
Jakarta
Layla mengaduk-aduk gelas yang sudah ia isi dengan ramuan khusus. Berbekal ilmu dari sang mertua, kini Layla ketagihan membuatnya. Layla ingin, Ia dan Yahya kembali mengulang peristiwa pada malam ketika mereka berada di Aceh beberapa waktu lalu. Namun kali ini, Ia berharap mereka benar-benar bisa bersatu. Layla yang sudah sangat mendambakan Yahya, tidak ingin gagal lagi.
Sikap Yahya padanya memang telah banyak berubah. Pemuda tersebut jadi lebih lembut, lebih banyak mengikuti apa yang ia inginkan. Namun entah mengapa Yahya masih saja enggan menyentuhnya. Berbagai pakaian miniim serta parfum ternama telah ia coba untuk membuat Yahya luluh dan bergair*h, namun pemuda tersebut masih saja terus beralasan.
Apa jangan-jangan mas Yahya tidak mampu ya? Apa karena itu Iqlima tidak bisa hamil? Pikir Layla mengerutkan keningnya.
Tidak mungkin! Kalau benar begitu, tidak mungkin malam ketika di Aceh mas Yahya begitu liar. Ia seperti bukan dirinya. Lagipula, Ummi memberikan Iqlima minuman khusus untuk agar tidak bisa hamil. Jadi mas Yahya tidak mungkin tidak mampu. Pikir Layla lagi. Ia mengangguk-angguk.
Driiiit
Suara deritan pintu membuyarkan lamunan nya. Terlihat Yahya keluar dari kamar mandi dengan telah berpakaian lengkap.
"Mas mau kemana? "
"Aku mau ke ruang kerja... Ada kerjaan yang harus aku urus! " Sahut Yahya.
"Tapi malam ini mas Yahya tidur di kamar ini kan?" Todong Layla. Perlahan Yahya mengangguk. Gadis tersebut tersenyum sumringah.
"Kalau kerjaanku cepat selesai aku akan bermalam di sini. Kalau tidak, itu artinya aku tidur di ruang kerja"
Efek minuman ini tergolong cepat. Aku akan menyuruh mas Yahya untuk minum nanti saja. Batin Layla.
"Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu! Mas Yahya cepatlah kembali! Aku berharap mas Yahya bisa menyelesaikan pekerjaan mas dengan cepat!" Pinta Layla dengan bibir mengerucut. Yahya kembali mengangguk. Layla langsung menuju kamar mandi dan menutup rapat pintunya.
Yahya akan keluar kamar. Namun air minum di atas nakas mengganggu penglihatannya. Tenggorokannya pun terasa kering. Dengan duduk di atas kasur dan tanpa berpikir panjang, ia langsung menenggak habis minuman tersebut.
Ddrrrrt Ddrrrrt
Handphone Yahya bergetar. Rusdi menelponnya.
"Gus... saya ada informasi terbaru..."
"Apa itu? " Tanya Yahya menutup pintu kamar. Ia berjalan perlahan menuju ruang kerja.
"Orang yang nona Iqlima katakan sebagai Rais ternyata ber-identitas Othman. Ia merupakan salah satu asisten kepercayaan tuan Arya Pranawa!" Ungkap Rusdi. Langkah kaki Yahya terhenti.
"Mengapa kau mengulang informasi yang sama?! " Hardik Yahya.
"Ma... Maaf Gus! Informasi terbaru yaitu hubungan nya dengan tuan Arya Pranawa juga sudah lebih dari satu tahun. Ia juga menetap di Jakarta! "
Jika masih hidup, apa Rais memang mengganti identitasnya agar lebih aman dari gangguan musuh? Tapi mengapa ia bisa berhubungan dengan papa? Bukankah profesi Rais itu guru ngaji dan imam mesjid? Yahya mengerutkan kening berpikir. Sesekali Ia mengusap tengkuknya. Entah mengapa tiba-tiba saja Ia seperti merasa gerah.
Aku tidak sengaja bertemu dengan bang Rais di bandara! Kata-kata Iqlima kembali terngiang-ngiang.
