Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 108: Kekhawatiran Yang Banyak


__ADS_3

Ceklek


Yahya membuka pintu dan mendapati hajjah Aisyah tengah sibuk dengan berbagai dokumen. Ia berjalan mendekat.


"Mi, ini tiket apa? Mengapa mendadak begini? " Tanya Yahya menunjukkan berkas-berkas dokumen yang ada di tangannya.


"Itu surat perintah tugas! " Jawab Hajjah Aisyah cuek sambil memperbaiki letak kacamata dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Tidak bisa, Mi! Dewan direksi akan menggantikan Yahya untuk berangkat! "


"Pekerjaan itu tidak bisa diwakilkan! "


"Tapi Yahya masih harus mengurus pesantren! Ke depan nya juga akan ada pertemuan wali murid dan rapat internal yang penting! " Sanggah Yahya beralasan.


"Itu hal yang gampang. Ummi sudah mengurusnya! Ummi sendiri yang akan menghadapi para wali murid. Tentang rapat internal, masih bisa ditunda sampai kau tiba kembali ke tanah air! " Sahut Hajjah Aisyah. Kali ini beliau berbicara dengan menatap Yahya. Tatapan yang sulit untuk di bantah.


"Tidak bisa begitu mi... ! " Yahya menggeleng. Pikirannya beku. Ia merasa kacau sejak mendengar kabar kepergian Iqlima. Istrinya itu, Yahya masih tidak tau dimana keberadaan nya.


"Kenapa? Mengapa kau menolak untuk berangkat? Kau harus profesional, Nak! Kesampingkan ego pribadi dan kerjaan! Saat ini nak Layla memang tengah mengandung, ummi tau sekarang kau begitu ingin membersamai nya. Tapi kau juga harus menyelesaikan tugas-tugasmu dengan baik! Kau tenang saja... Nak Layla aman bersama Ummi..."


"Sebenarnya... Hmh... Sebenarnya Yahya... Yahya tengah mencari... " Yahya menjeda kalimat nya. Ia mengusap tengkuknya. Hajjah Aisyah menunggu jawaban Yahya yang tengah mengecek tanggal keberangkatan.


Aku harus menemukan Iqlima sebelum berangkat lusa.


"Baik lah. Yahya akan ke Amerika jika itu memang sudah sebuah keharusan!" Ucap Yahya pada akhirnya. Hajjah Aisyah berubah sumringah. Seperti yang diharapkan, ide cemerlang nya akan berjalan sempurna.


Ingin sekali rasanya Yahya mengabarkan pada ibunya bahwa Iqlima keluar dari pesantren dan pergi entah kemana. Namun seketika niat tersebut langsung Yahya urungkan. Ia tidak ingin menambah masalah. Ibunya pasti akan menggunakan masalah ini sebagai kunci untuk menghapuskan nama Iqlima dari kartu keluarga nya. Setidaknya ada lebih dari 2 hari waktu tersisa sebelum keberangkatan nya. Sebelum itu, ia sudah harus memastikan bahwa Iqlima aman.


Rus, tambah jumlah orang untuk mencari keberadaan istriku! Cari diberbagai sudut kota. Iqlima harus ditemukan sebelum hari Rabu! Ketik Yahya pada handphone nya.


...****************...


"Iqlima, kau menangis? " Tanya Maryam melihat Iqlima mengusap airmatanya.


"Ak... Aku... "


"Maafkan aku... Apa kau risih aku bawa ke tempat seperti ini? " Maryam mendekat dan memeluk Iqlima erat.


"Aku merasa lelah. Aku tidak punya arah dan tujuan... Aku bingung harus melakukan apa... " Sahut Iqlima. Pikirannya kembali melayang pada Yahya. Sungguh, tidak ada waktu yang terlewat kecuali semua tentang Yahya yang menari-nari di pikirannya.


"Apa kau menyesali keputusanmu dan ingin kembali ke Bustanul Jannah? Kuharap bukan itu yang tengah kau pikirkan..." Maryam merenggangkan pelukannya.


