Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 110: Kau Telah Gagal!


__ADS_3

Masih di dalam Gang, Hilman di kelilingi oleh para wanita saat Iqlima meninggalkan Maryam seorang diri.


"Hey, aku sedang tidak ingin bermain-main! " Ucap Hilman sedikit menghindar.


"Kalau tidak ingin bermain-main, mengapa masuk ke sini? Ayolah tuan... Kita sedikit minum di dalam..." Bujuk manja seorang wanita yang menge-cat rambutnya dengan warna brunette. Cat kuku indah berwarna senada juga menghias indah di sana.


"Ya. ya... Tapi lain kali. Okay? Tidak untuk hari ini? Hmh? " Ucap Hilman menaikkan kedua tangan ke atas menghindari seorang wanita lainnya yang bergelanyut manja di lengannya. Namun di saat yang bersamaan ia juga mencolek pipi wanita cantik yang ada di dekatnya.


"Whooaaa... Benarkah? Apa tuan berjanji? " Salah seorang yang lainnya ikut bersuara. Sementara yang lain nya lagi hanya cekikikan. Mereka semakin tertarik dengan sosok Hilman.


"Bang Rais...." Suara Iqlima tiba-tiba terdengar pelan dalam kegelapan. Ia yang sudah dua menit lalu berada di sana hanya berdiri tegak menatap Hilman. Kaku. Hilman sedikit terkejut. Sontak ia menghentak tangan dan membuat para wanita di sekeliling nya menjauh.


"Nah. Itu wanitaku! Kalian pergilah!! Pergi sana! Hus hus!" Titah Hilman dengan langsung memasang sikap tubuh penuh wibawa.


"Hmm... Iqlima... Kau kembali? Sejak kapan kau di sini? Maaf, Aku sengaja mengatakan bahwa kau wanitaku agar mereka tidak menganggu... Lalu tentang peristiwa tadi... Percaya lah aku hanya menghindari.........."


"Aku ingin keluar dari sini... " Lanjut Iqlima pelan.


"Baiklah... Aku akan membawamu pergi... " Sahut Hilman cepat. Ia berjalan di samping Iqlima dengan tubuh yang siap menghalau laki-laki hidung belang yang berpapasan dengan mereka.


Ketika mereka akan keluar dari gang, Iqlima membalikkan tubuhnya ke belakang. Melihat kalau kalau Maryam berada di sana. Namun ternyata sosok Maryam tak terlihat. Kecewa. Entah apa yang wanita muda ini pikirkan. Yang jelas, ia sudah mengambil sikap atas Maryam.


"Bang Rais... "


"Bang... " Langkah kaki Hilman terhenti. Panggilan "Rais" masih terasa mengganggu dan tidak terbiasa.


"Apa bang Rais baik-baik saja?" Tanya Iqlima intensif.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan say... hmh, maksudku benar-benar tidak ada yang perlu dikhawatirkan"


"Alhamdulillah, aku bahagia... Allah selalu melindungi bang Rais kemanapun bang Rais pergi hingga kita bisa kembali bertemu" Lirih Iqlima. Rais palsu sedikit kesulitan menelan.


"Terima kasih kau sudah mau mempercayaiku. Mari kita pergi dari tempat ini! Wanita seperti mu tidak pantas berasa di sini! " Ucap Hilman yang hampir saja menarik lengan Iqlima namun segera di tepis oleh wanita tersebut.


"Ma... Maaf... "


Tahan Hilman... Tahaaan... Tunggu di saat yang tepat... Oceh hati Hilman mengutuk tindakan nya.


"Bang Rais, Maaf untuk semua rasa sakit dan penderitaan yang bang Rais lalui karena aku..." Lirih Iqlima. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ssssstttttt.... Jangan berkata seperti itu... "


"Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih untuk semua kebaikan yang sudah bang Rais berikan untuk ku. Untuk semua pembelaan yang dulu pernah bang Rais lakukan di saat tidak seorang pun melihat ku. Aku belum sempat dan mungkin tidak akan pernah bisa membalasnya... Namun dalam sujud dan doa, nama bang Rais selalu ikut serta kusebut... " Lanjut Iqlima menyampaikan rasa terima kasih dan haru untuk sekian kali nya namun dalam narasi berbeda. Hilman terpaku. Tenggorokan nya tercekat. Tidak seperti biasa, untuk pertama kalinya ia merinding. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam.


...****************...


"Gus, apa tidak sebaiknya kita laporkan ke polisi saja? " Tanya Gibran berhati-hati saat melihat Yahya masih uring-uringan mengendarai motor tak tentu arah. Yahya mengangguk. Ia kembali memarkirkan motornya di kepolisian terdekat. Bersamaan dengan hal tersebut, handphone nya berbunyi. Asisten dari perusahaan menghubungi nya.


Jadwal keberangkatan Tuan Yahya ke Amerika dipercepat besok pagi jam 17.30 WIB.


Begitulah informasi kilat yang Yahya terima. Seketika pemuda tersebut memutar motornya kembali ke pulang untuk menemui Hajjah Aisyah setelah melakukan salam perpisahan pada Gibran dan berjanji akan bertemu kembali untuk mengobrol.


