
Tok Tok Tok
"Masuk! " Sahut Yahya yang tengah duduk dengan menutup matanya.
“Bang Yahya!” Panggil suara merdu yang sudah sangat ia hafal. Yahya tersentak. Ini kali pertama pemilik suara merdu tersebut menemuinya di ruang kerja pada siang hari.
“A… Aku… Aku ingin bicara…” Ucap Iqlima berhati-hati. Ia menggigit bibir bawah dan memilin-milin kerudungnya. Iqlima sudah tidak bisa menahan gejolak di jiwanya. Dengan bersusah payah, Iqlima memberanikan diri mendatangi Yahya.
Jangan begitu... Jangan bersikap begitu... Jangan memanggil ku... Jangan menyebut namaku...! Ku mohon! Kalau kau begitu, aku bisa lupa diri dan kembali mengabaikan tugasku!
“Duduklah!” Titah Yahya tampak acuh. Iqlima mengambil tempatnya.
“Ada apa?” Tanya Yahya formal.
“Bang… Aku mau minta izin untuk pulang ke Aceh!” Sahut Iqlima. Sontak Yahya menoleh.
“Pulang ke Aceh? Untuk apa? Kenapa tiba-tiba?” Yahya mengerutkan keningnya.
“Sudah lebih dari 2 tahun aku di sini.. Aku ingin mengunjungi Nyakwa dan ziarah ke makam Ayah, Ummi juga kakek! Alhamdulillah sekarang juga lagi libur semester” Sahut Iqlima bersikap sewajarnya. Yahya tampak berpikir lalu kemudian mengambil handphone dan menghubungi asistennya.
“Rus, coba lihat jadwal kosongku dalam waktu dekat!” Titah Yahya.
“Maaf Gus, karena Gus sudah terlalu banyak mengambil cuti pernikahan maka jadwal untuk bulan ini sudah terisi penuh sampai bulan depan!” Sahut Rusdi dari seberang. Yahya mengangguk dan menutup pembicaraan sepihak.
“Baik. Kita akan pulang ke Aceh bulan depan!”
“Bang… A.. Aku pulang sendiri saja.. Aku juga mau minta izin untuk pulang agak lama.. Mungkin sampai masuk tahun ajaran baru mendatang” Ucap Iqlima menunduk.
Sreeettt
Yahya memundurkan kursi yang ia duduki ke belakang.
“Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba…” Yahya bangkit berdiri.
“Tidak ada apa-apa bang, aku hanya rindu tanah kelahiranku! Aku juga ingin menemui Maryam… Aku rindu masakan Aceh, rindu rumah…” Sahut Iqlima berbohong. Walau Aceh adalah tanah kelahirannya, kalau bukan karena terpaksa sebenarnya ia sudah cukup trauma untuk kembali ke sana.
“Baik… 2 hari… aku akan memberikanmu waktu 2 hari… Kau akan didampingi Mbak Rina juga Mang Shaleh!” Ucap Yahya menekan tombol telepon di atas meja hendak menghubungi seseorang untuk memesankan tiket.
“Tu.. Tunggu sebentar… 2 hari itu terlalu singkat, Bang!”
“3 hari… Kalau begitu 3 hari! Okay? Deal?” Yahya mencoba bersikap bijaksana.
“A… aku berencana menghabiskan waktu satu bulan di sana” Ucap Iqlima berterus terang. Ia menahan airmatanya agar tidak keluar. Yahya menghela nafasnya.
“Satu bulan? Apa kau ingin melepaskan kewajibanmu?” Tuding Yahya.
“Ke… Kewajiban?”
“Aku rasa kau sudah sangat paham dan mengerti apa kewajiban istri terhadap suaminya!” Sindir Yahya. Iqlima terdiam.
“Kalau sekarang, besok atau lusa kau mau kembali ke Aceh, maka aku hanya bisa memberikanmu izin selama tiga hari. Tapi jika kau mau berlibur lebih lama, maka kita akan pulang bersama bulan depan!” Ucap Yahya tegas.
