
Ilyas mengakhiri kuliah umum setelah mengucapkan salam penutup. Jantungnya berdegup saat seorang mahasiswi yang sudah dikenalnya dengan baik berjalan melewatinya begitu saja. Ilyas buru-buru membereskan peralatannya. Ia diam-diam mengikuti mahasiswi tersebut.
"Iqlima, tunggu! " Panggil Ilyas saat melihat suasana sudah agak sepi. Orang yang dituju menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Takdir mempertemukan kita di sini, aku tidak pernah menduga kau akan menjadi mahasiswa-ku! " Lanjut Ilyas. Iqlima terpaku sesaat.
"Aku menghormati ustadz sebagai dosenku" Sahut Iqlima diplomatis. Ia menunggu beberapa saat untuk mendengar apa yang akan diucapkan oleh Ilyas selanjutnya. Namun laki-laki tersebut hanya diam menatapnya.
"Kalau begitu aku permisi" Iqlima akan berbalik.
"Tunggu, aku ingin kita bicara! " Iqlima tidak mengindahkan perkataan Ilyas. Ia terus berjalan.
"Sebentar saja, kumohon... " Kejar Ilyas.
"Sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Jujur saja aku tidak nyaman, mang Iman juga telah menungguku di depan gerbang" Sahut Iqlima berbalik.
"Aku juga tidak nyaman... kita bicara sebentar di kantin... sebentar saja, hanya sebentar!" Iqlima menggeleng. Ia mengecek jam tangannya.
"Aku berjanji, hanya sebentar saja! " Iqlima mendengus.
"Baiklah! Hanya lima menit. Kita bicara di sini saja! " Tegas Iqlima. Angin melambai-lambaikan kerudungnya.
"Aku turut prihatin dengan tindakan Yahya. Sebagai laki-laki yang kompeten, tidak seharusnya ia mencurangimu dengan menikahi Layla"
"Kalau ustadz mengajakku berbicara hanya untuk menjelek-jelekkan suamiku, maka aku akan pergi! " Ancam Iqlima.
"Tidak tidak, maaf... sebenarnya aku mengajakmu bicara untuk ini! " Ilyas menyodorkan dua buah brosur.
1. International Conference, Faculty of Law
2. Musabaqah Tilawatil Qur'an (Tingkat Mahasiswa)
Mata Iqlima berbinar saat melihat kertas brosur yang berada di tangannya.
"Ketika melihatmu masuk kelas, aku langsung teringat informasi ini! International Conference akan sangat berguna untuk mu terutama di masa yang akan datang. Untuk Musabaqah Tilawatil Qur'an, juga bisa menambah pengalaman dalam mengasah kemampuanmu. Apalagi nanti kau akan mengajar di pesantren. Aku telah melihat bebagai kemampuanmu ketika kita di Aceh. Kau memiliki kemampuan di bidang tartil, tilawah, fahmil ataupun syarhil Qur'an... Orasimu bagus!" Terang Ilyas meyakinkan.
Aku mengizinkan mu kuliah. Tapi Kau hanya boleh kuliah formal. Kau tidak boleh ikut organisasi manapun atau kegiatan apapun. Tiba-tiba peringatan Yahya tentang aturan melanjutkan pendidikan kembali terngiang. Binar mata Iqlima sontak memudar.
Hhhh Hhhh Hhhh
"Maaf nona, saya mencari nona ke sana sini. Untung bertemu di sini! " Mang Iman, pria berusia 50 an tahun yang ditugaskan menjadi supir pribadi Iqlima saat ini tiba-tiba datang menghampiri dengan nafas tersengal.
"Saya harus mengantar nona sebelum jam 4 sore. Kalau tidak Gus Yahya bisa marah! " Iqlima mengangguk. Ia buru-buru meletakkan brosur-brosur yang Ilyas berikan ke dalam tasnya.
"Terima kasih" Ucap Iqlima singkat pada Ilyas.
"Iqlima, tunggu... " Ilyas mencengkram pergelangan tangan Iqlima. Wanita tersebut tersentak.
"Kau boleh menghubungi ku jika ada yang tidak kau mengerti!" Ucap Ilyas.
Sreegg.
Seseorang dari arah berlawanan muncul menghempas kasar tangan Ilyas.
"Dimana kau letakkan tanganmu hah?? "
__ADS_1
Bang Yahya? Bukankah bang Yahya ke kantor setelah menemui Oma Maharani? Gumam Iqlima heran. Ia sedikit meringis saat Yahya menggenggam kuat pergelangan tangannya.
"Mang Iman boleh pulang lebih dulu. Iqlima akan ikut dengan saya!"
