
“Baang…” Panggil Iqlima bersemangat tanpa melihat terlebih dahulu. Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat Ilyas masih berada di teras rumah. Padahal tadi Iqlima sudah berulang kali menyuruhnya untuk pulang.
Mendengar panggilan suara yang tidak asing di telinga, baik Yahya maupun Ilyas sontak menoleh secara bersamaan. Untuk sejenak mereka mematung melihat tampilan Iqlima yang tidak biasa. Kecantikannya meningkat berkali lipat. Gincu merah menyala menarik perhatian mereka.
“Woaaah! Pas banget semua ngumpul nih! Yuk masuk makan. Iqlima sudah masak special! Sayang banget kalau melewatkan masakannya!” Dokter Jelita tiba-tiba muncul dan menarik cepat lengan Iqlima diikuti oleh Yahya dan Ilyas.
Suasana canggung menghiasi ruang makan. Terdengar suara sendok dan piring kaca yang sesekali beradu memecah keheningan. Empat orang yang hadir dan duduk saling berhadapan tersebut malah memilih bungkam padahal ini adalah kali pertama mereka berkumpul setelah sekian lama.
Hanya Yahya yang tidak terlalu fokus sebab dari tadi matanya menatap tajam ke arah Iqlima sedangkan mulutnya terus mengunyah menikmati makanan. Berbeda dengan Ilyas, pemuda yang mengerti hukum bagaimana menatap lawan jenis ini hanya bisa menunduk walau sekali-kali ekor matanya memaksa untuk mencuri pandang pada Iqlima yang tampak gelisah membasahi bibir. Mungkin gadis ini ingin menghapus gincu merah yang sudah terlanjur ada di sana.
“Huk Huk Huk” Entah mengapa Iqlima tiba-tiba tersedak. Ilyas dengan gerakan cepat mengambil air mineral menyodorkannya. Hanya sepersekian detik kalah cepat dari Ilyas, Yahya hanya bisa mendengus sebal. Tangan yang sudah mencengkram gelas terpaksa diam-diam ia renggangkan dari genggaman.
“Kamu baik-baik saja? Makannya pelan-pelan, hm?” Ilyas memberikan perhatian. Iqlima melirik Yahya yang memalingkan wajah tampak acuh.
“Apa aku boleh nambah? Ini enak banget lho… Apalagi yang ini! Namanya apa sih?” Tanya Ilyas memuji. Suasana mencair.
“I.. itu kari Aceh”
“Wah, Yas! kamu ga tau? Iqlima ini kan memang spesialisnya kari dan gulai!” Celetuk dokter Jelita menambahkan.
"Begitu ya! Kalau seandainya kamu masak menu ini setiap hari sepertinya aku tidak akan menolak! Ini benar-benar enak banget!” Ilyas menyeruput kuah dari sendok dengan sumringah. Ia tak henti memuji masakan Iqlima.
Triiiing
Jengah. Yahya langsung menghempas kasar sendok dan garpunya ke piring. Ia mendorong kursi ke belakang dan bangkit. Makanan yang masih tersisa di piring ditinggalkan begitu saja.
“Bang Yahya mau kemana?” Iqlima yang terperangah langsung mengejar suaminya.
“Mencari udara segar!” Sahut Yahya datar menahan suaranya, enggan menoleh. Pemuda yang baru tadi tiba di kediaman Iqlima membanting pintu mobil melajukannya menancap gas menerobos hujan.
Yahya, Aku masih membiarkanmu karena silsilah keluarga kita. Tapi demi Allah aku tidak akan memaafkan perbuatan mu yang sudah menjauhkan aku dari Iqlima.
***
Di dampingi oleh seorang wanita cantik, Hilman memasuki salah satu perusahaan besar yang ada di Aceh. Sebuah pabrik yang memproduksi semen. Berkat akses yang Thursina berikan, hari ini Hilman akan bertemu dengan pemiliknya.
