
Para santriwati memadati halaman belakang pesantren. Mereka sedikit menjaga jarak karena para punggawa Bustanul Jannah yang begitu dihormati juga berada di sana. Kali ini bukan tanpa alasan, Iqlima yang tiba-tiba hadir dengan pakaian kotor dan ber-aroma bensin begitu menyita perhatian.
Kini semua atensi menumpu padanya. Iqlima menatap nanar pada lenyapnya bukti di tempat kejadian perkara. Padahal ia begitu yakin di tempat yang ia pijaki saat ini terdapat bensin dan lintah dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Hhhh pakaianmu memang berbau bensin, itu artinya kau yang membawa masuk bensin ke pesantren ini! Apa kemarin-kemarin kau menghilang karena ingin menyelundupkan bensin hah?! Apa kau ingin membakar pesantren ini?!” Ustadzah Ayuni berang. Ia benar-benar merasa malu karena Iqlima sedikitpun belum bisa terdidik.
“Lagipula kenapa kau ke halaman belakang?! Untuk apa?! Apa yang kau lakukan di sini?!”
Iqlima mendongakkan kepalanya menatap Yahya mencari perlindungan. Netra mereka bertemu beberapa saat. Namun sayang, Yahya hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Iqlima menggigit bibir bawahnya tak percaya. Ia kembali menunduk. Hatinya terasa kebas.
“Iqlima, kenapa kau diam?! Bicaralah! Kau diam karena kau akan mengakui semua kesalahanmu, kan?!” Ayuni terus menyudutkan. Iqlima ingin menyanggah dan mengatakan kebenaran seperti yang biasa ia lakukan. Namun keberadaan Hajjah Aisyah, sang ibu mertua menciutkan nyalinya. Ia benar-benar malu. Ingin lenyap saja rasanya.
Cantik sih, tapi aku jauh lebih cantik. Layla menatap Iqlima lekat-lekat dengan tatapan merendahkan.
Dia tidak memakai pakaian branded, sama sekali tidak mengerti fashion. Terlalu acak-acakan. Berbeda dengan Mas Yahya yang walaupun memakai jubah atau kemeja tapi aku tau harga pakaian nya mahal. Aku yakin mas Yahya tidak akan tertarik padanya.
Dia juga bukan lawan-ku yang seimbang. Sepertinya aku dapat menyingkirkan gadis kampung ini hanya dengan sekali sentilan. Layla menaikkan salah satu alis dan sudut bibirnya ke atas.
“A… Aku benar-benar tidak berbohong” Hanya satu kalimat ini yang keluar dari mulut Iqlima. Pikirannya blank.
Para santri sudah sedari tadi mati-matian menahan tawa. Iqlima mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Ia mendengar suara sumbang yang mengunjingnya secara terang-terangan. Telinga Iqlima terasa panas.
“Tapi aku yakin sekali kalau tempat ini ada yang menyabotase. Kejahatan ini harus diselidiki” Lanjut Iqlima. Seketika ia seperti mendapat kekuatan untuk menjawab.
“Apa?! Setelah tidak memiliki rasa malu, sekarang kau malah menuduh orang lain?! Kau pikir ini sarang iblis?! Sarang mafia berbalut pakaian syari'ah?! Astaghfirullah… Kau benar-benar tidak tau sopan santun! Terimalah ini!!” Ayuni mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan. Iqlima sontak memejamkan mata. Pasrah.
Yahya terkejut, matanya membola. Secepat kilat ia menarik lepas salah satu kancing dari lengan bajunya. Lalu,
Psyuuuuuu
Dengan sekali gerakan, Yahya menyentil kancing tersebut hingga mendarat di punggung tangan Ayuni yang telah terangkat tinggi.
Awww. Sepersekian detik, Ayuni mengaduh. Ia mengusap tangannya yang sedikit terasa perih. Pipi Iqlima selamat dari sebuah tamparan.