"Ba.. Baik Gus" Mang Iman langsung melesat dengan tergopoh-gopoh melihat ekspresi Yahya yang sangat tidak bersahabat. Pimpinan Bustanul Jannah tersebut berbalik menatap Ilyas dengan wajah penuh amarah sebelum akhirnya ia menggiring Iqlima untuk masuk ke dalam mobil.
Tuk
Bros milik Iqlima tanpa sadar terjatuh di lantai. Ilyas memungutnya lalu menatap nanar ke arah bros kupu-kupu tersebut dengan hati terluka. Beberapa tahun terakhir ini hatinya masih belum pulih. Ia terus saja memikirkan Iqlima tanpa tau bagaimana caranya harus menuntaskan rindu yang sangat menyiksa.
"Kau harus berterima kasih pada ku untuk informasi mahal ini..." Seorang wanita tiba-tiba menepuk pundak Ilyas dan mengejutkannya.
"Dara? Kau di sini?! "
"Aku ingin memastikan bahwa kau benar-benar telah menjadi asisten dosen di sini! Pasti dihadapannya kau berakting bahwa kalian hanya kebetulan bertemu! " Dara menaikkan sebelah alisnya ke atas.
Ilyas terdiam
"Apa kau masih akan tetap mengejarnya setelah mengetahui bahwa ia berpoligami?" Lanjut Ilyas bertanya seduktif. Dara menggeleng.
"Kita ke kantin! " Ajak Ilyas.
"Jujur saja aku sedikit terkejut ketika malam itu kau bercerita bahwa Yahya dan Iqlima telah menikah, walau aku sudah menduga sebelumnya" Terang Dara sambil berjalan.
"Dan ternyata... sekarang Yahya melakukan poligami. Hhhh... Aku sudah tidak berminat dengan laki-laki yang tidak setia itu. Aku hanya ingin membantumu sekaligus menyelamatkan Iqlima. Sejak bercerai, perlahan aku jadi paham bagaimana rasa sakit dikhianati dan dizhalimi oleh laki-laki. Aku pikir kau lebih pantas menjadi suaminya. Kau laki-laki tulus yang baik hati" Ilyas menoleh pada wanita yang berada di sampingnya.
"Tapi apa kau tidak masalah jika menikahi seorang... Hmh... Maaf, seorang.... yang pernah menikah dengan orang lain?" Tanya Dara penasaran.
"Apa itu penting? Aku rasa tidak...Lagipula kesalahan ku padanya sangat besar. Kau tau? Keputusan terbodoh dan masih kusesali sampai saat ini adalah pernah salah paham dan langsung meninggalkannya hanya dengan sepucuk surat! " Aku Ilyas dengan perasaan sakit. Dara tersenyum.
"Ilyas, Kau masih sangat muda ketika itu. Kau masih belum bisa berpikir jernih" Sahut Dara membesarkan hati Ilyas. Diam-diam wanita tersebut menaruh simpati atas perasaan Ilyas yang mendalam.
***
Braakkk
"Kau benar-benar keterlaluan! " Ucap Yahya menutup pintu mobil dengan membanting nya.
"Aku tidak melakukan apapun! " Bantah Iqlima sebelum Yahya benar-benar menyudutkannya.
"Tidak melakukan apapun katamu?? Kau berbicara pada Ilyas. Kalian saling bertatapan! Kau melakukannya tanpa seizin suamimu!"
"A... Aku... " Iqlima mulai terbata.
"Sudah kukatakan kau tidak boleh melakukan aktivitas apapun di luar jam belajar formal! Apa perkataanku masih kurang jelas?! " Hardik Yahya. Iqlima menunduk.
"Dan kau membiarkan Ilyas menyentuhmu! Kau benar-benar keterlaluan!! " Lanjut Yahya tajam.
"Itu di luar dugaanku, Sungguh! Lagipula ustadz Ilyas tidak menyentuhku secara langsung! Pakaianku berlengan panjang" Kilah Iqlima.
Awww. Iqlima merintih kesakitan. Yahya kembali menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat.
"Lalu jika Ilyas menyentuh pinggangmu, perutmu atau bagian lain yang lebih sensitif. Apa kau tetap akan mengizinkan nya dengan berdalih bahwa laki-laki brengs*k itu tidak menyentuh tubuhmu secara langsung. Begitu??! "
Praakk. Yahya beralih memukul stiur. Emosi pemuda tersebut semakin meluap. Iqlima kesulitan menelan salivanya.
__ADS_1
"Aku kecewa. Kau benar-benar memberi laki-laki lain celah dan peluang untuk mendekatimu" Lirih Yahya. Kali ini suaranya terdengar pelan namun menusuk.
"Hanya begitu saja bang Yahya sudah marah, bagaimana dengan aku yang mengetahui betapa dahsyatnya tadi malam kebersamaan bang Yahya dengan...!" Kalimat bernada tinggi tersebut tanpa bisa dikontrol meluncur begitu saja dari mulut Iqlima. Ia tersadar. Iqlima dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan dan membuang wajahnya ke jendela. Yahya mengerutkan keningnya.