"Aku merindukan bang Yahya. Sangat rindu. Tapi aku tidak mungkin dan tidak akan pernah lagi kembali ke sana. Aku tidak ingin menjadi benalu. Kau tau? Selama kami menikah, bang Yahya sama sekali tidak mencintai ku. Seberapa besar aku berusaha, bang Yahya tetap tidak mau melihat ku... " Cerita Iqlima mengusap air mata nya.


Dan... Kalaupun bang Yahya menemui ku... itu hanya untuk sekedar pelampiasan semata atau sekedar menunaikan tugas nya sebagai seorang suami... Ya... hanya sekedar itu... Lanjut Iqlima bergumam. Ribuan kali. Hanya kalimat itu yang ada dibenaknya. Seketika hatinya merasa sakit. Iqlima merasa hidupnya benar-benar tidak berguna.


"Iqlima... sungguh aku merasa sangat kesal! Ingin rasanya aku mengambil hatimu dan menghapus nama laki-laki itu di sana! Sudahlah... jangan kau tangisi ia... Ayo ikut aku pulang ke Aceh... Sudah cukup kau menderita di perantauan... Semua laki-laki sama saja... Mereka hanya bisa menyakiti perempuan! Sebagaimana aku juga telah bercerai dari bang Helmi, kau bisa ikut tinggal bersamaku... Kita akan bekerja keras dan menjadi janda kaya" Ucap Maryam menggenggam tangan sahabatnya. Iqlima terdiam. Ia tampak berpikir lalu menggeleng.


"Aku tidak bisa kembali lagi ke Aceh, Mar! Aku trauma dengan kejadian masa lalu... kalau sekedar ke sana mengunjungi mu, putra mu atau ibumu aku siap... Namun untuk menetap, rasa-rasanya aku sudah tidak mampu"


"Selain itu, di sini aku juga kuliah. Aku akan segera menamatkan kuliah ku... Setelah itu aku akan mencari pekerjaan..." Lirih Iqlima.


"Tapi... mengapa kau ada di Jakarta hingga ke kostan ini? " Iqlima menyipitkan matanya.


"Ceritanya panjang. Yang jelas Nyak Agam diculik. Aku mendengar kabar bahwa ternyata bang Helmi membawa kabur putraku ke Jakarta... Aku langsung ke sini. Kemudian mencarimu berniat meminta bantuan... Lalu... "

__ADS_1


Iqlima... Kau tau? Sebenarnya tidak hanya bang Helmi yang kabur dari penjara. Tetapi juga Hilman. Tapi rasanya saat ini tidak tepat menceritakannya padamu. Apalagi dengan kondisimu yang begini...


"Ah... Nanti saja... Masalahmu lebih penting dari masalahku... Karena Alhamdulillah masalahku sudah menemukan titik terang. Lalu, setelah nanti aku kembali ke Aceh kau bagaimana? Kau akan kemana? " Pertanyaan Maryam membuat Iqlima kebingungan. Ia bahkan sulit mencerna kenyataan bahwa Helmi tidak lagi berada di penjara.


Braaaakkkk


Ha?


Tiba-tiba seorang laki-laki membuka paksa pintu kamar kos Maryam. Suara pintu yang terbuka keras membuat mereka terkejut.


"Dimana perempuan bernama Rossa???"


"Apa itu kau, Hah?!" Tanya Laki-laki tersebut menunjuk Iqlima. Jantung Iqlima kini berdetak kencang. Ia ketakutan. Butir-butir keringat sebesar biji jagung mengalir. Maryam bangkit.


"Hei, jangan menunjuk sembarangan! Di sini tidak ada wanita bernama Rosa! Kau laki-laki yang tidak punya sopan santun! Ini tempat ku! Aku sudah membayar kos ini! Jadi pergilah!! "


"Sopan santun? Hahaha! Kau berbicara sopan santun di sarang p*lac*r?? Hahaha..." Laki-laki tersebut tertawa terbahak-bahak. Mendengarnya hati Iqlima teriris iris. Ia yang tadinya ketakutan sontak bangkit.


