yahya bisa menghirup aroma Floral yang menguar.
Dia belum mandi kan? kenapa bisa harum begini? Tanpa sadar Yahya mendekatkan tubuhnya mencari dimana sumber aroma tersebut berasal. Ia semakin menikmatinya. Kerudung yang mengganggu mengurungkan niat Yahya. Pemuda tersebut hendak menjauh, ia khawatir Iqlima akan terbangun. Namun bibir Iqlima yang sedikit terbuka berhasil menghentikan pergerakannya. Iqlima terlihat begitu ranum. Yahya tidak bisa menahan dirinya.
Cuuup
Set
Kecupan yang Yahya berikan bersamaan dengan mata Iqlima yang tiba-tiba membuka lebar. Gadis tersebut terkejut bukan kepalang. Dengan gerakan cepat ia mendorong Yahya yang mengungkungnya. Yahya membawa tubuhnya berdiri tegap. Iqlima merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Sedikit trauma akan masa lalu, keringat dingin mulai memenuhi keningnya.
Iqlima meraba bibirnya dengan tatapan kosong. Ia tampak kebingungan.
“A... Aku hanya mengecup! Bu... bukan mencium!” Yahya mencoba menjelaskan tanpa dipinta.
Hhhh Hhhh Hhhh
Sekelabat bayangan dikejar Hilman membuat nafasnya terasa sesak. Iqlima kesulitan bernafas.
“Ka.. Kau kenapa?” Yahya melihat gelagat aneh sang istri. Ia beranjak menghidupkan lampu. Tampak olehnya butir keringat sebesar biji jagung bermunculan padahal suhu AC sangat dingin.
“Aku hanya mengecupmu, tidak lebih! Kenapa kau berlebihan begini?!” Yahya meninggikan suaranya.
“A… Aku…” Iqlima masih meraba detak jantungnya.
“Minumlah!” Yahya menyodorkan sebotol air mineral setelah membuka tutupnya. Ia naik ke atas kasur menghapus butir keringat yang memenuhi kening Iqlima.
“Menyusahkan!” Ketus Yahya.
I... Ini benar-benar bang Yahya, Alhamdulillah! Gumam Iqlima berkaca-kaca. Ia mengamati wajah Yahya tanpa berkedip lalu mengulurkan tangannya hendak menjangkau wajah pria yang ada dihadapannya tersebut.
“Jangan berpikir terlalu jauh! Tadi itu aku hanya mengecup dan tidak ada niatan lain!” Ucap Yahya dengan masih fokus menghapus butir keringat. Mendengar kalimat tersebut, tangan Iqlima yang sudah terulur ditarik kembali.
“Apa kau memang memakai kerudung 24 jam begini? Aku tidak akan heran kalau-kalau ternyata... kepalamu dipenuhi berbagai macam serangga!” Yahya bergerak melepaskan kerudung Iqlima. Seketika rambut hitam panjangnya tergerai.
“Hmh…” Yahya berdehem menghalau rasa gugup yang ia ciptakan sendiri.
“Maaf bang, aku hanya terkejut ketika merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirku! Ternyata... bang Yahya menciumku!”
“Hey, aku hanya mengecup!” Sergah Yahya tak terima. Iqlima mengerutkan keningnya.
“Selain bodoh, ternyata kau juga keras kepala! Sudah berkali-kali kukatakan kalau tadi itu aku hanya mengecup saja! Kalau mencium itu…” Yahya menjeda kalimatnya.
“Kalau mencium itu,, ya.... Seperti yang sudah sudah kau lakukan padaku. Terutama saat di ruangan itu!” Yahya menaikkan sebelah alisnya ke atas. Ia bangkit.
Bluuussss. Pipi Iqlima sukses bersemu. Ia baru hendak melayangkan protes, sejak kapan ia melakukan hal memalukan seperti itu? Namun Yahya lebih dulu berjalan menjauhinya.
“Ruangan ini terlalu panas! Besok aku harus memanggil asisten untuk mengganti semua AC yang ada di ruangan ini! Huh! Benar-benar tidak berguna!” Gerutu Yahya pada dirinya sendiri. Ia beranjak menuju balkon untuk mencari udara.
Panas? Benarkah? Aku malah merasa kamar ini terlalu dingin seperti di lemari es. Pikir Iqlima heran. Gadis tersebut menguap beberapa kali. Untuk menepis rasa kantuk, ia memutuskan untuk mandi.
__ADS_1
Iqlima memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Bercak kemerahan yang sudah berubah ungu masih memenuhi beberapa titik di tubuhnya. Bercak yang Yahya berikan dengan hangat.
Iqlima menangkupkan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Kejadian tersebut baru saja terjadi membuat Iqlima tersenyum malu. Wajahnya bersemu. Namun, senyum tersebut tiba-tiba memudar lalu lenyap begitu saja.
