Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 69: Aku Bukan Pelampiasan~


__ADS_3

Bagaimana caraku bisa pulang ke Bustanul Jannah? Iqlima mengusap airmatanya. Setelah dompetnya di copet, kini wanita tersebut sudah tidak memiliki sepeser uang-pun untuk pulang. Ia melirik jam tangan yang Yahya serahkan sebagai mahar beberapa bulan lalu.


Masa iya aku harus menjualnya? Memang laku berapa? Apa mungkin bisa laku 500 ribu? Iqlima berpikir cepat.


Lalu aku harus menjualnya dimana? Hhhh. Iqlima mengusap peluh yang membanjiri keningnya. Ia mulai melangkah mencari toko jam tangan.


Semoga bang Yahya mau mengerti dan tidak marah. Gumam Iqlima sendu. Tidak ada pilihan lain, Iqlima harus menjualnya. Waktu juga sudah sangat mepet. Khawatir akan disergap oleh orang yang telah mencopet dompetnya di ujung jalan sana, maka Iqlima memutuskan untuk berbalik arah dengan kembali melewati gedung semula.


Tap Tap Tap


Tiba-tiba langkah kaki Iqlima terhenti. Matanya menangkap sosok Yahya yang tengah berbincang dengan seorang wanita yang sepertinya rekan bisnis. Jantung Iqlima kembali berdegup kencang. Matanya berkaca-kaca.


Itu Bang Yahya... Iqlima mulai berjalan mendekat. Ia sangat terharu bisa kembali melihat Yahya. Ia mengayunkan langkah kakinya selangkah demi selangkah. Beberapa meter lagi Iqlima akan sampai di hadapan pemuda tampan tersebut.


Kini, dari jarak beberapa meter Iqlima dapat mencium harum aroma khas milik Yahya yang berlalu lalang dihembuskan oleh semilir angin.


Bagaimana ini? Pakaianku sudah sangat lusuh. Tubuhku beraroma sayuran busuk. Seketika perasaan ragu menyergap hatinya. Iqlima urung melangkah. Aroma tubuh Yahya yang menjangkau penciumannya membuat Iqlima menjadi krisis kepercayaan.


Di saat bersamaan, Yahya menolehkan pandangannya. Entah mendapat kekuatan darimana, dengan gerakan cepat Iqlima langsung bersembunyi di balik tembok. Ia menghadap ke belakang agar tidak terlihat. Iqlima memejamkan mata dan meraba detak jantungnya yang semakin berdegup kencang.


Huft Alhamdulillah... Hampir saja aku ketahuan! Seru Iqlima bernafas lega. Ia membuka kelopak matanya. Perlahan wanita tersebut berbalik arah dan mulai kembali mengintip.


Set.


Ha? Bang Yahya menghilang? Bang Yahya kemana?! Pekik batin Iqlima panik. Orang yang ia cari sudah tidak berada di tempat semula.


Mungkinkan bang Yahya sudah pulang? Hati Iqlima mencelos. Ia mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, kecewa. Tidak seharusnya tadi ia menghindar. Walaupun harus menghindar, setidaknya Iqlima harus tetap memantau. Gadis tersebut merutuki kebodohannya. Hhhhh, sekarang ia kembali kehilangan jejak Yahya. Iqlima berjalan lesu dan harus kembali melakukan misi semula. Yaitu menjual jam mahar.


“Neng, sendirian aja nih? Mau kemana? Sini abang anterin!” Seorang pemuda tanggung tiba-tiba menghampirinya. Iqlima menggeleng santai. Tatapannya kosong ke depan. Dengan tidak mempedulikan laki-laki tersebut ia terus melangkah.


“Ayo neng, jangan cemberut gitu dong! Abang anterin daripada sendirian begitu!” Iqlima tidak menggubris. Matanya berbinar ketika toko jam tangan sudah berada di dekatnya.


"Cantik cantik kok sombong sih?! Ayo sini...!" Pemuda tersebut hendak menyentuh tangan Iqlima. Namun,


Seetttt


“Awww. Bang bang! Santai bang!” Seorang pria lain tiba-tiba muncul memelintir pergelangan tangan pemuda yang hendak menyentuh tangan Iqlima. Pemuda tersebut merasa kesakitan.


Ba… Bang Yahya? Iqlima tercengang.


“A… Awww” Yahya memelintir dengan lebih keras.


