Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 116: Panggilan Telfon Dari Nilam Bustanul Jannah


__ADS_3

Malam yang dingin. Suhu di Los Angeles menurun beberapa derajat. Layla mengosok-gosokkan telapak tangannya. Padahal pemanas ruangan sudah di hidupkan. Yahya meletakkan kartu, pintu kamar hotel otomatis terbuka.


“Kau atau aku yang mandi lebih dulu?”


“Mas Yahya saja, aku masih kedinginan” Sahut Layla. Wajahnya tampak pucat. Yahya menggiring Layla untuk duduk di atas kasur. Ia mengambil tangan istrinya tersebut. Di gosok-gosokkannya tangan Layla dengan telapak tangannya. Ia juga meniupkannya berkali-kali di sana untuk memberikan hawa panas.


“Bagaimana? Sudah lebih baik? Aku akan menyeduhkan teh hangat!”


Layla mencegat Yahya.


“Aku tidak memerlukannyanya lagi. Sekarang ini Aku sudah cukup mendapatkan kehangatan!”


 Ucap Layla menatap Yahya intens. Pemuda tersebut mencondongkan wajahnya. Perlahan-lahan, bibir nya dan Layla menyatu. Layla mendapatkan ciuman pertamanya secara sadar. Beberapa detik. Layla enggan melepaskannya. Gadis tersebut benar-benar tau bagaimana cara melakukan French Kiss dengan baik. Dengan menutup mata, Yahya merebahkan Layla di atas kasur. Ciuman hangatnya turun ke area lainnya. Ia mencoba membuka coat Layla. Sedikit kesusahan. Hampir saja Yahya beranjak ke area lainnya, namun suara dengkuran halus menyadarkan Yahya. Layla tertidur. Yahya tersenyum geli. Ia merasa heran pada kelakuannya sendiri yang tidak pada tempatnya.


Layla terkapar. Setangguh-tangguhnya ia, tetap saja Layla adalah seorang ibu yang tengah mengandung. Kekuatan Layla saat ini tidak lah sama seperti wanita biasa lainnya.


Yahya mengambil selimut tambahan menutupi tubuh Layla yang tidur dengan posisi terlentang. Ia mengamati istrinya tersebut. Sebenarnya Yahya masih gagal menumbuhkan rasa cinta. Kendati saat ini status Layla merupakan ibu dari anak-anaknya. Yahya masih belum bisa merasakan bonding yang tepat. Namun ia tetap mengapresiasi usahanya dan berharap sikapnya pada Layla bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tidak menunggu lebih lama, Yahya langsung mandi.


Lelah. Namun Yahya tak bisa tidur. Ia kembali menscroll data-data Perusahaan dari atas ke bawah. Presentasi dari kolaborasi beberapa Perusahaan berjalan lancar. Yahya menuntaskan tugasnya dengan baik. Selebihnya ia menyerahkan tugas-tugas tersebut pada sekretarisnya.


Bosan. Yahya menutup laptopnya. Ia sedikit menyibak gorden, gemerlap lampu di luar sana tak membuat hatinya tentram. Yahya telah berusaha untuk menafikan semua masalah. Menutup mata dan telinganya. Menghilang. Menghibur diri dari beratnya ujian. Namun sedikitpun pemuda tersebut tak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Kini Yahya beranjak mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Ia berdoa untuk kesehatan, kelancaraan dan kemudahan hidupnya. Tak lupa, Yahya mendoakan Layla dengan kandungannya, serta meminta agar sudi kiranya Allah menumbuhkan rasa cinta di hatinya pada Layla. Juga mendoakan Iqlima.


“Ya Allah, lindungi-lah Iqlima. Lindungi-lah istriku di mana pun ia berada” Yahya membacakan doa khusus. Ia lanjut mengaji. Sampai pada surat at- Tahrim ayat 6, airmata Yahya tak terbendung. Ia menangis. Ayat tentang perintah memelihara diri dan keluarga dari api neraka ini begitu menyentuh. Lagi-lagi Yahya merasa gagal.


