Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 99: Pewaris Keluarga


__ADS_3

"Apa mi?! Layla ha...hamil? " Yahya benar-benar terkejut mendengar penuturan Hajjah Aisyah. Terlebih Iqlima. Ia yang baru saja mendengar pengakuan Yahya serasa kesulitan menapak.


Layla hamil? Iqlima menggigit bibir bawahnya.


"Selamat Gus!!"


"Selamat Nak! "


"Selamat!! Kau akan menjadi ayah! Kau sangat beruntung!" Para asisten dan kerabat mengucapkan selamat dengan wajah cerah berbinar. Iqlima serasa ingin lenyap saja dari hadapan mereka.


"Kau hebat nak! Layla juga hebat... Ummi sangat bahagia! Ummi bangga padamu! Temuilah Layla... Jangan biarkan kehamilannya terganggu! Dia benar-benar memenuhi harapan semua orang! Dia benar-benar menantu idaman! " Ucap Hajjah Aisyah mendorong Yahya untuk masuk ke dalam kamar menemui Layla. Pemuda tersebut menyempatkan diri melirik Iqlima yang berdiri sendiri. Mematung dan terabaikan. Para asisten ikut memilih bubar berpencar melanjutkan tugas mereka.


"Ya Rabb... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tampan atau cantiknya putra atau putri dari Gus Yahya! Sudah dipastikan ini bibit unggul! MasyaAllah Tabaarakallah! " Celoteh salah satu dari mereka dengan nada khas setelah Yahya berhasil di giring ke kamar. Iqlima mendengarnya dengan tubuh membeku.


"Tentu! Sudah pasti ini bibit unggul... Mereka baru saja menikah tapi begitu cepat diberikan amanah! Entah amalan apa yang ning Layla kerjakan sehingga begitu di cintai! Beliau memang wanita di berkahi, bukan wanita terkutuk! " Ucapan dari para kerabat terasa semakin menohok. Mereka berkata sambil melirik sinis ke arah Iqlima. Iqlima benar-benar kesulitan bergerak walau hanya sekedar ingin melangkahkan kaki.


"Hmh....!" Kerabat lainnya berdehem.


"Nak, sebaiknya bergegaslah ke pesantren! Seharusnya jadwalmu ke sana tadi pagi kan? Maka bergegaslah jika tidak ingin mendapat masalah! " Lanjutnya lagi. Iqlima semakin terdiam. Hatinya serasa diremas-remas. Dengan memaksakan diri dan tanpa memandang para kerabat serta asisten rumah, Iqlima berbalik arah berjalan menjauhi mereka.


"Astaghfirullah... Dasar tidak tau sopan santun! Sudah tidak bisa memberikan keturunan, bukan istri sah malah belagu! Huh! " Cerca kerabat dekat berusia muda menggeleng kan kepala. Mereka merasa Iqlima tidak menghargai semua orang yang berada di sana. Bahkan dari awal mereka memandang Iqlima sebagai perusak kebahagiaan.


"Huss! Sudah! Jangan ikut campur! Do'akan saja yang baik-baik untuk keluarga Gus! " Salah seorang lainnya yang lebih tua mengingatkan. Yang lain hanya bisa tersenyum sinis. Mereka pun ikut bubar setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.


Ya Allah... Mengapa aku belum juga bisa memberikan bang Yahya keturunan? Apa sebenarnya aku adalah wanita terkutuk? Apa selama hidup aku tidak akan pernah bahagia? Mata Iqlima berkaca-kaca. Ia meremas kuat ujung blousenya. Kata-kata kerabat dekat terngiang-ngiang di telinga. Iqlima menepi ke dekat tembok teras dan bersandar di sana. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing. Akhir-akhir ini ia memang kesulitan menelan makanan hingga kerap mengalami anemia berat.


Tap Tap Tap


"Nona, apa nona baik-baik saja? Mengapa Nona berada di sini? Wajah nona juga pucat!" Terlihat Sri datang menghampiri.


"Aku baik-baik saja. Aku... Aku akan ke pesantren sekarang! " Sahut Iqlima mencoba tersenyum. Canggung.