“Okay okay, ini cewek abang? Ampun bang! Gue cuma iseng aja kok! Ampun!!” Yahya menghempas kasar tangan pemuda tersebut hingga terjatuh. Dengan penuh ketakutan pemuda tadi lari tunggang langgang. Iqlima tidak berhenti terpana menatap Yahya. Orang yang begitu ia rindukan berada didekatnya.


Seettt


Dengan wajah kusut dan tanpa mengucapkan sepatah kata-pun Yahya menarik tangan Iqlima masuk ke dalam mobilnya.


***


Ciiiit


Hilman menge-rem mendadak. Ia keluar dari mobil dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak Cut Buleun yang berdiri menunggunya sambil memainkan handphone. Namun sepertinya gadis tersebut tidak sadar bahwa orang yang dinanti telah berada di hadapannya.

__ADS_1


"Tadi aku melihat Iqlima di sini" Hilman mengerutkan keningnya. Ia merogoh handphone dari saku celana dan mulai melakukan panggilan.


"Bagaimana hasil penyelidikan mu tentang Iqlima selama ini?! Kenapa tidak ada kabar, hah?? " Hardik Hilman tanpa basa basi.


"Maaf bos, sulit sekali untuk dilacak. Di Aceh, di Medan, Saya sama sekali tidak menemukan keberadaan nona Iqlima di sana. Saya juga sudah menge-cek bahwa nona Iqlima tidak dibawa oleh pemuda bernama Ilyas. Jejak nona cantik tersebut lenyap! "


"Heh, jangan kurang ajar ya! Jangan sebut kecantikannya dengan mulut kotormu!! "


"Ma... Maaf bos! "


"Cari Iqlima diJakarta! Aku merasa dia sudah berada di sini! Jangan biarkan Iqlima lecet walau hanya setitik. Kalau sampai itu terjadi, hidupmu yang akan kubuat lecet!! " Titah Hilman menaikkan sebelah matanya.


"Siap bos!! "


"Cepat temukan dia!! Aku sudah tidak sabar!!!"


"Siap bos!!" Hilman menutup pembicaraan. Ia mengeryitkan kening tampak berpikir. Tanpa sadar handphone nya sudah dipenuhi oleh banyak panggilan tak terjawab.


Dek Cut.


Hilman tersadarkan. Ia langsung melesat menghampiri Cut Buleun.


"Dek Cut sayang... Lama tidak bertemu! " Hilman merentangkan tangannya.


"Siapa kamu?! Jangan kurang ajar ya!! " Hardik Cut Buleun menghindar. Dua bodyguard nya langsung memegang tangan Hilman.


"Aku Hilman! Dengarkan suara ku maka kau akan mengenalinya! " Cut Buleun menggeleng tak percaya.


"Lepaskan!! " Titah Hilman pada bodyguards yang memegang kuat tangannya. Pemuda tersebut sedikit membungkuk lalu berbalik arah.


"Bang Man... Tunggu...!"


"Jangan pergi...!" Cut Buleun nekad memeluk Hilman dari belakang.


"Sebagaimana Bang Man sudah mau jujur padaku, maka aku akan menghargainya!" Lirih Cut Buleun. Seperti nya gadis tersebut benar-benar sudah menaruh hatinya pada Hilman.


Aku akan menggunakan nya untuk mengembalikan hak-hak Iqlima. Aku akan mengembalikan kejayaan yang sudah seharusnya menjadi milik Iqlima! Gadis itu harus segera berada dalam pelukkan ku! Hilman membalikkan tubuhnya. Ia memeluk Cut Buleun dari arah depan dengan erat. Cut Buleun terenyuh.


"Dek Cut, sekarang namaku bukan lagi Hilman, melainkan Osman! Sekarang, Hilman sudah tidak ada"


***


Braaakkkk


Yahya menutup pintu kamar dengan membanting keras. Iqlima menutup telinganya. Wajah Yahya merah padam, rahangnya mengeras.


"Bang... A... Aku... minta... ma.. "


Sreeeggg


Aaawww


Belum sempat Iqlima menyelesaikan kalimatnya, Yahya sudah menariknya merapat ke dinding.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau akan bertindak sesuka hatimu? " Tanya Yahya dengan nada pelan. Jari jemari tangannya menyusuri pipi Iqlima. Wanita yang berada dalam kungkungannya tersebut terkesiap.


"Mau sampai kapan kau menyakiti hati suamimu?! " Yahya menghentikan gerakan nya.


