Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 47: Romansa Picisan


__ADS_3

Tuk Tuk Tuk


“Hukuman Iqlima resmi diberlakukan!” Ustadzah Ayuni menutup persidangan.


“Alhamdulillah ya Rabb” Gumam Ayi sumringah. Peserta yang hadir mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan ruangan.


“Tunggu. Jangan bubar dulu!” Titah ustadzah Ayuni tiba-tiba. Orang-orang yang sudah hampir mencapai pintu kembali mengambil tempat. Mereka berbisik-bisik apa lagi yang akan disampaikan oleh ustadzah senior tersebut.


“Begini akhawat fillah. Tadi itu, aku baru menutup hasil putusan sidang untuk ukhti Iqlima. Dan Aku belum menyampaikan putusan sidang untuk ustadzah Ayi!”


Deg. Ada apa lagi ini?


“Untuk beberapa hari terakhir, ustadzah Ayi ditugaskan mengasuh asrama barat. Tapi sayang, beliau gagal menciptakan ketentraman. Di sini aku membahas masalah kebijakkan. Menurut pengakuan ustadzah Ayi sendiri, perkara parfumlah yang menjadi awal masalah pertengkaran memalukan yang terjadi di pemandian umum hingga disaksikan langsung oleh Ummi hajjah dan Gus Yahya yang terhormat. Aku sungguh malu. Ini benar-benar memalukan!” Ucap Ustadzah Ayuni kecewa.


“Sebagai ustadzah pengasuh, seharusnya ustadzah Ayi tidak bertindak gegabah! Jujur saja, malam itu aku melihat es batu di ember. Mana mungkin Iqlima tau mengambilnya jika bukan ustadzah Ayi yang meminta agar es batu didatangkan dari dapur!” Ayi berubah pucat.


“Iqlima itu santriwati baru. Jika memang ia nakal, sudah seharusnya kau mengarahkan agar menjadi baik bukan malah diarahkan untuk jadi pembangkang!” Lanjut ustadzah Ayuni.


“Sudahlah, aku tidak ingin mempanjang kasus. Dengan ini aku memutuskan bahwa ustadzah Ayi dijatuhi hukuman menyalin 5000 hadits dari kitab shahih milik Muttafaq ‘Alaih. Tulislah dalam bahasa Arab, latin serta terjemahannya. Kemudian di copy dan bagikan ke semua santriwati yang ada di pondok pesantren ini. Semua harus di salin dengan tangan! Kau kuberi waktu seminggu untuk menyelesaikannya!” Ayi terkejut, sontak ia berlutut.


“Ustadzah, ini sangat berat. Sebentar lagi aku akan mengikuti ujian! Tolong ringankan-lah hukumannya!” Pinta Ayi mengatupkan kedua telapak tangannya.


“Baik. Kau boleh memilih, ikut berdiri bersama Iqlima memakai kerudung merah atau menyalin hadits!” Tegas ustadzah Ayuni. Ayi bungkam.


“Ustadzah Ayi, berikanlah tauladan yang baik untuk para santri. Walau sekarang statusmu hanyalah seorang ustadzah pengasuh, namun kau calon Musyrifah, kader-kader sepertimu adalah ujung tombak! Semoga kau bisa mengambil hikmah dari hukuman yang aku berikan!” Tutup ustadzah Ayuni. Beliau berlalu meninggalkan ruangan bersama ustadzah senior lainnya.


Iqlimaaa!! Ayi mengepalkan tangannya. Kesal.


Para petugas langsung menggiring Iqlima menuju ruangan khusus untuk mengambil kerudung merah. Tengah hari dengan sengatan matahari yang terik adalah waktu yang tepat untuk dijemur.


Sreg Sreg Sreg


Iqlima menunduk saat di seret paksa menuju panggung. Air mulai menggenangi pelupuk matanya. Seluruh santri. Tidak hanya para santriwati, namun juga para santriwan ikut heboh mendengar berita tentang hukuman si kerudung merah setelah berbulan-bulan pesantren sudah aman dan tentram.


Bagai perhelatan akbar, mereka berduyun-duyun menyaksikan dari lantai dua, tiga hingga lantai lima.


Huuuu Huuuuu Huuuu


Gaung sorak sorai memenuhi bentala Bustanul Jannah.


“Istighfar!!!!” Teriakan seorang santriwan menggema.

__ADS_1


“Astaghfirullaaah!!!” Kalimat-kalimat suci mulai terdengar ricuh. Sebagian dari mereka saling berbisik-bisik.


Cantik tapi pembuat onar!


Edan!


Dada Iqlima bergemuruh menahan tangis. Ia yang hampir menangis sudah tidak bisa lagi menangis.


Apa dosaku sudah sebesar itu hingga diperlakukan begini? Dimana letak keadilan itu? Iqlima menunduk menggigit bibirnya yang terasa kelu.


***


Yahya baru saja diturunkan oleh supir pribadi keluarga Arya ketika Asih datang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.


“Ada apa mbak Asih? Tarik hembuskan nafas nya dulu dengan benar!” Titah Yahya yang melihat Asih tersengal-sengal menghampirinya.


“Maaf Gus, tadi saya ke pesantren nganter obat-obatan untuk para ustadzah!”


“Lalu?” Yahya melihat tangan Asih bergetar.


“Nona Iqlima…”


“Iqlima?! Iqlima kenapa?!”


“Apa?!!!” Yahya terkejut bukan kepalang. Tanpa permisi ia langsung melesat ke lapangan pesantren.


“Gus, tapi wajah Gus….” Asih heran melihat luka memar di wajah Yahya. Namun pemuda tersebut telah melesat jauh.


