Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 71: Senyuman Yang Sangat Manis~


__ADS_3

Yahya terbangun oleh suara alarm yang berdering. Ia mengerjapkan mata dan menguap. Jam masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Yahya melirik Iqlima yang masih tertidur pulas dalam pelukannya. Pemuda tersebut menarik selimut menutupi bagian tubuh mereka yang terbuka.


Jamiilaah… Gumam Yahya mengelus-elus puncak kepala Iqlima. Sesekali ia mengecup di sana. Pemuda tersebut semakin mengeratkan pelukkannya. Ia Seolah-olah tidak ingin melepaskan wanita tersebut. Matanya mengembun.


“Bang Yahya sudah bangun?” Tiba-tiba suara parau Iqlima terdengar. Yahya menoleh dan sontak melepaskan pelukannya. Ia sedikit berdehem.


“Aku terbangun karena suhu dingin. Kau lanjutkan saja tidurmu!” Titah Yahya hendak beranjak dari tempat tidur.


“Bang Yahya mau kemana?” Iqlima menahan lengannya.


“Aku mau bersih-bersih” Sahut Yahya datar.


“Bang Yahya… Aku tidak tau kalau waktu itu bang Yahya sakit, sungguh!” Lirih Iqlima sedih. Ia masih menahan Yahya agar tidak pergi dari sisinya. Yahya terpaku sesaat lalu kemudian ia mengangguk.


“Hmh, masalah foto itu… A.. Aku tidak sengaja bertemu bang Rafi di jalan. Ketika itu aku keluar rumah untuk…”


“Aku mau bersih-bersih dan shalat tahajud! Waktu tidak banyak lagi…” Potong Yahya dingin seraya melepaskan tangan Iqlima dari lengannya. Entah mengapa moodnya berubah drastis ketika Iqlima menyebutkan nama laki-laki lain dengan mulutnya. Dengan wajah kusut Yahya langsung memakai kembali baju kaos yang tergeletak di lantai dan berlalu ke kamar mandi. Iqlima menghembuskan nafasnya ke udara. Ia menunduk lesu.


***


Iqlima turun dari mobil perlahan. Ia sedikit meringis. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Entah mengapa pinggangnya masih terasa nyeri. Apalagi pergumulan yang semalam terjadi seperti membuka luka lama pada persendiannya.


Tanpa sepatah katapun Yahya mengulurkan tangan. Iqlima menyambutnya dengan berbinar. Yahya seperti bisa memahami rasa sakit yang Iqlima rasakan.


“Aku akan memanggil Mbak Asih ke kamar!” Ucap Yahya tanpa ekspresi. Iqlima mengangguk. Ia terus menatap Yahya yang berjalan dengan menggenggam tangannya. Belum sampai mereka masuk ke dalam kamar, seorang khadim datang menghampiri.


“Maaf Gus, Ummi Hajjah sudah mengundang keluarga besar. Beliau berkata akan ada makan malam bersama! Ummi Hajjah meng-amanahkan agar nanti malam Gus Yahya harus hadir dan tidak boleh absen!”


“Makan malam keluarga besar? Dalam rangka apa?” Kening Yahya mengerut.


“Saya juga kurang tau, Gus!” Yahya berpikir sejenak, ia mengangguk lalu membawa Iqlima masuk ke dalam kamar utamanya.


“Istirahatlah!” Titah Yahya. Ia sendiri sudah akan membuka gagang pintu. Iqlima langsung meremas baju Yahya. Ia seolah trauma ditinggal pergi dalam waktu yang lama.


“Aku mau ke kantor sebentar!” Iqlima semakin meremas dengan menggenggamkan tangan nya di sana.


“Hanya sebentar!” Yahya melepas paksa tangan yang bertengger dibajunya dengan tanpa menoleh dan langsung keluar. Hati Iqlima mencelos. Matanya kembali berair. Bayang-bayang kesendirian kembali menghampiri.


Hhhh. Yahya memejamkan mata setelah menutup pintu dengan rapat. Ia memijat pelipisnya. Jujur saja, Yahya masih belum bisa memaklumi sikap Iqlima yang begitu antusias terhadap laki-laki selainnya. Juga perbuatan Iqlima yang berduaan dengan laki-laki lain dibelakangnya. Dada Yahya terasa sesak. Ia merasa seperti dikhianati. Bahkan untuk sekedar mendengar penjelasan dari Iqlima saja ia tidak mampu.


“Gus Yahya…” Panggil seseorang yang tiba-tiba berada di hadapannya.


“Mbak Asih? Aku baru saja akan memanggil mbak untuk datang!” Sahut Yahya. Asih melihat ke kanan dan ke kiri seperti orang ketakutan. Yahya mengerutkan kening merasa heran.


“Ma’af Gus, ada yang ingin saya bicarakan. Apa Gus punya waktu?” Asih kembali melihat ke kanan dan ke kiri.


“Ini tentang nona Iqlima!”


“Iq… lima?” Asih mengangguk.


***

__ADS_1


Tok Tok Tok


“Assalamu’alaikum ustadzah…” Seorang santriwati menghampiri Ayi dengan tergesa saat gadis tersebut tengah menyelesaikan tugas Madrasah.