Kancing baju Yahya yang berguling di bawah kaki Iqlima tertangkap oleh penglihatan Layla. Gadis tersebut mengeryitkan keningnya. Ia dengan cepat mengerti apa yang terjadi. Layla langsung melirik ke pakaian yahya, menghitung barisan kancing yang ada di sana.
Shiii*t. Itu memang kancing baju mas Yahya. Bisa-bisanya mas Yahya diam-diam membela pelakor sok alim itu. Siiial!! Layla yang baru saja meneliti jumlah kancing Yahya satu persatu sontak mengepalkan telapak tangannya. Kesal.
“Hmm…” Yahya berdehem. Suasana berubah hening seketika.
“Siapa namamu?”
“A.. Ana… Nama ana A.. Ayuni, Gus!” Ayuni sedikit bersemu. Walau ia seorang janda muda yang tidak berani mengharapkan Yahya, namun ketika putra dari pemilik pesantren dengan sengaja menanyakan namanya di depan orang banyak, mau tidak mau hati Ayuni berdesir.
“Ustadzah Ayuni, tidak elok rasanya menghakimi seseorang yang belum tentu salah dengan cara yang terlalu buru-buru seperti ini. Caramu terlalu menyudutkan. Apalagi kita sedang kedatangan tamu. Semoga untuk kedepan kamu bisa lebih bijak dan berhati-hati!” Ucap Yahya dingin. Seperti biasa, tidak ada senyum yang tersemat di wajahnya.
“Ba… Baik Gus!” Yahya beralih menatap Iqlima. Wajahnya berubah teduh.
__ADS_1
“Aku tidak tau apa motifmu bertingkah seperti ini! Berlarian kesana sini dan merusak acara bukanlah perilaku yang baik dari seorang muslimah" Hati Iqlima mencelos.
"Karena aku sudah terlanjur melihat dan mendengarnya, maka aku putuskan bahwa aku sendiri yang akan mengusut tuntas kasus ini!” Yahya menatap dalam pada pemilik bola mata indah yang ada di hadapan nya seaka-akan tidak ingin berpindah. Iqlima yang menyadari tatapan Yahya, segera menundukkan kepalanya untuk menghindari fitnah para santri yang sedang mencari-cari kesalahannya.
“Mbak Sri, tolong bawa kursi roda ke sini! Tadi ia berlari tidak stabil. Dia sedang terkilir atau terluka! Tolong bawa ia ke ruang perawatan!” Titah Yahya penuh arti pada Sri.
“Baik Gus!”
***
Yahya masuk ke dalam kamar nya dengan tergesa. Ia mengambil gawai dan langsung menghubungi seseorang.
“Apa memang secepat ini kau merindukan dokter supertalenta ini? Ah, Padahal baru besok aku akan mengunjungi Iqlima!”
“Jelita, kau dimana? Supirku akan menjemputmu sekarang!” Dokter Jelita tercengang mendengar ucapan Yahya yang tanpa basa basi.
“Hey, what’s wrong?!” Dokter Jelita mulai mendengarkan dengan serius.
“Iqlima terluka. Aku tidak tau apa yang ia alami, yang jelas Iqlima needs your help! Kau dokter wanita, kau sudah tau bagaimana keadaannya, menyerahkan Iqlima padamu untuk diobati akan membuatku menjadi lebih tenang” Pinta Yahya.
“O.. Okay, aku akan bersiap-siap untuk ke sana sekarang!”
Brak
Brak
Brak
"Ummi? "
"Kita harus bicara" Hajjah Aisyah langsung masuk dan mengambil tempat di sofa. Wajah kusut menggambarkan bagaimana suasana hati nya saat ini.
"Kau lihat kan bagaimana kelakuan istrimu? Kau tidak tegas, kau terlalu lemah di hadapannya! Seharusnya kau memberikan dia hukuman yang berat! Dia memalukan. Tidak tidak, dia benar-benar menjijikkan! "
"Kenapa kau diam?! Kau masih mau memelihara gadis liar sepertinya?! Apa gunanya Ummi menyekolahkan mu tinggi-tinggi, tapi memilih istri yang bermartabat saja kau tidak mampu! " Cerca Hajjah Asiyah.
