Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 95: Berjalan Lancar Tanpa Hambatan


__ADS_3

Yahya mengeringkan rambut dengan mengusap asal handuknya di kepala. Baru saja ia akan menunaikan ibadah shalat isya’ namun seketika perhatiannya teralihkan pada Layla yang duduk termenung di pinggir jendela.


“Ma’af jika aku sudah sangat kasar kepadamu” Lirih Yahya tak tenang. Layla hanya diam.


“Aku… Aku tidak bermaksud demikian… Sungguh!”


Hhhh


Layla menghela nafas. Yahya bisa melihat raut wajah kesal istri keduanya tersebut.


“Aku bukan barang yang hanya mas gunakan ketika butuh. Tadi itu… Mas memperlakukanku dengan kasar… Sangat kasaar… Mas mengoyak harga diriku!” Cebik Layla mengeluarkan airmata.


“Aku benar-benar minta maaf…” Ucap Yahya penuh penyesalan. Perkataan Layla membuatnya merinding.


“Maaf saja tidak cukup, Mas!” Layla meninggikan suaranya.


“Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?”


“Perlakukan aku dengan baik! Aku hanya wanita biasa yang butuh diperhatikan dan disayang… Aku juga istri mas! Tidak hanya nafkah lahir, aku juga berhak mendapatkan nafkah batin! Sekali ini kukatakan, aku bukan barang yang hanya bisa digunakan sebagai bahan pelampiasan!!” Ucap Layla penuh penekanan. Yahya memejamkan mata meresapi apa yang Layla katakan. Pun tadi ia tidak bisa mengingat apapun, namun faktanya mereka telah melakukan penyatuan. Ada banyak asa yang tidak bisa ia jelaskan.


Ting Tong Ting Tong


Seseorang menekan bell pintu kamar. Berkali-kali. Dengan beristighfar dan menghela nafas, Yahya membuka pintu kamar.


“Maaf Gus... Saya datang membawa laporan!” Ucap asisten setelah tuannya tersebut keluar dan menutup rapat pintu kamar.


"Dimana Iqlima? " Tanya Yahya berbisik.


"Ini Gus... " Asisten menyerahkan video yang telah ia rekam dengan baik. Atas titah hj. Aisyah, video dramatis yang ada dalam genggamannya tersebut di serahkan utuh pada Yahya.


"Terima kasih! Kau bisa pergi sekarang!" Ucap Yahya datar setelah melihat video. Ia menatap kosong ke arah punggung sang asisten yang menghilang di balik tembok.


"Yahya... Sebentar, Nak! " Panggil hj. Aisyah yang muncul secara tiba-tiba. Yahya yang hampir saja masuk kembali ke dalam kamar menghentikan pergerakan nya.


"Dimana nak Layla? Mengapa kamu keluar kamar?" Tanya hj. Aisyah lemah lembut.


"Layla tengah istirahat di dalam, Mi! "


"Yahya izin masuk ke kamar ya..." Hj. Aisyah mengangguk.


Yahya lesu? Hmh... Itu artinya video telah sampai di tangan nya. Riwayat Iqlima akan khatam! Tidak lama lagi Yahya dan wanita tidak berguna itu akan bercerai.


Alhamdulillah... Semua menjadi mudah karena ulahnya sendiri... Hj. Aisyah tersenyum puas. Pikirannya melayang pada hari dimana Yahya akan menendang Iqlima.


...****************...


Dini hari. Iqlima diantarkan kembali ke hotel oleh Mang Shaleh dengan lesu. Bayang-bayang penangkapan Rais oleh orang yang tidak di kenal membuatnya gemetar. Jantungnya berdetak tak karuan. Bersama Mang Shaleh dan Rina, mereka gagal mengikuti jejak mobil yang membawa Rais.