“Wa’alaikumsalam, apa ada?” Tanya Ayi acuh.


“Ustadzah dipanggil ke ruang rapat orangtua santri”


“Sekarang kan bukan masa penyambutan, lagipula biasanya juga ustadzah Ayuni atau Ustadzah lainnya yang menghadap!” Sahut Ayi cuek.


“Saya juga kurang tau ustadzah, tapi Gus Yahya menitahkan begitu! Gus Yahya menunggu di ruang rapat!”


“A.. Apa?! Gus Yahya??” Ayi terkejut bukan kepalang. Tidak pernah-pernah Yahya memanggilnya. Apalagi sepertinya ini adalah panggilan khusus. Sontak Ayi bangkit dari duduknya.


“Kenapa kau tidak mengatakannya daritadi??” Hardik Ayi. Ia meraba wajahnya mengambil kaca. Ayi memperhatikan tampilannya.


“Duh, ada jerawat… Bagaimana ini?!” Ayi panik. Ia bergegas mempoles wajahnya dengan makeup sebaik mungkin.


Apa bedaknya tidak terlalu berlebihan? Gumam santriwati melihat Ayi yang sibuk merias diri.


“Apa baju ini bagus? Atau yang ini? Apa yang ini saja yaa?” Ayi semakin panik.


“Hehe... Sebenarnya ustadzah pakai yang mana saja, Gus Yahya sudah pasti terpana kok!” Sahut santriwati dengan senyum yang dipaksakan. Ia seolah mengerti kemana arah tujuan Ayi. Wajah gadis tersebut bersemu. Ia mulai berdandan lebih cepat dan melesat pergi ke ruang rapat.


Ceklek


Ayi membuka pintu dan mengedarkan pandangannya. Tak bisa dipungkiri, rasa kecewa seketika menyelimuti hatinya. Pasalnya di dalam ruangan rapat tidak hanya ada Yahya dan asisten nya saja. Namun ada Ustadzah Ayuni serta seorang ustadzah senior lainnya. Juga ada beberapa ustadzah lain yang tingkatannya lebih tinggi. Ada lagi Nilam yang tidak dibutuhkan dalam ruangan namun sedari tadi sibuk berulang kali membersihkan rak-rak besi dengan kain basah yang entah kapan akan selesai.


Ayi melangkah dan mengambil tempat di samping ustadzah Ayuni. Mereka bisa melihat Yahya dari jarak 5 meter.


"Antuma... Ayuni dan Rahayu? Ustadzah adalah orang-orang yang bertugas memberi Ta'zir para santriwati?" Tanya Yahya menatap tajam. Mereka mengangguk berbarengan.


"Kalau Anti... Ayi? Ustadzah pengasuh asrama Blok Timur?" Tanya Yahya membaca nama mereka di buku daftar. Ayi mengangguk seraya tersenyum merekah.


"Mulai hari ini jabatan kalian dicopot! Ustadzah Ayuni dan ustadzah Rahayu tidak lagi menjadi ustadzah di sini!" Ucap Yahya seraya melihat ke para ustadzah yang sudah sepuh untuk mencatat apa yang ia titahkan.


"Dan Ustadzah Ayi kembali menjadi santriwati biasa! " Tukas Yahya tanpa banyak basa basi. Mereka semua terbelalak dengan keputusan dadakan yang Yahya berikan.


"'Afwan Gus, kalau boleh tau kesalahan kami apa ya? Afwan jiddan Gus... " Ayuni memberanikan diri untuk bertanya.


"Kalian masih bertanya apa kesalahan kalian?! Baik!" Yahya menjeda kalimat nya dengan mendengus.


"Kalian sudah bertindak semena-mena pada Iqlima!" Ayuni dan Rahayu saling melirik cemas.


"Kalian sudah memberikan Iqlima hukuman di luar batas! Menyuruhnya mencuci seluruh piring penghuni asrama selama 30 hari berturut-turut, dan di sini ada ratusan santriwati! Bisakah kalian membayangkannya?! Dimana akal sehat kalian?! Apa kalian ingin membunuhnya?! " Suara Yahya meninggi dan menusuk.


"Afwan Gus... Ampun Gus... Kami tidak bermaksud demikian..." Ayuni seketika berlutut. Melihat rekannya berlutut, Rahayu juga ikut serta.


Hhhh ustadzah Lemah. Gumam Nilam yang sedari tadi menjadi pengamat.


"Saya terpaksa memberikan hukuman tersebut karena Ummi Hajjah menyuruh kami memberikan hukuman yang berat karena Iqlima keluar masuk pesantren sesuka hati! Iqlima bisa keluar hingga berhari-hari" Sahut Ayuni mencoba melakukan pembelaan.

__ADS_1


"Hukuman berat di luar nalar? Menghukumnya seperti budak Rodi (masa penjajahan Belanda) atau budak Romusha (masa penjajahan Jepang)?!" Tugas Yahya tajam.