Baju Jas dan sepatu pantofel membuat pemuda ini terlihat tampan. Berbeda dari biasanya, Hilman menyisir rapi rambutnya ke belakang. Kumis dan janggut ia cukur habis tak bersisa. Bertemu dengan orang penting membuat Hilman merasa ia harus menampilkan yang terbaik.
“Selamat siang nyonya Cut Malahayati! Saya Teuku Hilman dari PT. Batu Bara Tambang Abadi yang berada Kalimantan Timur, perwakilan dari tuan Arya Pranawa membawa berkas kerjasama!” Hilman menjabat tangan sopan dan memberikan senyum wibawa.
__ADS_1
Hmm… Wanita ini memang mirip dengan orang yang ada di foto. Ia juga tampak seperti….. Iqlima-ku. Cantik juga. Hilman menarik sudut bibir kanannya ke atas. Terlalu mudah baginya mencari informasi.
Sekali lagi dan lagi. Berkat campur tangan Arya Pranawa, Hilman akan melakoni perannya sebaik mungkin. Tentu tidak gratis, entah apa yang akan pebisnis ulung itu tagih di kemudian hari. Namun Hilman tidak mempedulikannya. Identitas Iqlima lebih menarik perhatiannya saat ini.
"Saya bukan Cut Malahayati tapi saya Cut Buleun, anak beliau! "
"Owh... Okay sorry! Saya memang sudah menyangka begitu. Hanya saja saya tidak ingin terlihat terlalu percaya diri!"
“Baik, Tuan Teuku! Tapi mungkin akan lebih baik kalau kita berbincang di café saja agar lebih rileks dalam membahas masalah bisnis! Tidak usah terlalu kaku!” Bak durian runtuh, Cut Buleun yang baru mendarat dari Australia sangat bahagia bertemu dengan rekan bisnis dadakan dari perusahaan besar ternama di Indonesia. Ia bertekad akan membanggakan ibunya.
Cafe Blang Mulöh
"Terima kasih atas kerja samanya, Mr. Teuku! Saya juga ibu saya khusus nya akan sangat menghargai hal ini!"
"Hahaha Nona Buleun, Anda berbicara terlalu formal! Tentu saja! Tentu saja kami memilih perusahaan anda sebagai partner bisnis. Perusahaan benefit yang dengan kualitas produk di atas rata-rata dan terus mengalami perkembangan pesat! Kami tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini! " Hilman mampu menghipnotis Cut Buleun. Kecakapannya dalam bertutur kata membuat mereka mudah akrab. Cut Buleun berada diawang-awang.
"Apa boleh kalau kita bertukar kartu nama? Ini kartu nama... Hemm... kartu nama pribadi saya! " Hilman menyodorkan sebuah kartu nama.
***
Hujan telah berhenti. Yahya mondar-mandir di taman mencoba menetralisir mood buruk yang hinggap di dirinya. Pikiran Yahya terus bertumpu pada Iqlima yang memakai gincu merah. Juga pada Ilyas yang terus mengincar gadis tersebut.
Wajah Yahya memerah marah. Pemuda ini mulai berselancar di dunia maya.
Cara menaklukkan hati wanita. Ketik Yahya. Namun lagi-lagi ia harus menghapus kalimat tersebut.
Cara menghukum istri yang melakukan kesalahan. Huh. Yahya semakin jengah. Ia menendang batu kerikil yang berada tepat di depan kakinya. Kesal. Ia memutuskan menghubungi dokter Jelita.
Jelita, apa Ilyas masih di rumah? Ketik Yahya.
Yahya!! Kenapa kau pergi begitu saja? Kau cemburu kan?!
Hey! Aku bertanya padamu! kenapa kau malah balik bertanya?!
Aku tidak tau! Aku lagi ada rapat di luar. Terakhir kali, Ilyas masih bersama Iqlima! Balas Dokter Jelita.
Apa?! Jadi Kau membiarkan Iqlima berduaan dengan yang bukan mahram begitu saja?! Sambar Yahya.
Aku ada keperluan di rumah sakit, Yahya! Sebaiknya kau kembali ke rumah Iqlima! Jangan biarkan keegoisan mu membawa mudharat bagi rumah tangga kalian!
