
Ceklek
Asisten membuka pintu. Yahya menghadap Haji Zakaria dan Hajjah Aisyah dengan suasana hati yang masih kacau. Yahya tau bahwa ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Tidak mungkin ibunya mengirim tiket pulang dadakan jika semua baik-baik saja. Maka dengan mengucap Bismillah ia masuk ke dalam ruang pertemuan.
“Assalamu’alaikum Abah, Ummi…” Yahya memberikan salam takzim. Haji Zakaria menepuk pundak sang putra. Yahya mengambil tempatnya.
“Ummi tidak ingin berbasa basi, katakan mengapa kau tega menipu Abah dan Ummi?” Yahya mendongak terkejut.
“Mi, kalau bicara itu pakai mukaddimah dulu. Kenapa langsung memakai gas penuh?” Sergah Haji Zakaria tidak senang.
“Ma’af Bah, tapi Yahya sudah sangat keterlaluan!” Sahut Hajjah Aisyah.
“Ummi sudah berjanji untuk tidak emosi!” Hajjah Aisyah menarik-hembuskan nafasnya.
“Mengapa kau menikahi seorang janda?!” Yahya terenyak. Di luar prediksi, ia tidak menyangka ibunya akan mengetahui kenyataan tersebut secepat ini.
“Kau sudah mempelajari peraturan di keluarga besar kita sejak kecil hingga baligh. Kau sudah tau kalau laki-laki lajang di keluarga kita tidak boleh menikahi seorang janda! Tapi kenapa kau tetap melakukannya?” Yahya terdiam mendapat serangan dadakan.
“Jawab Yahya!!” Suara Hajjah Aisyah meninggi.
“Mi, Iqlima sudah pernah menikah atau belum pernah menikah sebelumnya, selama ia bukan milik orang lain, Yahya rasa tidak ada yang salah dengan pernikahan ini!” Sahut Yahya tegas.
“Lancang kamu!” Sembur Hajjah Aisyah. Yahya menunduk.
“Mi… Redakan emosi Ummi. Tidak baik terlalu keras! Yahya sudah terlanjur menikah, jadi sudahlah… Harusnya kita bersyukur karena ternyata putra kita menikah dengan wanita shaliha” Haji Zakaria mencoba menenangkan sang istri.
“Tidak bisa begitu, Bah! Aturan dibuat bukan untuk dilanggar! Ini bukan hal sepele, Yahya menikah dengan seorang janda! Apa kata keluarga besar kita? Apa kata masyarakat? Putra satu-satunya dari Presiden Direktur Zakaria Group menikahi seorang Janda! Apa kata Rival-Rival kita nanti?!Astaghfirullah.. Ummi tidak bisa membayangkannya! Apa di dunia ini sudah kehabisan stok gadis hingga Yahya memilih menikahi janda?!” Hajjah Aisyah berbicara panjang kali lebar masih dengan nada tinggi. Beliau tidak bisa menahan kemurkaannya. Hajjah Aisyah benar-benar merasa jijik sekaligus malu.
“Yahya, ini merupakan sebuah aib bagi keluarga besar kita! Kapan kamu bisa menyenangkan hati orang tua yang sudah membesarkanmu sampai sebesar ini, Nak?! Sakit sekali hati Ummi mendengar berita ini!” Suara Hajjah Aisyah berubah parau. Beliau menangis.
__ADS_1
“Ma... Ma’afkan Yahya, Mi!” Yahya menunduk. Melihat Hajjah Aisyah menangis, pemuda tersebut bingung harus melakukan apa. Saat ini Yahya juga berada dalam kondisi yang tidak fit. Pikirannya kacau memikirkan Iqlima yang masih mencintai Rais.
“Kalau kamu masih menganggap Ummi ini ibumu, maka ceraikan dia!” Yahya tercengang.
“Mi, tidak perlu begini! Mereka sudah menjadi suami istri, haram hukumnya menghancurkan pernikahan mereka!” Kali ini Haji Zakaria murka. Beliau meninggikan suaranya. Hajjah Aisyah menggeleng, airmata mengalir semakin deras.
“Ini pernikahan yang tidak diinginkan, Bah! Ummi tidak akan pernah ridho! Tidak akan pernah! Banyak sekali kerusakan yang terjadi dalam keluarga kita karena ulahnya. Ummi merasa tidak ada lagi kedamaian di sini sejak kehadiran wanita itu di sini! Terakhir, Yahya dan Ilyas yang begitu akrab bisa bertengkar! Hubungan mereka hancur berantakan sampai Ilyas babak belur! Untuk selanjutnya, Ummi tidak tau akan ada kerusakan apalagi yang akan ditimbulkan oleh wanita itu!” Ucap Hajjah Aisyah menohok tajam. Yahya merasa waktu seolah berhenti.
“Lagipula, Ummi tidak yakin wanita itu bisa memberikan Yahya keturunan. Dia sudah pernah menikah kan? Lihatlah dia belum memiliki anak. Selain itu, terhitung sudah lebih dari 6 bulan Yahya menikah, tapi kabar kehamilannya belum juga terdengar!”
“Mi, sebenarnya…”
“Sebenarnya apa, Yahya?”
“Sebenarnya… ” Tenggorokan Yahya tercekat.
“Sebenarnya… Hmh,,, Yah... Yahya tidak bisa menceraikan Iqlima, Mi!” Lirih Yahya. Sejujurnya Yahya ingin mengatakan pada Hajjah Aisyah bahwa ia menikahi Iqlima masih dalam keadaan utuh dan belum terjamah. Namun rasa malu membicarakan hal begitu pribadi membuat Yahya mengurungkan niatnya.
