
Calm down~ Calm down, Layla~ Layla menarik-hembuskan nafas melihat keseriusan sorot mata Yahya terhadap Iqlima. Ia yang sudah cukup berpengalaman menghadapi kaum pria benar-benar bisa membaca gelagat Yahya dengan jelas. Pukulan yang dilayangkan pada Ilyas sudah menjelaskan segalanya.
Wanita itu tidak bisa disepelekan. Ia tidak hanya mencuri raga mas Yahya, tapi ia juga mencuri hatinya. Aku sudah kecolongan berkali-kali, untuk kedepan, aku tidak boleh lagi membiarkannya. Layla mematung, iaberfikir.
“Sayang? kamu di sini?!” Layla terkejut ketika seorang pria menyapa lalu memeluknya dengan erat.
“Mas Ridho?”
“Kamu tau darimana aku pulang hari ini, hm? Surprised banget! Padahal aku yang mau kasih kejutan buat kamu!” Ridho mengelus lembut pipi Layla. Gadis tersebut melirik ke arah Ilyas yang tampak cuek. Ilyas masih meringis dengan sesekali meraba sudut bibirnya yang robek.
“A.. Aku..”Layla menghindari sentuhan berlebihan yang Ridho berikan.
“Kita ke apartemen-ku ya! Aku bawa banyak oleh-oleh untukmu” Sontak Ilyas mendongak.
“Aku yang membawa nya ke sini, aku juga yang akan mengantarnya pulang” Sahut Ilyas mendekat.
“Layla, dia siapa?” Ridho memasang wajah tidak ramah.
“Dia mas Ilyas, tunangan mbak Rumi!”
“Ooh begitu.. Mas, kenalkan saya Ridho.. pacarnya Layla!” Ridho mengulurkan tangannya. Wajah yang mengerut berubah cerah seketika.
“Mas Ilyas, aku pulang dengan mas Ridho saja ya. Aku akan menghubungi papa untuk meminta izin!” Ilyas mematung lalu terpaksa mengangguk. Ridho dan Layla keluar dari bandara dengan saling merangkul satu sama lain.
Dia masih terlalu muda, aku mencemaskan pergaulannya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gumam Ilyas sambil matanya masih mengekori pergerakan Layla dan pacarnya.
***
Iqlima memandang ke luar jendela pesawat. Di luar gerimis turun. Butir-butir air singgah di permukaan. Terhitung ini adalah kali ketiga ia melakukan perjalanan udara hanya dalam rentang waktu kurang dari satu tahun.
Titik air yang menetes membawa ia pada kenangan yang telah berlalu. Iqlima merasa sendu. Perasaannya bercampur aduk.
Bang Rais...Maafkan aku... Gumam Iqlima sambil diam-diam ekor matanya melirik Yahya yang berada tepat disamping kanan. Banyak kecemasan yang Iqlima rasakan termasuk rasa cemas karena sampai saat ini belum ada sepatah katapun yang Yahya keluarkan sejak berhasil menggiringnya ke dalam ruangan tunggu.
“Bang Yahya…” Panggil Iqlima memberanikan diri. Yahya tidak menggubrisnya. Pemuda tersebut memakai headset. Mungkin Yahya tidak bisa mendengar panggilannya.
“Bang Yahya…” Panggil Iqlima lagi. Kali ini ia menekan-nekankan jari telunjuknya berulangkali pada lengan kekar Yahya berhati-hati. Seketika Yahya menoleh. Wajah kusut, kening mengerut dan sorot mata tajamnya membuat suara Iqlima tercekat di tenggorokan. Yahya menaikkan sebelah alisnya ke atas.
“Bang Yahya ma… masih marah?” Iqlima menggigit bibir bawahnya ketika menyadari ia salah mengajukan pertanyaan.
“Kau pikir aku akan baik-baik saja setelah dengan mudahnya kau membiarkan Ilyas menyentuhmu?” Bisik Yahya sarkas dengan penuh penekanan. Iqlima menggeleng. Tuduhan Yahya menambah daftar rasa sakit di hatinya.
“A... Aku….”
__ADS_1
Kruk Kruk Kruk
Belum sempat Iqlima melanjutkan kalimatnya, ia tersentak. Tiba-tiba para penumpang bisa merasakan pesawat ter-ayun dan bergetar. Dari ketinggian 33.000 kaki, mereka memasuki kawasan dengan cuaca buruk.
Please remain seated!
Please don’t leave your seat!
Make sure your seatbelt is fastened!
Crew pesawat memberikan peringatan untuk tetap duduk dan mengencangkan sabuk pengaman melalui pengeras suara. Jantung Iqlima berdetak tidak karuan. Ia sontak mematung lalu memejamkan mata dengan hati melancarkan berdzikir. Di luar sana, awan hitam bergulung-gulung seperti membentuk sebuah aliansi kerajaan. Kilat dan petir menyambar. Pesawat berayun-ayun.
“Turbulensi pada saat cuaca buruk seperti ini lumrah terjadi. Insya Allah tidak apa-apa!” Bisik Yahya melunak. Melihat tubuh Iqlima yang bergetar, hatinya berubah iba. Yahya berinisiatif menggenggam tangannya. Padahal pemuda tersebut masih merasa marah. Perasaan emosi akibat tindakan Ilyas masih terasa mendominasi.
"A.. Apa benar-benar tidak apa-apa?" Tanya Iqlima meyakinkan.
