Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 65: Tekad, Nekad


__ADS_3

Genap dua minggu sudah Iqlima berada di kamar utama Yahya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mondar mandir dan memandang keluar jendela. Berharap Yahya melintas di sana. Namun harapannya tak kunjung menjadi nyata. Selama dua minggu ini batang hidung Yahya tidak pernah terlihat.


Berat tubuh Iqlima semakin menyusut. Hampir tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya kecuali hanya sesendok dua sendok beserta air putih yang ia minum lebih banyak untuk membuatnya mampu berdiri.


Bang Yahya… Maafkan aku… Lirih Iqlima terduduk dengan mendekap lututnya di sudut kamar. Akhir-akhir ini ia lebih sering tertidur di lantai daripada di atas kasur. Iqlima mengusap airmata yang serasa mengering.


Suara alarm terdengar bersahut sambut. Hari ini seharusnya adalah hari pertama Iqlima menjadi mahasiswa. Ia menatap nanar pada layar handphone melihat notifikasi yang dikirim dari bagian akademika kampus.


Aku harus bagaimana? Iqlima mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia kembali tertunduk lesu.


Tuk


Sebuah pulpen yang entah dari mana asalnya terjatuh mengetuk kepala Iqlima.


Ya Rabb., bahkan benda mati-pun ikut membenciku. Iqlima mengusap-usap kepalanya.


**.. Tapi.. Iqlima mengingat sesuatu ketika melihat pulpen yang berguling di hadapannya. Seperti tersadarkan, Iqlima bangkit dari duduknya.


Kreekk Kreeekk


Iqlima membuka salah satu pintu pada connecting door. Ia merasa sudah saatnya keluar kamar sambil berharap bisa bertemu Yahya untuk meminta maaf. Iqlima sempat terkejut mendapati pintu utama yang terkunci. Itu artinya selama ini ia memang terkurung di sana.


Apa Yahya memang sengaja mengurungnya? Tapi mau sampai kapan permasalahan ini dibiarkan berlarut-larut? Hati Iqlima kembali mencelos. Sambil beristighfar, ia terus menelusuri jalan yang sudah pernah ia lalui sebelumnya untuk sampai ke depan gerbang asrama santriwati.


Mata Iqlima berpendar. Suasana sepi. Tiada siapapun di sana kecuali mobil dan motor yang berjejer di parkiran.


Bang Yahya, Bang Yahya dimana? Lirih Iqlima. Ia mengambil handphone dan kembali mencoba menghubungi Yahya. Namun sayang, usahanya sia-sia. Yahya tetap tidak bisa dihubungi. Iqlima terlihat putus asa.


Apa aku harus kembali ke kamar? Gumam Iqlima kebingungan. Ia terlihat seperti penjahat yang mengendap-endap.


Alarm peringatan untuk masuk ke kampus kembali terdengar. Dengan mendengus sebal Iqlima mematikan alarm tersebut. Namun tiba-tiba ide gila muncul dibenaknya.


Kenapa aku tidak masuk kuliah saja? Bang Yahya pasti mengizikan kalau aku keluar rumah untuk belajar. Bang Yahya pasti sudah mengeluarkan biaya mahal untuk ini semua! Akan sia-sia kalau aku tidak masuk kelas! Setidaknya di masa depan aku harus pintar agar keluarga bang Yahya berkenan menerimaku. Iqlima mengangguk-angguk membenarkan pemikirannya. Dengan bermodalkan tas selempang berisikan dompet dan handphone, Iqlima nekat meninggalkankan kediaman Bustanul Jannah.


***


Tit Tit Tit


Suara monitor detak jantung terdengar di ruangan ICU pada sebuah rumah sakit besar. Yahya dirawat di sana setelah pingsan di ruang pertemuan dua minggu lalu yang menyebabkannya geger otak ringan. Kepala Yahya sempat membentur dinding.


“Bagaimana keadaan putra saya, Dok? Mengapa Yahya belum juga siuman?” Tanya Hajjah Aisyah cemas.

__ADS_1


“Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritis, namun saat ini beliau masih dalam pengaruh obat bius. Tapi nyonya tenang saja. Jika obatnya bekerja dengan baik, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan” Dokter menjelaskan dengan tersenyum dan pamit berlalu.


