
Tap Tap Tap
Hajjah Aisyah dan Hajjah Wirda melangkahkan kaki mereka dengan tergesa dari parkiran menuju rumah sakit. Mereka langsung bergerak cepat ketika mendapat telepon dari asisten Cahyati bahwa anaknya Rumi mengalami kecelakaan. Rumi yang baru saja landing dari Malaysia mendapatkan musibah. Mobil yang ditumpangi oleh nya ditabrak oleh penggendara lain dari arah belakang.
“Bagaimana keadaan calon menantuku saat ini, dik?” Tanya Hajjah Wirda pada Cahyati saat mereka tiba di depan pintu gawat darurat.
“Alhamdulillah Rumi tidak kenapa-napa. Hanya pingsan karena shocked” Sahut Cahyati dengan mata berkaca-kaca.
“Alhamdulillah ya Rabbana”
“Layla,, salim nak! Ini hajjah Wirda dan hajjah Aisyah!” Titah Cahyati.
“Masya Allah… Ayu nya… halus banget… Nak Layla sekarang sudah kelas berapa?” Hajjah Aisyah berbinar melihat Layla.
“SMP kelas 3, Nyai”
“Panggil Ummi saja ya Cah Ayu!”
“I.. Iya.. Ummi..” Hajjah Aisyah tersenyum penuh arti.
***
Iqlima dan rombongan tiba di hutan seulawah menjelang siang hari. Semalam mereka sempat menginap di Kabupaten Bireun sebelum pada akhirnya tiba di tempat tujuan. Air mata Iqlima mulai memupuk. Ia sudah ikhlas terhadap semua yang terjadi. Namun begitu, bagaimanapun juga kenangan pahit masih tetap menyisa.
Dokter Jelita dan Yahya saling melirik melihat Iqlima yang terus masuk ke dalam hutan. Mereka mengikutinya dari belakang. Tak tampak lagi puing-puing sisa kebakaran di sana. Yang ada hanya tumbuhan-tumbuhan liar yang tumbuh subur.
“Iqlima…” Panggil Yahya khawatir. Ilyas yang masih tidak mengerti atas apa yang terjadi hanya bisa mensedekapkan tangan. Ia merogoh handphone yang bergetar dari saku bajunya.
“Assalamu’alaikum, Mi…”
“Wa’alaikumsalam… Nak, Rumi kecelakaan!”
“Ke… kecelakaan? Bukannya Rumi di Malaysia, Mi?”
Tiiit tiiit tiiitt
Sinyal pada handphone Ilyas hilang. Yahya juga dapat telepon yang serupa dari hajjah Aisyah. Ia disuruh segera pulang karena calon kakak iparnya mengalami kecelakaan.
Iqlima mengucap salam lalu duduk setengah berlutut di tanah. Ia membaca surah al-Fatihah sebanyak 3 x, lalu membaca surah al ikhlas sebanyak 3 x, dilanjutkan dengan surah al-falaq dan an-Nas. Iqlima juga membaca ayat kursi dan surah yasin. Tak lupa ia menyematkan bacaan dzikir, istighfar dan shalawat seperti pada tahlil. Terakhir, Iqlima membaca doa.
Bang Rais… Abang sudah bahagia… Sekarang tinggal-lah Iqlima yang penuh dosa di dunia ini, yang masih berjuang meraih ridha Allah. Semoga Allah tempatkan abang di tempat terbaik, berkumpul dengan para anbiya’, para mukminin, para shaalihin.
Iqlima bersaksi bahwa abang adalah suami yang baik, suami terbaik. Walau hanya 10 jam menjadi istri abang, tapi derasnya cinta yang abang berikan pada Iqlima melalui pengorbanan, melampaui batas nalar. Iqlima mengusap air matanya.
Bang, mungkin ini kali pertama dan terakhir iqlima ke sini. Tapi Iqlima janji akan selalu mengirimkan doa. Iqlima berjanji akan tetap menjalin komunikasi pada Ummi dan adik-adik. Iqlima mengusap airmata nya yang semakin deras mengalir. Dokter Jelita menghampiri gadis yang setengah berlutut itu lalu memeluknya.
