
Kriiing~
Dering telepon memenuhi ruang kerja Hajjah Aisyah. Beliau tidak menggubrisnya karena sedang fokus membaca laporan keuangan dari beberapa market milik sang suami yang beberapa tahun terakhir diserahkan pada beliau untuk dikelola.
Tok Tok Tok
“Ummi, silahkan diminum!” Sri datang mengantar minuman dan cemilan.
“Sri, kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik kan?” Sri tersentak.
“Apa kamu sudah memastikan Iqlima meminum ramuan-nya?” Todong Hajjah Aisyah namun matanya masih tetap fokus pada dokumen yang tengah dipelajari.
“Su.. Sudah, Mi!” Sahut Sri gugup dengan menunduk.
"Benar-benar memastikan dia minum dengan mata kepalamu sendiri? " Kali ini Hajjah Aisyah menatap Sri untuk memastikan. Sri menganggukkan kepalanya.
Haram keluarga Zakaria memiliki keturunan dari wanita sepertinya. Hajjah Aisyah tersenyum puas.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu kembali terdengar.
“Maaf Ummi Hajjah, ada surat panggilan dari kepolisian untuk Gus Yahya” Seorang asisten lainnya masuk dan meletakkan sebuah surat di atas meja.
“Surat dari kepolisian? Apa bagian Humas mau mengajak Yahya bekerja sama?” Tanya Hajjah Aisyah santai. Beliau tetap fokus pada lembaran kertas, sebab sudah menjadi hal biasa jika perusahaan mereka diminta untuk menangani proyek dari pemerintah.
“Bu.. Bukan Mi, Gus Yahya dipanggil polisi atas laporan penganiayaan serta pengeroyokan terhadap Gus Ilyas!”
“A.. Apa?!” Kali ini Hajjah Aisyah yang tersentak.
“Pengeroyokan?!”
“Iya, Mi…”
“Tidak mungkin, ini pasti salah! Sekarang kan Yahya lagi menyelesaikan projek di Korea!” Hajjah Aisyah membuka surat dan membacanya. Raut wajah beliau seketika berubah.
“Siapkan mobil! Aku akan ke kantor polisi sekarang juga! Tolong sekalian hubungi Abah!” Hajjah Aisyah bangkit dengan melipat asal surat yang baru saja dibacanya.
“Baik Ummi Hajjah!”
***
Seoul, Korea Selatan
Tap Tap Tap
Yahya dan Iqlima tiba di Korea setelah menempuh perjalanan panjang dengan menghadapi cuaca buruk dan beberapa kali turbulensi udara. Iqlima masih sedikit merasa pusing. Ia memijat pelipisnya berkali-kali. Guncangan ketika berada dalam pesawat terbang tadi seolah masih ia rasakan.
Set.
Yahya menyadarinya. Pemuda tersebut mengambil tangan Iqlima, menggenggamnya lalu menggiring keluar dari bandara menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Seketika Iqlima menatap wajah Yahya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini sikap Yahya terasa lebih hangat dari biasanya.
Sekarang Korea tengah berada di puncak musim panas. Suhu udara bisa mencapai 36-38 derajat celcius. Terasa cukup panas. Berbeda dengan cuaca ketika mereka berada di atas udara, hujan dan petir menyambar-nyambar hampir di sepanjang perjalanan.
"Aku pikir kita akan menemukan salju dimana-mana!" Celoteh Iqlima berkomentar. Ia kembali melirik Yahya. Kacamata hitam yang pemuda tersebut kenakan menyebabkannya kesulitan melihat ke arah sudut pandang Yahya.
Iqlima penasaran apa Yahya tertarik dengan gadis-gadis se*xy yang berlalu lalang di hadapan mereka. Ya, Musim panas adalah musim ketika para gadis bisa memilih memakai pakaian yang cukup berani. Keindahan alami kulit mereka membuat para wisatawan tidak mungkin untuk tidak mengakui serta mengaguminya.