"Apa kau punya informasi lebih lanjut? "
"Dia menghilang setelah pertemuan terakhir bersama nona Iqlima. Seperti yang sudah saya jelaskan tempo lalu, orang yang bernama Othman tersebut tiba-tiba ditangkap oleh beberapa orang. Setelah nya saya kehilangan jejaknya! " Terang Rusdi.
"Ssss.... "
"Gus... Apa Gus baik-baik saja? " Tanya Rusdi ketika mendengar Yahya yang tiba-tiba saja mendesis.
"A... Aku... Baik-baik saja... Kepala ku hanya sedikit pusing! " Ucap Yahya kehilangan konsentrasi.
"Baiklah Rus, terus selidiki orang tersebut! Hanya kau yang bisa aku percaya! Selebihnya, cari tau mengapa ia bisa kembali ke Aceh! Segera lapor kan perkembangan nya padaku!" Titah Yahya sedikit bergetar. Sekarang kepalanya benar-benar terasa pusing. Seperti ada hal aneh yang menjalari tubuhnya.
"Oh iya, masalah kasus tempo dulu yang menimpa nona Iqlima di pesantren.... Saya juga sudah menemukan beberapa clue-nya! "
"Rus, tentang masalah itu... Kita bicara kan besok di kantor setelah meeting ya! " Potong Yahya.
"Oh Baik Gus! " Mereka mengakhiri pembicaraan setelah masing-masing mengucapkan salam. Yahya melanjutkan langkah kaki dengan masih mengusap tengkuk nya.
"Ada apa denganku? "
Tiiiing
Ketika melewati kamar Iqlima, Yahya mendengar sesuatu yang berdenting dari dalam kamar sana. Seperti ada benda yang jatuh ke lantai.
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
Yahya mengetuk pintu. Namun Iqlima tidak kunjung membuka.
kemana Iqlima? Tadi itu suara apa?
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
Tak sabar, Yahya langsung membuka pintu kamar dengan kunci cadangan yang memang selalu ada di saku celana nya.
__ADS_1
Ceklek
Pintu terbuka bertepatan dengan Iqlima yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya memakai selembar handuk. Mata Iqlima berkedip-kedip terkejut. Mata Yahya teralih ke arah sendok yang ada di lantai. Tak lama, ia kembali menatap Iqlima intens.
Tap....
....
Tap....
....
Yahya melangkah perlahan mendekati Iqlima yang mematung. Iqlima cukup terkejut akan kehadiran Yahya. Pasalnya, sejak memaksanya untuk kembali ke Jakarta lebih dari seminggu lalu, Yahya tidak pernah mengunjungi nya. Pernah sekali Iqlima berusaha menemuinya untuk meminta maaf, namun Yahya selalu saja menghindari nya.
Tap....
Tap....
"Apa ada barang yang ingin bang Yahya ambil di kamar ini? " Tanya Iqlima cemas. Ia khawatir Yahya akan memarahinya. Iqlima memegang erat simpul handuk yang melilit tubuhnya dengan tidak berani menatap Yahya.
"Aku masuk kesini karena terpaksa. Aku tidak sengaja mendengar sesuatu yang bising membentur lantai! "
Terpaksa? Ucapan Yahya berhasil membuat hati Iqlima terasa kebas.
"A... Aku pakai pakaian dulu... " Ucap Iqlima hendak kembali masuk ke kamar mandi. Tak bisa di tahan, matanya mulai berkaca-kaca.
Sreet
Yahya malah mencengkram pergelangan tangan nya.
"Apa yang kau lakukan? " Tanya Yahya dengan nafas memburu.
"Hah? "
"Apa yang baru saja kau lakukan? " Tanya Yahya lagi.
".......... "
"Aku baru saja selesai mandi. Aku baru selesai haid" Sahut Iqlima yang bingung menanggapi pertanyaan absurd Yahya. Pemuda tersebut melepaskan cengkraman tangan yang berada pada lengan Iqlima dan mulai mengulurkannya.
Srug
Ia menarik lepas handuk Iqlima dengan sekali hentakan dan mulai menggiringnya ke peraduan.
Di kamar berbeda, Layla berjalan mondar mandir tak tentu arah menanti kedatangan Yahya. Ia yang sudah percaya diri bahwa Yahya akan mendatanginya tersenyum-senyum cemas. Apalagi suaminya tersebut sudah menenggak habis minuman racikan darinya. Dapat dipastikan apa yang akan Yahya lakukan padanya sesaat lagi.
