Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 14: Terlibat Lebih Jauh


__ADS_3

Iqlima menangis tersedu-sedu dalam pelukan Yahya. Ia menumpahkan rasa sesak yang tidak tertahankan pada orang yang telah menolongnya itu.


“Menangislah kalau itu memang membuat hatimu merasa lebih baik” Ucap Yahya prihatin. Hatinya sedikit tergerak ketika Iqlima meraung seperti orang kesakitan. Yahya tau, perasaan gadis dalam dekapannya sedang terluka. Terlepas dari semua hal yang telah ia ketahui tentangnya.


Mendengar perkataan Yahya, Iqlima sontak merenggangkan pelukan mereka.


“Aku harus ke kantor polisi! Bang Rais pasti masih hidup dan menungguku! Berita tadi bohong!!!” Ucap Iqlima beranjak. Dengan masih mengenakan pakaian pasien rumah sakit, ia menuju ke arah pintu dengan tertatih.


"Tunggu! Kau belum pulih! Polisi yang akan ke sini!" Ucap Yahya. Iqlima menggeleng.


"Suamiku... Bang Rais... Hiks hiks... Bang Raiiiissss... " Iqlima kembali menangis keras.


"Suami? " Yahya mengerutkan keningnya.


"Aaaaaaaa aaaaaaa hiks hiks hiks.... Aaaaaaa" Iqlima kembali histeris.


Ceklek.


Seorang dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan. Petugas kesehatan tersebut menggiring Iqlima yang sedang meraung ke atas kasur. Perawat kembali menyuntikkan obat penenang.


"Saya dokter Karin. Apa anda kerabat pasien? Kita bicara di ruangan saya! " Ucap dokter yang langsung melesat tanpa meminta persetujuan Yahya terlebih dahulu.


"Silahkan duduk! "


"Pasien mengalami trauma dan guncangan atas tragedi yang dialami. Apalagi suaminya baru saja meninggal dengan cara mengenaskan. Polisi juga tengah menuju ke sini untuk mendalami kasus. Dan pasien... membutuhkan Psikiater untuk mempercepat proses penyembuhan. Pasien akan di tangani oleh dokter Jelita. Tapi sayang, biaya tersebut tidak di cover oleh BPJS! Silakan anda ke bagian administrasi untuk membayar semua biayanya. Baru setelah itu akan kita proses!"


"Maaf dok, apa mental pasien terganggu? " Tanya Yahya berhati-hati.


"Pasien mengalami trauma. Jika dibiarkan dikhawatirkan akan benar-benar mengganggu" Sahut dokter.


"Dok, agar tidak terjadi kesalahpahaman, jujur saja saya baru mengenal pasien. Tapi setau saya, pasien hanya memiliki seorang kakek yang sudah sakit-sakitan" Terang Yahya. Dokter Karin terenyak. Beliau membuka kembali data milik Iqlima.


"Tapi dokter... saya bersedia membayar semua biaya perawatan pasien! Lakukan-lah yang terbaik! Saya ke bagian administrasi dulu!" Pamit Yahya.


***


Plakkkk

__ADS_1


"Perempuan laknat!!! Kemana kau pergi seharian, hah? Apa kau selingkuh di luar sana???!!" Helmi menampar Maryam dengan kuat ketika ia tengah memerah asi. Wanita tersebut jatuh terpental. Balita yang tengah tidur di ayunan sontak menangis mendengar suara keras sang Ayah.


"Aku pergi mencari uang. Tapi Kau main gila di luar sana!! Dasar wanita Jal*ng!! Bedeb*h sialan!!!!! " Helmi mengeluarkan sumpah serapah nya.


"Sini!! Biar ku habisi saja kau!! Wanita tidak tau di untung!!! Wanita tengik!!! Pergi tidak minta izin!!!" Maki Helmi lagi.


Ooooeeekkkk Ooooeeekkkk


Tangis Nyak Agam semakin keras. Maryam bangkit menyerahkan botol yang berisi asi perah pada anaknya. Mata Helmi terlihat menyala. Urat lehernya menegang. Maryam dengan kesadaran penuh bangkit berdiri lalu dengan cepat mengambil parang di dapur.


"Sini majuu!!!! Kau yang akan kuhabisi!!! Kau pikir aku takut dengan laki-laki brengs*k sepertimu?!!!! " Maryam mengayunkan parangnya. Ia berteriak keras. Helmi terkejut. Biasanya Maryam tidak pernah melawan.


"Bagaimana aku bisa meminta izin kalau kau saja tidak pernah pulang!! Kau tidak pernah melihat Nyak Agam juga tidak pernah memberikan-ku nafkah!! Kau pikir aku boneka mu?!!"


"Selama ini aku diam karena aku masih menghormatimu sebagai suami, tapi hari ini kau memukul ku padahal sebenarnya kau-lah yang bedeb*h! Siniii kau... Kau yang akan kubunuh!!! Aku tidak takut di penjara!! Sebelum menikahi aku, seharusnya kau sudah tau bagaimana watak perempuan Aceh yang selalu siap mengobarkan perang!! Kau pikir aku bisa ditindas?!!! Tidak semudah itu!!! Kalaupun aku harus mati, aku bersumpah tidak akan bisa dijajah oleh mu!!! Ayoo sinii!!!" Maryam terus melawan. Ia mengayun-ayunkan parangnya siap menerkam. Wanita yang dikuasai amarah karena selama ini sudah ditelantarkan dan kini di tampar begitu saja balik meradang. Pergerakan Maryam sukses membuat nyali Helmi menciut.


"Maryam sayang... Ki.. kita bisa bicarakan ini semua secara baik-baik! Le.. letakkan parangnya ya..." Ucap Helmi mendadak lembut.