"Ini musim panas bukan musim dingin! " Sahut Yahya datar.
Jujur saja, Iqlima yang sedari kecil sudah tinggal di daerah otonomi khusus dengan Qanun-Qanun syari'at Islam yang juga mengatur tentang tata cara berbusana jadi sedikit terkejut.
"Mereka cantik ya.. " Lirih Iqlima.
"Hmh... " Jawaban Yahya membuat Iqlima mengerucut kan bibirnya. Untuk seterusnya Ia memilih untuk diam sampai mereka tiba di kamar hotel.
__ADS_1
“Kenapa tempat tidurnya single bed begini?!” Gerutu Yahya kesal.
Tit Tit Tit
Yahya menghubungi Rusdi namun tidak ada yang menyahut. Sebenarnya ini adalah kamar yang sudah hajjah Aisyah persiapkan untuk beliau sendiri. Karena pada awalnya Hajjah Asiyah-lah yang akan bertolak ke Korea Selatan, bukan Yahya.
“Aku akan memesan kamar baru, tunggu di sini sebentar!” Pinta Yahya.
“Aku cukup di kamar ini saja, Bang Yahya boleh memesan kamar lainnya” Sahut Iqlima cepat.
“Apa maksudmu?” Yahya memicingkan matanya.
“Ti… Tidak ada maksud apa-apa! Kamar ini sudah cukup nyaman. Aku juga sudah lelah kalau harus berpindah tempat lagi” Sahut Iqlima beralasan.
“Hmh, begitu ya… Baiklah!" Yahya mengangguk-anggukan kepalanya. Iqlima tersenyum menanggapi persetujuan Yahya.
"Kalau begitu kita akan tidur bersama di ranjang sempit itu dengan berdesak-desakan! Itu yang kau inginkan kan?” Yahya menunjuk single bed dengan dagunya.
“Ha? Bu.. Bukan begitu maksudku, mak.. maksudnya…” Iqlima gelagapan.
"Lalu?! "
"Ti... dak ada maksud a.. ap...! "
"Kau pikir menyewa kamar hotel di Korea ini murah? Kalau harus menyewa dua kamar, itu sama saja dengan pemborosan! Kalau semua orang memiliki pemikiran seperti mu, dunia benar-benar akan krisis moneter!" Sembur Yahya.
Huh, aku mau kok merelakan uangku jika memang bang Yahya keberatan mengeluarkan nya. Iqlima bersungut.
Drrrtttt Drrrtttt
Handphone Yahya bergetar. Rusdi memanggil.
“Kamu kemana saja, Rus?!” Yahya langsung mengangkatnya.
“Maaf Gus, handphone saya tertinggal di mobil. Ini saya mau mengantarkan dokumen ke kamar Gus” Yahya melirik Iqlima.
“Aku turun ke bawah menemui Rusdi sebentar! Kamu istirahat saja dulu di sini” Iqlima mengangguk. Ia beranjak mengunci pintu.
Iqlima menguling-gulingkan tubuh nya di atas kasur, namun ia tetap tidak bisa terlelap walau hanya sekejap. Padahal tubuh nya sudah begitu lelah. Iqlima bangkit. Ia baru ingat kalau Yahya adalah orang yang paling sensitif terhadap bau. Khawatir suaminya akan kembali melayangkan protes, dengan gerakan cepat gadis tersebut beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Alhamdulillah Bang Yahya belum kembali... Gumam Iqlima setelah selesai berpakaian. Ia menatap aneh penampilan nya di depan cermin. Hotpans dan tanktop utih ia kenakan dengan rambut tergerai.
"Apa ini tidak berlebihan? " Gumam Iqlima pada dirinya sendiri.
