
Ting Tong ...
Suara bel rumah besar Nando berbunyi, Mbok Narti bergegas membukakan pintu rumah itu.
Nando yang akan berangkat keluar dengan Roy nampak terkejut saat melihat siapa yang datang.
Ricky dan Lika bergegas menyusulnya sampai di ruang tamu rumahnya itu.
"Siapa Mbok? Ada tamu ya?" tanya Lika.
"Anu Bu, ada temannya Den Nando!" sahut Mbok Narti.
Seorang wanita cantik berkulit putih dan berambut panjang dan berwajah oriental sudah berdiri di hadapan mereka.
"Vania? Ngapain kau datang ke rumahku?" tanya Nando, wajahnya kelihatan cemas..
"Lho, kok tanyanya begitu Do, suruh duduk kek, apa kek, cuek banget jadi cowok, ayo duduk Nak! Mbok Narti! Tolong buatkan minum buat Vania!" ajak Lika.
Vania teman kampus Nando segera duduk di sofa ruang tamu itu.
"Nando, sudah beberapa hari ini kamu tidak ke kampus, di tanyain sama Bu Dosen, ini aku pinjamkan catatan kuliah beberapa hari!" kata Vania sambil menyodorkan sebuah note book.
Ricky dan Lika saling berpandangan.
"Nando tidak ke kampus? Katanya kemarin ada demo di kampus? Lalu wajah bonyok dan babak belur itu karena apa?" tanya Ricky.
Nando bingung dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang di rasa tidak gatal itu.
"Iya Om, Nando memang tidak masuk beberapa hari, padahal Minggu depan ada ujian!" kata Vania polos.
"Nando! Kau harus menjelaskan ini sama Papa!" seru Ricky.
"Anu Pa, maksud ku, waktu aku berangkat kuliah ada demo di dekat kampus, demi membela kebenaran aku ikut demo, karena aku sudah terlanjur bonyok, jadi aku tidak jadi masuk kelas deh!" sahut Nando asal.
"Hmm, rasanya Papa kok tidak yakin Do, akhir-akhir ini kau aneh! Awas saja kalau Papa menemukan fakta yang lain!" ujar Ricky.
"Sudah deh Pa, jangan pikir aneh-aneh, aku buru-buru nih, ayo Van!" Nando dengan cepat menarik tangan Vania lalu segera menuju ke mobilnya, Roy sudah menunggu di sana.
"Ayo jalan Roy!" titah Nando.
"Siap kapten!" sahut Roy yang langsung melajukan mobilnya keluar dari rumah itu.
"Kita mau kemana sih Do! Kau aneh sekali!" ujar Vania.
"Kebetulan kau datang Van, aku butuh bantuan mu untuk memilihkan pakaian dalam wanita!" sahut Nando. Vania melotot.
"Apa? Pakaian dalam wanita? Tapi untuk siapa Do?" tanya Vania bingung.
"Untuk Ibuku!" sahut Nando asal.
__ADS_1
"Ibumu? Sejak kapan anak laki-laki membelikan pakaian dalam untuk ibunya?!" gumam Vania heran.
"Sejak sekarang lah, sudah jangan banyak tanya, lagi pula kenapa sih datang tidak bilang-bilang dulu, kan kau bisa telepon!" ujar Nando.
"Hmm, telepon katamu? Orang cuek sepertimu mana pernah mengangkat teleponku!" cetus Vania.
"Yah, kau benar juga sih!" sahut Nando.
Tak lama mereka sampai di sebuah mall, mereka langsung masuk ke sebuah toko pakaian wanita. Sementara Roy menunggu di mobil.
Nando mulai mengambil beberapa potong pakaian wanita.
Kemudian dia melirik ke kertas yang di catat oleh Sandra tadi yang dia selipkan di kantongnya.
"Van, tolong pilihkan pakaian dalam. wanita ukuran 38, untuk bra nya Cup-nya cari yang besar!" ujar Nando.
"Nando, apakah itu ukuran ibumu?" tanya Vania.
"Iya!" singkat Nando.
"Sepertinya Ibumu tidak sebesar itu!" gumam Vania.
