
Yahya membantu Iqlima berpakaian. Pemuda tersebut mengangkat sang istri ala bridal ke parkiran hingga masuk ke dalam mobil.
“Apa rasanya sangat sakit?” Tanya Yahya prihatin. Iqlima menggeleng dan memaksakan diri untuk tersenyum.
“Ma’af, aku memperparah rasa sakit di pinggulmu! Aku tidak tau kalau yang aku lakukan membuatmu terkejut hingga kita terjatuh” Lirih Yahya merasa bersalah.
Ha? Bang Yahya minta ma’af? Bagaimana mungkin? Iqlima hampir tidak percaya pada pendengarannya.
“A.. Aku baik-baik saja kok, abang jangan khawatir. Rasa sakit nya juga sudah berkurang” Yahya mengangguk. Sesaat Iqlima menatap Yahya yang fokus menyetir lalu ia memilih menatap lurus ke arah jalanan.
Semakin aku menyangkal, semakin hatiku mengkianati pikiranku. Apa aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Jika jawabannya iya, maka aku tidak akan keberatan lagi jika jantungku harus berdebar-debar setiap kali berdekatan dengannya. Aku tidak keberatan jika ia yang selalu hadir mengacak-acak tidur malamku melalui mimpi. Gumam hati Yahya sembari menatap Iqlima yang mulutnya tengah berkomat-kamit melafalkan do’a. Mobil yang menumpangi mereka terus melaju membelah jalanan kota Seoul menuju rumah sakit.
“Kau tunggu di sini, aku ke toilet sebentar. Tidak lama. Itu Rusdi yang sedang mengurus administrasi. Kalau ada sesuatu, panggil saja dia!” Ucap Yahya menunjuk ke arah asisten yang berjarak tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Iqlima mengangguk. Sebelum berlalu, Yahya menyempatkan diri mengelus pipi Iqlima. Sorot matanya yang teduh terasa menyejukkan. Lagi-lagi Iqlima harus terpana.
Sebelum masuk ke toilet pria, Yahya menepi. Ia merogoh saku bajunya mengamati sebuah kalung liontin kupu-kupu berinisial YN dengan makna Y untuk Yahya dan N untuk Noor yang diambil dari nama tengah Iqlima. Senyumnya mengembang. Kalung tersebut rencananya akan ia berikan ketika makan malam nanti.
Ditemani oleh Rusdi dan dengan berpeluh keringat, tadi Yahya menyempatkan diri membeli kalung tersebut sepulang dari sasana tinju. Kini ia tersenyum geli memikirkan perbuatan konyolnya. Dalam hati Yahya berjanji akan memberikan Rusdi bonus yang besar karena telah membuka hati dan pikirannya.
***
Dengan duduk di atas kursi roda, Iqlima menunggu Yahya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Wanita-wanita muda dengan selera fashion yang baik juga s*xy berlalu-lalang di hadapannya. Terbersit keinginan di hati Iqlima untuk bisa mengikuti tampilan menarik mereka ketika bersama Yahya.
Wajah pucatnya berubah merona. Namun sayang, keinginan tersebut seketika sirna. Keinginan yang harus ia kubur dalam-dalam mengingat Yahya tidak menyukainya. Iqlima menghela nafas. Matanya terus berpendar mengamati keadaan sambil sesekali melirik handphone yang berada dalam genggaman.
Praaaankkk
Tiba-tiba Handphone tersebut terjatuh. Layar kacanya hancur terburai di lantai. Iqlima terkejut bukan kepalang. Sesosok yang tidak asing tengah berjalan mendekat ke arahnya.
"Bang... Ra... Rais? " Lirih Iqlima bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha untuk bangkit.
Tap Tap Tap
Sosok Rais terus mendekat. Pemuda tersebut menatap lurus ke depan. Sosoknya tidak berubah. Bahkan Iqlima bisa melihat setitik tahi lalat yang terdapat persis di atas alis kanannya.
Bang Rais masih hidup? Gumam Iqlima lagi masih terus berusaha berdiri.
Kalau Bang Rais masih hidup, mengapa tidak menemuiku? Aku bahkan belum mengucapkan Terima kasih. Airmata Iqlima mulai menetes.
"Bang... "
Bruuukkkk
Iqlima terjatuh di lantai. Sosok Rais terus saja berjalan bahkan kini pemuda tersebut hanya melewatinya begitu saja tanpa melihat.
