
"Aku hanya merasa heran, Kau sudah tau Yahya tidak mencintai mu... Yahya memiliki anak bersama Layla. Tapi kau masih saja bertahan dan menjadi benalu di hubungan mereka! Kau hanya menjadi bahan pelampiasan Yahya ketika ia butuh. Tidak lebih! Hanya sebagai pelepas dahaga ketika tubuhnya bergejolak! Sewaktu-waktu kau bisa di tendang kapan saja yang ia mau! Kau benar-benar tidak punya harga diri! Kau mengagungkan cinta dan kesetiaan! Tapi coba kau pikir, apa ini cinta yang kau agung2kan itu? Apa ini kesucian cinta? Bertahan untuk menyakiti banyak orang. Kau terlalu merepotkan dan tidak punya malu! " Cerca Hajjah Aisyah menusuk tajam.
"Aku tidak tau apa alasanmu untuk masih tetap bertahan di sini! Kau memang luar biasa! Kau bermuka tembok! " Lanjut Hajjah Aisyah. Kali ini perkataan beliau benar-benar membuat Iqlima sakit. Jauh lebih sakit dari tamparan Sri. Bahkan jauh melampaui itu semua.
Hajjah Aisyah berlalu setelah menyelesaikan perkataan menyakitkan nya.
"Sri, tunggu apalagi?! Mengapa kau masih di sana? " Panggil beliau mengejutkan Sri. Setelah menatap Iqlima dengan penuh rasa bersalah, gadis muda itu pun ikut berlalu meninggalkan Iqlima yang menunduk sedih dengan air mata yang mengalir.
Ceklek
"Kau memanggilku? " Tanya Yahya membuka pintu kamar Layla.
"Mas... Kakiku terasa sakit. Bayi kita juga membuat perutku sedikit keram" Adu Layla meringis.
"Hmh... Aku akan memijat kaki mu! "
"Mas darimana saja? "
"Aku dari kamar utama"
"Di kamar sendirian? " Yahya mengangguk.
"Sebelumnya? "
"Aku berbincang-bincang bersama Ummi dan Jiddah"
"Hanya itu saja? " Yahya kembali mengangguk.
"Mas tidak menemui Iqlima kan? " Selidik Layla. Yahya menghentikan pijatannya.
"Kenapa mas diam saja? "
"Aku menemui Iqlima atau tidak, itu bukan masalah. Walau status kita adalah suami istri, namun kita tetap memiliki privasi masing-masing! Ku harap kau mengerti batasanmu! " Tegas Yahya. Wajah Layla berubah kusut.
"Mas terlalu kasar pada ku.. " Layla menarik kakinya dari tangan Yahya.
"Sedang pada Iqlima.... mas memperlakukan nya bak Ratu..." Layla bersungut. Pemuda tersebut menghela nafas.
"Maaf... Aku hanya sedikit kelelahan! Aku akan kembali memijatmu, hm? "
"Kalau memang mau memijatku, lakukan dengan benar dan serius... " Layla mengambil cream yang berada di dekatnya. Ia juga menyingkirkan dress panjang yang menutupi kakinya. Kaki jenjang yang indah itu kini terekspos sempurna.
__ADS_1
"Pijat lah! " Titah Layla melihat Yahya yang terpaku.
"Tunggu apalagi?! "
Dengan perasaan ragu Yahya mulai mengoleskan cream ke kaki Layla.
"Mas... "
"Hmh..."
"Sedikit lebih ke atas!" Pinta Layla. Yahya membawa tangannya ke dekat lutut.
"Lebih ke atas! Di atas lutut! Di sini! " Tunjuk Layla lagi. Yahya mendongakkan kepalanya terkejut.
"Kenapa? Mas keberatan? Iya kan? Mas memang tidak mau menyentuhku! Mas merasa jijiik! Mas merasa aku seperti belatung!!!" Tukas Layla tak sabar. Ia benar-benar kesal. Layla menarik dirinya.
"Layla, Aku sedang tidak ingin mendiskusikan apapun! " Ucap Yahya tak kalah ketus. Ia yang sedang tidak baik-baik saja setelah menemui ibu dan neneknya hanya bisa berdiri sambil mendengus.
"Hiks hiks... Lalu mengapa mas menikahiku jika pada akhirnya mas hanya bisa menyakiti ku?! Sebagai istri, aku merasa terzhalimi! Hiks hiks..." Layla mengusap air matanya.
"Aku tau mas tidak menyukai ku... Aku tau berduaan seperti ini bersamaku hanyalah sebuah beban... Aku tau betapa mas sangat tersiksa dengan ini semua! " Lirih Layla dengan suara yang terdengar parau. Yahya terenyak.
"La... Layla... kau kenapa?! Layla...!! " Yahya menguncang tubuh istrinya. Panik. Layla terus merintih. Yahya memeluknya dengan erat.
"Sakit mas... Sakit sekali... " Rintih Layla.
"Sakit dimana?!" Yahya dengan cepat mengambil handphone. Ia menelpon para asisten untuk membantu nya membawa Layla ke rumah sakit.
"Ya Rabb... Bagaimana ini... Sayang... Bertahanlah... " Lirih Yahya mengacak-acak kasar rambut nya.
...****************...
Iqlima berjalan lesu di atas trotoar dengan menenteng sebuah tas jinjing. Ia mengusap peluh di wajahnya. Sepeninggal Hajjah Aisyah, Iqlima langsung membawa barang-barang seadanya meninggalkan Bustanul Jannah.
