
Plaakkk
Tamparan keras mendarat di pipi Cahyati untuk kesekian kalinya.
“Aku tidak masalah walau ribuan kali mas menamparku! Tapi aku mohon stop bermain wanita, Mas! Tidak baik jika anak-anak mengetahui kebusukan papanya! Apalagi wanita yang kau kencani usianya tidak lebih tua dari Rumi!” Cahyati memegang bekas tamparan tangan kekar Arya.
“Cih. Jangan pernah merasa menjadi yang paling peduli pada anak-anak! Kau sendiri menghabiskan waktu 24 jam di kantor!” Tukas Arya melihat Cahyati dengan tatapan tajam.
“Aku stress menghadapi tingkahmu, Mas! Aku stress karena harus selalu berpura-pura menjadi pasangan harmonismu padahal kita jauh dari itu semua! Tidak ada tempat yang bisa kutuju selain kantor! Aku bisa gila kalau terus seperti ini! Aku bisa gila karena perselingkuhanmu”
“Cih, kau harusnya beruntung tidak kuceraikan, Kau itu sudah tidak mampu melayaniku! Kau tidak mampu memenuhi gair*hku! Kau sudah tua, Cahyati! Kau tidak ses*xy saat pertama kali kita bertemu” Cerca Arya. Airmata Cahyati mengalir seketika.
“Teganya kamu mas!!”
“Aku pergi! Tidak ada gunanya berbicara denganmu!” Lanjut Arya meninggalkan Cahyati seorang diri.
"Mas tunggu, tunggu Mas!" Panggil Cahyati namun Arya tidak menggubrisnya.
Dari balik tembok, Rumi yang mendengar pertengkaran kedua orangtuanya ikut menangis. Ia meremas kuat baju kaos yang dikenakan. Perasaan Rumi ikut hancur. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya, bahkan sudah sangat sering terjadi.
Terkadang kedua orangtuanya bisa berubah harmonis ketika membicarakan masalah bisnis, membicarakan masalah uang. Namun di waktu yang berbeda, mereka kembali menjadi musuh satu sama lain.
Rumi masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap nanar pada sebuah pisau buah dan gunting yang tergeletak rapi di atas meja riasnya. Perlahan Rumi berjalan mendekat. Dengan mata sembab dan tangan bergetar, ia mengambil pisau tersebut lalu menatap sendu pada besi yang berkilat-kilat.
Untuk mas Yahya yang telah menikah
Untuk kehidupan kelabu yang ku-miliki
Untuk semua senyuman palsu
Untuk tatanan dunia yang kejam
Hhhh dan pada akhirnya semua manusia akan berada pada titik terendah. Gumam Rumi tersenyum masam.
“Assalamu’alaikum, Pa!” Arya keluar rumah bertepatan dengan kedatangan Ilyas. Calon menantunya tersebut menyapanya dengan memberikan salam.
“Wa’alaikumsalam… Eh nak Ilyas?”
“Saya mau minta izin membawa Rumi pergi sebentar, pa!” Pinta Ilyas, ia ingin melanjutkan pembicaraan tentang pembatalan pertunangan mereka.
“Haha, kenapa harus minta izin? Papa sudah percaya penuh padamu! Sudah, bawa saja… Kau tunangannya. Jangan sungkan! Papa mau ke kantor dulu, haha!” Sahut Arya santai sambil berlalu.
“Eh, ini mas Ilyas calonnya mba Rumi ya?” Layla tiba-tiba keluar menyapa. Semenjak mengetahui Yahya akan berangkat ke Korea, gadis tersebut memutuskan kembali ke rumah untuk sementara waktu.
“I.. Iya, hmh kerudungmu mana?” Tanya Ilyas kikuk melihat Layla yang hanya memakai baju kaos dan celana sebatas lutut.
“Gerah! Aku cuma di rumah saja, ga kemana-mana kok!” Ilyas mengusap tengkuknya. Ia menunduk.
“Oh iya mas, mau anterin aku ke bandara tidak?”
“Bandara? Kenapa tidak pergi dengan supir saja? Maaf, aku ingin menemui Rumi!” Tolak Ilyas.
“Sama supir ga seru! Ketuaan, ngobrolnya ga enak! Hmh, begitu ya? Ya udah deh! Padahal mepet banget aku mau ketemu mas Yahya yang akan berangkat ke Korea Selatan hari ini!” Layla menunjukkan raut wajah sedih.
“Nanti setelah Yahya pulang dari Korea kau bisa bertemu dengannya!” Sahut Ilyas cuek.
“Ga yakin bisa bertemu, apalagi kalau pulang dari Korea nanti istrinya pasti akan hamil. Mereka kan mau honeymoon di sana! Padahal mas Yahya itu mau dijodohkan sama aku! Bisa-bisanya malah selingkuh terus berbulan madu!” Layla bersungut. Ilyas terenyak.
“Hon.. Honeymoon?” Layla mengangguk. Pikiran Ilyas langsung kacau seketika.
__ADS_1
Iqlima...