"Bang Rais... Bang...! " Panggil Iqlima dengan suara keras.
"Baaaang... Bang Rais...! " Panggil Iqlima lagi. Wanita tersebut tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang berpusat padanya tanpa mau sedikit pun berniat membantu.
__ADS_1
"Bang Rais, aku di sini!! " Suara Iqlima semakin keras. Airmatanya mengalir deras.
"Ya Rabb, Iqlima! apa yang kau lakukan?! " Pekik Yahya panik mendapati Iqlima meraung-raung seorang diri. Dengan cepat ia mengangkat Iqlima ke atas kursi roda. Matanya mencari dimana keberadaan Rusdi.
"Bang Rais..."
"Apa? " Kening Yahya mengerut untuk memastikan apa yang Iqlima sebutkan.
"Bang Rais masih hidup! Bang Rais masih di sini!" Ucap Iqlima dengan mata yang terus menatap punggung sosok Rais yang terus berjalan menjauh.
"Bang Rais masih hidup, aku harus memastikannya!" Lanjut Iqlima lagi. Hati Yahya seketika mencelos.
"Iqlima, apa yang kau katakan? Rais sudah tidak ada lagi di dunia ini!"
"Aku melihatnya! Aku melihat bang Rais berjalan ke arah sana! Bang Rais masih hidup! " Sahut Iqlima bersikeras. Ia masih berusaha berdiri hingga akhirnya ia berhasil. Airmatanya berlinang-linang. Iqlima mulai berjalan ke arah luar.
"Iqlima, tunggu! Iqlima sadarlah! Rais sudah mati! Mungkin yang kau lihat itu hanya orang yang mirip dengan nya! Kalau dia memang Rais, sudah pasti dia menggubris panggilanmu!" Hardik Yahya memegang kedua pundak Iqlima.
"Bang Rais tidak mendengarkanku karena memakai headset! Bang Yahya tau apa? Aku lah istrinya! Aku tau persis bagaimana rupa bang Rais! Bahkan letak tahi lalat dan garis rahangnya pun sama!! Beliau memang bang Rais!" Suara Iqlima tak kalah meninggi. Yahya terkejut mendengar suara tinggi yang tidak pernah Iqlima alamatkan kepadanya. Seketika Yahya mematung. Tangan yang memegang pundak Iqlima terjatuh. Ia membiarkan Iqlima pergi.
Pengakuan Iqlima yang menyebutkan bahwa ia adalah istri Rais membuat hati Yahya terasa sakit. Seperti ada benda tajam yang menghujam hatinya. Bahkan Iqlima hafal wajah Rais dengan sangat detail.
"Gus, nona Iqlima... " Ucap Rusdi yang baru saja hadir dari mengurus segala administrasi.
"Ikuti kemana Iqlima pergi!" Titah Yahya dingin.
"Baik Gus! " Yahya merogoh saku bajunya. Ia memperhatikan kalung kupu-kupu yang berada di telapak tangan lalu tersenyum masam.
Yahya melangkahkan kaki beberapa meter dari tempatnya berpijak. Dengan sekali gerakan, Ia membuang kalung inisial YN yang baru saja dibelinya dengan harga fantastis ke dalam tong sampah.
***
Jakarta, Indonesia
Hajjah Aisyah meletakkan kacamata dan bangkit dari duduknya. Beliau sangat tertarik dengan keberadaan orang yang mengaku sebagai teman sekampung Iqlima.
"Jadi kamu temannya?" Wanita yang mengaku tersebut mengangguk.
"Lalu, Informasi apa yang bisa kau berikan padaku?"
"Semua hal yang ingin ibuk ketahui! Saya juga akan memberikan sebuah informasi yang nilainya sangat mahal!" Sahut orang tersebut.
"Haha, sebutkan berapa jumlah yang kau inginkan!" Tantang Hajjah Aisyah.
"Ibuk akan menilai sendiri berapa jumlah yang pantas ibuk berikan berdasarkan informasi yang saya berikan! "
"Cepat katakan, informasi apa itu! " Hajjah Aisyah mulai tidak sabar.
