
Bang Yahya... Mengapa.... Hhhhh
Haji Zakaria membawa Iqlima ke kampus, tempat dimana beliau biasa mengajar. Hari ini selain meeting bersama klien dan menemui Iqlima, beliau ada jam bimbingan yang harus dihadiri dan tidak bisa diwakilkan. Haji Zakaria meminta pada Iqlima untuk mengikutinya, setelah itu beliau berjanji akan mengantar menantunya tersebut kembali ke pesantren.
"Nak, ini ruang istirahat. Kau bisa menunggu di sini atau kau bisa jalan-jalan berkeliling melihat-lihat kampus. Abah akan meminta seorang mahasiswi untuk menemanimu! " Ucap Haji Zakaria sambil menunjuk tempat-tempat yang mungkin bisa Iqlima jangkau.
"Hmh... Iqlima duduk di sana saja bah..." Gadis tersebut menunjuk sebuah taman baca yang tak jauh dari mereka berada.
"Abah fokus saja pada kegiatan abah. Jangan khawatir, Iqlima akan menunggu sambil mencari referensi-referensi tugas kampus"
"Hmh... Baiklah nak... Setengah jam lagi kita bertemu di sini! " Ucap Haji Zakaria yang sebenarnya sedang kesal sebab mahasiswi bimbingan yang belum juga hadir dari jadwal yang sudah di sepakati.
Bruuukkk
Braaakkk
Aawwww
Haji Zakaria hendak berlalu, namun suara wanita terjatuh dan buku-buku berceceran di lantai membuatnya urung melangkah. Iqlima dengan cepat datang menghampiri.
"Dokter Jelita?!"
"Iqlima?! Kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya dokter Jelita sambil meraba kacamata nya yang pecah di lantai. Iqlima membantunya untuk bangun.
"Apa dokter tidak apa-apa?!" Tanya Iqlima khawatir. Seperti nya dokter Jelita terjatuh karena tersandung. Haji Zakaria hanya melihat mereka beberapa detik sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
"Gawat!" Dokter Jelita mendadak panik.
"Kenapa dok?! "
"Aku terlambat!! Iqlima, kau tidak buru-buru kan? Tunggulah aku di sini... oh tidak, di sana... di taman baca! Sekarang aku akan bimbingan jurnal. Ini sangat penting untuk ku agar bisa lulus mata kuliah ini dan tidak mengulang tahun depan! " Terang dokter Jelita tanpa jeda sambil menggenggam tangan Iqlima.
"Jangan lupaa.... tunggu akuuu...!!" Lanjutnya lagi dengan berlari. Ia yang akan dibimbing oleh Haji Zakaria yang terkenal akan kedisiplinannya terang saja panik. Apalagi bimbingan kali ini merupakan salah satu yang terpenting.
Ah, kalau saja tadi ia tidak terlibat pertengkaran dengan laki-laki aneh, sudah dipastikan ia akan tiba lebih dulu dan menunggu kehadiran professor tersebut dengan menegakkan kepala.
Tok Tok
Dokter Jelita hanya mengetuk dua kali sebelum membuka pintu. Ia mengintip ke dalam sebelum benar-benar masuk. Tampak Haji Zakaria beserta tiga asisten yang terpisah oleh sekat-sekat kaca sudah berada di sana.
"Assalamu'alaikum Prof... " Sapa dokter Jelita berhati-hati.
"Waalaikumsalam" Jawab Haji Zakaria datar dengan terus membolak-balikkan dokumen sambil sesekali menandatanganinya. Dokter Jelita terpaku. Ia bingung harus bagaimana.
"Prof... I... Ini berkas bimbingan saya... " Dokter Jelita menyerahkan kertas-kertas tebal yang tersusun sistematis dengan perasaan was-was. Pria paruh baya yang ada di hadapannya tersebut hanya berdehem ringan.
"Maaf Prof... Ini berkas-berkasnya... " Ulangnya lagi.
Tuk
Suara pulpen yang diletakkan paksa berbunyi nyaring. Dokter Jelita mendongak.
"Letakkan saja! " Titah Haji Zakaria dingin.
Gawat!
__ADS_1
"Maaf Prof.... "
"Lusa kembali lah ke sini! " Potong Haji Zakaria.
"Tapi Prof, lima hari lagi saya harus submit berkas... Saya mohon maaf karena sudah terlambat 5 menit dari jadwal yang seharusnya... saya..." Dokter Jelita merasa keberatan. Perkataan Haji Zakaria yang menitahkan untuk kembali pada hari rabu menunjukkan bahwa hari ini ia tidak mendapatkan bimbingan. Itu artinya jatah bimbingan nya tinggal sehari lagi. Lantas, apa ia mampu membuat semua tugasnya dengan sempurna?