"Dahsyat bagaimana? Apa maksudmu?" Yahya menarik Iqlima untuk menatapnya.
"Ti... Tidak ada maksud apa-apa"
"Apa setelah tadi malam kau menolak ku dan malah menyerahkan suamimu ini pada wanita lain, kini kau merasa cemburu dan terbebani? " Todong Yahya. Ia mencoba kembali menyentuh tangan Iqlima. Namun wanita tersebut lagi-lagi menepisnya.
"Tidak, aku tidak cemburu! Terserah bang Yahya mau melakukan apa.. Aku tidak apa-apa.. Aku benar-benar ikhlas! " Ucap Iqlima. Diam-diam air menggenang di kelopak matanya. Betapapun ia telah merelakan Yahya, namun tetap saja ia tidak mampu menyembunyikan rasa cemburunya.
"Kalau kau baik-baik saja, mengapa kau bertingkah tidak seperti biasanya?"
"Aku benar-benar baik-baik saja, mari kita pulang. La.. Layla pasti sudah menunggu bang Yahya di....." Iqlima menjeda kalimat nya.
"di ka...mar! Menurut aturan, Bang Yahya harus bersamanya dalam seminggu ini. Aku khawatir dia akan berpikir buruk kalau bang Yahya menemuiku seperti ini" Ucap Iqlima memilin-milin kerudungnya dengan tanpa melihat Yahya. Suaranya mulai terdengar parau. Mendengar perkataan Iqlima, Dengan cekatan Yahya menarik kursi istrinya tersebut sedikit ke belakang hingga memberikan space lebih banyak. Ia juga merebahkan sandaran kursi Iqlima hingga membuatnya terkejut.
"A... Apa yang bang Yahya laakukan?" Tanya Iqlima dengan pupil mata membesar. Yahya menatapnya lekat-lekat.
"Kau jauh lebih cerewet ketika cemburu" Sahut Yahya menaikkan sudut bibirnya ke atas. Ia meletakkan ibu jarinya ke bibir merah jambu milik Iqlima dan mengusap-usap di sana. Perlahan tubuh Yahya mendekat.
"Ja... Jangan lakukan di sini... Nanti orang-orang akan curiga melihat mobil yang bergerak sendiri" Ucap Iqlima menyilangkan kedua tangannya ke dada. Namun Yahya tidak mengindahkannya. Ia terus mendekat. Dan,
Sreeegg
Kursi Iqlima kembali ke posisi semula. Yahya kembali membenarkan posisi nya. Iqlima mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Lakukan apa? Mobil bergerak sendiri bagaimana, hm? Hmmppfff hmmpff" Yahya memegang perutnya menahan tawa. Wajah Iqlima benar-benar merah seperti tomat. Ia sangat malu hingga rasanya ingin lenyap dari hadapan Yahya.
"Aku tidak menyangka, pikiranmu benar-benar mes*um" Ucap Yahya menggoda.
"Aku tidak mes*m! " Protes Iqlima cepat.
"Mulut dan pikiranmu tidak sinkron... Sepertinya kita memang harus mencari tempat untuk merealisasikan perkataanmu tadi! " Lanjut Yahya menunjukkan smirk.
"Aku bilang tidak ya tidak! Aku benar-benar tidak berpikir yang bukan-bukan! Bang Yahya berlebihan! " Iqlima masih saja mempertahankan harga dirinya.
"Kau tau, perkataanmu tadi membuatku..." Yahya tidak melanjutkan perkatannya.
"Membuatku apa? " Iqlima mengeryit tak sabar. Yahya mendekatkan mulutnya ke kuping Iqlima.
"Perkataanmu tadi membuatku... wswsws wswsw... wswswsssw... Wsswskkw..." Yahya membisikkan sesuatu ke telinga Iqlima. Bisikkan panjang tersebut membuat rona di wajah Iqlima bertambah. Yahya tersenyum penuh arti. Ia beringsut mundur dan menghidupkan mobilnya untuk membawa Iqlima ke suatu tempat. Namun tiba-tiba,
Dddrrrrttt Ddddrtttt
Handphone Yahya yang terletak begitu saja di dekat rem tangan di samping mereka bergetar.
Layla. Yahya dan Iqlima dapat membaca dengan jelas nama yang tertera dilayar kaca. Iqlima kesulitan menelan salivanya. Yahya terpaku.
"Angkat saja" Lirih Iqlima. Layla masih memanggil hingga panggilan tersebut berakhir. Namun ternyata Layla tidak menyerah. Gadis tersebut kembali melayangkan panggilan.
***
I'm Back 🙏🌻
__ADS_1
Berikan Komentar Terbaikmu 💙
#event_7