Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 118: Wajah yang Begitu Dingin


__ADS_3

“Hubunganku dan Yahya tidak ada yang istimewa” Ucap Dara ketika Iqlima terus merong-rongnya menceritakan tentang masa lalu mereka.


“Kalau begitu ceritakanlah! Walau tidak istimewa aku tetap akan mendengarkan! Lagipula, aku tidak kenapa-napa karena… Aku dan bang Yahya sudah pasti akan berpisah” Lirih Iqlima, intonasinya semakin lama semakin mengecil. Dara nyaris tak mendengarnya. Namun kemudian Iqlima memaksa untuk tetap tersenyum.


“Hei nona kecil, dari dulu kau memang sudah keras kepala! Aku penasaran, apa kepalamu terbuat dari batu? Lebih baik kau tidur dan istirahat, besok aku akan mengantarmu ke kampus! Bukankah katamu kau sudah harus menghadiri kelas?! Sebentar lagi kau akan segera lulus, jagalah kesehatan!”


“Kak Dara, ayoolah!” Rengek Iqlima.


“Huft… Bagaimana kalau kau cemburu?!”


“Cemburu?! Mana mungkin! Kami akan segera berpisah!”


“Aku malah melihat kau seperti tidak ingin berpisah dari Yahya. Seorang pembenci tidak menyukai sekecil apapun tentang apa yang dibenci. Memintaku menceritakan masa lalu Yahya? Itu artinya….”


“Kak Dara salah besar! Ini bukan tentang masa lalu bang Yahya! Ini tentang kalian, aku tau akan ada banyak cerita romantis. Kalau aku tidak ingin berpisah dari bang Yahya, aku pasti akan merasa cemburu. Tapi buktinya, aku tertarik!” Sanggah Iqlima.


“Tidak ada romantisme di antara kami. Yahya seorang Pemuda yang memegang teguh kesucian dan sangat menghormati wanita!” Tukas Dara. Ia menunduk. Mengenang kisahnya dan Yahya membuat gadis Aceh tersebut berkaca-kaca.


“Saranku sebaiknya kau berpikir ulang jika ingin berpisah dari Yahya jika tidak ingin menyesal di kemudian hari. Seberapa pun kau yakin akan cintanya padamu, tapi Yahya tidak akan pernah bisa kembali jika kau sudah dihapus dalam kamusnya. Kau akan menjadi makhluk asing yang baginya tidak akan pernah terdeteksi lagi! Dan itu,,, itulah yang pernah aku rasakan!” Terang Dara. Ia membuka sekaleng minuman bersoda, memperhatikan raut wajah sendu Iqlima lalu meneguk minuman nya.


Sejak awal bang Yahya tidak mencintaiku. Aku tidak akan mempersulit apapun. Setelah ini, memang sebaiknya kami tidak lagi saling mengenal.


“Kak Dara, tidak terhitung sudah berapa banyak minuman bersoda yang kakak minum. Sepertinya kakak harus berhenti!”


“Minuman bersoda membuatku merasa lebih relaks!”


“Itu tidak benar” Iqlima menggeleng. Ia menyatukan semua kaleng-kaleng soda ke dalam plastik untuk dibuang ke tempat sampah.


“Iqlima, apa kau tidak penasaran dengan harta peninggalan ibumu?”


“Harta peninggalan?”


“Setahuku keluarga almarhum ibumu merupakan orang berada!” Ucap Dara merebahkan tubuhnya.


“Aku tidak pernah kenal dengan keluarga ibuku…”


“Apa rencanamu setelah ini?”


“Setelah ini? Aku pun tak tau! Namun yang jelas, menyelesaikan kuliah dengan baik dan mencari pekerjaan! Bang Yahya sudah membayar untuk dua kampusku hingga semester akhir!”


“Kau masih sangat beruntung!”


“Bukankah itu memang sudah seharusnya?”


“Kau memang gadis cerdas! Tapi sayangnya kau sangat naif!”


“Naif?”

__ADS_1


“Ya… Kau gadis naif!”


“Kak Dara, perkataanmu sangat menusuk tajam tapi aku tidak bisa marah!”


“Itu karena perkataanku memang benar adanya! Dan kini aku akan memperpanjang keberuntunganmu! Katakan apa yang kau butuhkan, jangan sungkan! Kau bisa memakai komputer atau laptopku untuk membuat tugas!”


Mata Iqlima berkaca-kata.


“Maaf, aku pernah meragukan ketulusan kak Dara. Malam ini, semua terjawab sudah! Aku memang Iqlima yang naif!”


Dara mendekati Iqlima dan memeluknya hangat.


“Dengar! Kau harus sukses! Ada atau tidak adanya laki-laki! Kelak Kau harus bisa berdiri di atas kakimu sendiri!”


Iqlima mengangguk. Ia membalas erat-erat pelukan Dara.


Tok Tok Tok


"Siapa yang mengetuk pintu? " Iqlima dan Dara merenggang kan pelukan mereka dan saling bertatapan heran.


"Apa itu ustadz Ilyas? "


"Tidak mungkin selarut ini" Sahut Dara mengecek jam dinding.


