Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 87: Perasaan Yang Berkecamuk


__ADS_3

Ciiiiit


Di tengah jalan, seseorang mencegat mobil yang Hilman kendarai. Ia terpaksa menge-rem secara mendadak.


Tuk


Bunyi sol sepatu dari mobil yang mencegatnya terdengar memecah keheningan. Seseorang berkaca mata hitam keluar dari dalam mobilnya dengan membawa sebuah tongkat.


Tu… Tuan Arya? Ada apa ini? Gawat! Aku bisa terlambat menemui Iqlima! Hilman mengerutkan kening. Ia langsung keluar walau tanpa intruksi.


Brakkk


Arya melayangkan tongkatnya ke betis Hilman. Atas arahannya, dua orang asisten memegang tangan dan pundaknya agar tidak melawan.


“Tu, Tuan… Apa kesalahan saya?” Tanya Hilman tak mengerti. Ia mengerang kesakitan.


“Ringkus dia! Masukkan ke ruang bawah tanah untuk di interogasi!” Titah Arya tanpa basa basi.


Ru… Ruang bawah tanah? Bulu kuduk Hilman berdiri. Pasalnya ruangan tersebut biasa digunakan Arya untuk melakukan penyiksaan terhadap para anak buah yang membangkang.


“Tuan, apa kesalahan saya? Lepaskan! Tolong lepaskan!” Hilman meronta sopan namun Arya tidak menggubrisnya. Bak seorang Diktator berhati dingin, pria matang tersebut kembali masuk ke dalam mobilnya. Mereka membelah pekatnya malam menuju ke tempat tujuan seperti yang sudah disebutkan.


“Aku harus kembali ke diskotik! Aku meninggalkan Raafi seorang diri di sana!” Ucap Ilyas setelah mengantarkan Dara kembali ke apartemennya.


“A... Aku khawatir Bram akan datang ke sini menerorku!” Ucap Dara dengan wajah sembab. Ia memegang pergelangan tangan Ilyas yang dengan cepat ditepis oleh pemuda tersebut.


“Aku akan mengirim beberapa orang asisten untuk berjaga! Dara, kita ini memang berteman baik. Tapi kita bukan mahram. Jadi ku mohon tolong jaga sikapmu! Aku permisi!” Ucap Ilyas menohok. Dara terenyak. Ia menatap punggung Ilyas yang menjauh.


“Ilyaas… Tunggu…” Panggil Dara mengejarnya.


“Ilyaaas... Sebentar... ”


"Ada apa?" Ilyas menoleh.


“Bantu aku meminta maaf pada Yahya. Selama beberapa tahun ini, aku merasa tertekan dan dihantui oleh perasaan bersalahku padanya” Pinta Dara.


***


Raafi terjaga akibat sinar mentari pagi yang masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Ia mengeliat lalu perlahan membuka matanya.


Sreet


Raafi terduduk.


“Gawat! Aku belum menunaikan shalat shubuh!” Gumam Raafi panik sembari melirik jam yang ada di dinding kamar. Pukul 08.00 pagi. Ia benar-benar kesiangan. Dengan gerakan cepat Raafi membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Namun mata Raafi sontak terbelalak. Kini Ia tidak mengenakan sehelai benangpun.


Raafi mengingat-ngingat kejadian yang semalam ia lakukan. Keringat dingin mulai bercucuran. Ia merosot lemas. Raafi bisa mengingat semua dosa yang telah ia lakukan. Bagaimana semalam ia memadu kasih dengan seorang gadis cantik yang tengah mabuk di bawah pengaruh alkohol. Tenggorokannya tercekat saat mengingat bahwa gadis tersebut masih suci dan ternyata ia bukanlah seorang wanita penghibur.

__ADS_1


Bagaimana ini? Raafi mengacak-acak rambutnya. Matanya menangkap bercak darah yang tertinggal di seprai putih yang semalam mereka tempati. Air mata Raafi mulai keluar berhamburan. Ia melihat ke sekeliling. Kosong. Gadis tersebut tidak lagi berada di kamar.