“Jadi Iqlima baru pulih?” Ilyas terkejut mendengar semua cerita Yahya selagi Iqlima berdoa. Yahya mengangguk.
“Yas, Aku harap kamu tidak menyakitinya lagi. Tinggalkan Iqlima, kamu sudah akan menikah dengan Rumi!”
__ADS_1
“Lalu menyerahkan Iqlima begitu saja padamu? Yahya, demi Allah… Aku sama sekali tidak berniat menyakiti Iqlima! 6 bulan ini aku hancur. Dan Itu semua karena kamu! Jadi hentikan khotbahmu itu!!” Sambar Ilyas. Urat lehernya menegang menahan suara yang terpaksa di tahan.
“Aku tidak tertarik pada Iqlima… Aku tidak berniat….”
“Munafik!!!” Tuding Ilyas cepat.
“Kalau kau tidak tertarik pada Iqlima, untuk apa kamu membuang waktu mencampuri hidupnya selama 6 bulan ini?!”
“Yahya… Aku kecewa padamu… Sangat kecewa!” Ilyas membawa telunjuk nya mengarah tepat pada dada bidang yahya. Lalu Ilyas beranjak menjauh dari Yahya yang mematung. Pemuda ini melangkah menuju Iqlima.
“Iqlima…” Panggil Ilyas, ia menyodorkan sapu tangan miliknya pada Iqlima. Gadis tersebut menggeleng.
“Terima kasih. Aku bawa tisu” Sahut Iqlima mengabaikan uluran tangan Ilyas.
***
Ilyas menyetir di sepanjang perjalanan. Kali ini ia tidak lagi membiarkan Yahya duduk di samping Iqlima. Ia tidak akan membiarkan sepupunya itu memonopoli lagi waktunya bersama Iqlima.
Pemuda ini melirik ke arah spion belakang. Yahya dan dokter Jelita tampak sudah tertidur pulas.
“Hmh…” Ilyas sedikit berdehem memecah keheningan. Iqlima terus memeluk lukisannya dengan menatap lurus ke depan. Sebenarnya Ilyas penasaran, lukisan siapa yang terus menerus Iqlima bawa bersamanya. Pemuda ini berniat menanyakannya nanti.
“Iqlima… Aku….” Ilyas menjeda kalimatnya.
“Apa kau sudah memaafkan aku?”
“Aku sudah melupakan semuanya” Ilyas tersenyum.
“Kemarin aku belum menyelesaikan kalimatku. Aku ingin menebus semua kesalahan padamu”
“Aku akan memutuskan pertunanganku dan akan menikahimu. Aku ingin kau menjadikan bahuku untuk bersandar dalam menghalau semua rasa sedihmu” Kalimat Ilyas sukses membuat Iqlima menoleh.
“Aku ingin kau mempertimbangkan keseriusanku di masa lalu”
“Hari ini aku akan balik ke Jakarta. Aku akan menemui Rumi dan membicarakan semuanya secara baik-baik. Maaf, bagimu mungkin ini terlalu tergesa-gesa. Tapi selain sekarang ini, aku tidak tau lagi kapan kita bisa bicara serius”
“Kamu bersedia kan?” Tanya Ilyas seduktif.
“Ustadz kesini untuk menanggung semua rasa sedihku lalu mulai menyicil rasa sakit di hati orang lain, begitu?”
“Dia tidak mencintaiku Iqlima.., kami sama-sama tersiksa dengan pertunangan ini! Sahut Ilyas cepat.
“Percayalah… selama 6 bulan ini aku tersiksa dalam mengubur perasaanku padamu! Aku memang berhasil, tapi aku tidak pernah bisa bahagia”
“Apa yang ustadz Ilyas harapkan dari seorang janda sepertiku? Aku sudah pernah menikah. Aku hanya sebatang kara”
“Aku tidak peduli”
“Terima kasih. Suatu saat nanti entah itu kapan aku mungkin akan menikah lagi. Tapi aku sama sekali belum memikirkannya. Kalaupun aku menikah lagi, aku pastikan… orang tersebut bukan ustadz Ilyas” Sahut Iqlima. Tatapan mereka bertemu. Tak lupa Iqlima menyematkan senyum dalam mata yang memupuk air. Hatinya menjerit.