"Apa nona mau saya antarkan? " Tawar Sri lagi.


"Tidak usah mbak, Terima kasih! Mbak Sri buru-buru mau kemana? "


"Saya... Hmh... Sss...Saya dititahkan untuk ke kamar nona La.. Layla" Sahut Sri gugup. Ia melihat jelas perubahan raut wajah Iqlima.


"Oh... Baiklah kalau begitu" Iqlima masih tetap berusaha untuk tersenyum.


"Saya... Saya permisi nona..." Sahut Sri merasa serba salah. Iqlima mengangguk dan menatap kepergian Sri dengan wajah sendu. Untuk sesaat Iqlima terdiam. Entah mengapa langkah kaki menuntunnya mengikuti jejak Sri.


Tok Tok Tok


Sri mengetuk pintu kamar.


...****************...


Yahya mendapati Layla tengah terbaring. Seorang dokter muda berada disamping tengah memeriksanya. Dengan perasaan ragu pemuda tersebut berjalan mendekat.


"Selamat Gus Yahya, nona Layla positif hamil! " Ucap dokter Miranda sumringah. Layla menatap Yahya dengan wajah pucat. Ia sangat berharap suaminya mau menerima anak yang berada dalam kandungannya tersebut.


Hajjah Aisyah mengangguk-angguk puas. Cita-cita mendapatkan penerus dari rahim Layla tercapai sudah. Untuk sejenak Yahya menatap wajah Layla lekat-lekat. Yahya bergeming. Ia sedikit mengerutkan kening tampak berpikir. Wajah Layla bertambah pucat. Perlahan Yahya mengulurkan tangan.

__ADS_1


Gawat! Mas Yahya akan menamparku! Bagaimana ini? Mata Layla seketika menutup. Tangannya terkepal ketakutan. Layla bergetar.


Set.


Di luar dugaan. Yahya malah menyeka keringat yang mengucur di kening Layla. Lalu kemudian,


"Terima kasih... Terima kasih, Layla! Kau telah mengandung anakku! " Ucap Yahya menggenggam tangannya lalu beralih mengusap lengan polos nya. Wanita yang terbaring tersebut menghela nafas lega. Wajah tegangnya berubah sumringah.


"Semoga buah hati kita selalu berada dalam penjagaan Allah, mas! " Ucap Layla menangis. Seluruh orang yang berada di dalam kamar menganggap airmata ketakutan tersebut sebagai airmata haru. Yahya mengangguk dan dengan sigap menyeka air yang mengalir dari mata Layla.


"Cucuku tersayang... Betapa beruntung nya engkau! InsyaAllah Cicit ku akan membawa kebahagiaan yang bertambah dalam keluarga besar kita! " Ucap Hajjah Maharani yang sejak awal berada di kamar Layla ikut haru.


"Bagaimana kondisi istri saya, dok? "


"Alhamdulillah semuanya sehat! Namun kondisi janinnya sedikit lemah. Jadi nona Layla harus banyak beristirahat dan sama sekali tidak boleh stress! Tidak boleh banyak pikiran. Jadi Gus Yahya harus ekstra menjaga nona Layla dan janin yang dikandung! " Terang dokter Miranda.


"Kalau masalah kondisi dan teknis penjabaran lebih lanjut, besok nona Layla harus di antarkan ke klinik untuk di USG!" Lanjut dokter Miranda lagi.


"Kau mendengar nya kan nak? Mulai sekarang kau harus lebih perhatian pada nak Layla. Harus ekstra membersamainya! Kalau perlu cuti dari kantor dan pesantren untuk sementara waktu apalagi trimester pertama kehamilan istrimu ini begitu rentan! " Sambar Hajjah Aisyah.


Di sisi lain. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Iqlima yang sejak tadi mengikuti jejak langkah Sri ternyata memperhatikan keadaan di dalam kamar dengan saksama.


Pertahanannya langsung runtuh seketika. Dengan bersandar ke tembok dan tubuh yang bergetar hebat, Iqlima menggigit jarinya sekuat tenaga untuk menyembunyikan suara tangis yang meledak. Airmatanya terus berlinang-linang. Iqlima sesegukan dalam diam.


Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa perhatian dan kasih sayang Yahya terhadap Layla merupakan sebuah kewajaran dan kewajiban. Apalagi kini ditambah Layla mengandung buah cinta mereka. Namun sayangnya, Iqlima gagal mengatasi problema hatinya yang tetap saja merasa sakit.


Kenyataan bahwa benih Yahya berada di rahim Layla setelah pengakuan manis bahwa suami nya tidak pernah menyentuh wanita lain terasa begitu menyesakkan. Iqlima merasa terkhianati. Tak tahan, ia berlari menjauh dari kamar tersebut.


Saat aku tenggelam dalam pasir melihatmu terlepas,


Aku akan mati terkubur bersama perasaan, karena yang kulakukan hanyalah menangis melalui senyuman~ Bang Yahya... Mengapa? Iqlima terus melesat tanpa mempedulikan sekitar.


Nak Iqlima? Haji Zakaria yang baru pulang dari Universitas mengerutkan kening melihat heran menantunya berjalan cepat sambil menangis menutup mulut tanpa melihat ke kanan dan ke kiri. Beliau ingin menghampiri namun terlambat. Iqlima telah menjauh menuju Bustanul Jannah.


Ada apa ini? Haji Zakaria langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Beliau mendapati Hajjah Aisyah yang keluar dari pintu kamar Layla.


"Alhamdulillah abah sudah pulang! " Hajjah Aisyah berbinar.


"Apa yang terjadi, mi? " Selidik Haji Zakaria.


"Bah, kita akan menjadi kakek dan nenek! Alhamdulillah nak Layla hamil! Nak Layla hamiil! " Hajjah Aisyah langsung terpekik riang. Haji Zakaria terdiam. Beliau mengerutkan kening tanpa merespon apapun.


"Bah, Abah kenapa? Kenapa Abah tampak biasa saja? Bah, kita akan segera mempunyai cucu! Layla akan melahirkan pewaris di keluarga... ini semua sesuai dengan impian kita! " Lanjut Hajjah Aisyah lagi masih dengan ekspresi yang sama.


"Alhamdulillah, semoga Allah merahmati nak Layla! Tapi sebaiknya ummi atau penghuni lainnya di rumah ini bisa menjaga sikap! " Sahut haji Zakaria sambil berjalan menjauh dengan merenggangkan dasi. Beliau berjalan menuju kamar mereka.


"Menjaga sikap bagaimana bah? Ini kabar bahagia! Tidak ada yang perlu kita sembunyikan! Kabar bahagia adalah syi'ar! " Protes Hajjah Aisyah mengikuti Haji Zakaria ke kamar. Beliau bahkan lupa bahwa tujuan beliau keluar dari kamar Layla adalah untuk memperingati Iqlima agar tidak membuat masalah hingga nantinya menyebabkan kehamilan menantu kesayangan nya terganggu.


"Mi, benar kalau kehamilan nak Layla adalah kebahagiaan... Tapi kita jangan melupakan keberadaan nak Iqlima di sini! Jaga perasaan nya! " Sahut Haji Zakaria melepaskan kemeja hingga menyisakan kaos putih. Beliau hendak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu' .


"Tunggu sebentar bah! Mengapa kita harus menjaga perasaan Iqlima? Harusnya dia bahagia... Bahagia karena Yahya akan mendapatkan pewaris! Anak mereka juga anaknya! Sudah seharusnya sekarang Iqlima harus banyak mengalah untuk jangan memonopoli keberadaan Yahya dan menjaga perasaan Layla yang tengah sensitif! "


"Mi, Iqlima juga manusia yang memiliki perasaan! Selama bertahun-tahun ia menginginkan buah hati. Selama bertahun-tahun juga ia menahan desakan keluarga besar untuk memiliki anak hingga ia rela di madu! Sekarang, adik madunya lebih dulu diberikan kepercayaan... Ini memang bukan salah nak Layla, ini takdir dari Yang Maha Kuasa. Namun, coba ummi posisikan diri ummi di posisinya! Kita merayakan kebahagiaan dan rasa syukur di atas ketidakberdayaan nya! Bukannya merangkul, namun ummi dan kita semua meng-elukan yang satu dan menafikan yang lain! Ini sangat tidak adil! Mi, Iqlima hanya akan bahagia jika ia mengandung buah hatinya sendiri! Maka, hormati perasaan kedua mantu kita! " Titah Haji Zakaria.