"Saya mohon jangan katakan apapun pada Gus Yahya tentang peristiwa hari ini! Kalau pun Gus Yahya tau, biarkan beliau mengetahui nya melalui lisan saya sendiri..." Titah Iqlima pada Mang Shaleh dan Rina mewanti-wanti agar permasalahan nya dan Yahya tidak semakin melebar.


"Baik nona! " Sahut mereka bersamaan. Mang Shaleh melirik Rina dari spion depan. Mobil terus melaju sampai mereka tiba di salah satu hotel berbintang kota Banda Aceh tempat mereka menginap.


"Darimana saja kamu? " Suara yang terdengar tidak asing menghentikan langkah Iqlima di lorong kamar.


"Apa pantas seorang wanita bersuami bertingkah seperti gadis malam? " Iqlima memejamkan mata. Ia menghela nafas mendengar tudingan yang begitu menusuk.

__ADS_1


"Layla, aku sedang tidak ingin berdebat! Aku lelah!" Sahut Iqlima.


"Kau lelah karena memadu cinta di luar sana kan?! Dasar pelac*r murahan!!"


Plaaakkk


Iqlima menampar Layla.


"Tampar terus sampai kau puas!! Kau memang p*lac*r!! Kau gadis kampung murahan yang bermimpi menjadi Cinderella! Kau frustasi karena mas Yahya tidak mengubrismu! Jadi kau bermain cinta dibelakangnya! " Tuding Layla bertubi-tubi. Dada Iqlima bergemuruh kembang kempis. Perkataan Layla membuatnya kesulitan mengatur nafas. Dengan hati yang diselimuti amarah, Iqlima berbalik arah dan memilih untuk kembali masuk ke kamar.


"Ibumu tidak becus mengajarkanmu sehingga kau menjadi sangat liar! Ibumu sama murahannya denganmu! " Layla mengeluarkan jurus terakhir hingga membuat langkah kaki Iqlima terhenti.


"Apa?? Apa yang kau katakan?! " Iqlima maju. Ia mengangkat jari-jarinya mencekik leher Layla.


"Huk Huk Huk... " Layla terbatuk. Iqlima beralih menarik rambut wanita tersebut dengan kedua tangannya.


"Kau boleh mengatakan apapun tentangku tapi tidak tentang ibuku!! " Pekik Iqlima gemetar.


"Awww.... Sa... Sakiiit... Iqlima...Sa...Kit..." Iqlima semakin menarik kuat rambut Layla. Gadis tersebut terus mengaduh. Tak lama, mereka tersungkur di lantai karpet yang tebal. Iqlima yang berada di atas Layla terus memegang rambutnya. Tamu-tamu hotel yang berlalu lalang melihat mereka dengan tatapan heran tanpa ada yang berani melerai.


"Rasakan ini!! Mulut berbisa seperti mu harus diberi pelajaran! Rasakan!! " Iqlima kehilangan kendali. Ia benar-benar menghukum Layla dengan menampar dan menarik rambutnya. Namun sesaat Ia tersadar bahwa Layla kesakitan. Iqlima melonggarkan kekuatannya.


"Ayo minta maaf!! Ayooo!!" Pinta Iqlima yang tidak beranjak.


"Huk Huk Huk" Layla kembali terbatuk. Ia melihat sosok Yahya berada di belakang Iqlima dengan wajah yang merah padam.


"Iqlima... Kau gi... la... kau bisa membunuhku... Kau jahat sekali... Kau kejam... Huk Huk Huk! " Ucap Layla tiba-tiba semakin terlihat kesakitan. Iqlima mengerutkan kening, padahal ia sudah melonggarkan tarikan pada rambut Layla.


"Iqlima!!!! "


Deg.


"Kau tidak apa-apa? " Tanya Yahya dengan raut wajah khawatir.


"Ha...nya ka...rena a... ku menegurnya untuk tidak pu...lang larut ma...lam... Dia dengan tega mencekik dan menjambak rambutku!" Ucap Layla bersandar pada Yahya dengan terbata. Iqlima mendongak.