"Cih... Ceraikan aku!! Aku tidak sudi bersuamikan laki-laki pengecut sepertimu! " Maryam masih berang.


"A... Aku khilaf... " Sahut Helmi. Maryam meletakkan parangnya di dalam tas jinjing yang lumayan besar. Lalu mengambil pisau kecil dan disangkutkan ke ikat pinggangnya. Ia pun mengambil si kecil.


"Ka.. kamu mau kemana Mar? Aku kan baru pulang... Aku merindukan mu, Sayang! " Helmi merentangkan kedua tangannya. Maryam mangambil pisau yang baru saja ia sangkutkan di pinggang. Ia ingin kembali mengayunkan nya untuk menggertak.


Dddddrrrrtttt Dddrrrtttt


Handphone Helmi berbunyi. Ia membuka ponselnya melihat pesan. Namun pesan tersebut belum sempat dilihatnya, Iqlima sudah melayangkan kembali pisaunya.


"Geser... aku mau pergi..." Gerakan melayangkan pisau yang Iqlima lakukan membuat ponsel yang ada dalam pegangan Helmi terlepas jatuh ke lantai dengan posisi layar ke atas.


Triiiing


Maryam bisa dengan jelas membaca isi pesan tersebut.


Helmi, Kita harus temukan Iqlima!!! Keluarlah!!! kita cari sampai dapat! Semalam kita tidak berhasil membuatnya tewas! Dia sudah tidak ada di hutan! Dia berhasil selamat!!! From Hilman. Pupil Mata Maryam membesar. Matanya terbelalak sempurna. Maryam tidak menyangka bahwa Helmi suaminya adalah salah satu anggota Hilman yang ingin menyingkirkan Iqlima. Jantung Maryam berdetak kencang. Itu artinya... Sekarang Iqlima tidak aman!


Helmi dengan gerakan cepat mengambil ponselnya. Terlambat, Maryam sudah membaca seluruh isi pesan tersebut. Helmi juga dengan cepat melesat menjauhi Maryam. Ia berlari ke halaman depan. Menaiki Jeep yang ternyata sudah menunggunya. Meninggalkan Maryam yang tercengang.

__ADS_1


Aku harus minta bantuan siapa?! Ya Allah, Bagaimana ini... Aku harus bagaimana? Maryam menggigiti kukunya yang memang sudah pendek. Maryam berpikir keras.


Ooooeeekkkk Ooooeeeekkkk


Si kecil Nyak Agam kembali menangis dalam dekapan Maryam.


"Cupp cuppp cupp... Anak mak sayang sabar ya... Kita bantu cécék Iqlima ya, Nak! " Maryam mengelus-elus kepala Nyak Agam dengan penuh kasih lalu mengecupnya berulang kali.


***


Yahya sudah selesai membayar semua administrasi. Pemuda ini telah merogoh kocek yang tidak sedikit. Besok tenaga ahli akan didatangkan untuk merawat Iqlima.


Ddddrrrrttt Ddddrrrrttt


"Assalamu'alaikum Abah... " Yahya menjawab panggilan dari Haji Zakaria, Ayahnya.


"Waalaikumsalam nak! Nanti malam Abah dan Ummi akan ke Amerika mengurus dokumen warisan milik Haris, sepupu mu! Tolong kamu yang meng-handle perusahaan kita. Abah berharap penuh padamu! " Pinta Haji Zakaria.


"Baik bah, Ananda siap laksanakan! " Sahut Yahya sigap. Pemuda ini hendak menelpon sekretaris nya di kantor. Namun belum sempat ia melakukan panggilan, sebuah panggilan baru sudah menghiasi layar ponselnya. Yahya menekan tombol hijau.


"Assalamu'alaikum bang Yahya... Bang... tolong Iqlima... Bang.. saya mohon.. saya ga tau harus memohon sama siapa! " Pinta Maryam. Suaranya terdengar panik.


"Waalaikumsalam... Maryam, tarik dan hembuskan nafasmu terlebih dahulu! Baru bicara! Aku benar-benar tidak bisa mendengar mu! " Sambar Yahya.


"Hhhhh Huuufff.... Bang, begini... Jadi... " Maryam mulai menceritakan semua kronologi. Ia berusaha mengatakan sejelas dan sebaik mungkin agar Yahya mampu memahaminya hingga pemuda itu terenyak mendengarkan cerita Maryam.


"Jadi saya mohon... Tolong bawa Iqlima keluar kota! Saya akan ke kantor polisi untuk melapor! Nanti saya juga yang akan menemui kakek menyampaikan kabar tentang Iqlima. Bang... Saya mohon... Iqlima itu yatim piatu. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Mungkin abanglah sebagai perantara yang dipercaya oleh Allah untuk membantu Iqlima! " Ucap Maryam. Kini suaranya bercampur dengan tangisan.


Ya Allah... Apa benar hamba memang harus terlibat sejauh ini? Gumam Yahya terpaku.


"Hilman dan bawahannya baru saja pergi... Butuh waktu 3-3.5 jam untuk sampai ke Pidie! InsyaAllah kalian tidak akan berpas-pasan di jalan! " Lanjut Maryam lagi. Yahya menoleh ke arah gadis malang yang terbaring lemah. Hati dan pikirannya tengah berdebat.


***


"Dokter Jelita... Saya telah meminta bantuan pihak management untuk membawa dokter bersama kami ke luar kota!" Ucap Yahya pada Psikiater yang akan menangani Iqlima.


Note:

__ADS_1


🦋 cécék\= bibi (lafal E pada kata cécék seperti melafalkan kata centong).


__ADS_2