__ADS_1


"Abah heran, seharusnya ummi yang merupakan seorang wanita bisa peka pada hal seperti ini! Apa ummi tidak ingat bagaimana bahagia nya ummi ketika mengandung anak pertama kita? Buah cinta kita? Alm. Kakaknya Yahya? Iqlima juga ingin merasakannya! Sebaiknya kita juga bisa menjaga perasaan nya dan mendoakan semoga Iqlima juga segera bisa diberikan amanah oleh Allah SWT! "


Deg.


Hajjah Aisyah terdiam. Beliau berhenti mengejar sang suami yang sudah terlanjur melangkah ke kamar mandi. Tiba-tiba wajah Hajjah Aisyah memucat. Bayang-bayang masa lalu datang menghampiri nya. Ingatan tentang bagaimana ia berpura-pura bahagia ketika mengalami kehamilan pertama.


Bagaimana ia tidak tega melihat raut bahagia Haji Zakaria mendengar kabar bahwa mereka akan memiliki seorang bayi laki-laki. Bagaimana ia luluh pada cinta Haji Zakaria yang begitu tulus. Semakin terpikirkan, semakin membuat Hajjah Aisyah mengeluarkan keringat dingin.


Tok Tok Tok


Hajjah Aisyah mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.


"Ada apa mi? Nanti kita diskusi lagi! Abah mau mandi dan berwudhu! " Sahut Haji Zakaria Tanpa membuka pintu.


"Bah, apa abah masih mencintai ummi? Abah tidak akan selingkuh kan? " Tanya Hajjah Aisyah ******* ***** kedua tangannya cemas.


Byuuurrr


Gemericik suara air terdengar. Sepertinya Haji Zakaria tidak mendengar pertanyaan absurd yang istrinya lontarkan. Hajjah Aisyah memijat pelipisnya. Beliau menarik hembuskan nafas menetralisir perasaan.


Gawat! Abah berada di pihak gadis itu! Walau Iqlima berada di pesantren, tapi kalau caranya begini, Abah bisa membuka ruang bagi Yahya dan Iqlima untuk bisa terus bersama. Aku harus bertindak cepat! Setelah bayang-bayang masa lalu berhasil sejenak dienyahkan. Hajjah Aisyah menjentik-jentikan jari jemarinya ke atas nakas.


...****************...


Byuuurrr


Byuuurrr


Yahya mengguyur kepalanya dengan air yang banyak. Membiarkan baju dan celana jeans nya basah.


Mengapa bisa begini? Yahya meremas rambutnya memikirkan kehamilan Layla dengan bersandar ke dinding.


Kapan aku menyentuhnya? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya! Layla berkata ramuan yang ku minum membuatku tergila-gila padanya dan noda darah malam itu membuktikan bahwa aku memang melakukannya!


Aaargh


Maaf kan aku Iqlima... Maafkan aku... Pada akhirnya, aku hanya bisa melukaimu... Layla pun akan terluka... Pada akhirnya ketidakmampuan ku hanya bisa membuat kalian menderita... Yahya memukul-mukul dinding merasa bersalah pada istri pertama nya tersebut. Perasaan bersalah yang teramat sangat.


Aku tidak ingin merasakan sentuhan lain selain sentuhanmu


Aku tidak ingin menjalani hubungan lain selain mu


Aku tidak ingin mengetahui ciuman lainnya


Aku tidak ingin tau cinta lainnya


Tidak ada nama wanita lain yang keluar dari bibirku selain namamu


Aku tidak ingin membagi hatiku dengan yang lain***


...****************...


(***I'Il never love again, Lady Gaga)

__ADS_1


__ADS_2