Kalau kau tidak ingin Yahya berpaling dengan gadis-gadis Korea, kau harus berpenampilan melebihi mereka di hadapan nya. Pakai hotpans ini! Uuugh, si sugus pasti akan meleleh seperti permen yang di letak dalam microwave.. hihihi. Dokter Jelita kekikikan. Ia memberikan hadiah hotpans kepada Iqlima ketika mengunjungi gadis tersebut sebelum berangkat ke Korea.
Big No! Aku tidak mau! Tolak Iqlima mentah-mentah.
Kalau begitu kau harus bersiap-siap kehilangan permen sugus yang manis tapi lengket dimulut itu! Lanjut dokter Jelita lagi. Iqlima mengerutkan keningnya.
Ja.. Jadi... Bang Yahya a.. akan mencintai ku ka.. kalau aku pakai ini? Iqlima bersemu.
Haduh Iqlimaaa, dia akan tetap mencintai mu bagaimana pun penampilan mu. Ini hanya sekedar trik agar Yahya betah dan tidak berpaling. Aku tidak menyarankan mu menggunakan lingerie, hotpans dan tanktop sudah cukup membuat mu tampak elegan. Kecuali... dokter Jelita menjeda kalimatnya.
Kecuali apa?
Kecuali memang kau sendiri yang berinisiatif untuk memakai lingerie dihadapannya. Bisik dokter Jelita mengedipkan sebelah matanya. Kelopak mata Iqlima mengerjap-ngerjap. Tenggorokan nya tercekat.
Tik Tik Tik
Eh. Suara jam membuyarkan lamunan Iqlima.
"Ah, benar. Ini terlalu berlebihan, bang Yahya pasti akan menertawakan ku! Aku memakai piyama saja bang Yahya protes, apalagi ini!" Iqlima bergegas ingin mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan.
kkrrkkk krrkkktt
__ADS_1
Belum sempat Iqlima mengganti hotpans-nya, ia sudah mendengar seseorang membuka pintu kamar.
Bruuuk
Spontan Iqlima melompat ke atas tempat tidur. Dengan gerakan cepat ia mengambil selimut dan membungkus seluruh tubuhnya, rasa panik membuat Iqlima berguling lalu membuatnya melakukan kesalahan.
Braaakkkk
Iqlima terjatuh dari atas tempat tidur.
Awwww. Pinggangku. Iqlima mengaduh tak bersuara.
"Kau kenapa? " Tanya Yahya heran. Pemuda tersebut tersenyum geli melihat tingkah polah Iqlima.
"Bang Yahya kok bisa ma... masuk? Kan pintunya di kunci" Lirih Iqlima.
"Aku punya password kamar ini! Lagian kau kenapa? Kenapa membungkus diri dan tidur di bawah seperti itu? Kau mau cosplay jadi kepompong atau mau bermain sirkus, hah?!" Tanya Yahya sarkas lalu perlahan berjalan mendekat. Iqlima menggeleng kuat.
"Lalu kenapa? Apa kau sakit?"
"Jangan... Jangan mendekat! Stop!! Bang Yahya sebaiknya jangan mendekat! Tetaplah di situ!"
"Dasar bodoh! Kau tidak kubantu bagaimana caramu melepaskan diri?!" Yahya semakin mendekat.
Oh Rabbi... Kalau ketahuan, aku akan mempermalukan diriku sendiri! Dokter Jelitaaaaa... Pekik hati Iqlima.
Di tempat berbeda,
Braaakkkk
Awww. Dokter Jelita terjatuh lalu mengaduh. Ia tersandung batu hingga semua buku dan berkas yang ada di genggaman berhamburan. Baju dinas yang dikenakan berubah kotor.
"Maaf, apa dokter baik-baik saja? " Tanya seseorang yang kebetulan melintas dari arah parkiran. Beliau memanggil Jelita sebagai dokter sebab pakaian yang dikenakan oleh gadis tersebut. Beliau juga dengan cekatan mengumpulkan buku-buku yang berhamburan di jalan.
"Tidak apa-apa Bah, eh Pak! Terima kasih!" Sahut dokter Jelita.
