
Iqlima bangkit dari tempat tidur dengan memegang erat selimut yang masih menutupi tubuhnya. Dengan hati tidak karuan, ia mengambil gamis dan kerudung yang tadi ia letakkan di kamar mandi. Iqlima membuka koper dengan wajah sendu. Semua pakaian pemberian dokter Jelita ia lipat dengan lebih rapi lalu perlahan diletakkan ke tempat yang tidak terlihat.
“Terima kasih atas pemberiannya dok, tapi mungkin semua ini tidak akan pernah aku pakai!” Lirih Iqlima tersenyum masam. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya. Iqlima berjalan menuju jendela dengan menenteng tasbih digital. Ia berharap dengan melihat dunia luar walau terbatas kaca akan mampu meredakan rasa gundah gulana dihatinya.
Ceklek
Yahya memasuki kamar hotel dengan tubuh berpeluh dan tangan yang dipenuhi oleh luka memar. Keningnya mengerut mendapati Iqlima sudah memakai gamis lengkap dengan kerudung dan kaos kakinya.
“Kau mau kemana?” Tanya Yahya heran. Iqlima menggeleng.
“Lalu kenapa di kamar berpakaian seperti itu?”
“Hanya lagi ingin seperti ini saja” Sahut Iqlima enggan tanpa menoleh. Ia melayangkan tatapannya pada jendela kamar dengan memandang orang-orang dan kendaraan yang berlalu-lalang. Namun sebenarnya tatapan tersebut hanyalah tatapan kosong. Sudah dari berpuluh menit lalu ia melamun di sana.
Seolah tidak menggubris perkataan Iqlima, pemuda tersebut berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Ekor mata Iqlima mengikuti gerak langkah Yahya. Seketika airmatanya kembali menetes. Perasaannya benar-benar kacau. Ia menoleh menatap punggung Yahya yang berlalu di balik tembok dengan hati sedih.
Apa dia marah? Tapi apa yang membuatnya marah? Tanya Yahya pada dirinya sendiri. Air dari pancuran shower terburai membasahi tubuhnya.
Kenapa wanita sulit sekali dimengerti? Gumam Yahya berpikir. Ia mempercepat ritualnya karena perut sudah terasa melilit dan tidak bisa lagi untuk diajak berkompromi.
“Kau ingin aku memesankan makanan lalu kita makan di kamar ini atau kita makan di luar?” Tanya Yahya ketika keluar dari kamar mandi dengan meminggang selembar handuk putih. Ia dengan acuh mengambil pakaian di dalam koper dan langsung memakainya tanpa rasa canggung. Iqlima yang belum terbiasa melihat tampilan Yahya langsung memalingkan wajahnya. Dengan mengendap-endap ia menuju ke tempat tidur.
“Kenapa tidak menjawab?” Tanya Yahya lagi. Iqlima tetap bungkam. Ia memilih menyelimuti seluruh tubuhnya. Tak lama, suara isak tangis sayup-sayup terdengar.
“Hey, mengapa malah menangis sih?” Tanya Yahya kebingungan. Ia menggaruk asal rambut basahnya lalu mencoba menarik selimut Iqlima namun gadis tersebut menahannya.
"Aku tidak menangis! " Sergah Iqlima sesegukan.
“Huh! Apa sesuatu menimpamu? Apa kau terpleset di kamar mandi atau apa?!” Tanya Yahya dengan suara meninggi.
“Ma.. Maaf.. A.. Aku baik-baik saja” Suara parau akibat tangisan terdengar. Seketika Iqlima tersadar bahwa ia telah bersikap berlebihan.
“Kalau kau baik-baik saja kenapa menangis? Apa kau marah padaku?” Iqlima menggeleng.
“Kau menutupi seluruh tubuhmu dari kaki hingga wajah lalu tidak enggan berbicara padaku. Apalagi kalau bukan marah?”
“Ambil-lah!” Yahya menyodorkan selembar tisu. Tak sabar, dengan mendengus pemuda tersebut membawa tubuh Iqlima menghadapnya. Ia mengusap sisa air di sudut mata sang istri berhati-hati.
“Apa kau marah karena tadi aku pergi meninggalkanmu begitu saja?” Iqlima menunduk.
Hhhh. Yahya membuang kasar nafasnya ke udara.
“Baiklah! Aku akan menuntaskannya. Walau ini akan menjadi topik sensitif, tapi aku harus bertanya!” Iqlima memasang telinga dengan saksama.