__ADS_1
Huh. Istri macam apa itu?! Gerutu Yahya naik ke mobil dan melajukan nya.
Di Kediaman Iqlima, Dokter Jelita dengan buru-buru mengambil sweeter dan tasnya.
Aku harus enyah dari sini! Gawat kalau Yahya memergoki ku masih di sini! Ya Rabbi... ampuni aku... aku berdosa! Bagaimana ini! aku benar-benar berdosa. Panik Dokter Jelita karena telah berbohong. Padahal tadi Ilyas sudah lama pergi setelah menyelesaikan makannya.
"Dok, mau kemana? Pekerjaan dokter sudah kelar kan? " Tanya Iqlima tidak bersemangat.
"Hmh... Yahya mau ke sini! Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian! Byeeee Iqlima" Dokter Jelita melesat pergi setelah memberikan pelukan kilat.
Benar saja. Tak lama setelah kepergian dokter Jelita, Yahya kembali memarkirkan mobilnya.
"Bang Yahya! " Iqlima sumringah. Ia mengambil tangan Yahya menyalaminya.
"Kau tidak pernah memakai lipstik merah sebelum nya. Kau sengaja berhias untuk menarik simpati mantan mu itu kan? Atau jangan-jangan kalian memang diam-diam masih berhubungan?! " Tuding Yahya melancarkan serangan yang sedari tadi dipendamnya. Iqlima ternganga lalu menggeleng kuat.
"Kau sengaja menyuruhnya untuk datang ke sini kan? Lalu dengan sengaja memasak makanan yang enak-enak untuknya, begitu kan? kenapa diam saja?!"
"Oh... aku tau... kau memang sudah sering membuatkannya makanan. Aku sudah tidak heran! " Iqlima menunduk. Air matanya mulai memupuk. Tuduhan yang suaminya layangkan terasa begitu menusuk. Yahya mengambil tempat. Wajahnya semakin memerah. Pemuda ini tidak tau bagaimana harus melampiaskan emosinya.
"Iqlima, hari ini aku berhak marah! Bukan karena aku cemburu! Sama sekali bukan! Tapi karena kau sudah sangat keterlaluan! Sebagai seorang istri seharusnya kau paham batasan mu!" Lanjut Yahya menghakimi. Iqlima merasa kecewa mendengar pengakuan suaminya.
"Aku tau batasanku! Aku bukan berhias untuk ustadz Ilyas! " Tiba-tiba Iqlima menyahut. Air matanya sukses mengalir.
"Lalu untuk siapa?" Yahya menantikan jawaban Iqlima. Pemuda tersebut beranjak. Ia berjalan mendekat.
"Untuk siapa?!
"Ayo katakan untuk siapa? Kenapa lagi-lagi kau tidak menjawabnya?!" Desak Yahya yang sudah menggiring Iqlima. Gadis ini terjerabab jatuh ke atas sofa.
"A... Aku... " Jarak mereka yang begitu dekat membuat Iqlima gelagapan. Yahya memperhatikan intens bibir merah sang istri. Sisa-sisa gincu masih terlihat dengan jelas.
Entah apa yang sedang Yahya pikirkan, namun yang pasti tubuhnya semakin menghimpit tubuh Iqlima hingga gadis ini bisa merasakan hembusan nafas sang suami yang membuatnya meremang.
Yahya lupa diri. Ia kembali menyatukan bibir mereka. Namun kali ini tidak hanya sekedar menempel. Pemuda itu menyesapnya perlahan lalu gerakan nya berubah menggila. Ia sukses membuat jantung Iqlima hampir meloncat dari posisinya.
"Bang... " Panggil Iqlima sendu setelah berhasil meraup sedikit udara. Panggilan manis tersebut membuat mulut Iqlima sedikit membuka. Kesempatan itu tidak Yahya sia-siakan. Ia kembali menyerangnya. Tangan liar Yahya tidak tinggal diam. Ia dengan cepat mencari letak kancing gamis Iqlima.
***
__ADS_1