Iqlima menengadahkan wajahnya ke langit yang bersih tanpa awan. Walau langit hari ini sangat cerah, namun wajah sembabnya tidak bisa menutupi kekalutan dihatinya. Kata-kata Hajjah Aisyah terus saja terngiang di benak. Memenuhi setiap ruang yang ada. Kata-kata menyakitkan namun baginya memang sebuah kebenaran. Sebuah ketepatan yang sama sekali tidak bisa ia sanggah.
Untuk apa kau bertahan jika hanya menyakiti banyak orang? Kau memang tidak tau malu...
Apa ini kesucian cinta yang kau agung-agungkan?
Kau hanya menjadi bahan pelampiasan Yahya ketika ia butuh. Tidak lebih! Hanya sebagai pelepas dahaga ketika tubuhnya bergejolak!
__ADS_1
Iqlima tersenyum pahit sambil mengusap air matanya yang jatuh. Kepala Iqlima terasa sakit, mata nya berkunang-kunang. Dengan tertatih, ia kembali melanjutkan perjalanan. Untuk saat ini, Iqlima memang masih tidak memiliki arah dan tujuan. Namun yang ia tau, ia harus segera cepat-cepat menjauh dari kediaman Bustanul Jannah. Untuk terakhir kalinya Iqlima menoleh ke belakang.
Semoga bang Yahya bahagia bersamanya. Biarlah cinta yang bertepuk sebelah tangan ini kubawa bersamaku. Aku masih bisa menerima jika aku hanya menjadi bahan pelampiasan untuk suamiku sendiri. Namun kenyataan bahwa keberadaan ku telah menyakiti banyak orang, aku tidak bisa. Aku akan mengutuk hidupku jika aku masih saja tidak tau diri. Selamat tinggal bang Yahya dan semua kenangan....
Iqlima berbalik arah. Setelahnya Ia langsung berjalan cepat. Iqlima hanya membawa sebagian kecil saja dari barang-barang miliknya sebab banyak yang masih tertinggal di kamar utama. Hanya satu yang masih mengganggu pikirannya. Hal yang membuat Iqlima berpikir panjang sebelum benar-benar memutuskan untuk pergi, yaitu keberadaan diary-nya. Wanita tersebut lupa dimana meletakkan catatan pribadinya.
Sreeeettt
"Iqlima....! " Panggil seseorang menarik lengan Iqlima. Suara yang terdengar tidak asing. Iqlima terenyak melihat siapa yang memanggil nya.
"Maryaaaaam??!! " Pupil mata Iqlima melebar. Ia terkejut bukan kepalang.
"Aku sangat merindukan mu... Aku mencari mu kemana-mana... Aku mencarimu hingga ke pesantren Bustanul Jannah... Berkali-kali aku ke sana namun kata mereka kau tidak berada di sana... "
Ja... Jadi yang aku lihat di pesantren tempo lalu benar-benar Maryam? Iqlima mengerut kan keningnya.
"Mengapa kau di sini? Kau sedang apa di sini sendirian? " Tanya Maryam menggenggam erat tangan Iqlima.
"Aku benar-benar frustasi mencarimu... Hampir saja aku kembali ke Aceh, namun ternyata kita masih ditakdirkan untuk saling menyapa... Mengapa kau hanya diam? Mengapa kau tidak memelukkku? " Tanya Maryam merentangkan kedua tangannya.
...****************...
"Apa ummi yakin Iqlima melarikan diri?! Ummi tau darimana?" Tanya Ilyas panik melalui saluran telepon.
"Sudah. Kau jangan banyak bertanya! Cepat susul dia! Ummi sudah menyuruh pak Karim untuk mengikuti nya! Saat ini dia masih berada di seputaran Bustanul Jannah. Tunggu ketika posisinya sudah sedikit menjauh. Kau ajak dia bersamamu! " Titah Wirda yang merasa semua hasutannya pada Aisyah berjalan sempurna. Iqlima menelan mentah-mentah semua perkataan negatif tersebut.
"Baik mi... " Sahut Ilyas patuh walau dengan berbagai pertanyaan masih menyelimuti kepalanya. Ilyas masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Nak,, dengarkan ini baik-baik! Ini adalah kesempatanmu. Kesempatan emas yang mungkin tidak akan terulang. Bawa Iqlima pergi bersamamu... Dia telah meninggalkan Yahya. Dipastikan mereka akan bercerai! Nak, Ummi telah merestuimu bersamanya.. Tidak peduli apakah dia gadis atau janda, yang jelas... Dia wanita baik-baik... Dia putri dari keluarga kaya raya... Ingat! Ummi telah mengusahakan sejauh ini! Selanjutnya tergantung dari seni kecakapanmu dalam merebut hatinya! Kembali lah pada cinta pertamamu... "
"Ttt... Tapi mi.... "
Tiit Tiiit Tiiit...
"Mi... Ummi...." Hajjah Wirda memutuskan telepon secara sepihak.
Iqlima... Apa kau benar-benar telah meninggalkan Yahya?
Huh... Sudah kuduga! Si brengs*k itu... benar-benar bedeba*h!! Berani-beraninya dia menyia-nyiakan berlian seperti Iqlima lalu menggantikan nya dengan perak!!! Ilyas mengepalkan tangan sebelum benar-benar pergi melaksanakan misi barunya.
****
__ADS_1