“Apa tadi itu... Hmh.... Apa tadi itu kau berdandan untukku? Menggunakan pakaian seperti tadi, hmh maksudku… Apa kau…” Yahya menjeda kalimatnya.
Deg.
“Apa kau mengingankannya?” Yahya mengusap tengkuknya.
“Ha? Menginginkan apa?!” Iqlima langsung mendongak.
__ADS_1
“Menginginkan untuk kusentuh. Setelah hari itu, apa kau kembali menginginkannya? Tidak apa-apa jika kau mengatakan kalau kau menginginkan-nya” Pertanyaan yang sangat terpaksa ditanyakan namun harus Yahya lontarkan untuk memastikan. Bagaimana pun ia tidak mungkin melepaskan tanggung-jawabnya sebagai seorang suami.
“Mana mungkin! Pertanyaan jenis apa itu?! Bang Yahya jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku tidak menginginkannya! Benar-benar tidak!!” Protes Iqlima dengan nada tinggi. Pipinya bersemu merah. Pertanyaan Yahya membuat Iqlima tidak bisa mengkondisikan roman wajahnya.
“Jadi jawaban nya tidak ya? Padahal aku menginginkannya!” Sahut Yahya lugas.
“Kalau menginginkannya kenapa bang Yahya pergi tanpa melakukannya?” Sembur Iqlima cepat.
Deg.
Tersadar akan ucapannya, Iqlima menutup mulut dengan kedua tangan. Yahya menyunggingkan senyumnya.
"Mendekatlah! " Iqlima menggeleng. Hatinya berdetak tidak karuan.
Kalau ada permasalahan harus diselesaikan, Gus! Jangan dibiarkan. Lari dari masalah bukanlah solusi! Yahya mengingat kembali perkataan Rusdi yang melihatnya memukul samsak tinju dengan semakin menggila. Ruas jari tangannya benar-benar hampir pecah.
Aku bermasalah dengan diriku sendiri. Sahut Yahya menghentikan pukulannya.
Kalau Gus tidak keberatan, saya siap menjadi pendengar permasalahan yang Gus alami. Tadi itu Yahya tampak tertarik mendengar kalimat yang Rusdi lontarkan.
Kau sudah menikah kan? Lanjut Yahya meyakinkan.
Sudah. Tapi istri saya sudah meninggal setahun yang lalu. Sahut Rusdi.
Maaf.,
Tidak apa-apa Gus, setidaknya saya sudah memiliki pengalaman. Lanjut Rusdi lagi. Yahya mulai menceritakan permasalahan yang ia hadapi. Namun hanya sebatas permasalahan umum. Tidak lebih. Ternyata Rusdi sangat asyik dijadikan teman mengobrol.
"Jantungmu berdetak kencang" Bisiknya lagi. Hembusan yang menerpa wajah Iqlima membuatnya meremang.
"A... Aku mau ke kamar mandi... " Iqlima hendak bangkit namun tangan Yahya menahan pergerakan nya.
"Kalau aku menginginkanmu, apa kau ridha? "
"Ke... kenapa bang Yahya bertanya seperti itu? " Kening Iqlima mengerut. Bukannya Yahya adalah suaminya?
"Kenapa kau merelakannya? Apa karena aku suamimu atau ada alasan lain, hm?" Tanya Yahya sendu. Tangan nakalnya mulai bergerilya ke tempat yang tidak seharusnya. Iqlima tidak bisa menahan suara liar yang tiba-tiba keluar akibat sentuhan lembut yang Yahya berikan.
"Bang..." Iqlima menahan tangan Yahya yang mulai menelusur lebih jauh.
"Kenapa, hm?" Tatapan Yahya yang menghujam membuat Iqlima melepaskan pegangan tangannya. Mendapatkan lampu hijau, Yahya terus melancarkan aksinya. Keinginan yang terpendam selama beberapa waktu, amarah, rasa kecewa pada dirinya sendiri juga kepatuhan akan sebuah kewajiban bersatu membaur memenuhi ruang di hati Yahya. Setidaknya perasaan bersalahnya pada Iqlima sudah sedikit berkurang ketika mendengar nasehat Rusdi.
"Awww, kenapa menggigit bibirku? Kau benar-benar titisan drakula!" Yahya meringis menahan perih akibat luka gigitan yang cukup dalam.
"Ma... Maaf... A... Aku tidak sengaja. Bang Yahya membuatku geli!" Sahut Iqlima dengan menunjukkan deretan gigi rapinya yang baru saja di absen. Seolah tidak mempedulikan bibirnya yang berubah bengkak, Yahya kembali menjalankan aksinya. Suara handphone yang mulai berdering nyaring tidak menyurutkan semangatnya untuk melakukan hal lebih. Sebelah tangan Yahya menyempatkan mematikan handphone yang lama-lama terasa menganggu.