"Layla sudah 16 tahun, dalam sekejap dia akan genap 17 tahun. Menurut hukum Islam dan hukum negara, kau sudah bisa menikahinya! Nikahi-lah Layla pada bulan Syawal! " Yahya langsung berlutut. Pemuda tersebut menggeleng.
"Mi, bukan kah ini terlalu kejam?! "
"Kejam katamu?!" Hajjah Aisyah bangkit dari duduknya.
"Kau lah penyebab semua ini! Kau yang menjadikan semua menjadi kacau! Kau tinggal memilih, pilih menceraikan wanita itu dan menikahi wanita mana saja yang kau inginkan asal sederajat dengan keluarga kita atau pertahankan wanita itu dan nikahi Layla! Atau.... kau bunuh saja ibumu yang sudah tua renta ini!! Kedurhakaan mu akan membuatku mati lebih cepat! " Sambar HajjahAisyah tajam. Setelah menyelesaikan kalimatnya, beliau berlalu meninggalkan Yahya yang mematung lemas. Udara serasa tidak mensuplai oksigen dengan baik. Seketika Yahya tersadar. Dengan cepat ia mengejar Hajjah Aisyah.
"Mi, Yahya mohon jangan seperti ini! Yahya mohon... Yahya mohon..." Yahya menangkupkan kedua tangannya. Airmata nya mengalir.
"Mi, Yahya mohon... Yahya mencintai Iqlima... Yahya tidak bisa memilih pilihan yang Ummi berikan! Yahya benar-benar mencin..." Mata Yahya memerah menahan tangis.
__ADS_1
"No excuses, Yahya! Kesalahan mu fatal! Stop menjadi anak durkaha! Atau kau memang ingin menjadi durhaka? Buang jauh-jauh cinta semu-mu terhadap wanita itu! Ummi kecewa! Bertahun-tahun sudah kau di didik di pesantren tapi ternyata tidak menempamu menjadi anak yang berbakti! Hanya demi seorang wanita, kau tega membantah ibu yang telah melahirkan mu!"
"Dengarkan baik-baik! Sampai Ummi matipun, Ummi tidak akan pernah memaafkanmu jika kau tidak memilih apa yang sudah seharusnya kau pilih! Bahkan jika Ummi matipun, jangan pernah sekali-kali melihat jasad Ummi! Camkan hal ini baik-baik!! " Hajjah Aisyah berlalu dengan tetap memegang prinsipnya. Yahya tercengang. Ia seperti tidak mengenal ibunya sendiri. Hajjah Aisyah seketika berubah menjadi singa yang mengaum dengan auman menyeramkan.
***
Iqlima menatap hidangan yang ada dihadapannya dengan tidak bersemangat. Sudah lebih dari seminggu bahkan nyaris dua minggu Yahya tidak mengunjungi nya sejak mereka pulang dari Korea. Iqlima juga tidak berani keluar. Ia terus mendekam di dalam kamar tanpa bisa berbuat apa-pun. Hanya ada asisten dengan wajah baru yang sesekali berlalu lalang di dalam ruangan untuk mengganti seprai, mengantar makanan juga mengantar pakaian. Iqlima dilema. Ia sudah mencoba menghubungi handphone Yahya, namun nomor sang suami tetap tidak bisa dihubungi.
Iqlima menatap sendu layar handphone yang ada di tangannya. Pesan dari bagian Akademis Universitas menyatakan bahwa perkuliahan akan dimulai 2 hari lagi.
Apa bang Yahya masih sangat marah padaku? Padahal aku benar-benar ingin meminta maaf. Lirih Iqlima sedih.
Aku salah. Aku khilaf. Aku berdosa. Tidak seharusnya aku bersikap demikian. Aku jahat. Aku istri yang tidak tau diri! kalimat tersebut sudah berkali-kali keluar dari mulutnya. Iqlima menyesal. Ia benar-benar menyesal. Dalam hati Iqlima berjanji tidak akan pernah lagi membahas Rais atau laki-laki lain di hadapan Yahya. Air mata Iqlima mengalir.
Dan kini Bang Yahya benar-benar menghukumku. Walau ruangan ini sangat besar dan luas, tapi dadaku terasa sesak. Hatiku terasa sempit. Di jauhi dengan perasaan bersalah seperti ini lebih menyakitkan dari semua rasa sakit yang pernah kurasakan. Bang Yahya berhasil membuatku jera. Hiks hiks. Iqlima menangis tersedu-sedu seorang diri. Ia benar-benar merutuki kebodohan nya.
Tok Tok Tok
"Maaf nona, ini susu kambingnya! " Asisten yang bertugas mengantarkan minuman yang sama untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu lebih dari satu minggu. Iqlima dengan cepat menghapus air matanya lalu mengangguk. Namun ia tidak bisa menyembunyikan mata sembab yang lingkaran nya sudah menghitam akibat menangis berhari-hari karena rasa penyesalan juga kerinduan.
"Tunggu mbak! " Panggil Iqlima dengan suara parau.
"Ya? "
"Apa mbak melihat bang Yahya? " Tanya Iqlima berkaca-kaca. Pertanyaan ini juga sudah berkali-kali ia tanyakan. Lagi-lagi sang asisten menggeleng. Hati Iqlima terasa kebas.
"Kalau mbak melihat bang Yahya, tolong sekali untuk mengabarkannya padaku. Aku hanya ingin tau bagaimana kabar beliau!" Ucap Iqlima dengan wajah penuh harap. Sang asisten mengangguk. Ia melihat Iqlima dengan perasaan kasihan juga hati yang ikut sedih. Namun ia juga tidak bisa membantu apapun. Ia hanya pesuruh baru yang menjalankan tugasnya.
***
__ADS_1
Selesai membaca jangan lupa Like nya 💙