Hampir saja amarah Yahya meledak ketika diam-diam melihat keberadaan Iqlima yang tampak begitu menyedihkan. Iqlima menahan rasa malu dengan peluh yang memenuhi keningnya. Gadis tersebut memejamkan mata mendengar teriakkan serta suara sumbang yang mengarah pada nya.


Bagai terkoneksi, dari atas panggung tinggi tiba-tiba mata Iqlima membuka. Ia bisa melihat keberadaan Yahya di sana. Yahya hadir melihatnya. Baru saja bibir gadis ini membentuk senyuman yang sempurna. Namun sayang, Yahya secepat kilat menjauh dari lapangan. Senyum yang sempat hadir lenyap seketika. Kali ini Iqlima benar-benar menangis.


Apa yang aku harapkan sih? Bang Yahya pasti marah besar karena aku telah mengecewakan dengan di hukum begini. lagi-lagi Iqlima menunduk sedih.


Ceklek.


Yahya masuk ke ruang kerja hajjah Aisyah tanpa mengetuk.


"Ummi... Yahya ingin mengumumkan pernikahan Yahya dan Iqlima sekarang! " Ucap Yahya ketika mendapati Hajjah Aisyah yang tengah berkonsentrasi terhadap lembar-lembar dokumen.


"Apa pernikahan sudah mempengaruhi sopan santunmu? Apa kau sudah menghapus ucapan salam dari kamus hidupmu?" Sindir Hajjah Aisyah yang masih terus fokus pada apa yang beliau geluti.

__ADS_1


"Mi, Ummi pasti sudah tau bahwa Iqlima di hukum, kan?" Todong Yahya tanpa mempedulikan sindiran ibunya.


Hhhhhh Hajjah Aisyah melepas kacamata beliau sambil menghela nafas.


"Mi, Yahya tidak bisa menutupi pernikahan ini lagi! Istri Yahya diperlakukan dengan semena-mena! Yahya akan ke pesantren dan membawa Iqlima ke rumah ini!" Yahya berbalik arah.


"Yahya, tunggu!! " Hajjah Aisyah bangkit dari duduknya.


"Tidak mungkin Iqlima dihukum jika dia tidak melakukan kesalahan! Pembuat onar memang harus dihukum! Biarkan dia mendapatkan hukumannya. Hanya 8 jam, dia hanya berdiri 8 jam saja!" Yahya menggeleng tidak percaya atas tanggapan ibunya.


"Wa... Wajahmu kenapa?! " Hajjah Aisyah yang baru benar-benar menatap wajah Yahya sontak panik.


"Akibat bermain boxing, Mi!" Ucap Yahya tidak berbohong.


"Apa?! Sampai sebegitu parahnya?!"


"Sudahlah Mi, ini hanya luka ringan. Dan ini semua tidak lebih penting dari permasalahan yang menyangkut Iqlima! "


"Hhhh Dengar, kita sudah sepakat menutupi pernikahan ini sampai konferensi pers minggu depan! Kau sendiri sudah setuju menutupi pernikahan ini dari publik untuk sementara waktu demi kemaslahatan semua pihak! Jangan kau jilat ludah mu sendiri hanya karena sebuah hukuman sepele. Kau bisa menghancurkan banyak hal karena emosi tidak stabil mu itu! Jangan goyah, Nak! " Tukas Hajjah Aisyah. Yahya memejamkan matanya erat-erat. Yahya jengah.


"Kalau begitu, saat ini hanya Ummi sajalah yang bisa menyelamatkan Iqlima! Titah kan pada mereka untuk menghentikan hukumannya! Aku akan menyelidiki masalah ini dan kemudian akan membersihkan namanya! Aku yakin istriku tidak bersalah! " Ucap Yahya. Ia telah berusaha sekuat mungkin untuk meredam emosi yang sudah mau meledak.


"Kau pikir Ummi akan turun tangan untuk urusan sepele begini? Sudah lah Yahya! Jangan membuat masalah! Kau jangan ikut membuat onar! Masih banyak hal yang harus Ummi kerjakan daripada mengurusi romansa picisan mu itu! " Ketus Hajjah Aisyah.


Truuug.


Hajjah Aisyah terenyak melihat Yahya berlutut. Ini sudah kedua kalinya sang putra bersimpuh hanya untuk seorang wanita bernama Iqlima.


"Yahya mohon, Mi! Ummi boleh meminta apapun dari Yahya asal Ummi bersedia membebaskan Iqlima dan membersihkan nama baiknya! " Pinta Yahya tidak menyerah. Hajjah Aisyah ternganga.


"Yahya! Kau....!!! "


"Baik. Baik kalau itu mau mu!! Kalau begitu gantikan Ummi ke Korea Selatan mewakili perusahaan menangani proyek yang ada di sana selama seminggu! Minggu depan kau sudah harus berangkat!" Hajjah Aisyah tidak kalah jengah. Semakin lama Yahya semakin sulit untuk dikendalikan.


"Aku akan membawa serta Iqlima bersamaku! " Sahut Yahya cepat.


"Hanya kau dan dua asisten-mu saja yang berangkat. Ini perjalanan bisnis, bukan untuk bersenang-senang! Biarkan Iqlima tinggal di pesantren menuntut Ilmu agar bisa meredam sikap liarnya! " Cebik Hajjah Aisyah menohok.


Se... Seminggu ke Korea Selatan? Tanpa wanita itu? Yahya memijat pelipis sebelum akhirnya mengangguk.


Semudah ini kau berkorban untuk hal sepele, Nak? Hmh... Untuk kedepan wanita itu bisa kugunakan untuk meluluhkan hati putraku. Hajjah Aisyah tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Aku harus segera bertemu Iqlima! Gumam Yahya memikirkan rencana.


***


__ADS_2