Ada apa ini? Mengapa ia menghindariku? Menatapku juga enggan. Pikir Yahya yang terus memperhatikan gelagat aneh Iqlima. Mata liarnya menyusuri tiap inci wajah Iqlima dan berlama-lama di sana. Namun kemudian ia tersadar dan mengusap wajahnya.
“Ada lagi?”
“Eh ya?” Iqlima mendongak.
“Kau ingin bicara apa lagi? Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi maka keluarlah!” Usir Yahya secara halus. Ia kembali duduk dengan mengambil lembaran dokumen dan berpura-pura membolak-balikkannya agar terlihat sibuk.
“Ha? I… Iya… A… Aku permisi…” Sahut Iqlima bangkit berdiri. Namun ia malah terdiam mematung.
“Kenapa lagi? Apa kau merindukanku hingga enggan keluar dari ruangan ini?” Yahya masih membolak-balikkan lembaran-lembaran dokumennya. Sudut bibirnya sedikit ia tarik ke bawah membentuk senyuman. Iqlima masih terpaku di tempatnya.
“Katakan saja yang sejujurnya bahwa kau ingin berlama menatapku, ingin menyentuh wajah tampanku dan ingin menyentuh bagian…..!”
Set
Belum selesai Yahya berbicara, Iqlima sudah berjalan mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke arah Yahya hingga membuatnya bisa mencium aroma alami tubuh Iqlima yang khas. Seketika Yahya terlena. Ia merindukan keharuman yang selalu saja bisa membuatnya tergila-gila tersebut. Tidak hanya itu, aroma rambutnya pun menguar. Iqlima memegang kerudungnya agar tidak berpindah karena ia sedikit membungkuk. Namun gerakan tersebut malah membuat leher jenjangnya terlihat hingga Yahya kesulitan menelan saliva. Yahya mencondongkan wajahnya mendekat.
Sreeet
Hampir saja pemuda tersebut menyambut tubuh Iqlima ke pangkuannya, namun Iqlima malah mengambil dokumen-dokumen yang Yahya pegang.
__ADS_1
“Aku tau bang Yahya adalah orang yang sangat cerdas hingga bisa membaca dokumen rumit dengan posisi terbalik. Namun… Secerdas apapun abang, bacalah dokumen-dokumen ini dengan posisi yang baik dan benar. Sebab aku khawatir… kalau begini… Minus di mata abang akan bertambah!” Ucap Iqlima santai namun penuh penekanan dengan ritme yang sempurna. Ia mengembalikan dokumen-dokumen tersebut ke tangan Yahya dengan dagu yang ia naikkan ke atas hingga membuat suaminya tersebut gelabakan. Yahya tercengang.
“Kalau begitu Aku permisi!” Lanjut Iqlima melangkah.
“Dik Ima… Tunggu!” Panggil Yahya. Ia tidak bisa membiarkan wanita tersebut pergi begitu saja. Iqlima harus mengakhiri apa yang ia mulai.
“Dik Ima… Dik Ima…” Yahya mengejar Iqlima hingga ke pintu luar. Iqlima terpaksa menghentikan langkahnya. Di saat bersamaan, terlihat Hajjah Aisyah dan Layla datang mendekat.
“Nak Yahya… Wan Abud dari Irak memberikan hadiah pernikahan untukmu!” Ucap Hajjah Aisyah yang sengaja menyodorkan ramuan yang ia pegang. Hajjah Aisyah Melirik Iqlima yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Apa ini mi?” Tanya Yahya enggan.
“Bacalah!” Titah Hajjah Aisyah. Yahya membacanya dengan malas.
“M… Mi,, Yahya tidak butuh ini!!” Ucap Yahya dengan merapatkan deretan gigi depannya. Ia benar-benar terkejut hingga mengembalikan ramuan tersebut ke tangan hajjah Aisyah dengan wajah merah padam.
“Tidak ada salahnya kau dan nak Layla mencoba ramuan hebat ini, nak! Lagian ini hadiah… Dan biasa digunakan oleh pasangan suami istri di Timur Tengah” Sergah Hajjah Aisyah.