“Mi, insya Allah mas Yahya akan baik-baik saja!” Layla memeluk Hajjah Aisyah dari belakang. Perlakuan yang begitu manis membuat Hajjah Aisyah tersentuh.


“Terima kasih, Nak! Kamu benar-benar penguat Ummi!” Wanita paruh baya tersebut mengusap tangan Layla.


Dddrrrt Dddrrrtt


Handphone Hajjah Aisyah bergetar. Seseorang menelponnya.


“Ummi Hajjah, saya ingin melaporkan bahwa nona Iqlima tidak ada di kamar. Nona Iqlima kabur!” Asisten yang bertugas melaporkan dengan nada panik.


“Apa?? Kabur?! Apa kau tidak mengunci pintunya?”


“Saya sudah menguncinya, Ummi Hajjah!”


Apa wanita itu kabur melalui connecting door? Tapi darimana dia mengetahui jalurnya? Hajjah Aisyah mengerutkan keningnya.


“Ya sudah, biarkan saja! Nanti dia pasti kembali dengan sendirinya!”


“Baik, Ummi Hajjah!”


Huh. Dia pikir Jakarta itu mudah dan aman? Semoga saja dia dipertemukan oleh preman jalanan dan dikerjai beramai-ramai! Kalau perlu, tidak usah kembali dan mengganggu kehidupan Yahya lagi! Batin Hajjah Aisyah menyumpahi Iqlima.


“Woaaa, gantengnyaa! Lagi pucat saja ganteng, gimana kalau lagi sehat? Sayang, cepet sembuh dong! Kamu kan mau nikahin akuu!” Ucap Layla manja sambil memperhatikan wajah Yahya lekat-lekat. Namun tiba-tiba ia teringat satu hal. Layla bergegas mengambil handphone dan menghubungi seseorang.


Beberapa menit kemudian jari tangan Yahya tampak bergerak-gerak. Layla yang baru saja mengakhiri panggilan telepon langsung menghampirinya. Dengan cepat gadis tersebut mengambil tangan Yahya lalu diletakkan ke pipi halusnya. Punggung tangan pemuda tersebut digerak-gerakkan untuk mengusap wajahnya.


“Mas, bangun yuk… cepat buka matanya! Aku udah lama nungguin, Mas!” Bisik Layla. Jari Yahya yang tadi nya bergerak-gerak berubah tenang.


"Sayang.., kok ga jadi bangun? Tadi jarinya udah bergerak. Kok sayang PHP sih? " Tanya Layla cemas. Matanya menatap alis tebal Yahya yang berjejer rapi kemudian beralih ke mata, turun ke hidung mancung perosotan-nya. Terakhir Layla menatap bibir Yahya yang memucat. Ia berlama-lama menatap nya. Seketika gadis tersebut mendamba. Tak bisa menahan diri, wajah Layla perlahan-lahan mendekat. Dengan mata yang tetap fokus ke arah bibir, Ia terus mendekat kan wajahnya ke bibir yang sudah sedikit mengelupas tersebut.


Tiit Tiiit Tiitt


Suara monitor masih terdengar memenuhi ruangan. Sedikit lagi bibir Layla dan Yahya menyatu. Dari sehasta, tinggal sejengkal. Tujuh senti meter lagi. Hembusan nafas Layla yang menderu menyapu wajah pemuda yang tengah terbaring lemah tak berdaya.


Mas Yahya., aku akan memberikanmu kekuatan., Lirih Layla sendu. Ia menutup kelopak matanya. Hampir saja mereka mengikis jarak. Namun tiba-tiba,


"Allahu Ak...bar" Lirih suara Yahya terdengar. Layla terkejut. Ia langsung menjauhkan wajahnya. Mata Yahya perlahan terbuka.


"Di... mana Iqlima... Iqlima dimana?! " Tanya Yahya berusaha meninggikan suara nya. Nafasnya terdengar berat.

__ADS_1


"Mas, Mas Yahya sudah siuman? syukurlah! " Seru Layla dengan mata berbinar.


"Lepaskan tanganmu! Jangan sentuh aku! Dimana Iqlima? " Tanya Yahya dengan suara yang terdengar begitu pelan. Ia masih sangat lemas. Kepalanya terasa pusing.


"Ma...Maaf, Aku tidak tau! Sejak menunggui mas Yahya di sini, Aku tak pernah melihatnya! " Sahut Layla berhati-hati.


"Keluar dari kamar ini!" Layla mematung.


