
Yahya memeluk Iqlima dari belakang. Wanita tersebut tersentak karena terkejut. Sontak ia melepaskan pelukan Yahya.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh lagi menyentuhmu? " Tanya Yahya menahan gemuruh di dadanya.
"Layla sangat cantik dan menawan. Bang Yahya sangat menyukainya. Kalian pengantin baru yang serasi. Ketika bersamanya, bang Yahya akan melupakan tubuh kurusku... Maka temuilah dia dan dapatkan apa yang bang Yahya mau!" Ucap Iqlima dengan nada tinggi dan tempo yang cepat. Demi apapun, mata hitam Yahya membola sempurna.
"A...apa katamu???" Yahya sangat terkejut. Sesaat Iqlima tersadar akan perkataannya. Ia melihat ke sembarang arah. Yahya menggeleng tak percaya. Wajah nya merah padam.
"Seburuk itukah kau menilaiku?" Mata Yahya berkilat. Iqlima masih menunduk. Ia sama sekali tak berani menatap suaminya.
"A... Aku... A... Aku hanya..."
Sreeettt
Yahya menarik kasar tangan Iqlima.
"Awwww... Sa... Sakit bang... Ssss" Iqlima mengaduh.
"Kau sangat keterlaluan! Kau anggap aku apa??! Kau pikir selama ini aku hanya mengedepankan nafsuku semata?! Kau pikir aku pria seperti apa? Apa menurutmu aku bukan manusia tanpa perasaan?! Iqlima, selama ini Aku sudah sangat bersabar menghadapimu! Aku bersabar atas semua penolakanmu, Aku bersabar atas semua pemaksaan yang kau lakukan! Malam ini kau malah melukaiku dengan mengatakan kalimat yang tidak beralasan! Kau yang menginginkan ini semua tapi kau sendiri yang menjadikannya sebagai alasan. Aku kecewa! Sangat kecewa!! " Ucap Yahya menghempaskan tangan Iqlima yang semula ia cengkram erat. Pemuda tersebut berjalan mundur. Perlahan ia berbalik arah meninggalkan Iqlima dengan kekecewaan mendalam setelah menatapnya lekat-lekat.
Bang Yahya.... Maafkan aku... Walau yang aku katakan benar adanya. Namun abang lebih benar, tidak seharusnya aku berkata demikian... Dan sekarang, bang Yahya pasti semakin membenciku... Lirih Iqlima menangis tertahan. Ia terduduk di lantai. Angin malam menampar wajahnya berulang kali. Iqlima tergugu. Semua rasa bercampur aduk tak terperi. Iqlima duduk termenung sendirian dalam temaram lampu malam dengan cahaya kuning keemasan.
Ceklek.
Pukul sepuluh malam. Yahya memasuki kamar Layla dengan wajah lesu. Ia membuang kasar nafasnya ke udara saat melihat gadis tersebut belum tidur. Layla masih memainkan handphone nya. Sungguh, saat ini Yahya hanya ingin tidur dan tidak bersemangat melakukan apapun.
"Mas... Kenapa pulang dari mesjidnya lama sekali? " Tanya Layla menghampiri ketika menyadari kedatangan suaminya.
"Aku haus. Tadi Aku minum teh" Sahut Yahya. Ia berjalan semakin ke dalam sembari melepaskan satu persatu kancing bajunya.
"Biar aku bantu" Layla meletakkan tangannya di atas kancing baju Yahya. Tangan mereka bersentuhan. Yahya sontak memindahkan tangannya. Ia pasrah saat Layla meloloskan satu persatu kancing bajunya.
"Tolong ambilkan aku piyama" Pinta Yahya mengalihkan.
"Mas sayang... Apa piyama dibutuhkan untuk malam ini?" Bisik Layla mendayu manja. Jari telunjuknya memainkan dada bidang Yahya yang masih beralaskan selembar kaos putih tipis. Pemuda tersebut terenyak.
