
“Ada apa ini?” Tanya Yahya menghampiri Layla dan Raafi. Suasana menegang. Gibran pun ikut serta bergabung bersama mereka.
“Anda… Ada masalah apa dengan istriku?” Ulang Yahya penuh penekanan.
“Is… Istri?” Lirih Raafi ternganga. Ia masih mencerna perkataan Yahya tentang status Layla.
Mereka... Menikah?
“Mas, laki-laki kurang ajar ini menggodaku!” Tuding Layla cepat.
“A.. Aku…” Raafi tampak kebingungan.
“Kau, sebaiknya kau pergi dari hadapan kami sebelum suamiku menghajarmu!” Lanjut Layla berlindung ke dekat Yahya. Ia memegang erat lengan pemuda dengan postur tubuh tinggi tegap itu. Gibran menatap Raafi meminta penjelasan sebab wajah Yahya juga sudah tidak bisa dikondisikan.
“Maaf, i…ini hanya salah paham. Sepertinya saya salah orang. Saya pikir nona ini adalah kekasih saya. Untuk sesaat saya gelap mata. Saya mohon agar Mr. Yahya tidak mempermasalahkannya!” Ucap Raafi menunduk.
“Tidak bisa sayang! Kau harus menghajarnya. Dia benar-benar sudah kurang ajar!” Perkataan Layla membuat Raafi menatapnya. Tampaknya wanita tersebut tidak ingin membuat semuanya menjadi mudah.
Untuk sesaat Raafi menatap wajah Layla lekat-lekat. Bulu mata lentik dan lebat. Manik coklat yang hampir menyerupai warna hazel. Hidung mancung bangir, bibir dengan proporsi pas.
Raafi tidak bisa melupakan itu semua. Ia tidak bisa melupakan kejadian malam itu. Raafi bisa mengingat dengan detail apa yang sudah mereka lalui. Ia tidak mabuk. Ia sangat sadar dengan apa yang terjadi. Raafi sangat yakin bahwa ia tidak salah orang. Yang dihadapannya saat ini memanglah ‘Layla’ yang ia cari.
“Hmh…” Akhirnya Yahya berdehem dengan menghela nafas.
“Saya harap, kedepannya anda bisa lebih teliti! Saya tidak tau tentang kekasih anda dan tidak mau tau tentang kehidupan anda. Tapi yang jelas... Layla adalah istri saya. Dan istri saya ini tengah mengandung. Jadi maaf jika emosinya jadi sedikit tidak stabil….”
“….” Layla tercengang. Perkataan Yahya di luar dugaannya.
“Inpeksi pabrik akan kita lanjutkan di lain waktu!” Yahya merangkul Layla untuk ikut besertanya. Raafi menatap punggung Layla yang menjauh. Sendu.
Puk
Gibran menepuk pundak nya. Gibran menggeleng-geleng kecewa.
“Ma’af!”
“Kau sudah gila! Kita hampir kehilangan proyek puluhan Milyar!”
“Aku tidak tau dia istri dari Presdir, maaf kecerobohan ku sangat mengganggu”
“Sebenar nya ini bukan hanya soalan puluhan milyar, lebih dari itu.. Waktu, integritas kita! Semua jadi kacau balau! Kita jauh jauh ke sini bukan tanpa alasan!”
“Aku benar-benar minta maaf”
Gibran mengacak-acak rambutnya. Kesal.
“Huft. Sudahlah. Ayo kembali!” Ucap Gibran pada akhirnya. Tidak ada yang bisa dilakukan. Marah juga percuma.
“Aku ke toilet sebentar”
Raafi dengan cepat berlari ke toilet lalu kemudian memperlambat langkahnya. Toilet bukanlah hal utama. Raafi hanya ingin sedikit menenangkan diri. Membasahi kepalanya dengan air. Raafi ingin sedikit mengembalikan energinya yang sudah terkuras saat bertemu Layla.
Layla? Ya. Layla. Langkah Raafi terhenti. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ia melihat Layla tengah berjalan di hadapannya. Wanita tersebut sepertinya juga ingin masuk ke toilet.
“Nona… Tunggu!”
“Kau lagi?! Oh Tuhan..." Layla memijat pelipisnya.
"Apa kau tidak takut kalau aku akan berteriak di sini?!”
“Sebentar, aku hanya ingin mengatakan bahwa mendengar kau telah bersuami aku merasa lega. Rasanya tidak ada yang perlu kukhawatirkan!”
“Itu bukan urusanmu! Aku juga bukan kekasihmu! Kau hanya orang asing yang tidak tau malu! ” Ketus Layla.