Tik Tik Tik
Jarum jam berdetik. Jam-jam berlalu namun Yahya tak kunjung datang.
Apa pekerjaan mas Yahya masih banyak? Apa mungkin ramuannya belum bereaksi? Ck. Layla berdecak kesal.
...****************...
Pukul 09.10 WIB
Tok Tok Tok
"Nona.... " Panggilan Rina di depan pintu membuat Iqlima terjaga. Ia melirik pada orang yang tengah memeluknya.
Awww... Pekik Iqlima tanpa suara saat Ia ingin menggerakkan tubuhnya. Yahya benar-benar menawannya tanpa ampun. Bahkan setelah shalat subuh tadi, Yahya kembali menggiringnya melanjutkan apa yang sudah semalam suntuk mereka lakukan.
"Nona.... Boleh saya masuk? Saya membawa teh hangat... " Tanya Rina yang tidak tau bahwa Yahya berada di kamar.
"Tidak!!!" Pekik Iqlima.
"Ti... Tidak usah mbak!! Saya mau mandi dulu! " Sahut Iqlima panik. Teriakan nya membuat Yahya terjaga.
"Saya hanya ingin meletakkan teh saja, nona!"
"Tidak usah... Tidak usah!! Saya sedang tidak ingin teh!! " Lanjut Iqlima. Tegas.
"Apa kau ingin membuatku tuli, hm?! " Bisik Yahya ketus. Namun diam-diam ia tersenyum melihat gelagat Iqlima yang tengah panik.
Ha? Suara bisikan Yahya berhasil membuat Iqlima terkejut lalu mendongak.
Cup
Yahya langsung mengambil kesempatan mengecup bibirnya. Tidak berhenti di situ, pemuda tersebut semakin membawa Iqlima ke dalam pelukannya. Tangan Yahya kembali bergerak masuk ke dalam selimut mereka.
"Baiklah nona,... Oh iya... Ummi Jiddah Maharani dan yang lainnya menunggu nona di ruang tengah! Harap nona sedikit bergegas! Sekarang Saya juga akan mengabarkan hal ini pada Gus Yahya..." Ucap Rina yang langsung melangkah pergi setelah mendapat jawaban iya dari Iqlima.
"Bang..." Iqlima menahan tangan Yahya yang semakin tidak terkendali.
__ADS_1
"Hm... " Yahya tidak menyerah.
"Jiddah menunggu kita... "
"Aku masih ingin di sini... seperti ini! " Ucap Yahya. Iqlima tidak bisa menahan suara alamiah yang keluar akibat perlakuan yang Yahya berikan.
"Aku tidak ingin mencari masalah... Bang... Please... " Iqlima kembali menahan Yahya. Dengan menghela nafas pemuda tersebut terpaksa beringsut mundur.
"Mandilah... " Titah Yahya. Iqlima mematung. Ia menarik selimut dengan memandang Yahya lekat-lekat.
"Aku akan mandi. Tapi aku ingin bertanya satu hal..." Iqlima menjeda kalimat nya.
"Apa yang membuat bang Yahya menemuiku? Apa hanya karena suara dentingan sendok? " Tanya Iqlima sendu. Kelopak matanya bergerak naik turun. Pemandangan yang sangat menggemaskan bagi Yahya.
"Hmh... karena sendok... karena naafsu yang tidak terkendali dan hanya bisa kulampiaskan padamu... " Aku Yahya jujur.
Jadi, bang Yahya hanya menjadikan ku sebagai objek... Hati Iqlima mencelos. Jawaban Yahya hanya membuat hatinya semakin terasa sakit. Iqlima menunduk dalam.
"Tapi sejujurnya, jauh daripada itu... Aku sangat merindukan mu... " Lirih Yahya. Iqlima sontak mendongak. Wajah kusutnya berubah cerah.
"A.... Aku mandi dulu... " Ucap Iqlima kikuk. Hanya satu kalimat dari Yahya. Kalimat tersebut mampu membuat Iqlima berubah sumringah.