"Apa yang kau harapkan darinya? Kalau hanya kecantikan wajah, Layla jauh lebih unggul. Dari segi akhlak, keturunan, ia memiliki semua yang Rasulullah SAW kriteria kan dalam memilih calon istri! " Tegas Hajjah Aisyah lagi.
"Ummi benar-benar malu. Apalagi di hadapan keluarga Pranawa. Ummi tidak tau mau meletakkan wajah Ummi dimana. Pesantren kita ini terkenal dengan kewibawaan dan keluhuran budi para santrinya..."
"Sudah dari sejak zaman kakek buyutmu terdahulu marwah itu sudah terjaga. Tapi hari ini, wanita tidak tau diri itu merusak segala yang ada. Wajah Jeng Cahyati tadi langsung berubah begitu melihatnya. Beliau hanya tidak tau saja kalau Iqlima itu istrimu. Kalau tau, mungkin beliau bisa pingsan mendadak" Lanjut Hajjah Aisyah panjang lebar dengan suara melengking tinggi. Yahya hanya bisa meraba kupingnya yang dari tadi terasa seperti ada yang menyengat.
"Ummi tidak mau tau! Ceraikan dia!!! Ummi membencinya!!! Apa jadinya kalau kau memiliki anak turunan dari gadis tidak waras sepertinya?! Oh Rabbi! " Hajjah Aisyah memijat pelipisnya. Yahya mendekat. Ia langsung mendekap Hajjah Aisyah erat-erat.
"Ummi cantik sekali hari ini. Orasi Ummi tadi di hadapan para santri benar-benar memukau. Sudah lama Yahya tidak mendengarnya. Hari ini kenapa Ummi sampai rela terjun langsung ke lapangan padahal Ummi sangat sibuk, hm? " Yahya mengecup puncak kepala Hajjah Aisyah. Ia berkata dengan lemah lembut.
"Be... benarkah? Apa kau benar-benar mendengar nya? " Yahya memberikan senyumnya.
__ADS_1
"Sudah jelas karena kedatangan keluarga Pranawa kan? O iya nak, Layla menurut mu bagaimana?! " Selidik Hajjah Aisyah. Beliau nyaris melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Layla? Memang kenapa dengan Layla Mi? " Yahya mengerutkan keningnya.
"Apa menurut mu dia cantik? "
"Ya, dia cantik! " Sahut Yahya. Hajjah Aisyah langsung sumringah.
"Selera Ummi tidak pernah salah.. " Hajjah Aisyah mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya Mi, Yahya hanya ingin mengingatkan tentang Korea Selatan!" Yahya melonggarkan pelukkannya.
"Sesuai janji. Jika Yahya bersedia ke sana, maka semua hal yang menyangkut Iqlima dibebaskan. Termasuk hukuman, iya kan? " Wajah Hajjah Aisyah kembali berubah.
"Tadi itu... Yahya menunggu Ummi melakukan nya. Yahya menunggu i'tikad baik Ummi melindungi Iqlima dari bulan-bulanan para santri dan ustadzah. Tapi Ummi tidak melakukan nya! Sa. Ma. Se. ka. Li! " Yahya berkata sarkas namun ia menyempatkan diri untuk memberikan senyumnya.
"Dia bersalah, dia memalukan, dan dia menjijikkan. Ummi tidak mungkin membelanya! Ummi masih sangat waras untuk mau melindungi nya!!" Sergah Hajjah Aisyah merendahkan.