"Mas... Aku ikuuut... Hiks hiks... " Rengek Layla. Ia yang sudah dibawa pulang dari rumah sakit langsung menghambur ke pelukan Yahya. Airmatanya tumpah.


"Ini urusan pekerjaan, bukan untuk bersenang-senang! " Ketus Yahya. Layla terdiam. Raut wajahnya sontak berubah. Yahya menghela nafas merasakan perubahan itu. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tersiksa nya Layla karena sikapnya.


"Baiklah, aku akan meminta ummi agar kau bisa menemani ku.... Tapi.... "


"Benarkah mas?? " Layla berbinar-binar.


"Dik, Aku hanya mengkhawatirkan kandunganmu... ke Amerika tidak mudah... bukan menghabiskan waktu sejam dua atau delapan jam. Kau tau tentang itu. Resikonya sangat besar!" Yahya sedikit frustasi.

__ADS_1


"Aku dan anak-anak kita akan selalu sehat jika berada didekatmu, mas! Aku sangat yakin! " Sahut Layla mantap. Ia kembali memeluk Yahya dengan erat. Yahya hanya bisa pasrah. Namun ia tetap harus menemui ibunya terlebih dahulu terkait urusan jadwal yang dipercepat.


"Bersiap-siaplah! Karena keberangkatan kita tidak lama lagi" Ucap Yahya melepas pelukan Layla. Istrinya mengangguk.


Siapa yang peduli dengan anak ini? Kalau pun anak ini gugur, maka aku akan melahirkan banyak anak lainnya. Yang pasti... Anak-anak dari benih mas Yahya... Bukan dari orang lain! Layla tersenyum dengan menaikkan sudut bibirnya ke atas.


Yahya langsung ke kamar. Langkah kaki membawanya masuk ke kamar utama. Pemuda tersebut terdiam. Ia berjalan pelan ke arah kasur dan menelentangkan tubuhnya di sana. Berkali-kali ia bertanya pada asisten yang mencari Iqlima, namun nihil. Keberadaan istri pertamanya belum terdeteksi.


Rabbii..... Mata Yahya berkaca-kaca. Dengan cepat Yahya ke kamar mandi dan berwudhu. Ia melakukan shalat sunnah dua rakaat dan berdoa agar sang istri selamat di manapun ia berada. Akhirnya air mata Yahya tumpah ruah. Seketika ia merasa gagal menjadi suami.


...****************...


"Bang Rais... Maka... Sampai di sini pertemuan kita..." Lanjut Iqlima masih di ujung gang. Angin dingin yang menyusup melambai-lambaikan kerudung Iqlima. Lampu jalan mulai menyala.


"Iqlima... Mengapa begitu? "


"Tidak mungkin aku pergi bersama bang Rais... Bagaimanapun... Aku adalah wanita yang bersu... ami... " Lirih Iqlima.


"Kau pergi dari suamimu! Kau akan berpisah dari nya! Dan sekarang kau sendirian tak tau arah! " Ucap Hilman. Analisis yang tidak terbantahkan.


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian begini! "


Iqlima menggeleng.


"Baiklah, begini saja... Aku akan pulang ke rumah dan Kau tinggal di hotel sementara waktu, bagaimana? "


"Aku tidak ingin merepotkan bang Rais" Iqlima tetap menggeleng.


"Aku akan menanggung biayanya! "


"Tidak, Terima kasih! "


"Bagaimana jika itu hotel milikku? Aku tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun! Apa kau masih sungkan? " Tanya Hilman pada akhirnya.


"Ya, Hmh... Hotel keluarga ku! Sudahlah... Cerita nya panjang! Yang paling penting adalah keamananmu! Jangan kau tolak! Aku hanya ingin kau aman! Okay? " Ucap Hilman memanggil taksi.


Arya.... Kamar hotel mu aku pinjam dulu untuk musuh putrimu! Aku tidak mungkin membiarkan kekasihku kedinginan di jalan.


Tak ada pilihan lain. Iqlima mengikuti jejak Hilman. Seketika mereka hilang dalam gelapnya malam.


Ciiiiiittttttt


Tak lama berselang, suara decitan ban terdengar di ujung jalan. Ilyas yang mendapatkan pesan dari Maryam langsung melesat tanpa menunda. Di sana Maryam sudah terlihat. Dengan wajah sembab ia setengah berlari menghampiri Ilyas.


"Bagaimana bisa kau membiarkan Iqlima pergi?! " Hardik Ilyas frustasi.


"A... Aku... "


"Apa kah kau benar-benar sahabat Iqlima?! Aku jadi meragukanmu!! " Sengit Ilyas.


"Aku menitipkan Iqlima padamu! Tapi kau malah membiarkan nya pergi! "


"Semua memang salahku" Lirih Maryam menyesal karena tidak bisa mencegah Iqlima pergi.


"Huft... Sudahlah! Lalu selain kau, Apa Iqlima punya tujuan di sini?"


"Aku tidak tau. Tapi aku dan Iqlima sempat berseteru sebelum ia meninggalkan ku! Iqlima salah paham..."


