Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 38: Prahara di Taman Surga


__ADS_3

Hilman gigit jari saat mendapati kediaman Iqlima di kota Medan benar-benar kosong. Tidak ada siapapun di sana. Hanya ada sedikit barang berceceran di atas meja, dua tiga helai pakaian di lemari juga beberapa lukisan yang di lukis dengan baik di atas kanvas.


Hilman mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari tersebut lalu mulai mengendus-enduskan nya. Ia mencari jejak Iqlima di sana. Aroma floral yang terkesan feminim dapat pemuda ini rasakan, entah hanya perasaannya saja. Yang jelas, harum-haruman manis yang hinggap di penciumannya membuat Hilman merasa semakin merindukan Iqlima.


“Bos, apa langkah kita selanjutnya?”


“Aku akan memikirkannya setelah sampai di Jakarta!” Jawab Hilman dengan mata yang tetap mengedar ke sekeliling. Perhatiannya tersita pada sebuah lukisan yang dibalut dengan selembar kain putih, pemuda ini perlahan menyibak kain tersebut.


“I… Ini…” Hilman mengerutkan kening, sedikit terkejut.


“Bos, kita harus segera pergi dari sini. Sebentar lagi satpam komplek akan siuman, efek obat biusnya hampir mencapai batas waktu!” Hilman mengangguk. Pemuda tersebut membawa serta lukisan beserta pakaian-pakaian Iqlima bersamanya.


Sedangkan di kediaman keluarga Zakaria, Yahya sejak tadi sudah membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. Ia tidak bisa tidur. Gelojak di tubuhnya belum juga mereda. Yahya sudah berusaha untuk meredamnya dengan berolahraga atau sejenisnya.


Namun keinginan tersebut tetap tidak bisa ia kendalikan. Perkataan Asih membuatnya mengingat kembali kejadian beberapa hari silam. Kejadian bersama Iqlima di atas sofa membuat pikiran liarnya terus menjajah di kepala.


Atas saran dari Hajjah Aisyah yang takut terjadi fitnah, maka untuk malam ini Iqlima tetap harus berdiam diri di pesantren. Maka mereka kembali berpisah untuk sementara waktu.


“Ada apa dengan tubuhku?”


“Aku tidak pernah begini sebelumnya!” Yahya mengacak kasar rambutnya. Frustasi. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari pori-pori kulitnya. Yahya mencoba bersandar di dinding tempat tidur lalu mengambil gawainya.


Iqlima, apa yang sedang kau lakukan?


Iqlima, kau harus bertanggung jawab!


Iqlima, Aku…


Aaaargh. Ketikan-ketikan pada handphone tersebut tidak ada satupun yang terkirim. Seperti biasa, Pemuda ini kembali menghapusnya. Huh, rasanya terlalu konyol jika aku menghubunginya malam-malam begini. Gerutu Yahya.


Dddrrrttt Drrrtttt


Handphone Yahya bergetar. Ia sumringah. Namun senyumnya memudar ketika mengetahui ternyata bukan Iqlima yang menghubunginya.


“Gus, saya ingin melaporkan hasil penyelidikan Budi tentang kasus di Aceh!” Suara Rusdi terdengar.


“Bagaimana?”


“Masih abu-abu. Entah bagaimana caranya Hilman berhasil lolos dari penjara. Kemungkinan besar pemuda itu yang mengatur semua siasat penjebakan agar Iqlima mendapat hukuman cambuk! Motifnya balas dendam. Tentang Maryam, ia telah di gunakan oleh Hilman sebagai alat pancingan. Budi masih menyelidiki apa sebenarnya motif Maryam, tapi kemungkinan besar karena uang!” Rusdi memberikan laporan.


Hilman bebas? Semudah itu?! Yahya mengepalkan tangannya. Ia berpikir keras hingga terlelap dengan sendirinya.


***

__ADS_1


“Katakan! Ada keperluan apa kamu dipanggil oleh Ummi Hajjah?” Tanya Ayi dengan nada tinggi. Ia yang mendapat shift malam menjaga para santriwati penasaran dengan kemudahan Iqlima dalam mengakses kediaman Hajjah Aisyah, junjungannya. Para santriwati lain yang ada di dalam kamar ikut menatapnya tajam.


“Bukan apa-apa mbak, hanya di jamu makan. Itu saja” Jawab Iqlima yang sedikit menutup mulut karena menguap. Pijatan yang diberikan oleh Asih tadi membuatnya menjadi sangat rileks hingga jadi mengantuk.


“Hey, Santriwati baru! Kamu memang belagu banget ya!” Ayi mendudukkan Iqlima. Seketika hidungnya mencium bau harum yang begitu segar dari tubuh gadis tersebut.


“Oh aku tau! Ternyata kau memang punya niat terselubung! Kau mau menggoda Gus Yahya dengan parfum berlebihanmu ini, kan?! Jawab!” Tuding Ayi. Iqlima menggeleng.


“Apa kau tidak tau kalau wanita itu diharamkan memakai wewangian yang berlebihan? Apalagi kalau tujuannya menggoda seorang Gus?! Dasar bahlul, wanita murahan! Kau harus diberi hukuman! Bawa dia ke tempat pemandian!” Titah Ayi, 5 orang kawanan-nya dengan sigap menyeret Iqlima ke tempat pemandian.


“Lepaskan! Lepaskan aku!” Iqlima meronta. Ia gemetar. Bayang-bayang masa lalu kembali berkelabat. Iqlima merasa sesak. Ia di giring ke dinding yang sudah berlumut hitam. Tubuhnya digesek-gesekkan ke sana. Bau busuk seperti bau lumpur endapan menyeruak. Iqlima mendadak mual.