"Apa mungkin.... "


"Tidak. Aku sudah tidak mau bertemu lagi dengan mantan suamiku! " Sahut Dara cepat. Ia beranjak meraih kerudung dan berjalan menuju pintu.


Tok Tok Tok


Dara membuka lubang pintu. Betapa terkejut nya ia ketika melihat siapa yang mengetuk pintu di luar.


"Kak, siapa? " Bisik Iqlima. Dara bergeser. Ia mempersilahkan Iqlima melihatnya sendiri.


"Po... Polisi?! "


Tok Tok Tok Tok Tok Tok Tok.


Kini para polisi menggedor-gedor tak sabar.


***


“Bagaimana kondisimu? Kita bisa menunda ke pabrik kalau kau memang masih ingin beristirahat!” Ucap Yahya acuh. Ia memakai rapi jas casual dan menyemprotkan parfum secukupnya.


“Tidak. Aku sudah merasa jauh lebih baik! Aku tidak nyaman sendirian di kamar. Aku juga butuh udara segar! Aku harus ikut ke pabrik!”


“Gibran dan rekan nya butuh informasi tentang bahan baku! Untuk menghargai mereka, kau bisa memberikan informasi sebisamu. Selebihnya, mereka akan kuserahkan pada sekretaris kita” Ucap Yahya seduktif. Ia bergerak menolong Layla yang tengah kesulitan mengancingkan pakaiannya.

__ADS_1


“Apa mas Yahya benar-benar tidak tertarik padaku?” Layla memberanikan diri menatap Yahya. Pemuda tersebut hanya menatapnya sekilas lalu diam, namun ia terus saja membantunya berpakaian. Ia turut menyisir dan mengikat rambut Layla hingga membantu memasangkan hijab dengan baik.


“Mas... "


"Aku sedang tidak ingin membicarakan apapun saat ini"


"Peluk aku... "


"Baju kita bisa kusut! Lagipula sudah terlambat! "


"Mas... Peluk Aku... " Layla tak menyerah. Dengan menghela nafas Yahya mengabulkan keinginannya. Yahya memeluk Layla. Ia melakukan nya beberapa detik sebelum akhirnya mereka keluar dari kamar hotel. Tidak ada percakapan yang berarti setelahnya. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam pemikiran mereka sendiri. Bahkan mereka mengabaikan keindahan kota Los Angeles dengan nuansa country nya.


Layla melirik Yahya perlahan. Hatinya tak tenang. Layla harus mencari cara bagaimana meluluhkan Yahya. Kalau biasa di Indonesia ada Iqlima sebagai penghalang, namun kini hanya ada mereka berdua. Sudah seharusnya semua berjalan sesuai rencana. Namun melihat situasi saat ini, seperti nya harapan hanya tinggal harapan.


"Mengapa kau sangat gerasak gerusuk? "


"Si kembar sedari tadi bergerak-gerak di perut. Aku ikut tak tenang"


Yahya melirik perut Layla. Dengan penuh kasih sayang calon ayah tersebut mengusap-usap di sana dan membacakan shalawat. Suara merdunya kini memenuhi mobil mereka. Supir melirik dari spion belakang. Ia ikut tersenyum.


Pasangan yang sangat serasi. Gumamnya. Mobil mereka terus melaju hingga akhirnya sampai ke pabrik.


"Berapa orang yang akan kita temui? "


"Hanya Gibran dan rekannya. Berdua saja"


"Aku akan tunggu di kantin, mas temui mereka dulu saja! Aku tak kuat jika harus terus berdiri! "


Yahya mengangguk setuju.


"Nona.... Nona.... " Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dengan suara keras dari jarak 50 meter. Ia mengejar Layla. Yahya yang sudah bergerak dengan arah berlawanan kembali berpaling. Ia sedikit terkejut melihat seseorang yang mengejar istrinya tersebut ternyata adalah Raafi.


"Nona, nona... Sebentar! " Raafi memblokir jalan Layla dari depan.


"Nona, ternyata kau memang orang yang selama ini kucari" Ucap Raafi yakin. Matanya berkaca-kaca bahagia. Takdir begitu berpihak padanya. Layla masih melongo. Ia belum mengerti dengan situasi apa yang tengah ia hadapi.


"Apa nona masih bisa mengingatku? Aku yang malam itu... " Raafi menjeda kalimat nya. Otak layla bekerja dengan cepat. Ia seketika bisa mengingat siapa pemuda yang ada di hadapannya. Mata wanita yang tengah mengandung tersebut sontak membola sempurna. Jantungnya nyaris berhenti berdetak.


"Nona.... "


Layla menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengkode Raafi untuk berhenti berbicara. Keringat dingin mengucur deras. Ia melirik Yahya yang berjalan semakin mendekati mereka.


"Aku tidak mungkin lupa pada nona! Aku ingat semua hal tentang nona. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kejadian malam itu! "


Plaaaakkkk


Layla menampar pipi Raafi dengan kekuatan penuh.

__ADS_1


"Ada apa ini? " Tanya Yahya. Bagai Satpol PP yang tengah berpatroli, wajahnya begitu dingin. Sama sekali tidak ramah.


 


__ADS_2