“Tapi aku tidak mungkin salah orang. Kau memang Layla yang mabuk dan menggodaku malam itu!”
Plaaakkk
Layla kembali menampar Raafi.
“Kau tidak punya etika dan sopan santun!!”
Streeett
__ADS_1
Hhpmmpt hmmphtt
Raafi menarik Layla ke bagian dalam toilet yang kosong. Ia membekap mulut wanita tersebut dengan tangannya.
“Sedikit tenanglah! Jika suamimu tau apa yang pernah kita lakukan, aku tidak yakin jika dia masih mau menerimamu!”
Layla menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku sudah katakan bahwa aku sudah tenang karena kau telah bersuami! Niat ku baik, aku hanya ingin bertanggung jawab. Tapi ternyata, kau memiliki pilihan mu sendiri. Aku tak mengapa! Sejak awal kejadian malam itu memang di luar perencanaan!”
Hmmmhpppttt hmppptttt
“Tapi ada hal yang menggangguku! Kau sedang hamil? Di lihat dari kondisi perutmu….” Raafi memicingkan matanya.
“… Anak siapa yang kau kandung?!”
Mata mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Tubuh Layla bergetar. Urat-urat kasar menghias mata merahnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Raafi yang bersahut sambut di pipinya. Ternyata analisa kilat Raafi lumayan tajam.
Hmmhppff Hmmppff
Layla mencoba melepaskan diri. Raafi semakin kuat mengikatnya.
“Apa anak yang kau kandung adalah anakku?!” Todong Raafi. Layla mencoba menggeleng.
“….”
“Layla, Layla….!” Dari luar, suara Yahya terdengar.
“Laylaa… apa kau di dalam? Mengapa lama sekali?!”
Layla berhenti bergerak. Ia dan Raafi kembali menatap karena terkejut.
“Kau temui suamimu! Tapi ingat! kau harus memberikan aku bukti bahwa anak di kandunganmu itu anakku atau bukan! Kalau tidak aku akan membeberkan pada suamimu apa yang sudah kita lakukan” Bisik Raafi mengancam. Ia melepaskan pegangannya pada Layla. Wanita tersebut segera keluar dari toilet dengan kondisi terbatuk-batuk.
Raafi memegang ulu hatinya. Jantungnya sedari tadi tidak aman. Ini pertama kalinya ia melakukan hal senekat ini. Karena cinta atau atas nama kebenaran. Entahlah! Tapi Raafi seperti tak rela, Layla telah menemukan seseorang yang bertanggungjawab penuh atas dirinya. Raafi bisa saja langsung mensudahi semua dan hidup dengan membuka lembaran baru. Tapi rasa penasaran terhadap anak yang Layla kandung teryata kelak bisa membawanya ke pusaran yang sama sekali tak terduga.
***
“Mas! Mengapa mas tidak menghajarnya?!” Protes Layla ketika hanya ada mereka berdua di kamar hotel. Yahya melonggarkan dasi dan melempar asal jas nya ke tempat tidur. Semua jadwal yang telah tersusun rapi buyar. Mood Yahya memburuk. Sekarang ia tidak ingin melakukan apapun.
“Dia tidak menyentuhmu! Jadi kenapa aku harus menghajarnya? Lagipula, dia hanya salah orang! Aku rasa ini hanya sebatas salah paham!” Sahut Yahya enteng. Layla terdiam. Ia mulai melangkah mendekati Yahya dan memeluknya.
“Aku pikir mas akan cemburu! Maaf jika reaksiku berlebihan!” Lirih Layla.
Dia tengah hamil… Dia butuh kasih sayang dan perhatian... Gumam Yahya. Ia mulai menata mood dan membalas pelukan Layla.
“Mas…”
“Hmh?”
“Aku gerah… Aku mandi dan ganti baju dulu”
Yahya mengangguk. Ia melonggarkan pelukannya.
“Mas…”
“Ya…”
“Akhir-akhir ini mulai kesulitan menggosok punggungku. Apa mas bisa membantu?”
“Menggosok pung.. gung?”
“Ya. Apa mas keberatan? Kalau keberatan, tidak apa. Aku akan berusaha sendiri”
“Hmh.. Biarkan aku membantumu! Kau mandi saja, aku akan masuk menyusul” Sahut Yahya dengan mengusap leher bagian belakangnya. Layla langsung sumringah. Ia dengan cepat berlalu.