"Dia yang keterlaluan... Dia menuduh ibuku... "


"Diam kau!! " Hardik Yahya saat Iqlima hendak memberikan penjelasan. Rahangnya mengeras. Iqlima terbelalak. Ia terkejut bukan kepalang. Yahya tidak pernah membentaknya sekeras itu apalagi di hadapan orang banyak. Ya, sebagian dari para tamu hotel keluar mendengar kegaduhan. Sontak airmata Iqlima mengalir.


"Jangan membuat kegaduhan dengan membuat kebodohan di tengah malam begini! " Lanjut Yahya tajam. Tak ada pilihan, Iqlima menunduk menyembunyikan airmata yang tidak bisa di ajak berkompromi. Airmata nya terus saja mengalir. Layla memegang pelipis pertanda kepalanya terasa sakit.


"Aku akan mengantarmu kembali ke kamar, hm?" Ucap Yahya lembut menggiring Layla masuk ke kamarnya. Tak lupa ia memberikan tatapan menusuk pada Iqlima. Layla tersenyum penuh kemenangan.


"Berkemaslah! Besok pagi-pagi sekali kita kembali ke Jakarta! " Ketus Yahya pada akhirnya sebelum ia menutup pintu kamar. Mereka meninggalkan Iqlima seorang diri dalam keadaan mematung.


"Ada kegaduhan apa di sini?! " Tanya petugas satpam yang datang terlambat. Kelihatannya ada salah satu tamu yang melapor.


"Ti... dak ada apa-apa pak, hanya sedikit kesalahpaham saja" Sahut Iqlima mengusap air matanya. Ia berbalik arah dengan berjalan pelan masuk ke kamar. Hatinya terasa sakit.


Yaa Rabb... Hiks Hiks... Tangis Iqlima kembali pecah.


Perlahan Yahya mendudukkan Layla di atas kasur. Setelahnya ia akan beranjak pergi. Yahya berniat membaca beberapa dokumen mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya yang sudah sangat semberawut.


"Mas.... " Panggil Layla.

__ADS_1


"Beristirahat lah... Kau tampak kelelahan" Sahut Yahya.


"Aku tidak bisa tidur... Aku ingin mas yang menemani... " Pinta Layla. Yahya tampak berpikir. Sejenak ia kembali dan berbaring di samping Layla. Tak lupa Yahya menarik selimut menutupi tubuh mereka. Layla mendekat. Perlahan ia memeluk Yahya yang hanya diam tanpa bergerak atau bersuara.


"Mas... "


"Hmh..."


"Aku akan menunggu..."


".... "


"Aku akan menunggu... Aku akan menunggu sampai mas mau membuka hati mas untukku... " Lirih Layla. Yahya semakin mematung. Beku.


"... "


"Mas... " Panggil Layla lagi.


"A... Aku akan mencobanya..." Sahut Yahya pada akhirnya. Hati Layla memekik girang. Semua rencana dan apa yang ia harapkan benar-benar berjalan lancar tanpa hambatan. Layla tidak bisa untuk tidak memuji kemampuan, daya tarik dan pesona nya yang melampaui rata-rata.


"Sekarang tidur lah..." Titah Yahya. Ia bisa merasakan Layla menganggukkan kepala di dada bidangnya. Yahya sendiri berusaha memejamkan mata. Ia berharap ketika bangun nanti kepalanya sudah lebih terasa ringan.


Iqlima.... Hhhh... Yahya menghela nafas sebelum akhirnya ia benar-benar tertidur.


...****************...


"Raf... Bagaimana bisa?! " Ilyas mengusap rambutnya berkali-kali. Sejak memasuki dini hari, ia menemani Raafi kembali ke club malam hanya untuk melihat CCTV.


"Aku khilaf" Lirih Raafi lesu. Ia baru saja menemukan ide mencari identitas gadis yang bermalam dengannya setelah menceritakan kejadian yang Ia alami pada Ilyas.