"Mas... " Panggil Layla lagi. Mata bundarnya tampak sayu.
"A.. Apa kau sudah benar-benar siap?" Tanya Yahya kikuk.
"Kalau aku tidak siap, kenapa aku mau menikah? " Tantang Layla. Yahya menatap wajah istrinya tersebut lekat-lekat. Ia mencari gair*h di sana. Jujur saja, perselisihan dengan Iqlima membuat hatinya terasa hampa. Namun ia sudah berjanji untuk melaksanakan kewajibannya malam ini.
Yahya mengangkat tangannya. Dengan mengucap bismillah, perlahan ia menyentuh pipi kiri Layla. Yahya mencoba mengelusnya. Layla menikmati setiap sentuhan yang pemuda tersebut berikan.
__ADS_1
Apa Iqlima masih di atas sana setelah kutinggal pergi? Apa dia tertidur di lantai? Pikiran Yahya mengembara mengingat kebiasaan Iqlima yang selalu saja tertidur di lantai jika suasana hatinya sedang tidak baik. Kening Layla mengerut. Ia memegang tangan Yahya. Gerakan yang Layla lakukan berhasil membuyarkan lamunannya.
Yahya menggiring Layla ke kasur dan mendudukkannya di sana. Dengan gerakan cepat ia membuka kancing piyama Layla hingga setengah dari pakaian tersebut terbuka. Hati Yahya bergemuruh. Ia merasa belum mampu. Namun Yahya memaksakan dirinya. Ia menatap tubuh Layla yang sebagian terbuka untuk memancing reaksi tubuhnya. Namun entah kenapa reaksi tersebut belum juga menyala. Yahya mencobanya lagi. Ia menarik kasar pakaian Layla.
Sreekk
Kancing piyama tersebut terlepas. Layla mulai menangis.
"Ma... Maaf" Lirih Yahya menyadari kekeliruannya. Ia memejamkan mata merasa bersalah. Yahya menarik selimut menutup tubuh Layla.
"Kenapa? Kenapa Mas Yahya sekasar ini? Mas Yahya bahkan belum menciu*mku, belum mengecup keningku...Mas Yahya belum melakukan apapun yang seharusnya Mas Yahya lakukan...Mengapa Mas Yahya begitu terburu-buru?? Padahal aku seorang wanita yang baru akan pertama kali melakukannya..." Protes Layla marah.
"Ma'af... Aku salah... Aku benar-benar minta ma'af..." Yahya bangkit berdiri.
"Mas mau kemana? "
"Ma'af, malam ini aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Mungkin aku kelelahan. Aku butuh waktu. Aku berharap semoga kau bisa mengerti" Ucap Yahya mengambil kemeja dan memakainya. Ia pergi keluar kamar meninggalkan Layla yang terpaku sendirian.
"Aaaaaaaaa..." Layla berteriak histeris merasa kesal. Ia bangkit berdiri.
Praaankkkk
Layla membuang semua benda yang ada di atas meja riasnya. Semua barang-barang tersebut jatuh berhamburan di lantai. Sebagian bahan yang terbuat dari kaca pecah berkeping-keping, isinya ikut berserakan di sana.
Sri melihat Yahya keluar dari kamar Layla menuju kamar tamu. Ia yang baru saja selesai mengantarkan teh hangat pada Hajjah Aisyah menjadi heran. Yahya yang merasa seperti ada orang lain selainnya di ruangan tersebut menoleh.
"Ah mba Sri... kemarilah! " Titah Yahya.
"Iya Gus? Apa ada yang bisa saya bantu? "
"Tolong antarkan teh hangat ke kamar Layla. Tambahkan madu dan lemon! " Pinta Yahya.
"Baik Gus. Saya permisi! " Ucap Sri tanpa bertanya.
