Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 109: Perasaan Yang Terusik


__ADS_3

Plakkkk


Cut Buleun memegang pipinya yang memerah. Ia sedikit meringis. Kesakitan.


"Kenapa? Kau terkejut karena aku menamparmu? " Tanya Cut Malahayati menahan amarah.


Sreettt


Wanita paruh baya tersebut melempar berkas dokumen ke hadapan putrinya.


"Apa ini?! Kau tau?? Aku hampir dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung dadakan melihat bengkak nya angka pengeluaran yang kau habiskan dalam waktu setahun!! "


Jlebb


Cut Buleun yang tadinya bertanya-tanya mengapa sang ibu tiba-tiba menampar nya jadi mengerti letak duduk persoalan nya. Cut Buleun hanya bisa menunduk. Ia sama sekali tak percaya bahwa ibunya ternyata menge-cek semua pengeluaran dana. Benar-benar di luar kebiasaan.


"Kemana kau alirkan semua dana?! " Todong Cut Malahayati.


"Kemana?!!!"


"Kemana ha?! Cut, mengapa kau hanya diam?!!!" Cut Malahayati berang.


"Aku... A... ku... "


"A... Aku membantu bisnis kekasihku... " Aku Cut Buleun pada akhir nya dengan tetap menunduk. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibu nya. Cut Malahayati terdiam setelah sedikit terhuyung. Untuk sesaat hening cipta terjadi di antara mereka.


"Kekasihmu? Kekasih mu yang mana? Siapa dia?" Suara Cut Malahayati sedikit melunak namun diam-diam wanita paruh baya itu mengepalkan tangan. Cut Malahayati sadar bahwa ia tidak bisa bersikap keras menghadapi putrinya.


"Namanya Hilman. Icut memanggilnya bang Man... Beliau tangan kanan Tuan Arya"


"Arya siapa?? " Cut Malahayati yang terkejut nama Arya di sebut sontak mendongak.


"Tuan Arya mana lagi, Nyak? Jelas Tuan Arya Pranawa... Tuan Arya Pemilik banyak hotel yang tersebar di seluruh Indonesia! " Ucap Cut Buleun bangga. Setidaknya ia berhasil mendapatkan kekasih yang sepadan dengan keluarga mereka juga bonus berwajah tampan. Wajah Cut Malahayati berubah pucat.


"Nyak, Nyanyak kenapa? "


"Aku masih pusing memikirkan ulahmu!" Cut Malahayati memijat pelipisnya. Kini sebelah tangannya bersandar ke kursi. Tiba-tiba ia merasa mual.


"Nyak, biar cut buatkan minuman! "


"Tidak perlu! Sekarang telepon pemuda itu dan bawa dia ke hadapan ku! " Titah Cut Malahayati.


"Ba... Baik Nyak..." Sahut Cut Buleun. Cut Malahayati yang masih memijat pelipisnya berlalu meninggalkan putrinya seorang diri. Cut Buleun buru-buru menelpon Hilman.


Ck. Kenapa Buleun tiba-tiba menelpon? Decak kesal Hilman yang tengah memantau pergerakan Iqlima. Ia yang sedari tadi menunggu di depan gang belum juga bertemu kekasihnya itu. Hilman mencoba mengabaikan panggilan Cut Buleun. Namun gadis tersebut tak juga menyerah.


Ck. Siiaal.


"Bang Maan... " Pekik girang Cut Buleun dari kota berbeda.

__ADS_1


"Ya... Ada apa sayangku? Bang Man lagi bertugas nih... " Sahut Hilman dengan mata yang tetap memantau kanan dan kiri. Ia masih menyesap cerutu yang sebelum nya sudah habis 3 batang.


"Nyanyak minta bang Man menghadap. Aku yakin Nyak mau merestui hubungan kita! Lalu Kita bisa menikah secepatnya!"


"Apa? Huk Huk Huk. Aw... Duh! " Terkejut. Putung rokok yang Hilman sesap jatuh ke kaki polosnya yang tidak tertutup sandal.


"Bang... Bang Man... Abang kenapa?! " Tanya Cut Buleun panik. Di saat yang bersamaan kedua mata Hilman membola. Ia melihat Iqlima yang berjalan masuk ke gang.