"Enyah atau kemari kau hadapi aku!!! Dasar pengecut!!! Aku akan membabat habis mulut busukmu!!!" Teriak Iqlima berang. Pupil mata yang membesar tersebut menyala. Ia siap mengambil ancang-ancang. Maryam yang tak kalah terkejut dan tau persis watak sahabatnya tersebut langsung mendekat dan membekap mulut Iqlima.


Bbbpppp Mmmppp Mmppppfff


"Maa... Maaf...In... Ini memang kesalahan kami... Saya mohon pergilah... karena di sini memang tidak ada yang bernama Rosa... " Pinta Maryam pada akhirnya seraya mengatupkan kedua telapak tangannya memohon. Laki-laki tersebut langsung pergi setelah tersenyum meremehkan.


"Maryam, apa yang kau lakukan? Mengapa kau membiarkan nya pergi begitu saja?! Laki-laki kurang ajar itu telah merendahkanmu! Merendahkan kita semua yang ada di tempat ini! Dia harus di hukum! Dia maling yang tidak tau diri!" Protes Iqlima geram. Ia benar-benar sudah melupakan rasa takut nya.


"Ssstttt... Iqlima, dengarkan aku... Tidak bisa dipungkiri... Apa yang dia katakan memang benar adanya! Miris... Tetapi memang begitulah kenyataannya. Aku hanya tidak ingin mencari masalah... Sudah beberapa kali aku hampir dilecehkan karena sikap keras kepalaku... Apalagi kita orang luar, tidak bisa bertindak sembarangan" Bisik Maryam. Iqlima memijat pelipisnya.


"Maryam, kalau begitu ayo kita keluar dari sini! "


"Kita mau kemana? Mau tinggal dimana? Iqlima... Jujur saja aku sudah tidak punya uang lagi" Maryam menundukkan kepalanya.


"Tapi Iqlima... tunggu..."


"Bagaimana jika bang Yahya mencarimu? Bagaimana jika keluarga bang Yahya menemukan mu? "


"Aku tidak mau lagi bertemu bang Yahya. Aku akan ke pengadilan agama dan mengirim surat perceraian! " Sahut Iqlima mengambil kacamata dan cadar nya berniat menyembunyikan identitas.


"Apa mengajukan fasakh ke pengadilan agama ini sesuai syariat? Apa kata ibu mertuamu nanti? " Maryam terlihat khawatir. Iqlima menghela nafas sebelum menjawab.


"Insya Allah. Aku tau apa yang aku lakukan, Mar! " Sahut Iqlima tegas. Mau tidak mau Maryam mengikuti apa yang Iqlima inginkan. Mereka bergegas pergi sebelum malam tiba.


"Maryam, mengapa kartu ATM ku tidak berfungsi?!" Tanya Iqlima panik saat mereka melipir ke mesin ATM yang tidak jauh dari kos-kostan berada.


"Ha? Apa?! Bagaimana bisa?!"


"Seseorang memblokir ATM ku..." Lirih Iqlima lemas. Bola matanya dan bola mata Maryam menyatu.


...****************...


Di dalam kamar rawat inap, Layla mondar mandir menunggu kabar. Ia terus memantau layar handphone nya. Tak jarang ia menggigit-gigiti kukunya yang sebenarnya tak panjang. Layla khawatir kalau-kalau Yahya lebih dulu menemukan Iqlima sedang keberangkatan suaminya ke Amerika masih dua hari lagi.


Drrrrtttt Drrrttttt


Handphone nya berbunyi. Seseorang yang diharapkan menelpon nya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menemukan Iqlima?! " Tanya Layla berbisik.


"Aku belum menemukan nya! "


"Hilman, kau benar-benar tidak becus! " Cerca Layla meninggikan suaranya. Lalu ia tersadar dan melirik ke kanan dan ke kiri. Takut takut ada orang yang mendengar perkataan nya.


"Dasar bodoh! Kau pikir segampang itu?! " Sembur Hilman.


"Ayo lah... Cepat temukan dan bawa dia bersamamu! Kalau perlu kau bawa dia keluar angkasa! Image mu sebagai manipulator ulung dan pria cerdas tentu akan sangat mudah! Mengapa kau jadi lamban begini!" Layla memijat pelipis nya.


