Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 33: Sampai Bertemu di Jakarta!


__ADS_3

Layla membuka ruangan kerja Arya. Laki-laki paruh baya yang sedang tidur di kursi kebesaran nya terbangun mendengar suara decitan pintu.


“Anak papa! Come here!” Arya merentangkan tangannya. Layla menghambur ke dalam pelukan.


“Layla rindu papa. Papa sibuk sekali. Tidak pernah ada waktu untuk Layla!”


“Maafkan papa, Nak!"


"Apa papa juga akan melewatkan makan bersama nanti malam? " Tanya Layla sendu. Arya membuang nafasnya.


"Papa merindukanmu! Dan percayalah! Semua Kesibukan yang papa lakukan adalah untuk masa depanmu juga kakakmu! Hanya untuk kalian... anak-anak kesayangan papa!” Sahut Arya sungguh-sungguh. Lagi-lagi Layla harus menelan pil kecewa mendengar jawaban absurd sang Ayah.


“Kalau begitu, papa janji akan menjodohkan Layla dengan mas Yahya, kan?” Layla mengerucutkan bibirnya. Manja.


“Tentu! Tentu saja! Siapa yang tidak kenal dengan Haji Zakaria? Selain beliau adalah seorang Ulama tersohor, Haji Zakaria juga memiliki perusahaan besar yang akan diwariskan pada Yahya! Papa tidak akan berpikir dua kali untuk menjodohkanmu dengan bibit unggul! Papa benar-benar menyeleksi jodoh pilihan untukmu, sayang!” Ucap Arya sumringah.


“Kau dan Yahya akan berkolaborasi. Perusahaan kita akan menyatu menjadi perusahaan yang tiada tandingan! Satu hal yang harus kau ingat! Kelak, Kau harus memiliki keturunan dari Yahya! Maka dengan begitu kedudukan mu akan semakin kuat!” Lanjut Arya.


keturunan?


“Tapi bagaimana jika ternyata ada perempuan lain yang merebut mas Yahya dari Layla, Pa?”


“Haha Tidak mungkin. Siapa yang berani menikung anak papa? Kau sempurna. Anak papa adalah gadis yang sempurna! Kau kebanggaan papa! Kalau saja ada wanita dengan jenis itu, maka sudah tentu kau harus menyingkirkannya! Papa yakin kamu mampu! Anak kebanggaan papa harus memiliki permainan politik yang baik!”


Benar juga, pelakor bau tengik itu harus aku singkirkan! Ucapan Arya membuat Layla berpikir keras.


Tok Tok Tok


Ciiiit


"Permisi tuan Arya. Pemuda yang bernama Teuku Hilman dijadwalkan akan mendarat tiga hari lagi di Jakarta! " Ucap Asisten memberikan laporan.


"Ha... Hahahahahhaa.... Good! Anak itu akan sangat berguna di masa yang akan datang!" Arya tampak puas.


"Hilman itu siapa, Pa? "


"Tidak penting, dia hanya seorang kacung! " Sahut Arya tersenyum sinis. Layla mengangguk-angguk tidak ambil pusing.


***


Yahya melangkah maju dengan tatapan yang terus mengintimidasi hingga membuat Iqlima jatuh terjerebab di atas sofa. Netranya fokus melihat pada sisa-sisa gincu merah yang masih melekat jelas di sana.


Gerakan Yahya yang menipiskan jarak mereka membuat jantung Iqlima berdetak tidak karuan. Pemuda ini lupa diri. Yahya kembali menyatukan bibir mereka. Namun tidak hanya sekedar menempel. Ia menyesapnya dengan kuat seolah ingin menghapus jejak warna yang begitu mengganggu pikirannya.

__ADS_1


“Bang…” Panggil Iqlima sendu setelah berhasil meraup sedikit udara. Panggilan manis tersebut membuat mulut Iqlima sedikit membuka. Kesempatan itu tidak Yahya sia-siakan. Ia kembali menyerangnya. Suara lenguhan yang terdengar meningkatkan adrenalin juga menambah semangat Yahya.


Tangan liarnya tidak tinggal diam. Yahya dengan cepat mencari letak kancing gamis Iqlima. Ketemu. Ia masih pada posisinya. Iqlima pasrah menatapnya sendu. Satu kancing berhasil lolos dari tempatnya.


Dengan sekali gerakan, Yahya mengangkat ke atas kerudung panjang yang terasa mengganggu. Kulit bersih Iqlima yang sedikit terlihat membuat Yahya kesulitan bernafas. Semakin penasaran, Ia melanjutkan misinya dengan membuka kancing kedua. Yahya akan berlanjut ke kancing ketiga namun,


“Bang…!” Pegangan tangan Iqlima pada tangan Yahya membuat pergerakannya terhenti. Nafas mereka terdengar menderu. Yahya menatap Iqlima nelangsa.


Iqlima... Please... Batin Yahya mengerang.


“Ki…Kita belum wudhu’, be.. lum baca do’a…”


Deg.


“Ju.. juga be..lum shalat sunnah dua raka’at!” Ucap Iqlima dengan nafas tersengal. Ia menurunkan kerudungnya ke bawah. Jantungnya masih berdetak kencang.


“Hemm” Yahya berdehem. Tenggorokannya tercekat. Ia terpaksa beringsut mundur. Karena sudah kepalang tanggung, Kepalanya berubah pusing. Matanya berkunang-kunang.


Tap Tap Tap


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di teras. Iqlima dan Yahya saling menatap.