Bukankah Yahya tidak mencintainya? Bukankah Yahya terpaksa menikahinya? Kalau pun Yahya menyentuhnya, itu semua hanya atas dasar hak dan kewajiban. Tidak lebih. Iqlima tercenung.
Apa yang kau harapkan Iqlima? Gadis tersebut tersenyum masam. Ia kembali menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Apa yang kau harapkan dari pemuda Pulau Jawa itu? Apalagi kamu miskin dan yatim piatu! Kata-kata kakek kembali terngiang.
Apa bang Yahya sama seperti Ustadz Ilyas? Apa bang Yahya akan meninggalkanku sewaktu-waktu? Apa bang Yahya akan mencampakkanku ketika sudah merasa bosan? Iqlima mengusap air matanya yang sudah terlanjur mengalir. Tiba-tiba Ia merindukan kakek. Sangat rindu.
Tapi pasti kakek tidak ingin melihatku sedih dan menangis. Aku harus tetap semangat! Apa yang aku khawatirkan? Bukankah selama hidup aku sudah terbiasa sendiri? Bukankah aku sudah terbiasa hidup dalam kesepian? Iqlima mengusap wajahnya dengan handuk. Menghapus air yang jatuh berderai-derai. Iqlima dengan cepat membasuh wajah sembabnya dan mengambil wudhu'.
Driiiit
Yahya masuk ke kamar dan melihat Iqlima yang sudah selesai mandi. Wanita tersebut seperti bersiap-siap akan masuk kembali ke dalam selimut.
"Aku bawa makanan untuk sahur. Apa kau mau ikut makan? "
"Besok itu bukannya hari Rabu? Bang Yahya mau puasa apa?" Iqlima berjalan mengikuti Yahya ke ruang makan. Pemuda tersebut menyodorkan seporsi makanan ke hadapannya.
"Coba di makan, syukur syukur kalau cocok di lidahmu!" Ucap Yahya yang menunggu reaksi Iqlima. Wanita tersebut menyendok perlahan.
"Enak enak! Ini enak! " Ucap Iqlima girang. Ia kembali menyendok lebih banyak. Yahya ikut tersenyum.
Tidak. Ini hanya ilusi. Senyum Yahya memudar.
Tidak mungkin. Aku tidak mungkin mencintainya. Sama sekali tidak. Aku hanya menghargai kedudukannya sebagai istriku. Ini hanyalah perasaan sayang yang tumbuh atas dasar rasa kasihan karena ujian hidupnya yang begitu luar biasa.
Aku hanya mengagumi ketangguhannya. Aku menyukai keluguannya. Ya, hanya itu saja. Tidak lebih. Aku tidak mungkin kembali menaruh hati pada wanita Aceh. Iqlima memang tidak bersalah, namun Aku tidak mungkin jatuh pada lubang yang sama. Terlalu sakit. Dara adalah satu-satunya dan itu sudah berakhir. Yahya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan.
***
Yahya mengantar Iqlima tepat di tempat semula ia menjemputnya.
"Ini handphone mu. Selama aku ke Korea, kita akan berkomunikasi dengan ini! Aku sudah menyerahkan kartu ATM dengan jumlah uang yang ku rasa cukup untuk sebulan. Gunakanlah sesuka hati karena itu milikmu"
"Kau bisa meminta tolong pada mbak Asih untuk membeli semua keperluanmu. Mbak Asih itu sering mengunjungi pesantren untuk mengantar obat. Jika jumlah nya kurang, kau bisa menghubungiku" Ucap Yahya. Iqlima mematung melihat gedung santriwati yang ada dibelakangnya.
"Masuklah! " Titah Yahya. Iqlima masih terdiam dengan wajah resah. Tanpa sadar ia mencengkram baju Yahya.
"Kau takut? Tenanglah! Kali ini Kau tidak akan dikenakan hukuman" Yahya seperti paham apa yang Iqlima rasakan.
"Kalau handphone ini di sita bagaimana? "
"Handphone ustadzah tidak akan di sita! Kau akan ditempatkan dibagian ustadzah pengasuh sambil tetap ikut menuntut ilmu! Tenanglah.. Aku sudah memastikan kau tidak akan dikenakan hukuman" Iqlima mengangguk.
"Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku akan menemui mu kembali setelah pulang dari Korea! " Perkataan Yahya sukses membuat air mata Iqlima mengalir. Ntah mengapa ia menjadi sangat sedih. Iqlima membenci kata perpisahan. Ia melihat kesembarang arah agar Yahya tidak menyadari airmatanya.
"Aku pergi! " Mesin motor mulai dihidupkan. Iqlima mengangguk sambil menunduk dalam.