"Sebentar, satu lagi! "
"Tolong ke kamar utamaku, lihatlah apa Iqlima berada di sana atau tidak! Kau boleh berasalan apapun asal jangan katakan aku yang menyuruhmu ke sana! Segera laporkan padaku jika kau telah melaksanakan nya! " Pinta Yahya. Sri mengangguk. Yahya berbalik arah dan masuk ke dalam kamar tamu. Lagi-lagi Sri mengerutkan kening. Ia jadi menerka-nerka apa yang terjadi dalam rumah tangga sang Gus.
***
Tok Tok Tok
"Bagaimana Mba Sri? " Yahya membuka pintu.
__ADS_1
"Saya tidak menemukan nona Iqlima di kamar, Gus! " Wajah Sri terlihat panik.
"Baik" Yahya langsung melesat menuju kamar utama. Jam sebelas malam, lampu taman dan jalanan sudah dimatikan. Jadi, kondisi rooftop saat ini pasti sudah gelap gulita.
Yahya membuka laci kamar mancari senter. Namun ia mengeryitkan kening ketika melihat sebuah buku yang bukan miliknya bertuliskan NOOR. Yahya membuka pengaitnya dan melihat random ke salah satu halamannya.
...........Kakek memaksaku untuk menikah dengan bang Hilman. Namun aku lebih memilih ustadz Ilyas.
I... Ini diary Iqlima... Gumam Yahya. Ia sangat kesal membaca kalimat tersebut. Yahya berpikir sejenak setelah sesaat terpaku.
Yahya mendatangi rooftop. Gelap gulita. Ia menghidupkan senter dan membawanya berpendar. Benar saja, Iqlima masih berada di sana. Gadis tersebut terduduk dalam keadaan tertidur.
Hhhh. Bisa-bisanya dia tidur dalam keadaan seperti ini! Yahya mendengus lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan cepat ia mengangkat Iqlima, menggendongnya ala bridal. Gerakan yang Yahya lakukan membuat Iqlima terbangun. Perlahan ia membuka matanya.
Bang Yahya? Apa aku sedang bermimpi? Gumam Iqlima tak bergerak sambil terus mengumpulkan kesadaran nya. Dalam kegelapan, samar-samar ia memandangi wajah orang yang membawanya.
Aku tidak bermimpi. Ini benar-benar bang Yahya, suamiku... Bibir Iqlima sedikit menyunggingkan senyum.
Yahya meletakkan Iqlima di atas kasur perlahan-lahan. Berharap agar istrinya itu tetap tertidur dan tidak terbangun. Yahya memandangi wajah bersihnya. Sulur rambut yang menghalangi wajah ia tepi-kan ke pinggir.
Cantik sekali. Gumam Yahya terus memandang. Ia seolah-olah tak pernah puas memandangi wajah Iqlima walau sudah kerap kali ia lakukan. Namun lagi-lagi Yahya harus mendengus saat mengingat kecerobohan Iqlima.
"Huh... Untung kau tidur! Kalau sadar, aku benar-benar akan memarahimu! Kapan kecerobohan mu bisa hilang.... "
Deg.
Lirih Yahya berbisik. Namun bisa terdengar dengan jelas oleh Iqlima. Wanita tersebut semakin menutup rapat matanya.
Yahya sedikit mundur. Ia menarik selimut dan menutup tubuh istrinya hingga sebatas dada. Namun ia melihat kejanggalan. Mata Iqlima tampak berkedip-kedip dalam tidur.
Cup. Yahya mengecup bibir Iqlima sekilas. Ia memandangi bibir ranum yang merah merekah tersebut.
"Hey... pipimu seperti bunga mawar. Bukalah matamu! Aku tau kau tidak tidur! " Ucap Yahya. Dalam mata yang masih menutup, tanpa sadar Iqlima menggigit bibir bawahnya. Yahya menyunggingkan senyum geli. Ia seakan melupakan amarahnya pada Iqlima yang meluap-luap.
***
Berikan Komentar Terbaikmu 💙
#event_9 🌹
IG: @alana.alisha
***
__ADS_1