“Iya mas,,, kita coba nanti malam yuk!” Ajak Layla manja. Ia yang semula berdiri di samping hajjah Aisyah kini bergelayut manja di lengan Yahya.
Sreet
Melihat kemesraan dan keharmonisan mereka, Iqlima langsung beranjak pergi tanpa permisi. Diam-diam airmatanya kembali jatuh berhamburan.
“Iqlima…” Panggil Yahya.
“Dasar anak jaman sekarang! Tidak tau sopan santun!!” Hardik Hajjah Aisyah geram. Diam-diam Layla tersenyum menaikkan sebelah alisnya ke atas.
“Kau harus bisa mengajarkan sopan santun pada istrimu, Yahya! Lihatlah kelakuannya! Semakin hari semakin ngelunjak! Kalau perlu berikan dia hukuman agar dia tahu diri!” Ucap Hajjah Aisyah dengan nada tinggi.
“Tapi mi… Iqlima itu…”
“Ayo antar aku ke kamar, Mas! Tubuhku pegal semalaman di luar sendirian… Aku masuk angin” Lirih Layla manja. Belum sempat Yahya menyelesaikan kalimatnya, Layla sudah memotong pembicaraan sepihak dengan sebelumnya mengerling pada hajjah Aisyah.
“Yasudah, masuklah kalian ke kamar… mengingat sikap wanita itu tensi darahku bisa-bisa naik pesat! Huh!” Keluh Hajjah Aisyah berlalu sambil memegang kepalanya. Yahya hanya bisa menghela nafas.
***
Ruangan Bawah Tanah Kerajaan Arya Pranawa
Ditemani oleh dua wanita cantik berpakaian min*m. Arya menyesap kopi dan memakan cemilan menikmati pemandangan dihadapannya dengan senyum yang terus mengembang. Pria bertangan besi berdarah dingin ini tampak sangat menikmatinya. Gadis-gadis yang berada di sampingnya juga terus memijat pundaknya sambil sesekali tangan lentik mereka menjalar ke bagian lainnya.
Aaaargh
Aaaargh
Terdengar erangan Hilman memenuhi ruangan pengap tersebut. Beruntung, Arya tidak memerintahkan anak buahnya membabat habis wajah mulus operasinya.
Aaaaargh
Aaaaargh
Sreeet
Arya mengangkat tangannya memerintahkan pada para algojo untuk berhenti. Ia bangkit dari singasananya.
Tap Tap Tap
“Kau anak berbakti. Aku memilih menyiksamu untuk menggantikan si brengsek Din! Dia penipu ulung! Kalian brengsek!!! Kalau kau disiksa, mungkin Din baru akan paham bahwa dia berurusan dengan siapa!” Tukas Arya bengis sambil menarik kuat rambut Hilman.
“Lanjutkan penyiksaan!!! Video dan kirimkan pada Ampon Din!!” Titah Arya garang dengan suara menggelegar.
Plaaaaakkk
Aaaaaaaaaaaaarg
“Se… S… Stop!” Pinta Hilman tak berdaya dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
Braakkk
Aaaaargh
Braakkk
__ADS_1
Para algojo tak juga mendengar seruan Hilman dan semakin menyiksanya.
Aku tidak boleh mati konyol seperti ini. Aku bahkan berjuang untuk mendapatkan Iqlima. Aku tidak boleh mati. Iqlima.... Tunggu aku....
“Sss… Sstopp! A.. Aku ber..janji…” Ucap Hilman masih berusaha. Mendengar kata janji, Arya mengangkat tangannya. Para algojo otomatis menghentikan penyiksaan.
“Berikan aku waktu dua minggu… Ya… dua minggu!” Lirih Hilman bersusah payah.
“Aku sudah berulang kali memberikan Din kepercayaan!” Sahut Arya tak ingin basa basi.
“Berikan aku waktu dua minggu untuk pulang ke Aceh, maka semua tanah akan berubah atas namamu!” Janji Hilman kesulitan berbicara.
“Hahahaha… Aku adalah Arya Pranawa…. Orang yang paling berkuasaaaa… Tidak ada tandingan... Aku paling hebat 🎶🎶🎶 Hahahaha” Arya berdendang.