"Hey, apa kau menangis? "
"Angkat wajahmu! Apa kau benar-benar menangis?!" Iqlima menggeleng cepat. Yahya turun dari motornya.
__ADS_1
"Cengeng! Begini saja sudah menangis!" Cebik Yahya memeluk Iqlima. Gadis tersebut sesegukkan.
"Sudah, jangan menangis. Besok dokter Jelita akan mengunjungi mu di sini! " Yahya mengeratkan pelukan nya.
"Dokter Jelita kesini? "
"Huh, puasa ku jadi batal karena kau menangis! "
"Ke... Kenapa batal? " Iqlima merenggangkan pelukan Yahya.
"Karena kau menangis aku jadi harus memelukmu!"
"Kalau Abang tidak ikhlas yasudah, aku ga apa apa kok! Aku benar-benar ga apa apa! " Iqlima mengerucutkan bibirnya. Ia langsung mengambil ancang-ancang untuk masuk ke dalam pesantren.
Yahya tidak membiarkan Iqlima pergi. Dengan cepat ia menarik tangan Wanita tersebut hingga kembali dalam pelukannya. Dengan gerakan cepat Yahya membawa Iqlima menepi ke bawah Pohon Mahoni yang rimbun dan rindang. Suasana benar-benar sepi. Hanya ada pepohonan dan Ilalang yang sudah meninggi.
"Sebelum ke Korea aku akan memberitahukanmu apa perbedaan kecupan dan ciuman! " Netra Yahya dan Iqlima bertemu.
Cuuuup
"Itu namanya kecupan! " Bisik Yahya yang tiba-tiba mengecup bibir Iqlima.
"Kalau ciuman itu.... Begini... " Mata Iqlima membola sempurna. Yahya kembali menyatukan bibir mereka. Tidak hanya sedekar menyatukan. Pemuda tersebut menyesapnya berkali-kali. Yahya memaksa masuk. Ia mengabsen deretan gigi rapi Iqlima satu persatu. Agak lama. Hingga Iqlima kesulitan meraup udara.
Hhh Hhh. Nafas mereka memburu.
"Bang, ka... kalau ada yang melihat ba... bagaimana? " Tanya Iqlima bersusah payah. Ia pasrah saat Yahya kembali menciumnya. Tangan Yahya mulai menjalar tak tentu arah. Iqlima dengan cepat menghentikan pergerakan tersebut sebelum suaminya kelepasan.
"Bang... " Lirih Iqlima sendu. Perlakuan Yahya membuat kakinya terasa lemas.
"Kalau ketahuan, Kita akan diarak keliling pesantren dan dinikahkan karena dipikir pasangan mesuu*m" Bisik Yahya santai. Iqlima sontak mendorong Yahya menjauh dari tubuh nya. Ia membelakangi pemuda tersebut dengan wajah memerah.
"Salah mu sendiri, sudah bagus di apartemen malah memilih tempat begini!"
"Ha? Siapa yang memilih?" Protes Iqlima cepat.
"Oh, jadi tidak perlu memilih dan kau ingin mengulangi nya lagi ya?" Yahya kembali mendekatkan tubuhnya. Iqlima menggeleng cepat.
"Le... lebih baik a... aku kembali ke pesantren saja! " Ucap Iqlima yang langsung melesat cepat. Wajahnya sudah tidak bisa dikondisikan karena menahan malu. Yahya diam-diam menyunggingkan senyum.
Dia sangat berbahaya. Tidak. Bukan Dia yang berbahaya. Tapi diriku sendiri. Aku tidak bisa mengontrol diriku saat berada di dekatnya. Dia benar-benar candu. Lirih Yahya melihat punggung Iqlima yang semakin menjauh.
***
Awwwwwwww. Pekik Iqlima yang tiba-tiba terjerebab jatuh. Pinggangnya terasa sakit karena ia terhempas kuat. Jalan yang dilewati begitu licin. Padahal sebelum nya tidak. Iqlima mencium bau minyak yang menyengat. Ia meraba ke tanah basah yang mengkilap.
I... Ini... Bensin.
Siapa yang menuangkan bensin di sini? Kening Iqlima mengerut. Ia kesulitan untuk bangkit berdiri.
Sssss... Ya Allah... Sakit sekali... Rintih Iqlima berdesis. Ia melihat ke sekeliling. Sepi. Di halaman belakang asrama sama sekali tidak terlihat satu makhluk pun.
Ya Allah... Apa yang harus kulakukan? Pikir Iqlima mulai cemas.
Di tempat yang sama namun tidak terjangkau dari penglihatan, seorang wanita muda tersenyum menyeringai.
__ADS_1
H.a h.a.h.a. Iqlima sayang~ Ini barulah permulaan~ 👽
***