"Ah tidak kenapa-kenapa... Dek Cut, bang Man bertugas dulu ya... Nanti malam bang Man telpon... "


"Bang Man... Tunggu... Bang... "


Tut Tut Tut...


Pembicaraan mereka terputus. Hilman dengan cepat menghampiri Iqlima. Ia sudah tidak mempedulikan rasa sakit dikakinya yang terbakar.


"Iqlima....! " Suara serak Hilman memanggil. Iqlima menoleh. Pun dengan Maryam. Bola mata wanita tersebut nyaris melompat dari tempat melihat siapa yang ada di hadapan mereka. Maryam menegang. Tubuhnya terasa kaku.


"Dik, mengapa di sini? "


"Bang Rais... Ini bang Rais? Apa Abang baik-baik saja? Terakhir aku melihat bang Rais akan di cekakakan oleh orang" Ucap Iqlima mengamati tubuh Hilman dari atas ke bawah.


"Maryam, ini bang Rais... kau pasti terkejut. Cerita nya panjang, tapi Alhamdulillah ternyata beliau selamat dari marabahaya!" Ucap Iqlima. Sahabat nya tersebut masih berdiri kaku di tempat.


"Mar.... Mengapa kau diam saja? Mar... "


"Ayo dik... Mobilku ada di sana! " Ajak Hilman lagi.


"Ayo Mar, sepertinya ikut bang Rais sementara waktu lebih baik daripada tinggal di sini lebih lama! " Ajak Iqlima berbinar. Ia yang sudah putus asa karena ATM nya terblokir seperti mendapat secercah harapan. Hilman mengangguk senang.


"Tidak! Iqlima... Ayo kita pergiii! " Ajak Maryam menarik cepat lengan Iqlima. Ia menarik-narik sahabat nya tersebut untuk masuk ke dalam gang.


"Hey kalian tunggu! " Hilman berusaha mengejar dengan ikut masuk ke dalam sana. Namun Maryam semakin menarik Iqlima untuk berlari cepat. Beruntung, Hilman di hadang oleh sekelompok wanita.


"Mar... Kau kenapa? Hhh Hhh... " Iqlima merasa sesak. Nafasnya tersengal-sengal. Maryam terus saja menariknya.


Sreettt


"Maryam, stop! Ada apa dengan mu?! " Jengah. Iqlima menyentak tangan Maryam yang ada di lengannya. Mereka sama-sama hampir terjungkal.


"Iqlima, kita memang akan pergi dari sini tapi tidak dengan laki-laki itu! "


"Laki-laki siapa?! Dia bang Rais, Mar! "


"Apa bukti kalau dia itu bang Rais? Kau lupa bahwa aku sangat mengenal bang Rais? Bahkan aku lebih mengenal beliau daripada kau, istrinya! Wajah yang mirip belum tentu orang yang sama, Iqlima! Wajah mereka memang mirip.. Tapi aku sama sekali tidak melihat kemiripan di antara bang Rais dan dia! " Ketus Maryam. Iqlima menggeleng dengan tersenyum sinis.


"Kau memang sudah berubah, Maryam! Kau bukan Maryam ku yang dulu! Aku sudah tidak lagi mengenalmu! Kau bukan sahabat sejati ku! Aku selalu berusaha untuk berprasangka baik pada mu... Tapi kau... Hhhhh... Aku sangat kecewa! Kini kau menambah daftar rasa kecewa ku pada mu dengan hanya berprasangka buruk pada bang Rais! Kau tau? Bang Rais sudah melalui beribu cobaan dan rasa sakit, kini.... tidak kah kau bisa sedikit saja berempati padanya? Berempati pada apa yang telah ia lalui... bukan malah menuduh dan memfitnah nya! "


"Kau tanya bukti kan? Kau membicarakan bukti kan?! Bang Rais bisa menyebutkan semua kejadian yang membuat ku trauma seumur hidup itu secara rinci! Bang Rais mengetahui segalanya! Tidak kah itu cukup untuk membuktikan segala nya di samping kemiripan wajah mereka?! "

__ADS_1


"Baiklah Maryam, tidak ada gunanya bicara padamu! Aku pergi. Aku akan menghampiri bang Rais! Beberapa hari lagi kau sudah kembali ke Aceh kan? Salam untuk putramu! Kita berpisah di sini. Maaf jika kata-kataku mengusik perasaan mu. Tapi sungguh, rasa sakit di hatiku melebihi perkataan ku tadi... Terima kasih untuk beberapa jam ini..." Ucap Iqlima tajam. Ia langsung melesat meninggalkan Maryam seorang diri yang mematung. Tiba-tiba saja airmata Maryam terjatuh. Wanita tersebut mengusap air matanya yang kini kian jatuh berderai, ia menatap punggung sahabat karibnya yang menjauh.