"Sudah jangan cerewet, kau tinggal pilihkan saja apa susahnya!" sahut Nando.
Vania lalu memilih sesuai dengan apa yang Nando katakan.
"Nando, Minggu depan kau harus ikut ujian, supaya kau bisa cepat lulus juga, jadi kau tak perlu ke kampus lagi, dan bisa fokus memimpin perusahaanmu!" kata Vania yang memang sudah lama mengenal Nando.
"Iya Van, kemarin itu aku sibuk sekali, mudah-mudahan besok aku bisa ke kampus deh!" sahut Nando.
"Pokoknya kau pelajari saja catatan ku, lebih bagus kalau kau menyalinnya, supaya kau bisa ujian Do, belajar dari sekarang!" lanjut Vania.
"Iya Van!" sahut Nando.
"Apa perlu aku ke rumahmu untuk belajar bersama?" tawar Vania.
"Ja-jangan Van, aku bisa belajar sendiri!" kilah Nando.
"Hmm, baiklah, tapi janji kau harus serius belajar!" cetus Vania.
Setelah makan, Nando lalu mengantarkan Vania pulang ke rumahnya, sementara dia juga langsung kembali ke rumah.
****
Ceklek!
Nando membuka pintu kamarnya.
Sandra terlihat duduk di sofa yang menghadap balkon.
__ADS_1
"San, ini aku sudah pilihkan pakaian dan pakaian dalam mu, cepat mandi dan ganti bajumu, aku akan tunggu di sini, setelah itu kau makanlah, aku sudah membelikan kau makanan!" kata Nando.
Sandra menoleh dan tersenyum ke arah Nando.
"Terimakasih Nando!" ucap Sandra.
Kemudian wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Tak lama setelah Sandra selesai mandi, dia lalu makan makanan yang di bawakan Nando.
"Nando, sampai kapan aku akan di sini terus? Anak buah Mami Vero pasti sekarang sedang gencar-gencarnya mencariku!" tanya Sandra.
"Aku juga tidak tau San, sementara kau aman di sini, lagi pula aku sudah bilang kalau aku tidur di kamar kakakku, jadi orang rumah taunya aku di kamar kakakku!" jawab Nando.
"Tapi aku takut Do!" ujar Sandra.
"Sudahlah Sandra, sementara kau di kamar ini saja dulu, sampai aku bisa menemukan cara bagaimana kau bisa bebas dari si germo itu!" sahut Nando.
"Nando, aku berhutang padamu, kau laki-laki yang baik, seumur hidup aku tidak akan pernah melupakanmu!" ucap Sandra.
"San, aku tidak bisa lama di sini, aku harus keluar San, kau jaga dirimu ya, ini kau pakailah ponsel ini, kalau kau butuh apa-apa!" kata Nando sambil menyodorkan sebuah ponsel.
"Terimakasih Do!"
"Ini ponsel bekasku dulu, masih bagus dan berfungsi normal, sudah ada nomorku di dalamnya!" jelas Nando sambil beranjak keluar dari kamar itu.
****
Nando mencoba mempelajari catatan milik Vania, dia juga tidak ingin mengulang mata kuliah di semester ini kalau dia tidak lulus.
Ibunya datang menghampirinya sambil membawakan segelas susu hangat.
"Anak ibu lagi belajar ya, teman mu tadi baik juga ya, Ibu suka!" kata Lika ibunya.
"Vania Bu?" tanya Nando.
"Ya iya lah Vania, memangnya siapa lagi?" sahut Lika.
"Ooh ..."
"Kamu kenalin dong orang tua Vania ke ibu dan Papa, Papa pasti senang dapat calon menantu seperti Vania, cantik, pintar, terpelajar, perhatian lagi sama Nando, sampai di bawakan catatan kuliah segala!" ucap Lika.
"Tapi Bu ..."
"Kamu cepat tembak Vania Do, nanti keburu di gebet orang lagi, Ibu tidak rela!" tambah Lika.
Untuk beberapa saat lamanya Nando terdiam, memikirkan perkataan ibunya, biasanya Nando tidak pernah sekali pun menolak permintaan ibunya yang sangat di sayangnya itu.
****
__ADS_1