"Turbulensi pada pesawat biasanya tidak berbahaya. Ia bukan suatu tanda bahaya" Yahya menggenggam tangan Iqlima semakin erat.
"Kalau tidak bahaya kenapa harus pakai sabuk pengaman? " Iqlima masih belum bisa mempercayai perkataan Yahya 100 persen.
"Agar penumpang tidak terhempas dan terluka karena guncangan yang tiba-tiba terjadi, karena guncangan tidak bisa terprediksi. Kadang kuat kadang ringan" Terang Yahya lagi.
“Ka.. Kalau pesawat ini jat..”
“Sssttt, al-kalamu du’a. Perkataan adalah doa, lebih baik jangan ucapkan apapun kecuali hanya perkataan yang baik-baik saja” Iqlima mengangguk. Matanya mengembun. Yahya membawa kepala Iqlima untuk bersandar dipundaknya.
“Tenang saja. Untuk ke depan, kau tidak akan sendirian. Karena selain memiliki aku, kau juga akan memiliki anak-anak yang akan mengisi hari-hari mu dengan penuh kebahagiaan” Iqlima mengangkat wajahnya. Walau Yahya mengatakannya dengan tanpa ekspresi, namun jawaban tersebut terasa begitu sejuk. Kalimatnya terdengar begitu indah di tengah suasana gaduh yang mencekam. Iqlima terpana, Iqlima jatuh cinta. Iqlima jatuh cinta dengan perkataan sederhana Yahya.
Anak? Aku akan punya anak? Apa aku bisa memilikinya?
Kruk Kruk Kruk.
Pesawat kembali bergetar. Sesekali burung besi raksasa tersebut bergerak menukik ke bawah seperti terlepas tak terkendali. Hati Iqlima kembali tak karuan. Ia seperti tersadarkan bahwa kondisi mereka saat ini sedang tidak baik-baik saja.
***
Ciiiiiittt
Sebuah mobil Jimny G-Class yang berhenti tepat di depan mobil Ilyas membuatnya terpaksa melakukan rem mendadak. Segerombolan pemuda kekar dengan tato menghias di tubuh keluar dari mobil.
Brak Brak Brak
“Keluar!!” Teriakan mereka menggema di jalanan sepi. Ilyas terpaku.
__ADS_1
“Keluar kau!! Atau kami akan memecahkan kaca mobilmu!!” Ilyas terpaksa mematikan mesin dan mengikuti apa kemauan mereka.
“Ada apa ini?! Apa yang kalian inginkan?!”
“Tidak ada apa-apa, kami hanya ingin menghajarmu!”
Buuuggg
Pukulan mendarat. Ilyas gagal mengelak. Kali ini wajahnya menjadi memar. Tulang pipinya serasa retak. Mulut yang robek akibat pukulan Yahya tadi kembali mengeluarkan darah.
“Rasakan ini!!”
Buuuggg
“Rasakan karena kau telah bersenang-senang dengan kekasih bos kami, pukulan ini masih tidak seberapa!”
Buuuggg.
Ilyas terhuyung, kedua sisi wajahnya menjadi sasaran. Kepala Ilyas terasa berkunang-kunang. Ia mengangkat tangan memohon agar mereka berhenti.
“Juga rasakan ini!”
Buuuugghh
Buuuurrrrrr.
Darah segar muncrat dari mulut Ilyas seperti semburan air. Mereka menendang di bagian perut. Pemuda tersebut terpental berguling-guling ke aspal. Ilyas merasa bumi berputar hebat. Kematian serasa di depan mata.
“Ini peringatan awal karena telah merebut wanita bernama Iqlima dari tangan bos kami!” Ucap mereka. Walau dengan mata tertutup dan rasa sakit mendera hebat, Ilyas masih dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.
Suuttt. Pemuda bertato yang paling gemuk memberi kode pada kawanan-nya untuk pergi.
"Apa harus pergi secepat ini? Dia belum babak belur!" Proses kawanan yang lain.
"Setidaknya ia sudah terkapar tak berdaya! Ayo pergi!!" Mereka meninggalkan Ilyas seorang diri. Darah kental bergumlal-gumpal keluar dari mulutnya.
Iqlima? Ck. Yahya, aku tak menyangka ternyata kau sebusuk ini. Tega-teganya kau melakukan perbuatan tidak manusiawi ini padaku. Setelah kau menjauhkan aku dari Iqlima lalu menikahinya dengan mengkhianati aku, lalu kau mengirim algojo untuk melumpuhkanku. Apa pukulan mu di bandara tadi tidak cukup? Seharusnya aku yang marah!! Ilyas mengepalkan tangan bersusah payah. Di sela-sela kekuatannya, Ilyas mengambil gawai.
“Pak polisi, Saya Ilyas anak Kiayi Utsman pemilik pondok pesantren Dar As salam ingin memberikan laporan!”
“Sebelumnya tolong jemput saya di jalan xxx xxx. Saya tengah terkapar tak berdaya di atas aspal karena baru saja dikeroyok oleh sekelompok orang. Saya ingin melaporkan orang yang telah mengeroyok saya dengan melakukan visum untuk menunjukkan bukti!” Ucap Ilyas dengan suara parau.
Yahya, Allah tidak tidur, Allah akan membalas semua perbuatan kejimu. Bukan keinginanku untuk menjebloskanmu, tapi ini pilihanmu sendiri.
__ADS_1
Ssssss. Ilyas meringis. Tak kuat menahan rasa sakit, Ilyas jatuh pingsan.
***