Kalimat ajaib yang mampu menghapus dan melupakan semua kata-kata pahit yang Yahya sudah lontarkan.
...****************...
"Jadi ini dia trouble makernya? " Hajjah Maharani mengangkat tongkat menunjuk ke arah Iqlima yang menunduk. Raut wajah beliau jelas sekali terlihat tidak senang. Asisten pribadi yang sedari tadi memijit pundak Hajjah Maharani ikut tersentak. Suasana berubah tegang.
Dan Iqlima, sejak kembali ke Jakarta tidak ada yang ia rasakan selain hanya gundah gulana. Kini jantung nya kembali berdetak kencang, namun jenis detak yang berbeda dari yang semalam ia rasakan.
"Memang Iqlima lagi Iqlima lagi... Semua kacau balau karena ulahnya! Perusahaan juga jadi terbengkalai karena Yahya sengaja jauh-jauh menjemputnya ke Aceh. Berapa milyar kerugian yang kita alami hanya karena seorang wanita yang tidak tau diri sepertinya? Bukankah itu namanya sebuah kedurhakaan istri terhadap suami? " Sahut Hajjah Aisyah angkat bicara. Hajjah Maharani memicingkan matanya.
"Aisyah, jangan menambah minyak dalam suasana seperti ini! Jangan mencampuri urusan rumah tangga putra kita! Dia sudah dewasa dan sudah bisa menentukan sikap!" Ucap Haji Zakaria memberikan peringkatan.
"Zakaria, jangan membela yang tidak perlu! Kau terlalu bersikap lembek terhadap anak-menantu, bagaimana Yahya bisa maju kalau tidak bisa mengesampingkan perasaan pribadinya?! Ini sangat fatal! Bukan saatnya kau masuk sebagai pembela! Permasalahan ini sudah merambat ke perusahaan, itu artinya ini bukan lagi masalah internal rumah tangga biasa melainkan masalah keluarga! " Sambar Hajjah Maharani lantang. Haji Zakaria hanya bisa menghela nafas. Ruang tengah yang sering dipakai untuk kumpul keluarga besar tersebut berubah tegang.
"Hhhh... Aku yang sudah setua ini hanya menginginkan ketenangan. Mengunjungi kalian untuk berlibur dalam damai. Tidak kusangka malah permasalahan yang kudapatkan! " Keluh Hajjah Maharani. Keluhan tersebut semakin membuat perasaan Iqlima tak karuan.
"Jiddah, permasalahan ini akan Yahya selesaikan sendiri. InsyaAllah semua kerugian akan Yahya bereskan segera... Jiddah jangan pusing memikirkan hal ini... Beristirahatlah dan lakukan apa yang membuat Jiddah bahagia" Sahut Yahya berhati-hati.
Praaankkk
Hajjah Maharani menghempaskan gelas yang ada di atas meja. Pecahan kaca berhamburan di lantai. Pergerakan yang beliau lakukan membuat para anggota yang berada di dalam ruangan terkejut. Namun tidak dengan Haji Zakaria yang sudah hafal betul bagaimana sikap dan sifat sang ibunda. Iqlima menggigit bibir bawahnya. Keringat dingin mulai mengucur deras.
"Yahya, kau pikir aku bisa tenang setelah mengetahui semua ini?! Jiddah tidak bisa membiarkanmu bersikap tidak profesional hanya karena seorang wanita! " Sembur Hajjah Maharani.
"Lalu nak Yahya harus bersikap bagaimana, Ummi?" Tanya Haji Zakaria. Hajjah Maharani mendelik tajam.
"Istri Yahya yang tidak tau diri itu harus dibina! Tata Krama, sopan santun, bagaimana cara menempatkan dan menyesuaikan diri harus diarahkan dengan baik! Jangan lagi membawa kebiasaan kolot di desa yang serba kampungan! Dia harus paham siapa suaminya, siapa keluarga suaminya dan siapa orang-orang disekitar nya kini! " Beber Hajjah Maharani mengangkat dagunya. Suasana hening untuk sesaat. Hanya suara detik jarum jam yang bersahut sambut memenuhi ruangan.
