
“Apa? Abah menemui Iqlima di luar?!” Hajjah Aisyah terkejut bukan kepalang.
“Iya mi, hiks hiks… Dan sekarang mas Yahya menyusulnya… Hiks hiks” Adu Layla sambil terus menangis. Wajah Hajjah Aisyah sontak berubah.
“Sssss…. Argh…” Tiba-tiba Layla mengerang.
“Kamu kenapa nak?!” Hajjah Aisyah panik melihat Layla memegang perutnya.
“Sa… Sakit mi., Sa... kit... ” Ia merintih.
“Sri…. Sriiiii…. Cepat ke sini… Panggilkan dokter kandungan… Sri…. Sriii…!!”
“Sebentar nak, dokter akan segera ke sini!” Ucap Hajjah Aisyah dengan wajah pucat. Layla mengangguk sambil terus memegang perut nya.
...****************...
Di apartemen, Yahya masih terus berusaha melakukan apa yang ia inginkan. Pemuda yang tengah di kuasai oleh amarah tersebut memaksa sang istri mengikuti kemauannya. Yahya berusaha menempelkan bibirnya ke bibir Iqlima. Namun sangat istri terus saja menolaknya.
Penolakan Iqlima semakin membuat Yahya brutal. Dengan gerakan cepat ia memegang kerah baju blouse milik Iqlima. Dengan sekali gerakan, Yahya mampu menghentaknya hingga kancing-kancing yang ada di sana satu persatu terlepas, kancing-kancing tak berdaya itu jatuh berhamburan di lantai yang dingin.
Iqlima dengan cepat menarik rapat pakaiannya menutupi bagian tubuh yang terbuka di sela-sela rasa keterkejutannya. Dengan gemetar wanita tersebut memberanikan diri mengangkat wajah dan memperlihatkan matanya yang memerah. Iqlima seolah-olah menantang Yahya dengan masih menahan tangis. Ia tidak peduli apa yang selanjutnya akan suaminya tersebut lakukan.
“Hhhh kau….” Yahya tampak kecewa. Iqlima bangkit berdiri.
“Bang Yahya keterlaluan!” Tuding nya.
“Ck. Aku? Keterlaluan?! Tidakkah kau berpikir bahwa aku hampir gila mencarimu saat mendengar kau di bawa pergi oleh laki-laki paruh baya?! Siapa yang bisa menerka bahwa ternyata kau menemui abah? Aku bukan ahli nujum, Iqlima!” Sembur Yahya.
“Lalu, setelah aku lebih tenang mengetahui kenyataan yang sebenarnya, aku malah mendapatimu tertawa lepas dengan laki-laki lain dalam jarak dekat! Kau sama sekali tidak menghargaiku sebagai suamimu! Kau mengerti ajaran Islam, tapi bisa-bisanya kau keluar tanpa izin dengan mudahnya! Sekarang, siapa yang keterlaluan?! Aku atau Kau?!!” Lanjut Yahya dengan nafas memburu.
“Aku… Hhhh… Aku... Aku terserah bang Yahya saja… Aku…” Lirih Iqlima dengan tenggorokan tercekat. Airmata nya mulai mengalir. Ia sama sekali tidak melakukan pembelaan. Iqlima benar-benar pasrah. Ia mengusap air yang jatuh tersebut dengan ujung sikutnya. Iqlima melangkah mundur. Ia dengan cepat menarik selimut dan menutup tubuhnya.
“A… Aku tidak bisa begini… A… Aku tidak mau diperlakukan begini… Aku bukan benda mati yang bisa diperlakukan begini. Aku punya perasaan…” Ucap Iqlima menunduk. Batin dan harga diri nya terluka. Yang ada dipikirannya saat ini adalah kehamilan Layla, Layla dan Layla.
“Pun bang Yahya adalah suamiku dan aku adalah ladang bagi bang Yahya, tapi Allah memerintahkan nya dengan cara yang makruh, demi kemaslahatan. Tidak semata-mata karena pelampiasan hawa nafsu semata. Bukan karena amarah yang menggebu-gebu… Maaf aku tidak bisa… A… Aku tidak bisa…” Lanjutnya lagi. Iqlima semakin menggenggam erat tangannya.
