Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 36: Iqlima Iqlima Iqlima... Oh Iqlima!


__ADS_3

Yahya ingin menemui Iqlima. Pemuda ini baru saja selesai berselancar di dunia maya menjelajah apa saja yang wanita butuhkan. Untuk sementara media google memang begitu bermanfaat baginya.


“Mbak Sri!” panggil Yahya ketika melihat Sri keluar dari kamarnya setelah mengantar Iqlima masuk kesana.


“Maaf Gus, apa ada yang bisa saya bantu?”


“Tolong sediakan makanan yang lezat untuk Iqlima! Kerahkan koki terbaik! Sediakan makanan dari daerah Aceh tapi makanan di daerah sini juga tetap disajikan! Nanti terserah Iqlima mau makan yang mana!” Titah Yahya.


“Baik Gus. Kalau begitu saya permisi!” Sri akan melangkah pergi.


“Tunggu… Hmh, Bawa kan Iqlima kari Aceh! Ya… Kari Aceh!” Yahya tersenyum mengingat apa yang terakhir kali Iqlima masak untuk mereka.


“Oh iya mbak Sri, belikan juga beberapa pasang baju tidur terbaik! Mbak Sri pasti mengerti memilihkannya, kan?”


Ba… Baju tidur? Berarti baju tidur untuk pengantin baru... Gumam Sri mengangguk-anggukkan kepala.


“Hmh, apalagi ya…” Yahya tampak berfikir.


“Belikan beberapa lilin aroma terapi persis seperti punya Ummi! Tapi pilihkan harum Chamomile dan Vanilla agar Iqlima lebih rileks. Sekalian tolong panggilkan juga mba-mba yang biasa memijat Ummi untuk memijat Iqlima! ” Yahya menjabarkan semua yang ingin ia lakukan untuk istrinya. Sri langsung mengambil handphone membuat list pada catatan apa yang Yahya titahkan agar tidak lupa.


“Ingat, diam-diam saja! Jangan sampai Ummi tau, juga katakan pada Iqlima ini adalah fasilitas dari rumah ini! Intinya jangan katakan pemberian dari-ku! Okay?” Sri pelahan mengangguk setuju. Ia langsung menuju ke tempat tujuan menjalankan tugasnya.


Kok aneh ya, kenapa nona Iqlima ga boleh tau? Gumam Sri berpikir.


***


Hilman mengeluarkan cermin dan sisir dari kantung celananya. Ia kembali menyisir rambut klimis yang sudah sedikit kusut ke belakang. Hilman telah berencana akan membuat Iqlima terpesona dengan tampilan barunya. Pria ini seolah melupakan kejadian di hutan Seulawah yang membuat Iqlima trauma beberapa bulan silam.


Untuk mengambil mutiara, Kamu harus menyelam. Tercebur hingga basah total ke dalamnya! Kata-kata Arya terngiang-ngiang di kepala Hilman. Filosofi ini-lah yang menguatkannya dalam mengejar Iqlima, sang Mutiara.


Tok Tok Tok


Hilman mengetuk pintu rumah Iqlima.


Semoga cut dek lôn sayang tidak kabur! Batin Hilman. Belajar dari pengalaman, kali ini ia berniat menjalankan strategi baru. Hilman tidak ingin berprilaku bar-bar seperti dulu.


Gadis miskin keras kepala yang tidak tau diri itu harus diberi rayuan dengan jurus terbaik. Hilman menunjukkan senyum menyeringai.


Ceklek.


Seorang wanita muda membuka pintu. Tampak kerutan di keningnya. Mungkin bingung.


“Halo kak, Nama Saya Teuku. Saya datang mau menemui Iqlima. Iqlima nya ada?” Tanya Hilman elegan. Ia mengajak wanita yang ada di hadapannya menjabat tangan. Sayang, wanita tersebut tidak menggubris uluran tangannya. Hilman telah menyembunyikan setangkai mawar merah segar di balik jasnya.


“Maaf, Di sini tidak ada yang bernama Iqlima!” Ucap Dokter Jelita waspada.


“Benarkah? Padahal saya adalah kerabat dekat Iqlima! Saya ingin mengunjungi sekaligus menyampaikan pesan dari keluarganya karena kami sudah lama tidak pernah bertemu!” Pancing Yahya.