"Rabu. Jam 9.30. Okay? " Ucap Haji Zakaria menutup lembaran dokumen nya. Dokter Jelita hanya bisa ternganga. Ia menatap Haji Zakaria dengan wajah memelas.
"Apa ada yang tidak jelas dokter Je Li Ta? "
"Je... Jelas Prof... " Jawaban gadis tersebut menutup pembicaraan mereka. Haji Zakaria langsung keluar dari ruangan.
"Aaaarh.... Dasar... Dasar... Menyebalkan!! Bapak dan anak sama saja!! Sama sama menyebalkan!! Cuma terlambat 5 menit!! 5 menit sodara sodara!! Itu juga karena aku terjatuh... Huh... Padahal beliau melihat aku terjatuh dan kacamata ku pecah! Dasar tidak berprikemanusiaan!! Dasar manusia es !! Kaku!! Awas saja!! Aku akan membuat tugasku sebagus mungkin!! Aku akan membungkam bapak bapak si paling disiplin dan sok tampan itu dengan kehebatan tulisanku!!! Aku bisa lebih hebat dari nya... Aku kan Psikiater handal!! Paling mumpuni... Dan di akui!! Huuhh! Awass!!" Umpat Dokter Jelita berapi-api dan penuh semangat dengan tangan yang mengepal ke udara. Namun tak lama setelah nya ia malah merosot di lantai.
Mana mungkin! Realistis saja. Mana mungkin aku mengalahkannya! Aaarrghhh...
...****************...
"Iqlima.... " Panggil seseorang. Atensi Iqlima yang tengah asyik membaca jadi teralihkan. Buku ekonomi bisnis, bacaan berat namun entah mengapa akhir-akhir ini menjadi perhatian nya.
"Bang Raafi? " Iqlima sumringah. Namun pemuda tersebut seperti tampak sungkan.
"Kau ke sini? Sendiri? Untuk apa? "
"Bersama abah.. "
"Pemilik pesantren yang tempo lalu kau cerita kan? " Selidik Raafi. Iqlima mengangguk.
"Iqlima, hmh... Alhamdulillah kita bertemu... Takdir Allah memang tidak ada yang menduga. Hmh... Ada hal yang ingin kusampaikan... " Ucap Raafi tampak berpikir. Lalu ia mengambil tempat untuk duduk di dekat wanita tersebut.
"Aku tau kau juga menyimpan perasaan yang sama seperti apa yang kurasa. Namun maaf... Aku harus mengecewakan mu... Karena... Hmh... Karena aku tengah mencari seorang wanita dan ingin menikahinya" Ucap Raafi menunduk lesu. Ia merasa bersalah dan berkeyakinan Iqlima akan patah hati. Namun Raafi tidak punya pilihan lain. Suasana berubah hening untuk sejenak. Walau di taman terdapat banyak orang, namun entah mengapa waktu seperti berhenti berputar.
Hhpppffff Hhhhpppfff
"Hahahaha" Tawa Iqlima meledak. Padahal ia sudah mati-matian menahannya.
"Me... Mengapa kau tertawa? "
"Abisnya bang Raafi lucu sekali"
"Lu...Lucu?"
Iqlima mengangguk.
"Hmh... Sebenarnya aku sudah menikah... " Iqlima mencondongkan kepalanya berbisik.
"Apa?! Kenapa kau tidak mengatakannya?! " Raafi terkejut bukan kepalang. Hatinya serasa diremas-remas. Raafi seperti terkhianati. Tapi siapa yang salah di sini?
"Ceritanya panjang. Aku dan suami memang belum mempublikasikan pernikahan kami... Jadi bang Raafi jangan merasa tidak enak padaku...karena aku sangat menyetujui kalau bang Raafi akan meni..." Lanjut Iqlima lagi.
Sreeegg
Belum selesai Iqlima menyelesaikan kalimat nya, seorang pria bertubuh tegap mencengkram dan menarik pergelangan tangannya.
"Kita pulang! "
__ADS_1
"Bang Yahya..? "
"Kami permisi! " Ucap Yahya pada Raafi dengan wajah dingin tanpa basa basi. Padahal pada pertemuan sebelumnya mereka sudah pernah saling bertegur sapa. Raafi hanya bisa ternganga. Sentuhan tangan pria tersebut dan rangkulannya pada gadis yang Ia sukai menjelaskan segalanya. Raafi yang tanpa niat namun berencana akan memberikan kejutan pahit pada Iqlima, malah menerima hal sebaliknya. Raafi patah hati. Raafi benar-benar merasa lemas.
