Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 46: Berwajah Malaikat Berhati Iblis!


__ADS_3

Atas titah hajjah Aisyah yang tak terbantahkan, Yahya berkewajiban mengantar Layla pulang dengan dalih tidak etis jika membiarkan seorang gadis menyetir sendirian.


Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, mata Layla berbinar saat Yahya memundurkan mobil baru pemberian Razil dengan sebelah tangannya. Lengan jubah sengaja di gulung ke atas. Gerah. Urat yang menyembul kekar membuat maskulinitas pemuda tersebut meningkat berkali lipat. Layla mengamati Yahya dengan tanpa berkedip.


Vroooommm


Wuuuussssss


Dengan sekali banting stir ke kanan, Yahya melajukan mobil dengan kecepatan penuh lalu berubah konstan.


“Mas Yahya lagi mikirin apa sih?”


“Eh, ya?”


“Mas Yahya kenapa senyam-senyum sendiri? Mikirin aku ya? Ah, kan aku di samping, Mas! " Ucap Layla penuh percaya diri. Sebenarnya pikiran Yahya bertumpu memikirkan Iqlima. Memikirkan apakah istrinya merasa nyaman dan aman berada di kawasan pesantren. Apa jiwa bebas Iqlima tidak merasa bosan? Sesekali, Ingatan tentang tingkah polos sang istri yang lucu lagi menggemaskan membuat bibirnya membentuk kurva tanpa di sadari. Apa ia mulai merindukan gadis itu?


"Mas, aku ngomong ga di gubris ih! " Layla mengerucutkan bibirnya kesal.


"Hmh, maaf. Aku memang jenis orang yang tidak banyak bicara. Jadi maklum kan saja! " Ucap Yahya datar.


Si Pelakor tengik itu pasti sudah menyebarkan racun! Siapa sih dia berani-beraninya merebut mas Yahya dari seorang Layla Asmarini Ningsih putri bapak Arya Pranawa yang terhormat?! Kan yang lebih dulu mau dijodohkan itu aku! Memang nya dia lebih cantik dan lebih kaya dariku apa?! Huh! Wajah Layla berubah kusut.


"Mas Yahya, aku cantik ga? " Tanya Layla tidak menyerah.


"Iya" Sahut Yahya singkat tanpa menoleh.


Yes!


"Terus lebih cantikkan mana? Aku atau istri-nya mas?" Terkejut akan pertanyaan Layla, Yahya menoleh. Namun di saat bersamaan sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil mereka.


"Mas, awaaaass! " Pekik Layla. Ia langsung memeluk lengan Yahya.


Ciiiiiittttt


Yahya nge-rem mendadak. Sedikit lagi, mobil mereka nyaris menabrak. Jalanan sepi dan lengang. Seorang pria dengan gerakan cepat keluar dari mobilnya.


Ilyas? Kening Yahya mengerut. Layla memeluk lengan nya semakin erat. Pemuda ini sudah tidak bisa berkonsentrasi terhadap sekitar.


Brak Brak Brak


"Yahya, keluar!!! " Teriak Ilyas menggedor kasar kaca mobil dengan lima jari. Mau tidak mau Yahya membuka pintunya. Ilyas tersenyum sinis melihat Layla mendekap lengan Yahya. Posisi mereka persis seperti orang yang tengah kasmaran. Layla merenggangkan pelukannya.


Buuuuggghhh

__ADS_1


Ilyas langsung melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh ketika Yahya keluar dari mobil.


"Tega!! Kau raja tega!! " Teriak Ilyas lagi. Suasana jalanan yang lengang dan sepi membuat teriakannya terdengar membahana.


Sssshhh. Yahya sedikit meringis. Tangan kekar Ilyas cukup bisa merobek sudut bibir nya. Darah segar mengucur.


Buuuuuggghhh


"Kau mencuri Iqlima dariku!!! Permainan kotormu sangat menjijikkan!! " Ilyas melayangkan kepalan kedua.