“Kalau kau gagal, aku tak segan-segan mengirimmu dan Ampon Din ke neraka!” Ancam Arya. Hilman mengangguk lemah.
“Hahahaha… Hasil alam nya yang berlimpah akan masuk ke kantongku! Dengan teknologi modern dan alat-alat canggih, aku akan mengolah semua kekayaan alamnya menjadi pundi-pundi dollar ahahahaha” Arya mengangguk-angguk puas. Ia merasa Hilman lebih bisa diandalkan daripada Ampon Din yang masih saja merasa sungkan pada penduduk desa.
“Bagaimana dengan warga kampung di sana tuan? Mereka akan kehilangan tempat tinggal!” Tanya salah satu asisten memberanikan diri.
“Bodoh! Apa peduliku? Aku belum berencana mendirikan panti untuk para tuna wisma! Hahahaha” Sambar Arya.
“Kalian! Beri dia pelajaran! Dia sangat lancang!!!” Lanjut Arya bertitah.
“Tuaaan, ampuuuun tuan…. Tuaan…”
Hahahahaha
Hahahahaha
***
Bruug
Iqlima mengambil koper dan meletakkannya ke bawah dengan sedikit keras sambil menangis.
Bodoh! Kenapa harus menangis? Tidak seharusnya kamu menangis! Hardik Iqlima pada dirinya sendiri. Ia mengusap airmatanya yang mengalir sembari mengeluarkan gamis-gamisnya dari dalam lemari.
“Iya… Aku baik-baik saja! Aku tidak akan menangis lagi! Ya ya… merupakan sebuah kewajaran yang terjadi diantara suami istri jika saling bersikap manis satu sama lain… Iya.. aku baik-baik saja dan tidak akan menangis….!” Ucap Iqlima penuh tekad. Namun tiba-tiba,
“Huaaaaa... Hiks hiks hiks huaaaaaaaa!" Iqlima malah menangis semakin kencang. Mata yang masih saja mengeluarkan air benar-benar mengkhianatinya. Iqlima menangis tersedu-sedu.
Tok Tok Tok
Ceklek
Sri masuk membawa baki minuman. Ia terkejut melihat Iqlima yang menangis dengan koper pakaiannya.
“Nona, ada apa nona? Mengapa nona mengemas barang-barang nona?? Jangan pergi sekarang nona… Saya mohoon…” Sri ikut menangis berlutut setelah meletakkan baki minumannya ke atas nakas.
“Aku sudah minta izin bang Yahya untuk pulang ke Aceh, Mbak!” Ucap Iqlima mengusap airmatanya.
“Gus Yahya mengizinkan?!” Tanya Sri dengan suara tinggi. Lalu ia menutup mulut menyadari ketidaksopananan nya.
“Ma… Maaf nona”
“Tidak apa-apa mbak.... Bang Yahya mengizinkannya. Bang Yahya memberikan waktu selama 3 hari!”
“Baiklah nona, syukurlah kalau Gus Yahya mengizinkannya. Nona berada dalam pengawasan Gus Yahya, maka saya merasa lega!” Lanjut Sri.
“Tolong mbak Sri pesankan tiket ya! Sekarang sepertinya bang Yahya sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu!”
“Baik nona, saya akan memesan tiket pergi dan pulang!”
“Tiket pergi saja! Untuk tiket pulang..., Hmh... Nanti aku akan pesan sendiri… Aku masih tidak yakin akan pulang setelah 3 hari!” Sahut Iqlima.
“Tapi nona…”
“Nanti aku akan membujuk bang Yahya untuk memberikanku waktu lebih lama, hm?”
Aku tidak bisa bertahan di Bustanul Jannah ini lebih lama lagi. Dadaku terasa sesak. Jiwaku tidak sehat. Aku sangat lelah. Aku harus menepi sebentar menghirup udara di luar sana untuk menyegarkan kembali pikiran penatku.
Maryam... Ya, aku harus menemui Maryam...
__ADS_1
***
IG: @alana.alisha