Hmh... Pemuda ini terlalu banyak melakukan gerakan tubuh yang tidak perlu. Ia menghindari kontak mata, ekspresi wajahnya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Tubuh yang tiba-tiba mengeluarkan keringat. Fix dia berbohong! Dokter Jelita menganalisis.


“Maaf bang. Anda salah alamat!” Dokter Jelita langsung menutup pintu.

__ADS_1


“Tung…gu!” Hilman telat selangkah. Pintu terlanjur menutup.


Shiiiit. Siaal! Umpat Hilman. Ia menjauh dari kediaman Iqlima. Hilman mengambil gawainya menelpon pemburu informasi bayaran untuk melakukan complain.


“Wanita itu yang berbohong, Bos!”


“Benarkah? Apa kamu yakin itu kediaman Iqlima?”


“100 persen yakin. Saya sudah memeriksa kartu keluarganya di kantor desa setempat!” Hilman terdiam.


“Apa perlu Iqlima saya culik biar bos yakin?”


“Tutup mulutmu! Panggil dia NONA Iqlima! Dasar tidak sopan! ” Hardik Hilman garang.


“Ma… Maaf bos! I.. Iya. Maksud saya nona Iqlima!”


“Baiklah! Nanti malam aku sendiri yang akan menculiknya! Kerahkan beberapa orang untuk menemaniku!” Titah Hilman menutup panggilan sepihak.


Malam ini aku akan mendekapmu sayang…! Menjadikanmu milik ku seutuhnya! Hilman kembali tersenyum menyeringai.


***


“Ummi keterlaluan! Benar-benar keterlaluan!” Ucap Haji Zakaria ketika melihat Hajjah Aisyah memasuki kamar mereka.


“Apa salah Ummi, Bah?”


“Abah kecewa dengan kalimat yang Ummi lontarkan pada nak Iqlima!” Tukas Haji Zakaria.


“Salah nya dimana, Bah? Tidak ada yang salah dengan perkataan Ummi! Tadi itu Abah juga pasti kecewa kan? Jujur saja!” Haji Zakaria menggeleng.


“Bah…” Hajjah Aisyah berkaca-kaca.


“Apa karena Iqlima abah jadi berubah begini? Apa karena gadis kampung yang tidak jelas asal usul nya itu abah jadi membenci ummi?!” Hajjah Aisyah mulai menangis. Selama menikah, suaminya tidak pernah meninggikan suara.


“Ya Humaira, Ya Habibati… Suami mu hanya menyampaikan kebenaran! Kali ini kamu sudah keterlaluan... Di mata Allah SWT kita semua sama, sederajat! Yang membedakan apa? Hanya ketakwaan semata. Harta benda, kedudukan, hanyalah titipan. Allah memilih kita untuk mengemban Amanah atas harta yang sifatnya sementara. Kenapa kita harus sombong? Mungkin Ummi lupa tentang hal ini. Jadi abah ingatkan kembali!” Haji Zakaria melunakkan suaranya. Beliau mengelus punggung Hajjah Aisyah dengan penuh kasih sayang. Hajjah Aisyah bersungut.


“Dari penglihatan abah tadi, nak Iqlima itu gadis yang baik, sorotan matanya tampak teduh. Pakaiannya longgar dan sopan. nak Iqlima Menutup aurat dengan sempurna, Insya Allah shaliha!” Tambah Haji Zakaria. Wajah Hajjah Aisyah semakin kusut.


"Jangan tertipu oleh tampilan palsunya, Bah! Dia sudah menjebak anak kita! "


"Ini bukan sekedar penglihatan semata, Mi! Apa Ummi lupa kalau Abah seorang Psikolog Klinis?" Hajjah Aisyah bungkam. Beliau lupa. Selain Master of Bussiness Administration, suaminya juga seorang Psikolog.


"Sudahlah! Abah tidak ingin memperpanjang masalah ini. Mengikuti takdir Allah. Sebagaimana Yahya bahagia dengan pernikahan nya dan Abah ridha dengan gadis pilihannya. Abah harap Ummi mau melakukan hal yang sama!" Lanjut haji Zakaria menutup pembicaraan.