"Salah paham?! Ya Rabb Maaaryam! " Ilyas mengusap rambut hitam kecoklatan nya ke belakang. Ia terlihat frustasi. Maryam terdiam.


"Sekarang kita harus mencari Iqlima kemana?! Huft.... " Ilyas menyentak2kan sepatunya ke tanah. Menunggu dengan frustasi kalau kalau saja Iqlima akan kembali.

__ADS_1


"Iqlima pergi dengan orang yang disebut sebagai suaminya dulu... " Lirih Maryam tiba-tiba.


"Suaminya dulu? Siapa maksud mu?"


"Sebelum menikah dengan Yahya, Iqlima lebih dulu menikah dengan Rais... "


"Apa?!"


"Ceritanya panjang. Tapi sekarang bang Rais kembali setelah bangkit dari kematian... "


"Bicaramu sangat ngawur! Kau mengada-ada! " Ilyas memijat pelipisnya. Ia semakin pusing dengan keadaan dan perkataan Maryam.


"Ustadz,, bagaimana pun kita harus menemukan Iqlima..." Maryam kembali menangis.


"Tanpa kau pinta, aku pasti akan mencari Iqlima! Lebih baik sekarang kita menyusuri kota! " Ucap Ilyas mengambil sapu tangan dan tisu di kantong celananya.


"Bersihkan debu, kotoran dan luka di kakimu! " Ucap Ilyas menyerahkan benda-benda tadi dan masuk ke dalam mobil. Maryam terpaku.


"Cepat!!! Bukankah Kita harus menemukan Iqlima?! " Hardik Ilyas dari dalam mobil.


"I... Iya... "


...****************...


"Abah, apa keberangkatan ananda ke Amerika tidak bisa di tunda? " Tanya Yahya menemui Haji Zakaria setelah gagal melakukan protes pada Hajjah Aisyah. Ia juga sudah menceritakan tentang kepergian Iqlima. Yahya merasa saat ini hanya abah lah orang yang paling bijak dalam memberikan pandangan.


"Sayangnya tidak bisa nak, ini memang tugas penting. Sebagai salah satu dari pemilik saham, kau harus profesional! " Sahut Haji Zakaria menghela nafas. Yahya terdiam. Sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia sudah harus berangkat sedangkan Iqlima masih belum ditemukan.


"Iqlima... Yahya mengkhawatirkan Iqlima, Bah... "


"Bukan hanya kau, Abah juga mengkhawatirkan putri abah! "


"Yahya harus bagaimana... " Yahya menunduk. Ia benar-benar kacau.


"Abah yang akan mencari nak Iqlima... Setelah bertemu, ambil-lah keputusan... Melanjutkan pernikahan dengan baik atau bercerai dengan cara yang baik! " Tegas Abah. Yahya mendongak karena terkejut.


"Nak Iqlima pergi... Itu artinya ada pergolakan besar dihatinya. Ada hal yang melatarbelakangi nya. Abah tidak ingin ikut campur pada rumah tangga kalian... Namun, Abah belum melihat ketenangan di sana. Nak, pernikahan yang baik adalah pernikahan yang sakinah mawaddah wa rahmah. Yang penuh dengan ketenangan, kedamaian hati, penuh cinta dan rahmat... Kalau masih seperti ini, maka sebagai kepala keluarga... Kau gagal!"


Yahya terdiam. Ia menunduk dalam. Yahya masih tidak mengerti mengapa Iqlima pergi.


Apa berada di pesantren membuat Iqlima marah hingga meninggalkan nya? Tidak mungkin. Iqlima adalah wanita yang tangguh. Tidak mungkin Iqlima pergi semudah itu.


Apa Iqlima tidak mencintai nya? Tapi kenapa pergi? Bukankah Iqlima berjanji akan tetap berada disisinya jika menikahi Layla? Lalu mengapa?


Apa Iqlima cemburu karena Layla? Bukankah Iqlima yang menginginkan ia menikahi Layla?


"Yahya... Yahya mencintai Iqlima, Bah..."


"Apa kau pernah mengabarkan itu pada istrimu? "


Lagi-lagi Yahya terdiam.


"Cinta itu harus dikabarkan, nak! Perasaan wanita sangat rapuh. Abah tidak membenarkan nak Iqlima pergi seperti ini, namun abah tidak bisa menyalahkan nak Iqlima sepenuhnya. Abah tidak mengerti duduk persoalan yang kalian hadapi. Tapi mungkin nak Iqlima merasa tertekan... "


"Yahya akan mengatakan bahwa Yahya mencintai nya dan meminta maaf"


"Jika memang kau masih punya kesempatan... " Sambar Abah.


"Dan... Bagaimana jika.... Pergi nya nak Iqlima ini karena keinginan nya sendiri dan menginginkan perceraian... Atau.... "


"Atau apa bah? "

__ADS_1


"Atau malah ada orang jahat yang membawa nya pergi! " Lanjut abah. Mata Yahya membola sempurna. Kalimat-kalimat abah membuat Yahya semakin terguncang.


...****************...


__ADS_2