"Dia belum terbukti bersalah, kita tidak tau kejadian apa yang menimpanya! Tapi tadi dia langsung dipojokkan dan disudutkan. Kalau pun dia bersalah, seharusnya dia di bina bukan malah dipermalukan! Tadi salah seorang ustadzah juga hendak menamparnya, menamparnya di hadapan Ummi yang notabene nya adalah orang paling di hormati dan di segani di sana. Dia akan di tampar di hadapan para tamu yang Ummi sebut sebagai tamu agung! "
"Ummi sayang, bagaimana perasaannya jika tamparan itu benar-benar terjadi?! Siapapun orangnya, pasti ia akan trauma untuk masuk dalam lingkungan pesantren. Siapapun dia, pesantren akan menjadi kenangan buruk seumur hidupnya..." Yahya menjeda kalimat nya. Matanya berkaca-kaca.
"Apalagi jika dia ternyata berkata benar. Orang mana yang mau melakukan hal konyol untuk mempermalukan dirinya sendiri? Jika ia tengah menarik perhatian seseorang, seharusnya bukan hal itu yang ia lakukan, banyak cara yang lebih mudah"
"Tapi sebenarnya lagi, dia tidak perlu melakukan apapun karena semua yang ada dalam dirinya memang sudah menarik" Hajjah Aisyah mendongakkan kepalanya tercengang.
"Tergelincir karena bensin, ada lintah yang bertebaran, dia pasti sangat ketakutan. Aku bukan membelanya karena dia istriku. Kelakuannya salah, tapi apa yang dia alami, penderitaan dan kemalangannya jauh melampaui itu semua"
"Maaf, Yahya menganggap hal ini sebagai kealpaan Ummi karena sudah menyalahi komitmen. Sebenarnya Ummi tidak perlu melakukan apapun, hanya melerai dan menengahi sebijak mungkin. Itu sudah lebih dari cukup. Tapi Ummi malah bungkam. Padahal Ummi tau kalau Yahya-lah yang sudah membawa nya keluar dari pesantren sebagai perpisahan terakhir karena minggu depan Yahya akan ke Korea Selatan, jadi sudah jelas Iqlima tidak mungkin mengangkut bensin dari luar, tapi anehnya bajunya malah berlumuran bensin" Hajjah Aisyah kesulitan menelan saliva nya.
"Karena hal ini sudah terlanjur terjadi, maka Yahya akan membawa Iqlima ikut serta ke Korea Selatan untuk self-healing nya. Orang yang begitu komitmen seperti Ummi sudah pasti akan menyetujui hal ini!" Yahya terus memberikan senyumnya. Ia mengusap punggung tangan Hajjah Aisyah dengan lembut. Punggawa pesantren tersebut hanya bisa mematung tak berkutik.
"Ummi yang Ananda cintai karena Allah, Ananda padai pembicaraan kita hari ini... Ananda permisi" Yahya langsung meninggalkan Hajjah Aisyah seorang diri.
Braakkkkk
Iqlimaaaaaa... Perempuan sialan!!!! Kau sudah membuat Yahya berubah menentangkuuu!!!! Hajjah Aisyah menggebrak meja murka.
Kau perempuan jal*ng!!! Kau wanita penggoda!!! Kau sudah menggoda putraku hingga masuk ke dalam perangkap mu!!! Iqlimaaaaa, aku benar-benar membencimu!!!!!
Aku menyuruh Yahya ke Korea untuk memisahkan kalian. Tapi kau malah menyusun rencana agar Yahya ikut serta membawamu. Kau memanfaatkan kelemahan Yahya. Kau liciiiiik!!!! Hajjah Aisyah benar-benar berang.
Kali ini kau boleh bersenang-senang dan berbahagia. Tapi Aku bersumpah... Aku bersumpah akan membuat Yahya juga ikut membencimu!!!! Kau tau, ini adalah doa seorang ibu yang ter-dholimi, Kau akan merasakan akibatnya!!! Hajjah Aisyah mengepalkan tangan erat-erat.
***
Man Teman, ini satu bab tapi panjangnya seperti dua bab ya... 🌻🌻🌻
__ADS_1
Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰😍🤗❤
***