Kemana dia? Aku telah melakukan dosa besar! Aku berzina! Aku telah menodai seorang gadis! Aku tunduk dan diperbudak oleh hawa nafsuku sendiri! Sia-sia bertahun-tahun aku menimba ilmu agama... Astaghfirullah… Astaghfrullah… Perasaan Raafi memburuk. Wajah Iqlima tiba-tiba hadir dan terlintas begitu saja dibenaknya. Raafi merasa bersalah dan membenci dirinya sendiri. Ia merasa seperti menjadi seorang penghianat. Raafi gagal mempertahankan kesucian dirinya dan gadis tersebut. Semua salahnya. Ia benar-benar melakukannya dalam keadaan sadar.


Layla. Gadis itu bernama Layla! Kemana dia? Aku harus menemukannya! Dalam perasaan kalut, Raafi membalutkan selimut ke tubuhnya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah gontai.


Braaakkk


Di tempat berbeda, Yahya membuka pintu utama kediaman haji Zakaria dengan sekali hentakan keras. Matanya berpendar. Ia melihat Iqlima keluar dari kamar utama menatapnya dengan kening mengerut. Yahya juga melihat para asisten berlalu lalang.


“Mbak Sri, apa Mbak Sri melihat Layla?” Tanya Yahya dengan raut wajah cemas. Sejak semalam setelah ia membereskan urusannya dengan keluarga Gibran, Yahya tidak lagi menemukan Layla di kamar hotel. Di sana hanya ada serpihan kaca yang pecah dan barang-barang rusak berantakan. Yahya dapat memaklumi jika Layla marah padanya. Sikapnya memang sudah sangat keterlaluan.


“No… Nona Layla berada di kamarnya, Gus!” Sahut Sri melirik Iqlima. Yahya langsung melesat ke kamar Layla. Iqlima mematung menatap Yahya yang sedikitpun tidak menggubris keberadaannya. Hatinya kembali mencelos. Sri kembali melirik Iqlima yang kali ini memegang dadanya. Asisten kepercayaan hajjah Aisyah tersebut hanya bisa menunduk menyaksikan kemelut rumah tangga yang terasa menyesakkan.


Ceklek.


Yahya membuka pintu kamar. Matanya berkaca-kaca melihat Layla yang menangis dan meraung-raung di sudut. Keadaan nya begitu mengenaskan. Rambut yang acak-acakkan, pakaian kusut tidak berbentuk. Layla meringkuk memegang kedua lututnya gemetaran. Ia sesegukkan. Yahya tak tega. Perasaan bersalah yang teramat besar mendera jiwanya. Perlahan Yahya mendekat. Dengan satu gerakan penuh ia membawa Layla ke dalam pelukkannya.


“Lepaskan! Aaaa aaaa… Hiks hiks… Lepaskan!!” Layla meronta-ronta tak terkendali. Namun Yahya semakin memeluknya dengan erat.


“Maafkan aku! Maafkan aku….” Bisik Yahya menyesal.


“Lepaskan!!! Aku merasa jijik dengan tubuhku! Aku benci diriku sendiri!! Aaaa… aaaaa…” Layla semakin meronta-ronta.


Kali ini gairahku muncul, tubuhku beraksi… Tapi itu bukan karenamu! Itu semua karena pikiran dan hatiku memikirkan Iqlima… Aku tidak menginginkanmu, tapi aku menginginkannya!


“Maafkan aku… Aku telah melukai hatimu. Aku menyesal telah mengatakan kata-kata yang sangat tidak pantas! Maafkan aku… Aku benar-benar menyesal!” Ucap Yahya tulus penuh penyesalan. Layla sontak terdiam. Ia mematung. Di tengah kekalutan yang menyergap jiwanya, Layla mencerna kata-kata yang yang Yahya ucapkan.


Mas Yahya minta maaf? Kenapa mas Yahya minta maaf? Batin Layla bertanya-tanya. Ia berpikir keras dengan masih sesegukkan.


Laki-laki brengsek sialan!!! Hilman dan pemuda itu harus membusuk di neraka!!! Diam-diam Layla mengepalkan tangannya berang.


“Mas... Ja… jangan tinggalkan aku… Jangan pernah meninggalkan aku sendirian… Jangan membuat aku merasa begitu hina dan merasa buruk!” Lirih Layla. Kali ini ia membalas pelukan Yahya. Layla mengeratkannya di sana. Yahya mengangguk.


“Aku berjanji… Aku tidak akan lagi meninggalkanmu…” Sahut Yahya sendu. Layla tersenyum. Setidaknya, ia masih bisa tersenyum di tengah perasaan berkecamuk tak karuan yang menderanya sejak dini hari ia terjaga.