Pun dengan Iqlima, ia seolah merasa puas telah meluapkan segenap perasaan ganjal di hatinya yang telah lama ia rasakan.


"Bang Rais.... " Panggil Iqlima pelan dalam kegelapan.


...****...


"Kemana istriku?! " Tanya Yahya bernada keras tanpa basa basi ketika melihat Ilyas keluar dari mobil. Terlihat sekali bahwa pemuda tersebut berusaha keras menahan emosinya.


"Bismillah Gus, sabar Gus... " Bisik Gibran. Yahya menghembuskan nafasnya ke udara.


"Kau bertanya dimana istri mu? Bertanya padaku? Apa kau tidak salah alamat? Hei Bung, kau suaminya. Bukan aku! Ck. Apa kau tidak tau malu?! Lagi pula, istri yang mana? Istri tua mu yang menderita atau istri muda mu yang kau cinta? Istri yang mana? " Sindir Ilyas tersenyum sinis.


"Jangan ber-akting! Kau pura-pura tidak tau kan? Cepat katakan dimana Iqlima sebelum kesabaran ku habis!!" Hardik Yahya.


Jujur saja, Gibran sedikit terkejut dengan gaya percakapan orang-orang intelek yang ada di hadapannya.


"Kau memang tidak bisa menjaga Iqlima. Sedari awal, Iqlima memang bukan ditakdirkan untukmu. Pernikahan kalian itu semu! Aku menyesal pernah mengenalkanmu pada nya! " Sahut Ilyas.


"Kau sudah keluar dari topik pembicaraan. Aku akan melaporkan mu ke polisi karena kau sudah menculik istriku! " Ancam Yahya.


"Apa buktinya? Laporkan saja! Kau pikir aku takut? Aku sama sekali tidak menculik Iqlima! Iqlima tidak bersamaku! " Ucap Ilyas santai. Ia akan melangkah masuk ke yayasan.


"Ilyas tungguuuu... "


Sreeeg


Yahya menarik kerah belakang kemeja Ilyas. Pemuda tersebut terpaksa menghentikan langkah kaki nya.


"Cepat katakan dimana Iqlima! "


"Aku tidak tau! "


"Jangan bohong!!! Gibran melihatmu bersama Iqlima. Gibran ini saksinya!! " Sambar Yahya. Ilyas mengerutkan kening melihat Gibran. Tidak asing. Mereka berada dalam bisnis yang sama. Gibran masih diam menyaksikan mereka bertikai. Ia bingung harus melakukan apa. Ilyas menghela nafas.


"Iqlima pergi diam diam dari kediaman mu kan? Juga tanpa seizin mu?! Itu artinya dia tidak menemukan kebahagiaan di sana... Dia tengah mencari sumber kebahagiaan nya sendiri! Saran ku lepaskan dia! Jangan membuat nya semakin menderita lebih dalam! "


Sreeegg


"Tau apa kau tentang rumah tangga ku hah?! Katakan Iqlima dimana!!!"


Buughhhh.


Tak sabar. Yahya melayangkan tinjunya dan kembali menarik kerah baju Ilyas.


"Kau pikir, kalaupun aku tau... Aku akan berbaik hati memberitahukan dimana Iqlima kepada mu?! Semudah itu?! Ck. Tidak Yahya!! Lagipula Iqlima ingin kau ceraikan! Jadi, daripada kau mengemis informasi padaku, Lebih baik Kau tunggu saja tanggal mainnya! " Ucap Ilyas seraya menyentak tangan Yahya yang menggenggam kerahnya. Tak lupa ia mengibas-ngibas kerah tersebut menghapus jejak tangan Yahya di sana sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam Yayasan.


***

__ADS_1


__ADS_2