Yahya yang tadi terpaku berjalan mendekat. Ia mengulurkan tangan menaikkan dagu Iqlima ke atas. Tuk sesaat mereka saling beradu pandang. Yahya menatap manik mata Iqlima lekat-lekat. Lalu ia menuntun sang istri untuk duduk di atas kasur. Yahya mengambil air mineral dari atas nakas, membuka tutup botol dan menyulangkannya. Pemuda tersebut menarik Iqlima dalam pelukannya. Ia ingin sang istri merasakan apa yang tengah dirasakannya.
“Aku sudah menulis pesan untuk bang Yahya melalui surat sebelum tadi pergi… Aku menyerahkannya pada santriwati agar diberikan pada satpam yang bertugas untuk menyampaikannya pada bang Yahya… Lihatlah! Betapa sulitnya aku meminta izin pada suamiku sendiri untuk keluar sebentar, padahal aku keluar juga bersama mertua sendiri… Kalau menunggu jawaban izin dari bang Yahya, mungkin aku akan menemui abah 3 hari atau satu minggu lagi....!"
" Hhhh... Suamiku bukan milikku. Walau begitu aku paham bagaimana posisiku, aku paham siapa aku… Aku juga paham konsekuensi yang harus aku terima dengan membagi suamiku pada wanita lain… Apalagi suamiku akan memiliki buah hati dari wanita tersebut. Jadi aku yang tidak berkontribusi apapun harus mengalah, aku yang harus belajar, aku yang harus menepi… Aku yang harus mengesampingkan semua ego dan perasaan yang ku rasa...” Sarkas Iqlima dalam pelukan Yahya. Walau kata-katanya menusuk, namun cukup tertata. Kini Ia sudah jauh lebih tenang.
Yahya terenyuh. Kata-kata yang Iqlima lontarkan membuatnya semakin mendekap sayang wanita yang ada dalam pelukannya. Pemuda tersebut berkali-kali mengecup pundak kepala sang istri. Airmata Iqlima kembali tumpah ruah. Walau ia tidak bisa menceritakan isi hatinya secara gamblang, setidaknya sekarang suaminya tau bahwa ia merasa tertekan.
“Aku minta maaf…” Ucap Yahya pada akhirnya. Kata-kata yang sangat jarang ia keluarkan.
__ADS_1
"Aku minta maaf...." Yahya ikut menitikkan airmata. Ia juga bingung harus bagaimana menghadapi Layla yang mengandung, Iqlima yang tersakiti juga keluarga besarnya dengan segala aturan mereka vetokan.
“Iqlima... Baiklah… Aku… Aku ingin mengakui sesuatu padamu. Suatu hal yang tidak pernah aku katakan selama kita menikah… Aku ingin mengakuinya sekarang” Kali ini Yahya melonggarkan pelukkannya. Ia kembali menatap manik mata Iqlima lekat-lekat dengan memasang wajah serius. Serasa magis, Yahya seperti tenggelam dalam bundaran manik hitam tersebut.
“Sebenarnya…”
"Sebenar aku sudah men... "
Driiit Driiiit
Handphone Yahya bergetar tepat di saat ia ingin membuat pengakuan. Panggilan “Ummiku Tersayang” menghias di layar kaca.
“Sebentar…” Ucap Yahya. Iqlima mengangguk. Ia menatap punggung Yahya yang menjauh ke jendela lalu kembali menghampirinya setelah beberapa saat.
“Aku harus pulang sekarang. Kita harus pulang. Aku akan mengantarmu ke pesantren!” Ucap Yahya sedikit panik. Ia membuat jaket yang di kenakan. Menarik selimut Iqlima dan memakaikan jaket tersebut. Raut wajah cemas tergambar jelas di sana.
“Ada apa bang?”
“Ummi memanggilku untuk pulang”
“Apa ada sesuatu yang mendesak?” Tanya Iqlima lagi. Yahya mengangguk. Ia mengambil kerudung di sofa dan menyerahkannya pada Iqlima untuk dipakai.
“Apa ini ada hubungannya dengan Layla atau anak yang ada dikandungnya?” Tepat sasaran. Yahya menghentikan gerakannya lalu perlahan mengangguk.