Bau apa ini? Hidung Yahya mendeteksi aroma asing pada tubuh Layla yang membuatnya merasa pusing. Ia merenggangkan pelukkannya.


“Semalam kau kemana? Aku mencarimu kemana-mana hingga mengerahkan asisten pribadi tapi tidak juga menemukanmu. Hingga siang ini aku menduga kau telah kembali ke rumah!” Ucap Yahya menyingkirkan beberapa helai rambut Layla yang menutupi wajah sembabnya.


“A… Aku… Hiks hiks…” Layla kembali menangis. Yahya menanti jawabannya.


“Aku merasa begitu sedih. Hatiku sakit. Aku merasa hina. Aku merasa aku sangat menjijikkan..”


“Stop… Jangan bicara begitu… Istriku wanita mulia dan terhormat… Aku yang salah. Aku yang keliru…” Sahut Yahya semakin merasa bersalah.


“Semalam a… aku mencari udara segar di seputaran hotel dan kembali ke sini menjelang subuh”

__ADS_1


“Jangan begitu lagi, hm? Tengah malam sendirian di luar tidak baik untuk kesehatanmu!” Nasehat Yahya. Layla mengangguk.


“Kalau begitu pergi bersih-bersihlah! Aku kurang tidur, kepalaku pusing. Aku mau istirahat sebentar!” Ucap Yahya bangkit. Ia berjalan ke arah luar.


“Mas Yahya, mau tidur dimana? Kenapa tidak tidur di sini?” Ucapan Layla membuat Yahya menoleh.


“Aku mau beristirahat di ruang kerja sembari membaca dokumen!” Sahut Yahya. Ia kembali meneruskan langkahnya.


“Mas…” Panggil Layla lagi.


“Ya?” Sahut Yahya. Dengan bersusah payah Layla bangkit berdiri walau masih merasakan rasa nyeri yang teramat di bagian int*mnya. Layla kembali memeluk Yahya dengan erat.


“Kakimu kenapa?” Tanya Yahya keheranan.


“Semalam aku sedikit cedera…"


"Mas, cepat kembali ya!?” Pinta Layla manja. Yahya mengangguk.


Cuuup.


Dengan gerakan cepat Layla menci*um pipi Yahya.


“Aku permisi!" Layla mengangguk dan memberikan senyumnya. Lalu kemudian ia mematung menyaksikan tubuh Yahya yang menghilang di balik pintu.


Aaaaargh! Layla kembali menangis.


Siaaaaal!!! Pekik hati Layla. Ia menyesal meminum alkohol milik Hilman hingga menghabiskan malam yang hebat dengan seorang laki-laki asing yang sama sekali tidak ia kenal. Mengingatnya, Layla merasa begitu marah. Dalam keadaan setengah sadar, ia bisa mengingat bagaimana laki-laki tersebut dan dirinya saling menjam*h satu sama lain dengan hebatnya. Dalam ketidakberdayaan, mereka begitu menikmatinya.


“Brengsek!!! Brengsek!!! Bagaimana kalau mas Yahya tau kalau aku bukan lagi seorang gadis? Bagaimana ini?? Tidak boleh! Tidak boleh! Mas Yahya tidak boleh tau!! Aku tidak ingin mas Yahya kecewa!!” Layla menggigit-gigiti kukunya. Cemas.


“Aku harus mencari cara untuk menutupinya!” Ucap Layla mengangguk-angguk. Ia mengacak-acak rambutnya.


***


Tok Tok Tok


"Masuk! " Sahut Yahya yang tengah duduk dengan menutup matanya.


“Bang Yahya!” Panggil suara merdu yang sudah sangat ia hafal. Yahya tersentak. Ini kali pertama pemilik suara merdu tersebut menemuinya di ruang kerja pada siang hari.


“A… Aku… Aku ingin bicara…” Ucap Iqlima berhati-hati. Ia menggigit bibir bawah dan memilin-milin kerudungnya. Iqlima sudah tidak bisa menahan gejolak di jiwanya. Dengan bersusah payah, Iqlima memberanikan diri mendatangi Yahya.


Jangan begitu... Jangan bersikap begitu... Jangan memanggil ku... Jangan menyebut namaku...! Ku mohon! Kalau kau begitu, aku bisa lupa diri dan kembali mengabaikan tugasku!


***


IG: @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2