Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 20 : Misi Baru Layla


__ADS_3

Jakarta


Yahya tiba di rumah sakit. Ia akan menjenguk Rumi, calon istri Ilyas yang katanya juga masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarganya. Yahya melangkah dengan pikiran yang bergelut. Jujur saja, permintaan dokter Jelita untuk menikahi Iqlima membuat pikiran Yahya dalam tiga hari ini sedikit terganggu.


Yahya sendiri tidak tau perasaan apa yang ia rasakan pada Gadis itu. Yang jelas Yahya tahu pasti kalau itu bukan-lah cinta. Ia bukan tipe orang yang bisa dengan mudah jatuh cinta. Hanya dengan Dara Keumala saja, satu-satunya wanita yang pernah menggerakkan hatinya. Wanita yang keberadaannya sekarang entah dimana.


Nikahi Iqlima. Tolong jadikan ia istrimu. Entah tertarik atau tidak. Entah hanya perasaan kasihan atau memang cinta yang belum kau sadari. Tolong bawa dia bersamamu. Kau sudah terlibat sejauh ini. Kau orang shalih, kau orang taat yang takut pada Allah. Jika ia menikah denganmu, setidaknya walau kau tidak mencintainya, kau tidak akan menyakitinya. Aku percaya itu! Yahya memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Kamu Yahya kan?” Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Lamunan Yahya buyar. Ia mengerutkan keningnya.


“Saya Arya, ayah dari Rumi juga Layla”


“Aah… Pak Arya, kebetulan sekali! saya mau menjenguk Rumi!”


“Mari silahkan saya antar” Arya dan Yahya terlibat percakapan.


Dari kejauhan, Layla yang berada di depan pintu rawat inap memperhatikan Ayahnya berjalan mendekat bersama seorang pemuda.


Siapa dia? Layla melihat tanpa berkedip.


“Layla, kenapa kamu di sini?” Arya menegurnya.


“Pa, Layla… Layla baru saja dari kamar. Mbak Rumi baru selesai makan” Jawab Layla namun tatapan matanya tidak berpindah dari Yahya. Untuk sesaat mata mereka bertemu. Arya membuka pintu. Layla terus memperhatikan Yahya sampai pemuda tersebut masuk ke dalam ruangan.


Dia pasti Ilyas, tidak tidak. Mungkin dia Yahya! Layla sumringah. Ia sedikit berjinjit mengintip ke dalam.


“Bang Yahya…” Gumam Rumi. Ia spontan ingin duduk dari posisi berbaring. Rumi yang sedari awal sudah menaruh hati pada Yahya, langsung berbinar.


“Tidur saja, Jangan paksakan untuk duduk!”.


“Kamu mengenalku?” Rumi mengangguk cepat.


“Aku adik letting mas di pondok dulu!” Sahut Rumi, wajahnya bersemu. Yahya menganguk-angguk. Arya duduk membaca koran yang tersedia.


“Mas dulu selalu juara umum, kan? Padahal ketika ujian datang hampir tidak pernah belajar. Mas lebih memilih tidur tapi selalu bisa menjawab soal kurang dari 10 detik! Aku sering mendengar kabar ini!” Ucap Rumi membawa Yahya mengenang masa lalunya.


“Haha, itu kabar yang dilebih-lebihkan!” Tukas Yahya. Layla masih melihat aktifitas Rumi dan pemuda tersebut dari balik jendela namun pergerakannya terhenti ketika sebuah panggilan masuk memenuhi layar handphone-nya.


“Ya mas Razil..”

__ADS_1


“Mas Razil? Mas Razil siapa!?” Layla terkejut. Ia kembali melihat ke arah hanphone. Ternyata bukan Razil tapi Ridho. Layla merutuki kecerobohannya.


“Eh mas Ridho… Maaf, Aku pikir…”


“Layla, kamu tidak sedang selingkuh kan? Jangan mentang-mentang sekarang aku lagi di Singapore kamu malah jalan sama cowok lain!” Sambar Ridho.


“Ya tidak dong sayang! Nanti malam kita videocall-an ya! Byee” Layla langsung menutup panggilan sepihak. Ia buru-buru sebab melihat Yahya yang sudah keluar dari ruangan.


“Mas Yahya… Tunggu… Mas…!” Melihat panggilannya yang tidak digubris, Layla langsung mencengkram tangan Yahya.


“Awww…” Layla terkejut sebab tanpa aba-aba Yahya langsung menghempaskan tangannya.


“Eh maaf maaf.. Ga sengaja.. Aku terkejut. Kamu ga apa apa?”


“Ih mas! Jangan kasar-kasar sama calon istri!” Sembur Layla. Ia mengerucutkan bibirnya sebal.


“Calon istri?”


“Ya, ini mas Yahya anaknya nyai… eh anaknya Ummi Aisyah kan?” Yahya tercengang melihat remaja yang ada di hadapannya.


“Ya, lalu?”


“Aku Layla. Mas jangan pura-pura polos deh! Kan kita sama-sama dijodohkan sama keluarga!” Layla mensedekapkan tangannya.


“Aku bukan anak kecil, Mas! Kata mama, mas akan nikahin aku setelah aku lulus SMA nanti!” Layla setengah memekik lalu mendengus.


“Hhhhhhppppp hhhmmppp….” Yahya menahan tawanya bersusah payah.


“Hey Adik kecil… Daripada memikirkan tentang pernikahan, lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya untuk lulus ujian! Belajar yang rajin! Okay?” Yahya masih menggeleng dan berbalik arah. Ia mulai melangkah namun sebelum benar-benar menjauh, tubuhnya kembali berotasi.