"Kau laki-laki busuk! Kau pecundang! Kau telah memisahkan dua anak manusia yang saling mencintai!!! Sekarang kau malah bersenang-senang dengan gadis lain!!! Kau laki-laki pengecut!!! Dulu, ternyata kau juga yang sebenarnya telah meninggalkan Dara! Bukan dia! Aku sudah tau semua kebusukkanmu!! Sekarang kau malah merebut Iqlima dariku!! " Ilyas terus meracau tanpa arah. Ia berteriak dengan menghardik dan berkata-kata kasar. Ia melampiaskan segala emosi yang memuncak tak terbantahkan.


Dari dalam mobil, Layla cukup terkejut mendengar perkataan Ilyas. Iqlima? Dara? siapa mereka? Mas Yahya dan tunangan mba Rumi sedang memperebutkan siapa?


Buuuuuuughhhhh


"Katakan kenapa kau menikahi Iqlima!!!" Yahya memegang rahangnya. Darah mulai menetes-netes.


"Wallahi, aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan ini!!! Kenapa kau diam, Haah?! Kenapa kau tidak membalas pukulan ku jika memang kau benar?! Ah, tapi nyatanya Kau memang bersalah!! Kau Munafik!!! Kau adalah manusia berwajah malaikat berhati iblis!!!" Mata Ilyas menyala. Ia berapi-api. Hampir saja Ilyas melayangkan pukulan keempat. Namun,


"Stop!!! Stopp memukul calon suamiku!! Aku telah merekam perbuatanmu! Kau bisa aku jebloskan ke dalam penjara! " Ucap Layla garang. Ilyas tersenyum pahit mendengar perkataan Layla.


Calon Suami? Cih! Dia doyan gadis muda yang cantik!


Ilyas berlalu setelah sebelum nya kembali tersenyum sinis. Ia masuk ke dalam mobil mewahnya, membanting pintu dengan kasar serta melaju dengan kecepatan tinggi.


Ilyas, bukannya aku tidak membalasmu. Aku hanya khawatir kau tidak akan mampu menahan pukulan tanganku! Mungkin kau lupa bahwa aku adalah seorang altet! Tapi suatu saat nanti aku pasti akan membuatmu mengingatnya! Gumam Yahya menyentuh wajah memarnya.


"Mas, luka mas lumayan parah lhoo. Ayo aku bantu bersihkan! " Ajak Layla mencoba menggiring Yahya.


"Stop!! Layla stop!!" Titah Yahya tiba-tiba.


"Pindahkan tanganmu!! Kau tau? Hanya istriku saja yang boleh menyentuhnya!! Kau mau meletakkan tanganmu dimana, hah?! Jangan melampaui batas mu!!!" Sembur Yahya spontan. Rasa kesal, amarah, bercampur aduk memenuhiubun-ubunnya. Layla tercengang. Air menggenang di pelupuk matanya.


"Hiks hiks hiks... Aaaaa... aaaa hiks hiks hiks! " Layla menangis keras.


"Aaaa Aaaaa Aaaaa hiks hiks! " Yahya mengacak rambutnya. Bingung.


"Hmh... Aku kelepasan bicara. Naiklah ke mobil! Aku akan mengantarkan mu, hm? " Ucap Yahya lembut. Layla sesegukkan. Ia berharap Yahya mau memeluk untuk melunakkan hatinya. Namun sayang, Pemuda beristri itu malah langsung masuk ke dalam mobil.


Mas Yahya... Semakin kau bersikap dingin dan mempertahankan istrimu, maka semakin membuat rasa penasaranku bertambah. Aku jadi semakin ingin membuatmu menjadi milikku. Kau hanya boleh melihat ku saja. Melihat ku seorang.


***

__ADS_1


Suasana pada asrama santriwati di Pondok Pesantren Bustanul Jannah juga masih menegang. Sidang dakwaan yang melibatkan Iqlima, santriwati baru yang dianggap begitu banyak melakukan pelanggaran fatal menemui puncaknya.