"Mau sampai kapan kau menguji kesabaran ku?! Apa sampai aku menyerah padamu?! Dan kau bisa bebas melakukan apapun sesuka hatimu?! Apa setelah itu kau akan merasa puas???" Suara Yahya meninggi.


Deg.


"Jawaaabbbb!!!" Hardik Yahya keras. Urat-urat pada lehernya menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam emosi tinggi. Iqlima menggeleng. Dengan mata berkaca-kaca ia memberanikan diri memeluk Yahya. Pemuda tersebut memejamkan mata menetralisir gejolak amarah yang muncul membuncah-buncah.


"Aku merindukan bang Yahya! " Lirih Iqlima. Airmatanya mengalir.


Sreeettt


Yahya memegang kuat tangan Iqlima melonggarkan pelukan wanita tersebut.


"Apa?! Kau merindukanku?! Simpan bualan-mu, Cih!!"


"Kau mendambakan laki-laki lain dan pergi bersama laki-laki lainnya tanpa sepengetahuanku! Padahal ketika itu aku berada di antara hidup dan mati! " Mata Yahya berkilat-kilat. Iqlima terperanjat.


"Kali ini kau kembali pergi diam-diam! Ya... Aku harus bertepuk tangan atas keberanianmu! Kau bertindak sebagai orang yang paling mengerti kota ini!" Tenggorokan Iqlima terasa tercekat.


"Kau tidak mempermasalahkan jika ada orang jahat yang menjambretmu! Bahkan jika ada yang melecehkan mu sekalipun! Kau sungguh wanita liar! Kau berhasil mencabik-cabik harga diri suamimu!" Yahya terus mengeluarkan cercaannya. Hati Iqlima tercabik-cabik mendengarnya.


"Kau tau? Aku bukan pelampiasan disaat pemeran utama tidak ada!!" Airmata Iqlima mengalir semakin deras. Yahya merenggangkan kungkungannya. Ia mengepalkan tangan dan hendak meninju dinding. Namun tangan tersebut berhasil ditahan oleh Iqlima. Yahya langsung menghempaskannya. Ia memilih keluar dari kamar.


"Aaaaaa Aaaaa hiks hiks hiks" Tangis Iqlima pecah. Ia terduduk lesu di lantai. Iqlima menangis pilu. Air matanya berhamburan. Ia merasa gagal sebagai istri.


"Aaaaa Aaaaa... Maafkan aku... Hiks Hiks.... " Iqlima sesugukan. Ia sudah tidak mempedulikan rasa sakit yang mendera tubuh nya. Seorang diri, Iqlima terus saja menangis hingga tanpa sadar ia tertidur.


***


Yahya kembali masuk ke kamar setelah berwudhu' di mushala hotel. Ia mendapati Iqlima yang tertidur bersandar pada dinding lemari.


Hhhhh. Yahya membuang kasar nafasnya ke udara. Penglihatan nya terusik ketika melihat telapak tangan Iqlima yang terbuka. Telapak tangan tersebut tampak lecet memerah. Yahya mengerutkan keningnya. Ia mendekat. Perlahan Yahya meraba telapak tangan tersebut. Iqlima sedikit mendesis. Namun ia tetap terlelap.


Dengan sigap Yahya mengambil kotak P3K.


Aku marah... Aku sangat marah sampai aku tidak mampu untuk sekedar berkata-kata. Perlahan Yahya mulai mengolesi obat merah di sana.


Hatiku sakit saat di Korea kau menyebut nama orang yang kau cintai dengan antusias. Padaku kau tidak pernah se-antusias itu. Yahya tersenyum hambar.


Hatiku sakit melihatmu dengan pemuda lainnya sambil saling menatap. Aku memindahkanmu kuliah untuk menghindarinya. Tapi ternyata banyak celah untuk kalian bisa bersama. Kau mungkin menertawakan kebodohanku. Kau mengalirkan cuka di atas lukaku yang belum kau obati. Yahya masih mengolesi obat merah perlahan-lahan.


Ya... Aku memang bodoh! Yahya tersenyum masam.


Bahkan sampai saat ini pikiranku tidak bisa lepas dari memikirkan mu. Aku benar-benar hampir gila karena merindukanmu. Dan... semakin aku menghindarimu, maka semakin aku menyakiti diriku sendiri... Yahya mulai membalutkan kain kasa pada luka-luka ditangan Iqlima.


Namun, haruskan aku memaklumi semua perbuatanmu dan mmenafikan semua rasa sakitku? Airmata Yahya menetes.


***


💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2