“Layla mengeluh perutnya sakit. Ia ingin aku segera ada di sana! Ummi baru saja memanggil dokter!” Ucap Yahya berterus terang. Iqlima terpaku lalu memberikan senyum canggungnya. Bagaimana pun anak yang ada dalam kandungan Layla tidak bersalah.
“Jiddah hajjah tidak akan mengizinkannya…” Lirih Iqlima tetap memperbaiki kerudungnya.
“Aku akan mengurusnya…”
“Tidak. Aku akan tetap pulang ke pesantren” Tegas Iqlima.
“Baiklah jika itu memang yang kau inginkan…”
Apa bang Yahya tidak mengerti… Hidup menderita asal berada di dekat bang Yahya lebih aku pilih daripada harus hidup terpisah jauh. Setidaknya aku dan bang Yahya berada di lingkungan yang sama.
...****************...
“Bagaimana keadaan Layla, Mi?” Tanya Yahya buru-buru memasuki kamar mereka. Tampak Hajjah Aisyah yang berdiri di dekat pintu menyambutnya dengan wajah sembab. Walau berwajah sembab namun binar-binar kebahagiaan terpatri jelas di sana. Yahya sedikit terkejut saat melihat Arya dan Cahyati juga berada di dalam kamar mereka.
“Mi, ada apa?!” Desak Yahya lagi. Ia memalingkan pandangannya pada Layla yang terbaring. Wanita tersebut tersenyum manis padanya.
“Selamat Gus Yahya, bayi anda kembar!” Ucap dokter kandungan berseri-seri. Betapa bangga nya ia menangani calon bayi kembar milik keturunan keluarga hebat Zakaria dan Arya Pranawa. Yahya mematung sesaat. Ia mencoba mencerna apa yang dokter katakan.
“Benarkah?” Tanya nya pada sang istri memastikan. Layla mengangguk.
__ADS_1
“Alhamdulillah. Alhamdulillah… Alhamdulillah ya Allah…” Ucap Yahya berkaca-kaca. Tidak bisa dipungkiri Yahya merasa bersyukur. Ia menggenggam erat tangan Layla mengisyaratkan rasa terima kasih yang mendalam.
“Terima kasih sayang… Terima kasih” Ucap Yahya. Layla ikut menitikkan airmata. Ia merasa berada di awang-awang.
Walau pun ini bukan anak mas Yahya, tapi anak-anak ini akan membawa keberuntungan padaku...
"Gus Yahya, kandungan nona Layla sedikit lemah. Saya mohon untuk mau ikut serta menjaganya. Jangan sampai nona Layla tertekan, stress atau apapun itu. Sebaiknya nona Layla juga bedrest selama trimester pertama.. Jangan mengerjakan hal-hal berat dan rutin mengkonsumsi obat yang telah diresepkan.. " Ucap dokter menganjurkan.
"Baik dok.. InsyaAllah saya akan ikut serta menjaga istri dan anak-anak saya" Sahut Yahya mengusap-usap kepala puncak kepala Layla.
Semua berjalan dengan baik. Sepertinya takdir memang tengah berpihak pada Layla. Semua yang ia inginkan berjalan cukup sempurna. Arya dan Cahyati sebelum pulang juga berpesan agar Yahya bisa lebih memperhatikan kondisi putri yang kini tinggal satu-satunya tersebut.
Hajjah Aisyah tersenyum puas. Kini beliau bisa melanjutkan pekerjaan nya yang masih menumpuk dengan hati lega. Namun Hajjah Aisyah tidak serta merta berangkat ke kantor. Beliau memilih menepi ke ruang perpustakaan. Ditemani oleh Sri, beliau duduk santai membaca buku dengan menyeruput teh hijau yang di datangkan dari negeri Tiongkok.
"Ada gunanya aku menggunakan Iqlima untuk menyuruh Yahya menikahi Layla. Lihatlah... sekarang aku akan memperoleh cucu dari menantu sah yang aku idam-idamkan... Tidak hanya satu... Aku akan mendapatkan dua penerus. Allah sangat adil.... "
"Sri, apa kau bisa merasakan betapa terhormat nya keluarga nak Layla. Cool, elegant, akademisi, birokrasi, pengusaha hebat terpandang. Ah, aku merasa semua tidak sia-sia... " Ucap Hajjah Aisyah panjang lebar dengan lantang dan penuh intonasi. Sri hanya diam menunduk.