"Khilaf?! Kau laki-laki terhormat! Kau beragama! Bagaimana bisa kau melakukan perbuatan tidak senon*oh seperti itu?! Dan kau melakukan nya dalam keadaan sadar??!!" Ilyas meninggikan suaranya. Ini pertanyaan yang sama dan untuk kesekian kalinya Ia tanyakan. Ilyas benar-benar tidak habis pikir dan tidak bisa berkata-kata. Bisa-bisa nya laki-laki sekelas Raafi terpedaya dengan wanita tak dikenal begitu saja.


"Sudahlah Yas! Semua kicauan mu hanya memperburuk keadaanku! Ini semua juga salah mu! Kalau saja kau tidak meninggalkan ku demi perempuan itu! Kalau saja kau memberi kabar padaku! Kau juga ikut andil dalam menghancurkan hidupku! " Sahut Raafi memojokkan. Ilyas terdiam.


"Aku sangat menyesal... Tapi menyesal juga tidak ada gunanya... Sejujurnya Aku sendiri punya gadis impian... Aku punya cita-cita menikahi nya suatu saat nanti... Aku sudah ingin menyatakan perasaanku dan ingin serius membina keluarga bersama nya... Namun Kebodohan dan n*fsu yang tidak terkendali membawaku pada kehancuran. Aku hancur, Yas! Aku merasa makhluk paling kotor sedunia! Aku tidak tau bagaimana cara aku menghadapi perasaanku terhadap gadis impianku itu...Aku begitu mencintai nya... Tapi aku tidak akan pernah mungkin lagi memiliki nya... Dia seperti berlian... Sedangkan aku... Aku kini hanya manusia kotor lagi hina! " Raafi menyeka airmata nya. Ilyas mengusap pundak Raafi mencoba memahami dan memenangkan nya.


"Kau tidak perlu mencari wanita malam itu... Jika dia bisa kau tiduuri dengan mudah, dia pasti bukan gadis baik-baik! Kau bukan yang pertama... Sudah banyak laki-laki lain yang bermalam bersamanya! Ayo kita kembali dan kau bisa membuka lembaran baru dengan bertaubat! " Ucap Ilyas ketika mereka sampai di parkiran club.


"Dia masih gadis.. Aku bukan meniiduri wanita malam. Dia masih suci.. " Lirih Raafi tampak tertekan. Ilyas terenyak.


"Lagipula... Kalaupun dia seorang wanita malam, memang nya kenapa? Toh hakikatnya aku telah ikut menodainya, maka aku bersumpah akan tetap bertanggungjawab! Aku tetap mencari dan akan mengajaknya menikah! Aku akan membiayai nya dan mengajaknya berhenti dari dunia hitam!" Ucap Raafi mulai membuka pintu mobil diikuti Ilyas. Mereka masuk ke dalam Club dan masuk ke bagian teknisi.


"Semoga aku bisa menemukannya. Setidaknya aku harus meminta maaf dan menawarkan pertanggungjawaban! " Lagi-lagi Ilyas terenyak. Ia merasa tersentuh dengan niat baik sahabatnya tersebut.


"Ini pak... Ini kumpulan materi video pada tanggal yang bapak sekalian sebutkan!" teknisi mulai memutar dan mempercepat laju video satu persatu. Gambarnya sedikit buram karena pencahayaan yang tidak maksimal namun masih bisa terlihat dengan baik.


"Pelankan di sini... Zoom! Aku ingin mengambil potret wajahnya! " Titah Raafi.


"Naah ini dia, ambilkan bagian gambar yang lebih jelas! "


"Wait wait... " Ilyas mengerutkan kening. Ia menepuk nepuk pundak teknisi.


Wajah yang tidak asing.


"Ada apa, Yas?! " Tanya Raafi.

__ADS_1


Ini.... Lay....la?! Mata Ilyas terbelalak. Ia melirik Raafi dengan wajah tegang.


...****************...


__ADS_2