Dddrtttt Ddrrttt


Getar handphone Layla mengganggu konsentrasi Yahya. Nilam menelpon. Yahya dapat membaca nama “Nilam Bustanul Jannah” dengan jelas di layar nya. Kening Yahya mengerut. Bagaimana bisa santriwati membawa handphone? Diam-diam Yahya mengangkat panggilan tersebut.


“……”


“Assalamu’alaikum Ning…”


“…..”


“Ning Layla…” Panggil orang diseberang berbisik.


“…….”


“Ning,, kenapa diam saja? Ning Iqlima belum kembali. Saya sebel pihak dapur, para ustadzah sampai ke bagian laundry selalu saja mengenang-ngenang Ning Iqlima. Mereka merasa menyesal sempat membully Ning Iqlima dan sadar kalau keberadaan Ning Iqlima itu berharga. Heleeeh, cuih banget! Pokoknya kalau Ning Iqlima ke Bustanul Jannah, kita harus merancang strategi bagaimana caranya agar Ning Iqlima semakin dibenci!”


“……”


“Ning… Halo Ning…”


Tiit Tiit Tiiit

__ADS_1


Yahya mematikan panggilan dari Nilam dan meletak kasar handphone Layla di atas nakas.


“Mas,, kenapa belum tidur?” Tanya Layla yang terbangun. Ia menguap dan sedikit mengeliat.


“Aku terganggu dengan suara handphone mu”


“Kalau begitu ayo kita tidur… Sini mas…” Layla menepuk-nepuk tempat di samping nya lalu merentangkan tangan. Ia kembali siap menyambut Yahya.


“Barusan yang menelpon Nilam dari Bustanul Jannah!” Ucap Yahya to the point dengan menekankan perkataannya. Layla terkejut. Namun ia menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu.


“Oh, iya… Aku sengaja menyuruh nya mengabarkan tentang pesantren. Nanti aku akan menghubunginya lagi! Ayo sinii mas…. Peluk aku… Aku kedinginan….” Rengek Layla manja.


“Untuk apa? Bukankah para santriwati tidak dibenarkan membawa handphone?!”


“Ini hanya masalah sepele! Tidak usah mas meributkannya! Aku peduli dengan keluarga kita! Aku peduli dengan Bustanul Jannah! Nilam bisa dipercaya untuk mengontrol keadaan di sana!” Terang Layla menaikkan intonasi suaranya.


“Termasuk mengghibahi Iqlima?!?! Barusan Aku mengangkat handphone mu!”


Layla terkejut. Kini ia tak bisa mengelak. Di luar dugaan, Yahya mengangkat handphone-nya.


“Mas, mengapa mas tidak meminta izin? Apa mengangkat teleponku secara diam-diam itu dibenarkan?!”


“Aku akan menyesal jika tidak mengangkat nya. Mengangkat telepon dari Nilam membuatku tau bahwa kau membenci Iqlima! Kalian sama-sama membenci Iqlima!”


“Aku tidak membenci Iqlima!” Layla berkilah.


“…….”


“Padahal karena Iqlima-lah aku menikahimu. Karena dukungan darinya yang terus menerus dan izin darinya aku mengambil keputusan itu!”


“Mas, aku benar-benar tidak membenci Iqlima!”


“Kau…. Kau dan Nilam bersekongkol entah merencanakan apa! Sejak awal aku sudah berpikir, apa yang menimpa Iqlima di Bustanul Jannah tidak mungkin tanpa campur tangan orang lain!”


“Mas!!”


“Dan kau, mengatur segalanya. Kalau tidak, kau tidak akan berbuat sejauh itu sampai memberikan Nilam handphone. Kau dengan wajah polosmu itu diam-diam mengontrol segalanya! Aku sangat kecewa! Hatimu tidak secantik parasmu!!” Tuding Yahya bertubi-tubi. Yahya mengambil handphone-nya di atas nakas. Ia berancang-ancang untuk pergi.


“Mas, tunggu!!”


“Mas, dengarkan dulu penjelasanku!” Panggil Layla. Ia buru-buru bangkit dari tempat tidur mengejar Yahya.