"Aku bukan menghapuskan hukuman untuk membuat efek jera! Tapi kalian sangat berlebihan! Hukuman ini tidak termaktub dalam kitab manapun! Mari kita hitung menghitung... Lebih dari Ratusan santriwati di sini, dalam sehari mereka makan sebanyak 3 kali. Itu artinya kalian memerintahkan Iqlima mencuci ribuan piring dalam satu hari! Dia mengerjakan nya sendiri tanpa ada yang membantu... Allahu Musta'an!! " Mata Yahya memerah menahan amarah. Mereka terenyak tak berkutik.


"Semoga keputusan ini bisa membuat kalian lebih manusiawi dalam berpikir dan menimbang! Karena kalian di tempa di pesantren ini untuk menjadi manusia yang lebih humanis bukan manusia yang hanya mengandalkan hawa nafsu semata!" Lanjut Yahya.


"Kalian adalah wanita,, dari kalian akan banyak bermunculan banyak generasi. Kalian tonggak masa depan. Pemegang estafet perubahaan bangsa. Kalian Pendidik. Tapi kalau dari sekarang hati nurani kalian sudah tertutupi begini, apa yang bisa diharapkan kelak dari generasi yang akan datang? Aku sangat kecewa! " Yahya bangkit.


"Hhh Baiklah! Aku tidak ingin memperpanjang.Waktuku tidak banyak! Kalau tidak puas, Kalian bisa menanyakan lebih detail tentang keputusan ini pada asistenku, permisi! " Yahya berjalan melewati mereka yang mukanya tertekuk.


Iqlima.. Memangnya dia siapa?! Mengapa Gus Yahya sampai turun tangan sendiri dalam membelanya?! Ayi mengepalkan tangan kuat-kuat. Sia-sia ia telah berdandan demi mencari simpati Yahya. Nilam yang masih pura-pura membersihkan ruangan menguping dengan detail pembicaraan hari ini. Ia langsung keluar ruangan sesaat setelah Yahya keluar.


Siapa yang memberikan informasi pada Gus Yahya? Ternyata di sini ada cuaks! Nilam berpikir keras.


Ayuni dan Rahayu sudah menangis tersedu-sedu. Itu artinya mereka sudah di pecat dan harus pulang ke kampung halaman.


Tap Tap Tap


Yahya melangkah keluar dari ruang rapat dengan tergesa. Para ustadzah dan santriwati yang mengetahui pemuda tersebut mengunjungi asrama sengaja keluar untuk melihatnya. Sebagian memberanikan diri menunjukkan kekaguman mereka pada Direktur Umum Bustanul Jannah tersebut secara terang-terangan. Sebagian lainnya hanya bisa mengintip melalui gorden jendela.


"Gus, mobil sudah siap!" Sapa supir pribadinya.


"Saya tidak jadi ke kantor! " Sahut Yahya sendu. Ia kembali melangkah. Yahya teringat akan pengaduan Asih yang diperkuat oleh Sri tentang penderitaan Iqlima. Betapa istrinya tersebut menjalani hari-hari yang sangat berat di pesantren. Istrinya juga sama sekali tidak tau bahwa Yahya masuk ke rumah sakit karena umminya mengunci Iqlima di dalam kamar. Iqlima sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisinya. Juga pengaduan-pengaduan lain yang membuat Yahya tercengang. Kini Ia merindukan Iqlima. Sangat rindu.


Ceklek


Yahya membuka pintu kamar perlahan. Tampak Iqlima berada di dekat jendela sedang menatap keluar sana. Gadis tersebut seperti sedang melamun. Entah apa yang dilamunkannya.


Sreeeg


Yahya mengulurkan tangan memeluk Iqlima dari belakang. Wanita muda yang berada dalam dekapannya benar-benar terkejut.


"Apa punggung mu masih terasa sakit, hm? " Tanya Yahya lembut. Iqlima terpaku. Ia masih tidak percaya Yahya memeluknya.


"Su.. Sudah lebih mendingan, mbak Asih sudah mengurutnya!" Sahut Iqlima terbata. Yahya mengecup lembut pipinya lalu membawa Iqlima untuk duduk saling berhadapan di atas sofa.


Yahya mengambil tangan Iqlima, membuka telapaknya. Kali ini Yahya benar-benar memperhatikan luka gores memerah yang ada di sana. Perlahan Yahya mengecup tiap sisinya dengan penuh perasaan.


"Apa ini sakit? " Iqlima menggeleng.


"Mulai nanti malam, tinggal-lah di sini! Kamar ini milikmu juga! Kau tidak perlu lagi tinggal di pesantren! Mulai sekarang, setiap malam Kita akan selalu berbagi tempat yang sama" Ucap Yahya mengelus pipi Iqlima dengan punggung telapak tangannya. Ia memperhatikan leher Iqlima yang dipenuhi oleh tanda merah keunguan hasil karyanya semalam. Selama ini Yahya kurang memperhatikan istrinya. Ia tidak peka atas banyaknya pengorbanan Iqlima.


"Ttt Tapi... "


"Jangan khawatir, besok aku akan mengumumkan di pesantren bahwa kita sudah menikah!"


"Besok? " Yahya mengangguk memberikan senyumnya. Begitu manis hingga Iqlima terpana.


***


💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2