"Keluar dari kamar ini! Huk Huk Huk! " Yahya Terbatuk. Darah segar keluar dari mulutnya


"Mas, Mas tidak apa-apa?! " Tanya Layla panik. Yahya bangkit, Ia mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan agar Layla tidak mendekat.


"Yahya?! Kau sudah siuman, Nak?! Astaghfirullaaah, mulut-mu mengeluarkan darah!! " Hajjah Aisyah yang baru masuk ke dalam ruangan tak kalah panik.


"Biar Layla memanggilkan dokter, Mi! " Hajjah Aisyah mengangguk.


***


Iqlima mengusap peluh di wajahnya. Ia sudah menyelesaikan pelajaran pertamanya di kampus. Tadi pagi dengan menaiki taxi, Ia sampai di Universitas Indonesia. Jarak yang jauh dan harus melewati jalan tol menyebabkan Iqlima harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Wanita tersebut menguras habis isi dompetnya. Kini Ia kehausan. Tubuh yang tidak fit dan asupan makanan yang tidak memadai membuatnya cepat merasa lelah.


Ini pertama kalinya Iqlima berpergian sejauh ini di kota yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Jujur saja, Iqlima tidak menyangka dalam waktu singkat Yahya mengambil keputusan untuk memindahkannya dari kampus Trisakti ke Universitas Indonesia. Kampus ini benar-benar memiliki jarak tempuh yang tidak dekat dari Bustanul Jannah. Namun Iqlima merasa sedikit lega, sebab Yahya pernah mengatakan bahwa di sela-sela kesibukannya, Abah juga menyempatkan diri menjadi dosen tamu di Universitas ini.


Di saat tenggorokan nya terasa semakin mengering, Iqlima menemukan box mesin ATM, tanpa menunggu lebih lama ia langsung masuk untuk menarik uang. Iqlima mengambil kartu ATM yang Yahya berikan. Jari jemari gadis tersebut dengan lincah menekan tombol pin.


Sisa Saldo Anda Rp. 239.878.700,-


Dua puluh tiga juta sekian?? Banyak sekali?! Gumam Iqlima.


Eh... Tunggu... I..Ini... Iqlima tersadar. Ia kembali menghitung jumlah angka yang tertera. Seketika Iqlima bergetar. Ternyata bukan dua puluh tiga juta sekian melainkan dua ratus tiga puluh sembilan juta sekian. Iqlima mematung. Ia dan Yahya sudah menikah selama enam bulan. Itu artinya Yahya mentransfer rutin empat puluh juta di setiap bulannya dan Iqlima sama sekali belum menyentuh uang-uang tersebut karena selama ini Yahya selalu memenuhi kebutuhannya.


Lutut Iqlima terasa lemas. Ia kembali tersadar bahwa selama ini Yahya begitu memperhatikan kesejahteraan nya. Ia yang hanya gadis miskin dan yatim piatu biasa diperlakukan dengan begitu istimewa. Iqlima berjalan keluar dari box mesin ATM dengan merenung sembari mengusap airmatanya. Setelah membeli air mineral, Iqlima ingin langsung kembali ke Bustanul Jannah dan bertekad menemui Yahya.


Iqlima berjalan keluar dari area kampus. Sudah setengah jam ia menunggu namun taksi tidak kunjung muncul. Suasana kampus masih terlihat ramai karena mahasiswa yang keluar masuk berlalu lalang.


"Dik, cari taksi ya? " Tiba-tiba seorang wanita menyapanya.


"Eh, iya kak! " Sahut Iqlima.


"Jangan menunggu di sini, biasanya kalau menunggu taksi itu ke arah sana! Coba jalan 150 meter ke ujung kemudian belok kanan, jalan lagi 150 meter. Kalau menunggu di sana, taksi akan segera datang! " Ucap wanita tersebut terdengar ramah. Iqlima berbinar. Dengan semangat ia mengucapkan terima kasih. Wanita pemberi petunjuk tersenyum misterius penuh makna.


Tanpa berpikir panjang, Iqlima langsung melesat ke tempat yang tadi ditunjukkan. Sebenarnya ia sudah sangat kelelahan, namun ia memaksakan diri untuk berjalan agar cepat mendapatkan taksi dan segera kembali.

__ADS_1


***


Jangan Lupa di Like setelah membaca 💙


__ADS_2