“Mas!!” Panggil Layla tak menyerah. Sepertinya Yahya tidak akan mendengarkan nya. Layla langsung memikirkan alternatif lain. Ia memakai jurus pamungkas. Layla pura-pura menabrak koper mereka yang memang belum dirapikan yang terletak di dekat kasur.


Bruuuuk


“Aaaaaaaaawww!” Teriak Layla menggelegar saat Yahya sudah hampir membuka knock pintu. Layla mengaduh. Yahya spontan menoleh. Matanya terbelalak saat Layla sudah terbaring di lantai dan memegang perutnya.

__ADS_1


“Layla, Layla…!” Panggil Yahya panik. Layla mendesis nyeri. Ia mengaduh.


“Maafkan aku! Sebentar, aku panggilkan dokter!” Ucap Yahya. Pemuda tersebut secepat kilat menelpon bantuan. Layla melirik Yahya yang sedang panik dengan ujung ekor matanya. Siasat dadakan nya tersebut untuk sementara ini terbilang berhasil.


“Layla, apa kau masih merasakan sakit? Aku akan mengangkatmu ke tempat tidur terlebih dulu!”


Sementara bel dari luar kamarnya terdengar bersahut sambut. Bel tersebut terdengar begitu mengganggu. Yahya terpaksa membuka pintu dan ingin menyemprot siapapun yang menganggu mereka di saat jam istiharat begini.


"Ini gudeg pesanan Ny. Layla! " James menyodorkan sebungkus benda berisi masakan.


"Saya tidak tau apakah Nyonya akan suka atau tidak, ini masakan dari rekan-rekan sekalian"


"Terima kasih! Kau bawa mobil? "


"I... Iya... "


"Tolong antarkan istriku ke rumah sakit! Minta kursi roda hotel! Kita ke rumah sakit terdekat sekarang! " Titah Yahya.


"Baik! " James langsung melesat.


"Layla, bagaimana kondisimu? Apa yang kau rasakan sekarang? Kau sabar sebentar lagi... James akan membawa kita ke rumah sakit! " Ucap Yahya. Ia memijat pelipis gadis tersebut.


"Sudah tidak apa-apa. Aku sudah mendingan. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah istirahat! "


"Apa kau yakin? " Tanya Yahya. Layla mengangguk. Yahya kembali menelpon para asisten dan membatalkan permintaan nya.


"Aku dan anak-anak hanya terkejut mendengar bentakkan! " Lirih Layla. Yahya terdiam. Ia mengambil selimut dan menyelimuti istri keduanya tersebut.


Gawat!!! Kalau begini Mas Yahya tidak akan memihak ku! Aku harus mencari cara lainnya...!


Layla diam-diam mengambil handphone nya. Ia menghubungi Wirda.


Kirimkan foto-foto Iqlima pada mas Yahya sekarang juga! Mas Yahya harus membenci Iqlima sebenci-bencinya! Nyai Wirda harus bermain dengan rapi jika memang ingin membuat Iqlima menjadi menanti Nyai Wirda selamanya.


Layla mengirimkan pesan tersebut dan langsung menghapus nya untuk menghilangkan jejak.


......................


Maaf ya Teman-Teman, Kakak-Kakak... update nya ga beraturan~ Selagi nungguin Yahya Iqlima tayang, kalau berkenan kakak-Kakak boleh membaca karya Alana yang judulnya:


 "Crystal Palace" bercerita tentang Pernikahan Aliansi antara Putra Bangsawan dari keluarga Thomson yang punya pengaruh besar dan Putri Mahkota dari Kerajaan Britania. Pengaruh besar keluarga Thomson menyebabkan keluarga tersebut disegani se Britania Raya termasuk di segani oleh Keluarga Kerajaan. Dua keluarga yang bersatu tampak serasi, namun ada banyak tragedi dan peristiwa serta hal-hal di luar dugaan dari bersatunya dua keluarga superpower tersebut.


Aku menemukan buku yang bagus banget di NovelToon, yuk baca bareng! Tuan Muda Dan Putri Mahkota (Crystal Palace), author: alana alisha #noveltoon @MangatoonID


https://noveltoon.mobi/id/share/3365507


Terima Kasih 😘💕

__ADS_1


__ADS_2