__ADS_1
“Tapi Iqlima…”
“Aku sudah melupakan Ustadz Ilyas saat Ustadz sudah memutuskan untuk meninggalkanku. Dalam melanjutkan hidup kembali itu mudah, yang sulit adalah meninggalkan masa lalu. Kini aku sudah melampaui kesulitan itu. Jadi jangan pernah menepuk pundakku karena aku tidak akan menoleh!” Sahut Iqlima tajam. Tatapan nya menghujam. Tenggorokan Ilyas tercekat. Pemuda ini terenyak. Tatapan itu menyimpan banyak luka.
“A… Aku…”
Ustadz Ilyas, Apapun yang menyakitiku, pada akhirnya hanya akan membuatku menjadi lebih kuat. Kata hati Iqlima. Mobil yang membawa mereka terus melaju meninggalkan hutan belantara. Mereka tenggelam dalam diam.
***
Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh
Ilyas mengamati Iqlima yang duduk di kursi. Gadis itu tengah menikmati novelnya Cinta Terakhir Helena. Begitu lah judul novel yang tertulis di sana. Ilyas datang menghampiri,
“Aku tau saat ini hatimu telah membeku, tapi benda yang beku suatu waktu bisa saja mencair. Aku berharap dan memohon pada Allah semoga aku yang akan menjadi cinta terakhirmu!"
"Iqlima.. Aku pamit, bukan untuk meninggalkanmu seperti dulu. Kali ini aku pamit untuk datang kembali membawa sebuah kepastian” Ucap Ilyas langsung berbalik tanpa menunggu jawaban. Iqlima menatap kepergian Ilyas tanpa ekspresi. Hatinya memang sudah terlanjur beku. Ia memilih meneruskan membaca novel.
Iqlima menunggu Yahya dan Dokter Jelita memesan tiket untuk kepulangan Yahya besok ke Jakarta via Bandara Kuala Namu, Medan. Setelah ini, Yahya akan mengantar pulang Iqlima dan dokter Jelita terlebih dahulu.
“Yahya, kita perlu bicara”
“Tentang apa dok?”
“Tentang Iqlima”
“Iqlima?” Yahya menghentikan langkah kakinya.
“Kita duduk di situ sebentar. Kurang dari 10 menit saja!” Dari kejauhan Yahya melihat Iqlima yang masih larut dengan bacaan novelnya.
“Baiklah”
Yahya dan Dokter Jelita mengambil tempat mereka. Tidak ada canda tawa yang seperti biasa tersemat.
“Yahya… Iqlima tau aku akan mengambil sekolah sub-spesialis di Jakarta dalam waktu dekat”
“Tau darimana? Aku tidak memberitahukannya”
“Dari dokumen yang ceroboh kuletakkan. Ia memelukku erat dan berkata ikut bahagia atas pencapaianku”
“Lalu?” Yahya menjadi pendengar yang baik.
“Aku tau sorot matanya menunjukkan ia sangat tidak baik-baik saja. Kepergianku yang mendadak, membuat ia memaksakan diri untuk bisa tegar padahal ia kembali merasakan kehilangan. Kesehatan mentalnya kembali diuji” Dokter Jelita merasa prihatin.
"Yahya, aku tau ini konyol. Tapi aku harus meminta ini. Kita sudah sama-sama merasa lebih dari sekedar teman biasa" Dokter Jelita berkaca-kaca.
"Nikahi Iqlima. Tolong jadikan ia istrimu. Entah perasaan apa yang kau rasakan untuk nya. Entah tertarik atau tidak. Entah hanya perasaan kasihan atau memang cinta yang belum kau sadari. Tolong bawa dia bersama mu. Kau sudah terlibat sejauh ini. Kau orang shalih, kau orang taat yang takut pada Allah. Jika ia menikah denganmu, Setidaknya walau kau tidak mencintai nya, kau tidak akan menyakiti nya. Aku percaya itu! " Permintaan dokter Jelita membuat Yahya terenyak.
***
__ADS_1