“Assalamu’alaikuuum….” Dokter Jelita langsung membuka pintu dengan tanpa mengetuk. Yahya spontan bangkit. Dengan cepat Ia mengusap wajah dan dan menge-lap kilat mulutnya. Iqlima sendiri sibuk memperbaiki tampilan yang sudah acak-acakan.


Hhhhh. Hampir saja. Yahya bernafas lega.


Rambut acak-acakan, pakaian kusut dan di sekitaran pundak terdapat bekas cengkraman tangan. Sisa keringat masih menempel di jambang. Menarik! Dokter Jelita salah satu bibirnya ke atas. Lalu ia merotasikan netranya ke arah Iqlima.


Kerudung yang tidak simetris, lipstick yang telah menghilang, bibir yang bengkak. Hmh,, Pasti sesuatu yang membara terjadi di antara mereka di kamar. Oh tidak! Tapi di ruang tamu ini! Dokter Jelita menganalisa.


Ow ow, aku telat beberapa detik!


“Hhhmpfff Hmppfff Hahaha” Dokter Jelita yang tidak sanggup menahan tawa akhirnya meledak.


“Dokter kenapa tertawa? Apa dokter ketinggalan sesuatu? Kenapa kembali secepat ini?” Iqlima memicingkan mata. Heran.


“Apa kehadiranku menganggu keasyikan kalian, hm?!” Todong Dokter Jelita tersenyum usil.


“Bu.. Bukan begitu!” Iqlima gelagapan. Yahya yang masih pusing memijat pelipisnya.


“Hmh... Sebagai seorang dokter dengan segudang prestasi sepertiku, sebenarnya aku sangat sibuk dan masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan...." Dokter Jelita berkata dengan raut wajah serius.


"Tapi baiklah.... Sebagai teman dengan tingkat kesetiaan di atas rata-rata, Aku akan meluangkan waktuku untuk mengantar Yahya ke bandara seperti biasa!”

__ADS_1


“Yahya, Kau akan kembali ke Jakarta hari ini juga kan?” Pancing Dokter Jelita. Beliau menunjukkan deretan gigi rapinya.


“Huh, Siapa bilang?” Sambar Yahya cepat.


“Iqlima, siapkan kamar untukku! Karena aku akan bermalam di sini!”


“Keberadaan Iqlima masih tidak aman dari gangguan Ilyas! Jiwa kemanusiaanku terpanggil. Aku harus menjaganya!” Lanjut Yahya lagi.


“OOOOH begitu ya! Baiklah! Lanjutkan misi mu! Kalau begitu Aku akan kembali bekerja. Byeeeee” Dokter Jelita mulai melangkah keluar pintu namun tiba-tiba ia kembali menoleh.


“O iya Iqlima, bibirmu bengkak! Jangan lupa olesi obat kalau perlu berikan obat yang rasanya paling pahit. Tawon di sekitaran sini memang ganas! Aku khawatir Tawon tersebut akan kembali menerkammu! Kau harus hati-hati!” Dokter Jelita langsung kabur setelah menghabiskan kalimatnya. Iqlima menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan.


Jelita SIAL*N!! Gumam Yahya mengumpat.


Sepeninggal dokter Jelita, Yahya langsung melakukan push up untuk menetralisir gemuruh di tubuh nya yang belum mereda.


"Bang... Kenapa tiba-tiba olahraga? " Heran, Iqlima berniat menghampiri Yahya.


"Jangan mendekat! Tetaplah di posisimu! Jangan kesini!" Titah Yahya tegas. Iqlima menghentikan gerakan nya.


"Good. Berhenti di situ! Jangan coba-coba mendekat! " Yahya terus melakukan push up sampai hitungan ke 23 hingga handphone nya berbunyi. Haji Zakaria menelpon.


"Assalamu'alaikum Bah! "


"Wa'alaikumsalam Nak! Kamu dimana? "


"Yahya lagi di Medan, Bah! "


"Besok bawa lah istrimu ke Jakarta. Abah ingin melihat nya! " Titah haji Zakaria.


"Besok Bah? "


"Lebih cepat lebih baik. Semoga Ummi ridho dengan istri pilihanmu! Kita harus membuat walimatul 'ursy untuk menghindari fitnah. Khalayak ramai harus tau kalau kau sudah menikah! Dan Kita juga akan membuat konferensi pers ke media! "


Yahya melirik Iqlima yang sedang menatapnya. Pemuda ini melangkahkan kaki keluar rumah. Ia melihat ke kanan dan kiri. Waspada.


"Yahya belum berniat mengumumkan pernikahan kami secepat ini bah, Ummi sudah pasti tidak setuju. Iqlima harus menyesuaikan diri terlebih dahulu nantinya. Untuk sementara, Iqlima akan Yahya tempatkan di pesantren sampai situasi kondusif! " Haji Zakaria terdiam. Situasi ini memang sulit. Apalagi keluarga besar pasti akan protes dengan keputusan dadakan yang di luar kebiasaan.


"Kau sudah cukup dewasa dan matang dalam berpikir, Nak! Apapun itu, bawalah Iqlima segera ke Jakarta. Abah hanya ingin bertemu menantu Abah! "


"Baik Bah. Malam ini juga Yahya akan menyuruh Rusdi mengambil tiket untuk penerbangan besok. Terima kasih karena Abah sudah berbesar hati!"


"Sampai bertemu di JAKARTA, Nak!"

__ADS_1


***


__ADS_2