Yahya mengganti pakaian formalnya dengan piyama handuk. Ia memperlambat gerakan lalu kemudian berjalan mendekati kamar mandi.
Tok Tok Tok
“Layla….”
Tok Tok Tok
__ADS_1
“Mas, silahkan masuk saja! Pintunya tidak di kunci!” Sahut Layla setengah berteriak. Suara nya menggema memenuhi ruangan.
Driiiit
Deritan pintu terdengar. Yahya melihat Layla sudah di bath-up yang dipenuhi busa. Pemuda tersebut terpaku.
“Mas… Sini…” Panggil Layla dengan suara yang lembut sekali.
“I… Iya…” Jawab Yahya gugup. Tidak seperti biasa, entah mengapa ia merasa sangat canggung. Ia melangkah mendekat. Di samping bath-up Yahya kembali terpaku. Ia bingung bagaimana harus menggosok punggung Layla.
“Mas, kenapa diam saja? Lepaskan pakaian mas… Ayo masuk ke sini!” Ajak Layla.
Yahya meraba saku celana mengeluarkan handphone dan meletakkannya di dekat mereka. Tak sabar, Layla langsung meraih tangan Yahya.
Sreettt
Kecipakkk
Byuurrrr
Tak disangka, Layla terpeleset. Ia memegang kuat tangan suaminya tersebut hingga akhirnya Yahya harus ikut tergelincir di dalam bath-up. Beruntung, Layla jatuh menimpanya.
“Kandunganmu,,, apa baik-baik saja?!” Tanya Yahya langsung duduk. Ia yang cemas bercampur khawatir langsung memeriksa perut Layla.
"Iya,, aku baik-baik saja! "
Yahya mendudukkan Layla dan mengatur posisinya. Hampir saja wanita muda tersebut menarik tangan Yahya untuk memeluknya dari belakang. Namun suara handphone Yahya membuyarkan konsentrasi mereka.
Suara yang sangat mengganggu, Yahya terpaksa melihat siapa yang menelepon.
Rusdi?
Tit
Yahya langsung mematikan handphone nya.
"Kenapa dimatikan mas?"
"Tidak terlalu penting"
Yahya bangkit dari bath-up dan mulai membuka piyama nya yang basah. Namun suara handphone nya kembali terdengar.
"Oh Rusdi! Aku akan memarahinya! Dia sangat tidak tau waktu!! " Kesal Yahya mengambil handphone dan mengangkat nya.
"Rusdiiii! Jam berapa ini?! Bukan kah di sana sudah tengah malam?! "
"Assalamu'alaikum Nak..! " Suara lembut terdengar. Yahya terkejut, ia melihat layar handphone. Kali ini ternyata abah menelpon.
"A... Abah... "
"Nak, pulanglah ke Jakarta! Iqlima ditangkap polisi! " Suara abah terdengar bagai halilintar yang menyambar.
"Yahya... Yahya akan pulang secepatnya, bah! "
Tit Tit Tit
Haji Zakaria langsung menutup panggilannya. Yahya mengambil handuk dan bersiap keluar.
"Mas, mas mau kemana?! "
"Aku mau menelpon Rusdi untuk mengatur kepulangan kita ke Jakarta besok! "
"Lho, kenapa begitu mas? Kita mau ke kota lainnya kan?! Lagipula mas belum siap mandi, mengapa buru-buru sekali?! " Protes Layla.
"Iqlima di kantor polisi, aku harus melihat keadaannya! "
"Iqlima yang di penjara? Lalu dia yang di penjara kenapa mas yang repot?! Itu masalahnya sendiri! Kita bisa melihat nya sesuai jadwal sepulang dari sini! Lagipula Iqlima kenapa bisa ditangkap?! Dia pasti melakukan tindakan kriminal! Dia benar-benar wanita terkutuk yang memalukan! " Beber Layla tajam.
"Tutup mulutmu!! Kau jangan sembarangan berbicara!! Aku tau persis bagaimana Iqlima!! Pasti ada kesalahpahaman mengapa dia bisa tertangkap! Dan kau.... Jangan kau pikir aku sudah melupakan tentang kau dan Nilam yang bersekongkol bersama! Aku akan tetap memperkarakannya! " Ketus Yahya langsung keluar dari kamar mandi.
Aaaarrrghhhh!! Layla memukul air di dalam bath-up. Kesal.
Awas saja! Jika mas Yahya tau apa kasus yang menimpa Iqlima, apa mas Yahya masih akan tetap membelanya?! Kita lihat saja!! Geram Layla mengepalkan tangannya erat-erat.
__ADS_1
...----------------...