"Hei bocah! Tanpa kau suruh pun aku tetap akan mencari kekasihku! Tapi apa kau tau? Arya selalu mengintai dan mengusikku! Hal iItu menjadi penghambat ku dalam bekerja! " Sahut Hilman beralasan. Sebenarnya, sedari tadi ia sudah berdiri di ujung gang menghisap cerutu dan memantau para wanita s*xy berlalu lalang. Hilman menunggu Iqlima dan Maryam keluar dari sana.


"Okay okay... apapun itu... Aku akan menyuruh beliau untuk tidak mengusikmu! Kau orang ku! Kau bekerja untukku! Tapi ingat... Jangan sampai mas Yahya yang lebih dulu menemukan Iqlima!!" Ucap Layla mewanti-wanti.


"Ah, aku tidak yakin... Kau pikir Arya akan mengabulkan keinginanmu? " Hilman tersenyum menyeringai sambil kembali menghisap cerutu dan menggoyang kan kaki.


"Kau tenang saja! Aku tengah mengandung cucunya... Kali ini ia akan mengabulkan keinginan ku! " Ucap Layla yakin.


"Good. Baiklah. Aku akan bekerja maksimal untukku! Ehm... maksudku untukmu..." Ucap Hilman menutup pembicaraan mereka. Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangan.


Mengapa kekasihku keluar lama sekali? Sayang... Cepatlah keluar... Aku sudah tak sabar.... Gumam Hilman membuang cerutu nya.


Di sisi lain, Yahya mengendarai motor besar ikut mencari keberadaan Iqlima. Ia mengunjungi tempat-tempat yang pernah ia dan Iqlima kunjungi. Yahya berharap istrinya segera dapat ditemukan. Namun sayang, jejak Iqlima sama sekali tak ia temukan di sana.


Akhirnya, dengan dada bergemuruh dan penuh rasa khawatir, Yahya memarkirkan motornya di depan kantor polisi. Pemuda tersebut ingin membuat laporan. Dengan cepat ia membuka helmnya.


Puk


Seseorang menepuk pundak nya.


"Gibran? "


"Mengapa Gus Yahya di sini? "


"Aku ingin membuat laporan. Maaf aku buru-buru!" Ucap Yahya acuh.


"Sebentar Gus... Tadi saya melihat istri Gus... Ning Iqlima... " Ucap Gibran seperti memahami gelagat Yahya. Seperti nya ada kejadian yang tidak beres yang terjadi antara pemuda tersebut dan istrinya. Apalagi tadi ia benar-benar melihat Iqlima di jalanan. Yahya sontak menoleh. Ia kembali berjalan mendekat.


"Benarkah?! Dimana kau melihat Iqlima?? Cepat katakanlah!! " Pinta Yahya.


"Aku bertemu jam 3 tadi di perempatan jalan itu!" Tunjuk Gibran ke arah jalan raya.


"Iqlima bersama siapa? Apakah Iqlima seorang diri? Arah tujuannya kemana?! " Lanjut Yahya tak sabar.


"Ning Iqlima bersama seorang wanita. Tadi aku ingin menghampiri untuk menawarkan diri mengantar Ning Iqlima dan temannya. Mungkin mungkin mereka ingin kembali pulang. Namun ternyata, mas Ilyas lebih dulu menghampiri mereka"


"Ilyas? "


"Ya... Mas Ilyas rekan bisnis kita tempo lalu... pemilik yayasan..." Sahut Gibran yakin. Wajah Yahya langsung merah padam. Ia mengambil kembali helm motornya.


"Mereka pergi ke arah mana?! " Tanya Yahya tanpa basa basi. Ia menggigit gigi geraham nya.


"Ke arah timur. Gus Yahya mau saya temani? " Tawar Gibran.


"Apa kau tidak sibuk? Bukankah kau ada keperluan di kantor polisi ini? "

__ADS_1


"Urusanku sudah selesai. Aku hanya membuat SKCK untuk keperluan keberangkatan ke Maroko! " Terang Gibran yang langsung ikut ke motor Yahya. Mereka langsung melesat membelah jalanan raya.


...****************...


__ADS_2