“Okay, aku akan membawamu menemui Yahya!”
“Benarkah?” Layla sumringah. Setelah mendapat anggukan dari Ilyas, ia melesat masuk ke dalam untuk bergegas mengganti pakaian.
Tok Tok Tok
“Mbak, Mbak…” Panggil Layla mengetuk pintu kamar Rumi.
“Mbak Rumi…” Panggil Layla lagi. Hening tidak ada yang menyahut.
“Mbak, aku izin bawa mas Ilyas sebentar menemui mas Yahya yaaa! Sebentar sajaaaa!” Teriak Layla yang langsung pergi tanpa benar-benar berniat menemui Rumi.
“Memangnya sampai di bandara nanti kau mau apa? Apa kau mau menggagalkan keberangkatan mereka?” Selidik Ilyas ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Entahlah, rasanya melihat mas Yahya saja aku sudah merasa bahagia. Aku mau mas Yahya itu melirikku walau hanya sedikit. Tapi si pelakor benar-benar mencuri start lebih awal! Caranya terlalu sadis!” Ucap Layla tersenyum sinis.
“Pelakor? Apa itu pelakor?”
“Pelakor adalah sebutan untuk wanita yang merebut kekasih wanita lain!” Layla mensedekapkan tangannya.
“Ha? Di.. Dia bukan pelakor! Dia gadis baik-baik! Kau jangan sembarangan menuduhnya!” Sergah Ilyas cepat. Layla mengerutkan keningnya.
“Memang mas kenal sama dia?” Layla balik menyelidik. Ilyas terdiam.
“Kenapa diam, Mas? Apa mas mengenalnya?” Todong Layla lagi.
“Maksudku, kau kan tidak mengenal siapa istri Yahya, kenapa mengatakan dia pelakor? Huh memang dasarnya si Yahya saja yang brengs*k!” Terang Ilyas geram.
***
Seperti biasa, sebisa mungkin Iqlima mencoba mengimbangi gerak langkah Yahya. Namun kali ini jauh lebih mudah karena barang yang seharusnya ia tenteng dibawakan oleh para asisten.
“Bang Yahya, sebenarnya mengajakku ke Korea dalam rangka apa?” Tanya Iqlima penasaran.
“Urusan bisnis” Sahut Yahya datar.
“Oh..” Entah mengapa ada perasaan kecewa di hati Iqlima ketika mendengar jawaban tersebut.
“Kau duduk di sini dulu, aku ke toilet. Biar Rusdi yang membantu kita check in!” Iqlima mengangguk.
“Apa kau mau ikut juga?”
“Tidak!”
"Okay!" Yahya langsung melesat pergi ke toilet yang berada tidak jauh di dekat mereka.
Apa bang Yahya marah ya? Pikir Iqlima.
Kenapa akhir-akhir ini bang Yahya selalu menghindari kontak mata denganku? Iqlima menunduk sedih. Pikirannya melayang pada terakhir kali di kamar mandi Yahya mencoba melepaskan kancing bajunya satu persatu. Belum habis Yahya meloloskannya, pemuda tersebut langsung bangkit pergi meninggalkannya begitu saja. Yahya memilih memanggil asisten wanita untuk membantu Iqlima. Padahal sebelum peristiwa pada hari penyatuan mereka terjadi, Yahya tampak menggebu-gebu dan bersemangat.
Apa aku tidak menarik? Pikiran negatif hinggap di kepalanya. Sebenarnya Iqlima bukan menginginkan kejadian tersebut kembali terjadi, jujur Ia sendiri merasa sangat malu. Hanya saja sikap Yahya yang menolak bahkan menghindarinya membuat Iqlima merasa gagal diinginkan oleh suaminya sendiri.
“Iqlima….” Lirih seseorang memanggilnya dari arah belakang.
“Ustadz Ilyas?” Iqlima menoleh.
“Apa kau akan berangkat ke Korea?” Iqlima mengangguk. Keningnya mengerut ketika melihat Layla dengan tidak mengenakan hijab juga berdiri di dekat mereka. Iqlima tidak bisa untuk tidak mengagumi kecantikkannya.
__ADS_1
“Kenapa kau bisa setega ini kepadaku?” Mata Ilyas berair.
“Aku tidak mengerti apa yang ustadz Ilyas katakan” Sahut Iqlima mundur dua langkah ke belakang menjaga jarak.
“Mengapa kau meninggalkanku begitu saja? Demi Yahya, kenapa kau tega mencurangi aku? Apa kalian memang merekayasa semua kejadian seapik mungkin untuk mengelabuiku?!” Tak tahan, Ilyas terus melancarkan tudingannya. Iqlima menggeleng tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Lihatlah tampang munafiknya. Ternyata selain memikat mas Yahya, pelakor miskin tidak tau diri ini telah lebih dulu memikat calon suami mbak Rumi! Basi! Cih. Layla tersenyum sinis. Ia mensedekapkan tangan menyaksikan jalannya pertunjukkan yang ada di hadapan.