__ADS_1
"Iqlima sudah pernah menikah sebelum dinikahi oleh bang Yahya! "
"A... Apa?! "
"Iqlima adalah seorang janda dengan gangguan mental karena sebelum nya ia pernah mengalami pelecehan s*xsual dan suaminya mati terbakar di tengah hutan! Bang Yahya menanggung semua beban dengan menikahi Iqlima berdasarkan rasa kasihan! "
Praankkk
Hajjah Aisyah terhuyung. Beliau tidak sengaja menyenggol minuman di atas meja hingga minuman tersebut jatuh berhamburan ke lantai. Hajjah Aisyah sangat marah. Benar-benar marah. Perasaannya begitu sakit.
"Apa kau memiliki bukti? " Selidik Hajjah Aisyah dengan nafas tersengal. Beliau merasa sesak. Oksigen di dalam ruangan terasa berkurang.
"Bacalah ini!" Pemberi informasi menyodorkan sebuah Koran yang telah usang.
"Koran ini memberitakan bahwa suami Iqlima terbakar di hutan saat mereka kabur dari kejaran pembunuh! Pembunuh tersebutlah yang sebelumnya pernah melecehkan Iqlima. Dan ini adalah data-data dari rumah sakit yang menyatakan bahwa kesehatan mental Iqlima terganggu hingga membutuhkan seorang Psikiater untuk menyembuhkan nya! "
Bruukkk
Hajjah Aisyah terhuyung dengan menumpu di meja. Kepala nya terasa sakit.
Apa dosa yang Yahya perbuat hingga memiliki nasib seburuk ini? Kenapa ya Allah... Kenapa musibah ini harus menimpa putraku? Kenapa?
"Astaghfirullah" Hajjah Aisyah memegang pelipisnya. Rasa-rasanya beliau tidak sanggup lagi berdiri. Lututnya terasa lemas.
"Ummi Hajjah.. Anda tidak apa-apa? " Tanya sang asisten.
"Apa yang kau lihat?! Cepat bantu Ummi Hajjah berbaring di sofa!! " Hardik asisten kepada wanita pembawa informasi.
"Ba.. Baik! "
"Jangan menyentuhku! Panggilkan Sri!! Dimana Sri?!" Pekik Hajjah Aisyah. Wanita pemberi informasi menunduk. Sri datang, dengan cekatan ia membawa Hajjah Aisyah menuju sofa.
"Keluarlah terlebih dahulu, aku akan menenangkan Ummi Hajjah! " Ucap Sri pada asisten dan wanita pemberi informasi. Mereka mengangguk bersamaan.
"Sri, titahkan pada Rusdi untuk membawa Yahya pulang! Ambil jadwal penerbangan terdekat!"
"Baik Ummi! Tapi bukankah Gus Yahya harus menghadiri pertemuan bisnis? " Sahut Sri sambil memijat kepala Hajjah Aisyah. Ia menyodorkan segelas air putih hangat.
"Aku akan meng-cancelnya ke bulan depan! Perkara ini jauh lebih penting! Mau berkilah apalagi dia?! Sebelum menikahi wanita sampah itu harusnya ia sudah tau kalau di dalam keluarga Zakaria dari kakek buyutnya terdahulu, menikahi seorang janda adalah sebuah aib! Apalagi janda dengan gangguan mental! Ternyata Yahya telah menikahi seorang janda gila! Ya Allah, kalau begini aku yang akan jadi gila! Yahya akan membuat ibunya menjadi gila! " Hajjah Aisyah frustasi.
Deg. Mendengar perkataan tersebut jantung Sri hampir meloncar keluar dari tempatnya.
Apa benar kalau nona Iqlima itu gila? Rasa-rasanya tidak mungkin! Sri menggigit bibir bawahnya. Cemas.
"Istighfar Mi, lagi dalam keadaan marah... kita akan begitu mudah mengeluarkan kata-kata buruk! " Ucap Sri berhati-hati.
"Sebenarnya kau memihak pada siapa?! Sri, jangan kau tambah rasa sakit dikepalaku dengan hujjah bodohmu itu! Aku ini pimpinan pada santri, aku tau apa yang aku lakukan!! " Sembur Hajjah Aisyah. Sri terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Sri, selanjutnya batalkan konferensi pers! Konferensi pers tidak akan pernah ada karena Yahya akan segera menceraikan wanita itu! Mau berkilah apalagi dia?! Kali ini Yahya tidak akan bisa berkutik!!" Geram Hajjah Aisyah.
***