"Hahaa... Kau tau? Aku mengatakan pada Iqlima bahwa Yahya tidak mencintai nya melainkan mencintai Layla. Bahwa Yahya tertekan menikahinya. Bahwa Yahya menghabiskan banyak harta untuk menghidupinya... Jadi sudah sepatutnya Iqlima mengalah. Yahya sudah menyerahkan beribu-ribu kebahagiaan untuk nya dengan menafikan kebahagiaan nya sendiri... Lihatlah, Sri! Betapa strategi ku sangat membuahkan hasil. Aku tidak bisa membayangkan jika seumur hidup harus memiliki menantu seperti gadis kampung itu! Mau diletakkan dimana wajahku?! " Lanjut Hajjah Aisyah bercerita tanpa jeda. Beliau benar-benar merasa puas. Lalu tiba-tiba,
Brakkk
Suara pintu yang terbanting terdengar.
"Ooo... Jadi begitu mi? Jadi inilah kenyataan yang sebenarnya?! " Suara menggelegar Yahya terdengar. Hajjah Aisyah terkejut bukan kepalang. Beliau menoleh ke sumber suara. Yahya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah penuh amarah. Rahangnya mengeras. Tadi Sri sengaja tidak menutup rapat pintunya.
"Ya... Yahya?? Sejak kapan kamu berada di situ?! "
"Jadi Ummi yang membuat Iqlima begitu? Ummi yang membuat Iqlima mengancam Yahya untuk menikahi Layla?! Jadi semua nya ulah ummi?!" Yahya berjalan mendekat dengan mata memerah.
"Yah... Yahya... tenanglah... "
"Jawab mi.... Jawab!!! Yahya butuh jawaban sekarang!!! " Tak tertahankan, Kali ini Yahya membentak ibu nya tersebut. Hajjah Aisyah yang terdesak tidak tau harus berkata apa.
"Ummi kenapa diam?! Jawab mi, Jawabbb!!! "
"Kau berani membentak ibu yang telah telah melahirkan mu demi wanita rendahan itu, nak?! " Kali ini Hajjah Aisyah memegang dadanya. Tidak percaya dengan kebrutalan Yahya.
"Yahya tidak mengerti mengapa Ummi tega melakukan ini semua! "
"Ya... Ummi memang melakukannya! Ummi yang memaksa Iqlima untuk membuat agar kau bisa menikahi Layla. Lalu kenapa? Kenapa?!" Tantang Hajjah Aisyah.
"Sudah seharusnya ini semua terjadi. Sudah sepantasnya Iqlima mengalah. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya orang asing yang masuk ke sini tanpa dipermisi dan tanpa di undang! Ummi tidak menginginkan menantu sepertinya...!!" Suara Hajjah Aisyah terdengar menyakitkan di telinga Yahya. Ia mengangguk angguk tersenyum pahit.
"Baik. Yahya akan mengatakan pada Iqlima bahwa Yahya sangat mencintainya. Sangat sangat mencintainya. Yahya tidak bisa hidup tanpanya. Walau seribu orang, sejuta orang menolaknya, Yahya dengan sangat yakin akan mengatakan tetap berdiri disisinya dengan menegakkan wajah! Dia lah satu-satunya orang yang membuat Yahya tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan nya. Dia lah satu-satunya orang yang selalu Yahya rindukan dari permukaan kulit sampai ke dalam tulang. Tahukah ummi? Bukan Iqlima yang mengejar Yahya, bukan salah Iqlima berada di sini... Tapi putra Ummilah yang menginginkan nya... Putra Ummilah yang terlalu takut kehilangannya!!! " Ucap Yahya lantang penuh penekanan. Pengakuan Hajjah Aisyah membuat amarahnya bergejolak hebat. Cintanya tumbuh berkali lipat. Yahya berbalik arah. Ia akan merealisasikan kata-kata yang baru saja terlontar.
__ADS_1
"Yahya.... tunggu... Yahyaaaa.... tungguuuu... " Kejar Hajjah Aisyah menarik punggung kemeja Yahya.
...****************...