“Stop ustadz Ilyas, aku begitu menghormatimu. Jangan Ustadz rusak rasa hormat ini dengan tuduhan yang tidak berdasar itu!” Sergah Iqlima.
“Kau pikir aku orang yang gila hormat? Buang gelar Ustadz di depan namaku! Aku hanya menginginkan keadilan. Itu saja!” Sahut Ilyas lantang. Matanya merah menahan amarah.
“Keadilan bagaimana yang anda inginkan? Keadilan seperti apa yang sedang anda perjuangankan saat ini?!" Tanya Iqlima meletakkan tas selempangnya di atas kursi.
"Dengarkan baik-baik! Anda yang memutuskan untuk meninggalkan aku dengan sepucuk surat. Anda sendiri yang memutuskan untuk pergi di saat kondisiku benar-benar terpuruk! Aku tidak pernah meminta untuk dinikahi, tapi anda sendiri yang datang memberikan secercah harapan untukku…!” Iqlima menjeda kalimatnya, ia menghirup nafas dalam-dalam.
“Ya, mungkin hal tersebut sepele bagi Anda! Namun tidak bagiku, harapan itu seperti titik nyala api di dalam kegelapan. Walau hanya setitik, namun sebenarnya ia bisa menerangi seluruh ruang gelap di hatiku!”
“Tapi apa? Dengan seenaknya Anda yang begitu terhormat itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun! Bahkan setitik api harapan tersebut langsung anda padamkan sebelum sempat ia memberikan sinarnya! Walau aku hanya seorang gadis desa, Anda pikir anda bisa mempermainkanku?" Iqlima tak kalah berapi-api.
"Sekarang dengan seenaknya anda menuduh ku dengan memainkan peran sebaik mungkin dalam menyudutkan ku, seolah-olah aku-lah yang bersalah. Padahal sebenarnya, anda-lah pelakon dalam drama yang anda ciptakan sendiri!” Air mata Iqlima sukses mengalir. Ilyas kesulitan menelan salivanya. Fakta yang Iqlima beberkan mampu membuat hatinya mencelos.
“Iqlima… A… Aku…. Sebenarnya A... Aku..”
“Cukup! Tidak ada yang perlu di lanjutkan, sebenarnya aku sudah tidak ingin menyampaikan apapun. Namun tuduhan yang Anda katakan terdengar sangat mengganggu! Maka aku merasa sedikit perlu untuk meluruskannya!” Lanjut Iqlima tegas. Ilyas melihat Iqlima dengan tatapan sendu. Ia maju beberapa langkah. Di luar dugaan, secepat kilat Ilyas meraih tangan Iqlima dengan maksud untuk meminta maaf.
Sreeeggg.
Buuughh.
Awww. Pekik Layla menutup mata.
Selayang tinju mendarat sempurna di wajah Ilyas. Pemuda tersebut seketika terjengkang di lantai.
“Yahya? Kau?! Sssss” Ilyas mendesis, ia memegang sudut bibirnya yang pecah. Darah segar mengucur.
“Bang Yahya jangaaan!” Iqlima memegang lengan Yahya mencegahnya. Namun pemuda tersebut tidak menggubris. Orang-orang yang berlalu lalang berhenti untuk melihat kegaduhan yang terjadi. Yahya menarik kerah baju Ilyas, memaksanya untuk bangkit berdiri. Yahya mendekatkan mulutnya ke telinga Ilyas.
“Aku terima semua tuduhanmu. Aku terima semua pukulanmu. Aku terima semua yang kau alamatkan padaku. Tapi satu, seujung kuku-pun jangan pernah sekali-kali kau berani menyentuh ISTRI-KU! Karena ia hanya MILIK-KU seorang!” Bisik Yahya.
“Stop stop! Ada keributan apa ini?!” Satpam datang melerai. Yahya langsung menghempaskan tubuh Ilyas hingga membuatnya terhuyung.
“Mas Yah….” Belum sempat Layla memanggil Yahya, pemuda tersebut sudah menarik lengan Iqlima untuk masuk ke dalam ruang tunggu. Dadanya bergemuruh. Tangan Ilyas yang sempat sedikit menyentuh punggung tangan Iqlima membuatnya murka.
"Bang Yahya, tunggu... Bang Yahya... Sakit... " Iqlima mengaduh, genggaman tangan Yahya terasa menekan pergelangan tangannya hingga tanpa sadar pergelangan tersebut memerah.
Yahya berhenti. Ia melepaskan cengkraman tangannya dan menggerakkan Iqlima untuk berbalik menghadapnya. Yahya memberikan tatapan menghujam pada kedua netra Iqlima lekat-lekat.
Di luar ruangan tunggu, Layla menarik kembali tangannya yang sudah sempat terulur untuk memanggil Yahya. Gadis tersebut sedikit terkejut hingga ternganga.
Iqlima benar-benar di luar dugaannya.
***
Setelah membaca jangan lupa jejaknya, syukran katsiran 🌻🌻🌻
IG: @alana.alisha
***
__ADS_1