"Bang Yahya tunggu... " Pinta Iqlima. Namun Yahya tak menggubrisnya. Ia terus saja menggiring Iqlima ke parkiran.
"Bang Yahya.. Tolong lepaskan! Aku pergi bersama abah. Nanti abah mencariku! "
"Aku sudah menelpon abah untuk membawamu pulang! "
"Aku tidak mau pulang! " Sahut Iqlima cepat. Yahya menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik menatap Iqlima dengan tatapan menyayat.
"Lalu kau mau kemana? Apa kau mau tinggal di sini dan tertawa lepas bersama laki-laki itu?! Kau mau pulang bersamanya??" Yahya meninggikan suaranya. Iqlima menutup mata sambil menggigit bibir bawahnya. Yahya selalu lepas kendali jika sedang marah.
"Kenapa diam? Katakan kau mau kemana!" Tantang Yahya. Iqlima masih diam. Rasa kecewaanya pada Yahya belum benar-benar pulih namun sekarang Ia harus menghadapi tempramen suaminya yang kapan saja bisa meledak itu.
"Aku... "
"Kau tidak mau pulang? Baik. Aku akan mengantarmu ke apartemen! "
Braakkk
Yahya membanting kasar pintu mobil setelah menyeret Iqlima masuk. Ia pun mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan melebihi rata-rata.
"Bang... jangan Kencang-kencang... Ini berbahaya! " Pinta Iqlima ketakutan. Ia menarik-narik lengan baju Yahya untuk mau menurunkan kecepatannya. Sia-sia. Yahya sama sekali tidak menggubrisnya sampai mereka tiba di apartemen.
"Bang Yahya... Bang Yahya kenapa? Bang Yahya kenapa marah? Bukankah seharusnya aku yang marah?!" Ucap Iqlima tak tahan. Hatinya semakin terasa sakit tak karuan. Yahya menghela nafasnya. Ia berbalik menatap Iqlima yang duduk di sofa.
"Layla tengah mengandung. Maka bersabarlah" Perkataan Yahya membuat Iqlima mendongak. Wanita tersebut tersenyum pahit. Baru saja Yahya mengatakan bahwa ia tidak pernah menyentuh wanita manapun kecuali dirinya, kini Yahya terang-terangan memintanya untuk bersabar atas buah cinta mereka.
"Aku akan menetap di pesantren atas kesalahan yang aku perbuat! " Ucap Iqlima menyindir dengan bibir gemetar. Matanya memerah menahan tangis.
"Bagus. Bersikap baiklah selama di pesantren. Jika kau tidak bisa menyenangkan hati keluarga, setidaknya bersikap baiklah di sana! Maka Ummi, Jiddah dan yang lainnya pasti akan luluh" Ucap Yahya menohok seraya melonggarkan dasi yang ia pakai. Pemuda tersebut melepaskan kemeja dan dengan cepat masuk ke dalam toilet. Airmata Iqlima sukses mengalir.
Aku wanita mandul. Aku tidak bisa menyenangkan siapapun. Aku... Aku... Iqlima menyeka air mata yang menyesakkan bersamaan dengan keluarnya Yahya dari dalam toilet.
"Untuk ke depan, kita akan jarang bertemu" Yahya berjalan mendekati Iqlima. Ia mengulurkan tangan. Membuka kerudung istrinya tersebut dan memindahkan sulur-sulur rambut yang menutupi wajahnya.
"Kau pergi tanpa meminta izin. Apa kau tidak tau bagaimana hukum seorang istri yang pergi keluar rumah tanpa seizin suami? Apa kau mau kabur karena sudah tidak tahan menjadi istriku?" Tanya Yahya menatap manik mata Iqlima yang semakin memerah.
"Kau memang pantas tinggal di pesantren! Pelajaran agama akan menempamu menjadi lebih baik! " Lanjutnya lagi.
"Tapi jangan pernah lupa, bahwa aku adalah suamimu... Maka jangan membangkang..." Bisik Yahya. Kali ini Ia mencondongkan wajah ke telinga Iqlima dengan memainkan rambutnya. Iqlima sontak menghindar saat Yahya hendak menciumnya.
"Mengapa? Kau menolak untuk kusentuh? Kau marah? "
Iqlima berpaling. Ia benar-benar berusaha menahan tangisnya agar tidak meledak. Yahya membalikkan tubuh Iqlima menghadap nya.
"Aku suamimu! " Ucap Yahya dengan nada keras.
Cuuup
Yahya memaksa menciumnya. Iqlima menggeleng. Penolakan Iqlima semakin membuatnya brutal. Dengan gerakan cepat Yahya menarik kancing-kancing baju Iqlima hingga kancing-kancing tersebut lepas berhamburan ke lantai yang dingin.
...****************...
__ADS_1