"Kenapa di halangi?! Kalau begini bagaimana aku bisa melihatnya?! " Tanya Yahya dengan dada kembang kempis. Ia berusaha meraup oksigen di sela-sela nya.
"Ru... Ruangannya terlalu terang" Sahut Iqlima gugup.
Hhhhh. Yahya menghela bersamaan dengan deruan nafas mereka yang bersahut sambut. Ia kembali berusaha untuk bisa fokus. Iqlima mulai terlena, perlahan tapi pasti wanita tersebut mulai mengikuti alur permainan yang diarahkan oleh sang sutradara. Tanpa sadar Iqlima membiarkan Yahya melakukan apa yang ingin dilakukan. Untuk kedua kalinya, Yahya berhasil menuntaskan segala keinginan yang sudah diidam-idamkannya sejak beberapa minggu terakhir. Keinginan yang membuatnya hampir setiap hari melakukan olahraga ekstrim. Keinginan yang begitu membuatnya merasa bersalah hingga melakukan konsultasi. Bahkan saat ini ia lupa dengan cacing-cacing yang memberontak di dalam perutnya.
__ADS_1
Apa ini gambaran surga dunia yang didengung-dengungkan oleh para penyair dan pujangga? Rasanya aku sangat enggan untuk mengakhiri nya. Gumam Yahya menyunggingkan senyum melihat Iqlima yang terkapar dengan mata tertutup.
"Dik Ima, apa kau sudah tidur? " Bisik Yahya. Tangan nakalnya kembali beraksi.
Namun tiba-tiba,
Brakkkkk
Yahya jatuh menimpa Iqlima di lantai.
Awww . Ya Rabbi... Pinggang-ku... Iqlima mengaduh merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
"Kenapa kau mendorongku?!" Hardik Yahya. Ia dengan cepat menarik selimut lalu bangkit.
"Bang Yahya mengagetkan ku" Iqlima bersungut dengan tetap meringis.
"Dasar ceroboh!! Sudah tau ini single bed yang sempit!! Bisa-bisanya kau malah tertidur saat aku tidak tau harus berbaring di sebelah mana. Kau menguasai seluruh tempat tidur!" Tukas Yahya mengelak.
"Besok-besok jangan bersikeras untuk menetap di kamar single bed! sekarang kau tau akibatnya kan?! " Tukas Yahya lagi.
"Awwww... Sakit sekali!" Iqlima kembali mengaduh saat hendak bangkit berdiri.
"Apa benar-benar sakit?" TanyaYahya melunak. Iqlima mengangguk.
Apa bang Yahya tidak sadar kalau berat tubuhnya di penuhi oleh otot dan daging?! Huh! Gerutu Iqlima.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
***
RS. Kangbuk Samsung, Seoul
Hilman berjalan santai memasuki lorong-lorong rumah sakit. Terhitung delapan minggu sudah ia beristirahat total untuk penyembuhan pasca melakukan operasi plastik di JK Plastic Surgery Center. Hilman sangat puas dan cukup percaya diri dengan wajah baru yang ia gunakan. Dokter Lee membuat wajahnya terlihat lebih sempurna dibandingkan pemilik wajah asli yang ada di dalam canvas lukisan.
Tap Tap Tap
Hilman semakin masuk lebih dalam. Ada obat yang harus ia konsumsi sebagai perawatan ekstra pada kulit wajahnya, dan obat tersebut hanya bisa ditebus di RS Kangbuk Samsung.
Kini Aku bukan lagi Teuku Hilman, sekarang namaku. Osman. Ya, Osman Selim. Aku bukan lagi Hilman yang dulu. Siapapun yang melihatku, mereka akan terkesan.
Selamat datang di dunia baru, Iqlima~kekasihku. Ulurkan kedua tanganmu untuk menerimaku sebagai... Osman~kekasihmu.
Praaankkkk
Tiba-tiba terdengar suara handphone yang terjatuh di lantai dari tangan seorang wanita yang berada di atas kursi roda. Wanita tersebut menunggu sang suami yang tengah berada di toilet. Ia terpaku. Tak peduli dengan layar handphone yang sudah hancur berkeping-keping di lantai, ia malah fokus melihat laki-laki yang ada di hadapannya. Laki-laki yang tidak asing.
"Bang Ra... Rais...? " Lirih nya dengan mata berkaca-kaca.
***
IG: @alana.alisha
__ADS_1