“Oh ya, lain kali jangan pegang tangan pria sembarangan. Mungkin pria tersebut ada wudhu’! Dan… Satu lagi, Jangan marah! Nanti cepat dewasa, Okay?” Yahya sedikit menepuk-nepuk puncak kepala Layla yang tingginya tidak melebihi bahunya. Pemuda ini langsung melesat. Berlari kecil meninggalkan Layla yang mengerjap-ngerjapkan mata. Terpana.


***


Dokter Jelita menenteng sebuah kertas bukti transferan. Uang yang rutin Iqlima kirimkan untuk keluarga Rais setiap bulannya. Uang yang sengaja ia sisihkan. Dokter Jelita mengetuk pintu kamar Iqlima untuk menyerahkan bukti tersebut. Namun hening. Tiada ada yang menyahut.


Driiiit


Perlahan dokter Jelita membuka pintu kamar. Tampak Iqlima yang tidur meringkuk di atas sajadah. Air masih menggenang di sudut matanya. Dokter Jelita mengusap kepala Iqlima penuh kasih.

__ADS_1


“Jangan pergi….” Dokter Jelita menoleh. Sayup-sayup ia mendengar suara tertahan. Iqlima mengigau. Gadis ini mengambil tangan sang dokter memeluknya erat.


“Jangan pergi…. Iqlima ga mau sendiri… Tolong jangan pergi lagi… Jangan tinggalkan Iqlima… Sakit sekali…” Rintih Iqlima yang menangis dalam tidurnya. Gadis tersebut menggeleng kuat.


“Iqlima….” Panggil dokter Jelita. Hatinya terenyuh mendengar isak tangis gadis hebat dihadapannya.


“Aaaaa… Hiks Hikss…. Hiks Hiks” Iqlima terbangun. Ia menangis sejadi-jadinya. Akhir-akhir ini Iqlima memang sering sekali bermimpi buruk. Ia sampai takut untuk tidur sanking khawatir kembali mengalami hal serupa.


“Aaaaaa… Rabbii…. Hiks Hiks” Tangis Iqlima pecah dalam pelukan dokter Jelita.


“Aku mencintaimu adikku.. Aku mencintaimu..” Dokter Jelita ikut menangis.


“Kamu mimpi buruk lagi?” Dokter Jelita menangkup Wajah Iqlima. Gadis tersebut mengangguk sesegukan.


“Tarik nafas mu dalam-dalam. Lalu hembuskan. Lakukanlah berulang kali, hm?”


“Jangan takut… Aku bersamamu…” Iqlima mengeratkan pelukkannya. Seolah-olah gadis ini tidak ingin lagi mengalami kehilangan.


Di sisi lain. Di waktu yang sama, Yahya menemui haji Zakaria.


“Maaf Yahya menganggu, bah! Bolehkah kalau Yahya meminta waktu abah sebentar?” Tanya Yahya menemui haji Zakaria di taman. Ia melihat Abahnya tengah menggunting beberapa tangkai bunga mawar lalu dengan telaten merangkainya. Pekerjaan rutin yang selalu beliau lakukan seminggu sekali untuk diletakkan di ruang kerja hajjah Aisyah, istrinya tercinta.


“Boleh nak, kamu ingin membicarakan tentang apa?”


“Hmh... Tentang Pernikahan, Mungkin sudah waktunya Yahya menikah!” Haji Zakaria spontan menoleh. Beliau meletakkan mawar-mawarnya. Lalu merangkul Yahya untuk duduk di Gazebo. Mereka memulai percakapan serius.


***


Layla tidak bisa tidur. Ia membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. Padahal Layla sudah berjanji untuk melakukan video-call bersama Ridho, pacarnya yang sedang menempuh pendidikan sekolah menengah atas di Singapura. Namun sepertinya Layla enggan melakukannya. Ia lebih memilih memikirkan Yahya. Orang yang digadang-gadang akan menjadi suaminya kelak.


Pertemuan yang tidak di sengaja hari ini begitu membekas di benaknya. Sebagai primadona sekolah tersohor di ibukota, Layla merasa tersinggung. Seumur-umur Belum pernah ada laki-laki yang menolak pesonanya. Ia seorang fashionable, anak orang kaya raya yang memiliki pengaruh kuat di dunia bisnis, teman-teman menggambarkan rupa nya menyerupai Kim Jisoo. Seorang penyanyi top cantik asal Korea Selatan. Kurang apalagi?


Tapi Yahya dengan enteng menertawakannya. Menganggap Layla sebagai anak kecil ingusan yang harus belajar keras untuk lulus ujian.


Benar-benar tidak bisa di beri ampun!!! Layla mengepalkan telapak tangannya meradang.


Hhhhh. Dia pikir dia siapa? Awas saja!! Aku akan membuatnya bertekuk lutut dan sadar sedewasa apa Layla Asmarini Ningsih!! Layla mengangguk-anggukkan kepalanya. Semangatnya bukan meredup malah meningkat pesat.


Yahya, sosok menantang yang berhasil membuatnya penasaran. Kini Layla memiliki misi baru, yaitu: Menaklukkan Hati Yahya!

__ADS_1


Mungkin sudah saatnya aku mengucapkan selamat tinggal pada Razil dan Ridho. Mereka kalah tampan dan gagah di banding Yahya! Hmh Tapi…. Wait wait… Tidak ada salahnya pacaran bersama mereka untuk mengisi hari selagi menunggu dinikahi Yahya! Layla berubah sumringah! Ia memeluk bantal bahagia. Masa pubertas nya benar-benar dipenuhi oleh virus merah jambu.


***


__ADS_2