"Jadi, aku memutuskan... Cucu menantu yang tidak tau diri itu untuk di bina di pesantren selama setahun! Selama itu, selama masa masa hukuman ini berlangsung, ia sama sekali tidak boleh bertemu Yahya kecuali hanya sekali dalam seminggu dengan waktu yang dibatasi! Ia harus fokus untuk belajar, belajar dan belajar saja! Aku berharap setelah ini ia bisa menjadi manusia yang lebih baik! " Tukas Hajjah Maharani.
Lagi lagi hati Iqlima harus mencelos. Ia terkejut bukan kepalang. Iqlima melirik ke wajah datar Yahya. Pemuda tersebut hanya diam. Tidak ada tanda-tanda Yahya keberatan dengan putusan yang dilontarkan oleh sang nenek.
"Jadi pertemuan ini aku padai sampai disini! Harap kabarkan pada para asisten untuk mengawasi pergerakan nya! Dan putraku... Zakaria, temui aku di kamar! " Hajjah Maharani bangun dari tempat duduknya dibantu oleh dua orang khadimah.
Hajjah Aisyah tersenyum puas. Beliau melirik Layla yang sejak tadi wajah nya sudah sumringah. Dua khadimah lainnya membantu agar Iqlima berdiri dan menarik nya untuk berkemas.
Rasakan kau, Iqlima!! Seru hati Layla.
Iqlima berdiri dengan menggeleng-gelengkan kepala. Ia terus menatap Yahya. Iqlima menyadari kalau Ia memang bersalah. Ia rela dimasukkan ke pesantren untuk di bina. Namun saat ini, tidak ada yang lebih berat baginya daripada berpisah dari Yahya. Iqlima berharap suaminya tersebut sudi melihatnya. Sudi angkat bicara untuknya. Setidaknya Yahya bisa menyanggah agar mereka dapat bertemu kapan saja. Bukan hanya sekali seminggu dengan waktu yang dibatasi, ini juga kalau tidak ada yang menghalangi.
"Ayo bergegas nona, jangan sampai mendapatkan masalah lebih lanjut karena membangkang pada Ummi Hajjah Maharani! " Para asisten Mengingatkan. Iqlima hanya bisa pasrah saat digiring keluar. Berkali-kali Ia menghela nafas saat Yahya tidak sedikitpun meliriknya setelah apa yang mereka lalui malam tadi.
"Ummi, mengapa Ummi mengadukan hal ini pada jiidah?" Tanya Yahya setelah mereka hanya tinggal berdua saja dalam ruangan.
"Sudah sepantasnya dia mendapatkan hukuman! "
"Tapi bukan begini caranya! " Tukas Yahya.
"Sudahlah Yahya, apa yang kau khawatirkan? Iqlima aman di pesantren! Dia akan menjadi wanita shaliha setelah mendapatkan berbagai pelajaran di sana! Ummi akan menyuruh Nilam untuk melayaninya di sana! "
"Bagaimana kami bisa fokus pada keturunan jika dipisahkan seperti ini, Mi? "
"Huh, sudah lebih dari dua tahun kalian menikah! Sudahlah... Jangan harapkan apapun lagi dari wanita mandul seperti nya! Dewan keluarga besar kita juga sudah menyerah untuk kau memperoleh anak darinya. Kau lihat bagaimana dia bertemu dengan pria lain di belakangmu kan? Kalaupun suatu saat dia hamil, Ummi juga tidak yakin kalau anak yang dikandungnya itu adalah anakmu! "
"Astaghfirullah, Ummi!! Perkataan Ummi sangat keterlaluan!! Ummi harus bertaubat!!"
"Sudahlah Yahya! Ummi tidak ingin berdebat. Jangan sampai kau durhaka pada ummi mu hanya karena perempuan itu! Lagipula, Kau tau bagaimana sifat Jiddahmu kan? Jangankan Ummi, abahmu juga tidak bisa membantah apapun! Lalu sekarang kau juga sudah memiliki Layla. Fokuslah padanya! Ummi sangat mengharapkan keturunan dari kalian berdua! " Tutup Hajjah Aisyah.
...****************...
Bab ini panjang banget ya... Hampir 2300 an kata... Semoga bacanya ga bosan... 😅🙏
__ADS_1
IG: @alana.alisha
...****************...