Hhhhh. Hajjah Aisyah mendengus sebal. Setelah mendapat teguran dari sang suami, beliau memilih menyendiri di ruang kerjanya. Baru pertemuan pertama Iqlima sudah menjadi ancaman.


Bagaimana tidak? Sang suami yang selalu berbicara lembut bisa-bisanya meninggikan suara hanya karena seorang gadis asing bernama Iqlima.


Iqlima Iqlima Iqlima… Oh Iqlima! Kepalaku mau pecah rasanya! Aku tidak akan ridha’ padanya! Titik! Hajjah Aisyah berbicara dengan batinnya sendiri.


Hmh... Iqlima berada di kamar Yahya, Ini bisa bahaya! Bagaimana kalau Yahya kelepasan dan benar-benar menyentuhnya! Atau jangan-jangan Yahya memang sudah menyentuhnya? Bagaimana kalau Iqlima benar-benar hamil? Hajjah Aisyah mondar mandir tidak karuan. Pikirannya kacau. Beliau berulang kali melirik sebotol ramuan di tangan. Ramuan penunda kehamilan yang di dapat dari orang yang sangat beliau sayangi. Kini Hajjah Aisyah benar-benar berada diantara hati Nurani atau mengikuti hawa nafsunya. Wanita cantik paruh baya ini berada dalam dilemma.

__ADS_1


***


Driiit


Suara deritan pintu terdengar pelan. Yahya masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Iqlima yang sudah tertidur pulas di lantai namun tubuhnya menopang pada sandaran tempat tidur. Wajahnya terlihat begitu Lelah. Yahya mendekat.


Gadis yang tumbuh alami. Gumam Yahya.


Hhhh Ia pasti sangat tertekan. Ini akan berat. Ke depan mungkin akan semakin berat. Semoga kau bisa bertahan! Kalau kau tidak bertahan, bagaimana aku bisa mempertahankanmu? Lirih hati Yahya.


Klik


Mata Iqlima tiba-tiba membuka.


“Bang Yahya?” Iqlima terkejut bukan kepalang. Terlihat Yahya bertinggung tepat di depannya.


“Bodoh! Kenapa tidur dibawah?!” Ketus Yahya.


“A... Aku...”


“Cepat naik lah ke atas tempat tidur! Jangan merepotkanku dengan menyuruhku memijat punggungmu karena kau masuk angin!” Lanjut Yahya masih dengan nada ketus. Ia bangkit. Acuh, lalu meninggalkan Iqlima dan masuk ke dalam kamar mandi.


Siapa juga yang akan menyuruh bang Yahya untuk memijat punggungku! Lebih baik aku menahan sakit dari pada harus mempermalukan diri sendiri. Huh. Gerutu Iqlima.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu kamar terdengar. Iqlima bergegas membukanya.


“Nona Iqlima, maaf saya mengganggu. Ini ada susu kambing segar buatan Ummi Hajjah khusus untuk Nona! Tolong diminum ya… Mertua yang perhatian begini benar-benar anugrah!” Ucap Sri memberikan senyumnya.


“U.. Untukku? Ini benar-benar untukku?”


“Iya nona!” Sahut Sri. Iqlima berubah sumringah.


Mungkin aku hanya salah sangka pada Ummi. Mungkin saja Ummi tidak bermaksud untuk berbicara keras padaku. Pikir Iqlima. Ia langsung menerimanya dengan hati bahagia. Memang mudah sekali membuat gadis ini bahagia.


“Terima kasih mba Sri!”


“Sama-sama nona Iqlima, kalau begitu saya permisi!”


Pintu kamar kembali menutup.


Hmh...Tapi... Bagaimana ini? Aku kan tidak suka susu kambing! Mencium bau amisnya saja sudah mual. Apalagi meminumnya? Aku bisa muntah! Gumam Iqlima.


***


*Note: Cut Dek Lôn Sayang


-Cut\= Selain digunakan untuk gelar bangsawan wanita Aceh, Cut juga bermakna kecil.


-Cut Dek\= Adik Kecil/ Adik Sayang.

__ADS_1


-Lon\= Saya.


-Cut Dek Lôn Sayang \= Kekasihku sayang.


__ADS_2