"Ustadzah, Aku dan teman-teman bisa memberikan kesaksian bahwa ustadzah Ayi tidak bersalah. Bukankah malam itu kami juga berada di lokasi kejadian? Santriwati baru harus dihukum. Ia keluar diam-diam dari Ma'had dan sebelum nya ia juga menyerang ustadzah Ayuni! Itulah kesalahannya! Kebenaran apalagi yang kita cari selain barang bukti dan kesaksian?! "Nilam mengajukan diri sebagai saksi. Ayi menatap nya penuh haru.


Iqlima, kau hanyalah seorang santriwati baru. Jangan pernah berharap menjadi bintang Kejora yang paling bersinar di Ma'had ini! Gumam Nilam menatap Iqlima dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas.


"Berapa orang yang dapat memberikan kesaksian?" Tanya Ustadzah Ayuni. Satu persatu para santriwati mengangkat tangan dengan tertunduk. Ada yang mengangkat dengan suka rela dan ada yang mengangkat karena takut dan terpaksa.


"Satu.. dua.. tiga... lima... Hmh, Ada tujuh orang yang bersaksi! Apa kalian berani bersumpah kalau kalian tidak berbohong?! Bersumpah-lah atas nama Allah SWT yaa Akhawat fillah! " Titah ustadzah Ayuni mencoba bersikap adil.


Para calon saksi terenyak. Mereka saling melirik satu sama lain. Mau maju untuk bersaksi adalah sebuah dosa, mau mundur juga pasti akan mendapat hukuman karena sudah terlanjur berbohong. Nilam menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam lagi mengancam. Bagai menelan buah simalakama, mereka tidak memiliki pilihan.


"Kami bersumpah ustadzah! " Jawab mereka serempak pada akhirnya.


A.. Apaa? Apakah mereka benar-benar santri yang belajar ilmu agama? Iqlima ternganga tidak percaya.


"Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim... menurut peraturan pondok, jika ada santriwati keluar tanpa izin sebanyak tiga kali, maka secara otomatis dia akan dikeluarkan dari pondok ini! Apalagi kesalahan nya double dengan membuat onar"


Deg.


"Tapi, Iqlima masih melakukan sekali pelanggaran. Saya juga harus mempertimbangkan bahwa status nya yang masih merupakan santri baru dan belum pernah menerima pengetahuan dari pesantren ini! dia benar, dia adalah tamu di pondok kita ini! "


"Tapi... bagaimana pun, kesalahan tetap lah kesalahan. Kebenaran harus ditegakkan sebagai pembelajaran awal. Dan lagi, sebagai seorang tamu sudah sepatutnya Iqlima menghargai tuan rumah!" Tukas ustadzah Ayuni menohok.


Rasakan!!! Gumam Ayi menyeringai.


"Maka, hukuman mu adalah...." semua menantikan apa yang akan ustadzah Ayuni katakan selanjutnya.


"Dalam seminggu ini, kamu wajib memakai kerudung berwarna merah. Nama-mu akan di masukkan kedalam daftar catatan hitam!"


"Iqlima, kerudung merah merupakan simbol aib dari sebuah pelanggaran yang memalukan! Selain itu, kau juga dihukum berjemur 8 jam di atas panggung yang ada di tengah lapangan. Baik para santriwan maupun santriwati bisa melihat mu yang tengah di hukum sebagai pengingat bagi mereka semua"


Hahahahaha, memang enak dipermalukan dimuka umum? Makanya jangan belagu! Aku yang santri lama dan semua orang tau kalau aku adalah seorang putri juragan apel saja bersikap santuy dan tidak pernah mencari masalah. Ini anak baru mau ngelunjak! Hahahaha. Nilam kegirangan.


Tuk Tuk Tuk.


"Hukuman mu resmi diberlakukan! " Lanjut Ustazah Ayuni menutup persidangan.


Ya Rabb~


Bang Yahya... Adek dihukum bang....


***

__ADS_1


__ADS_2