“A.. Apa salahku? Hhhh Hhhh” Iqlima kesulitan bernafas.


“Kau masih bertanya apa salahmu? Kau orang Aceh kan? Seharusnya kau tau apa itu syariat dan Batasan terhadap lawan jenis!” Tukas Ayi.


“Ambilkan es batu agar dia paham! Ingat! Jangan sampai membuat keributan!” Lanjut Ayi berang. Mereka mengikuti apa yang diinstruksikan. Seember es kristal sampai ke hadapannya. Para kawanan tersebut dengan cepat mengisi air ke dalam ember hingga penuh.


Byuuuuurrrr


Guyuran air mendarat sempurna ke tubuh Iqlima. Sontak Ia menggigil.


“Ini adalah hukuman bagi wanita ganjen calon penghuni Jahannam sepertimu!”


Byuuuuurrrr


Ayi kembali mengguyur air bercampur es batu ke tubuh Iqlima. Gadis ini kedinginan. Bibirnya membiru. Ia semakin sesak. Ayi kembali mendorong nya ke dinding berlumut. Baju putih Iqlima semakin terlihat abstrak. Ayu sudah akan mengambil ancang-ancang untuk mengguyur dengan gayung besar ketiga kalinya. Iqlima sudah tidak mampu menahan rasa dingin. Tiba-tiba,


Blaarrr.


Awwww. Ayi memekik kuat. Tangannya yang memegang gayung dipelintir oleh Iqlima. Keadaan jadi berbalik arah. Gayung berserta air dingin tersebut jatuh ke lantai setelah berhasil mengguyur basah tubuh Ayi.


“Aku memang orang Aceh, lalu kenapa?! Aku masuk ke dalam kediaman Gugus kalian itu karena diundang masuk, bukan aku yang menginginkannya. Lalu dimana salahku?” Tanya Iqlima. Rasa dingin menggigit yang hinggap ditubuh membuat emosinya naik berkali lipat.


Seorang santriwati bernama Nilam yang baru menduduki di kelas IX atau setara sekolah menengah pertama tingkat 3 dengan cepat lari menuju kediaman para ustadzah.


Tok Tok Tok


“Assalamu'alaikum Ustadzah, ustadzah… keluarlah! Santriwati baru membuat keributan!” Adu Nilam panik.


“Apa? Membuat keributan bagaimana?” Ustadzah senior ikut panik.


“Santriwati baru menyerang ustadzah pengasuh dengan sangat brutal! Dia dengan tidak ada adabnya menyiram Mbak Ayi dengan air dingin!”

__ADS_1


“Astagfirullah... Benar begitu?”


“Saya saksinya! Saya bersumpah!” Ucap Nilam yakin.


“Ya Rabbi, bagaimana ini?!” Ustadzah senior bergetar.


“Beberapa santriwati lain sudah menuju ke kediaman Ummi Hajjah untuk melaporkan hal ini!” Lanjut Nilam lagi. Ustadzah senior terhuyung.


“Bagaimana jika Ummi Hajjah tau hal ini. Sangat memalukan! Mari kita lihat santriwati baru itu!” Nilam mengangguk.


Masih dari tempat pemandian,


“Kurang aj*r! Ringkus dia! Kita harus laporkan pada ustadzah lain kalau perlu pada Ummi Hajjah biar tau rasa! Dia seperti tarzan dan tidak pantas berada di taman surga ini!” Titah Ayi Murka. Para kawanan hendak menangkap tangan Iqlima yang tadi mengguyur. Namun dengan cepat gadis asal Aceh tersebut mendorong kuat tubuh Ayi hingga berbenturan dengan tubuh mereka. Serempak, bersama-sama mereka semua terpental ke lantai. Iqlima tidak tinggal diam, ia mengambil air dari ember berisikan es batu tersebut lalu mengguyur mereka satu persatu.


Byuuuurrr


“Ini untuk tuduhan palsu!"


Byuuuurrr


“Ini untuk ke dzoliman kalian!"


Byuuuuurrr


“Dan ini untuk kalian yang pengecut! Yang hanya bisa mengandalkan senioritas tanpa tabayyun terlebih dahulu!” Ucap Iqlima. Ia juga dengan cepat mengambil lumut hitam di dinding yang berbau busuk lalu di aplikasikan ke wajah Ayi dan kawanannya. Mereka mual. Salah Ayi sampai muntah.


Tanpa sadar beberapa pasang mata menatap Iqlima dengan intens.


“Santri baru, stop. Lihatlah ke arah gerbang pemandian!” Bisik seorang santriwati lain yang tampaknya bersikap netral.


Deg.


Hajjah Aisyah dan Yahya serta beberapa asisten rumah yang baru saja tiba menatap apa yang Iqlima lakukan. Gadis itu tengah memegang gayung yang akan digunakan untuk kembali mengguyur Ayi dan team. Dandanan Iqlima sangat berantakan.


Tatapan Hajjah Aisyah begitu tajam seperti Elang. Matanya memerah. Yahya sendiri melihat datar ke arah istrinya.


“Ya ampun… Dalam suasana minim pencahayaan begini Gus Yahya tetap terlihat tampan! Ya Allah… Benar-benar pangeran mahkota berkuda putih!” Bisik salah satu santriwati dengan pekikan tertahan.


“Kita shalawatin saja dulu, Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad” Sahut yang lainnya tetap dengan berbisik. Santriwati bernama Nilam yang tadi melaporkan tampak puas. Hatinya tertawa melihat kejadian memalukan yang menimpa Iqlima maupun Ayi.


***


Habis dibaca jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman 😇

__ADS_1


__ADS_2