Ini kan abahnya si sugus. Kenapa bisa di rumah sakit Bahayangkara? Gumam dokter Jelita.
"Maaf, tolong-lah dokter ini untuk berdiri!" Pinta Haji Zakaria pada wanita-wanita yang melewati mereka.
"Sudah ada yang menolong, kalau begitu saya permisi!" Abah meletakkan buku dan dokumen yang sudah terkumpul di samping dokter Jelita lalu melangkah pergi.
***
Hajjah Wirda terhuyung di salah satu kamar rawat inap pada Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara mendapati kenyataan bahwa Ilyas dan Yahya bertengkar karena memperebutkan Iqlima. Gigi yang copot dan luka memar yang tersebar di hampir seluruh wajah sang putra cukup membuat hati Hajjah Wirda terasa tersayat.
"Kau keterlaluan Ilyas! Kenapa? Kenapa harus wanita kampung itu?! Kenapa harus dia?!" Hardik Hajjah Wirda.
"Ilyas mencintainya, Mi! " Sahut Ilyas jujur.
"Oh Tuhan... Kau sudah bertunangan dengan si cantik Rumi! Dia wanita dari keluarga terhormat dan terpandang! Apa putraku sudah di guna-guna?! Kau harus di rukyah, Nak!! Tidak hanya kau, tapi juga Yahya!! Perempuan laknat itu membuat kalian bertengkar. Membuat mu terluka parah! Keterlaluan!!" Hajjah Wirda berang. Kepala beliau serasa mau meledak.
Hajjah Aisyah sudah menangis di pojok ruangan. Beliau sendiri tidak menyangka bahwa Yahya mampu melakukan perbuatan keji apalagi pada kerabat nya sendiri.
"Aku tidak bisa mentolerir perbuatan Yahya, Kak Wirda! " Hajjah Aisyah menunduk dalam. Yahya masih belum bisa dihubungi. Anggota kepolisian sudah memproses berkas dan siap memanggil Yahya di Korea untuk pulang dan menjalani pemeriksaan. Hajjah Wirda menggeleng.
"Aku tau siapa Yahya, Dik Aisyah! Dia sudah ku timang sedari kecil. Tidak mungkin Yahya melakukannya. Aku tidak bisa serta merta mempercayai hal ini!" Sergah Hajjah Wirda.
"Dia memang perusak dan penghancur keluarga, Kak! Dia memang gadis pembawa sial! Dia jal*ng penggoda! Keluarga kita keluarga terhormat yang tidak mungkin bertindak jahat seperti ini! Dia sudah meracuni Yahya... Sekarang kakak percaya kan? Aku tidak mungkin salah menilai" Ucap Hajjah Aisyah memeluk Hajjah Wirda erat. Ilyas ingin membantah semua pemikiran ibu dan Ammah-nya namun rasa sakit yang mendera membuatnya kesulitan untuk menyanggah.
"Kita harus bicara empat mata, Dik! Ini tidak bisa dibiarkan! " Hajjah Aisyah mengangguk.
"Tapi kondisi Nak Ilyas bagaimana kak? " Hajjah Aisyah mengusap airmatanya. Beliau ikut terluka melihat kondisi Ilyas yang terbaring tak berdaya. Bagaimana pun Ilyas merupakan bagian dari keluarganya.
Aku harus menghukum Yahya jika dia kembali. Anak itu sudah sangat keterlaluan! Geram Hajjah Aisyah.
__ADS_1
"Aku akan mengirim Ilyas ke Singapura untuk mendapat perawatan terbaik! Kakak jangan khawatir. Aku yakin Yahya hanya salah paham. Anak-anak kita tengah dibutakan mata hatinya! " Ucap Hajjah Wirda mengusap airmata Hajjah Aisyah menenangkan. Bersama-sama mereka melangkah keluar ruangan untuk membicarakan apa yang seharusnya mereka bicarakan.
***