
Pagi itu di depan stasiun Kota, di sebuah kedai Bubur ayam yang terlihat sangat ramai, karena Bubur ayam ini terkenal enak dan fenomenal.
Para pelanggan harus sabar mengantri. Roy yang sudah datang setengah jam yang lalu juga nampak dalam barisan antrian.
Begitu juga Mirna, yang tanpa di sadarinya berdiri tidak jauh di belakang Roy.
"Bang bisa cepat tidak? Nanti majikan saya keburu marah!!" seru Roy yang nampak tidak sabar itu.
"Sabar Mas! Yang lain juga masih antri!" sahut sang penjual.
Karena kesal, Roy menyerobot antrian dan maju ke depan.
"Saya bayar dua kali lipat buburnya Bang, asal saya di layani duluan, kasihan majukan saya lagi pengen!" bisik Roy.
Beberapa orang yang mengantri terlihat menyorakinya.
"Huuuu dasar tidak tau aturan! Bisanya main belakang!" cetus salah seorang pembeli.
Mirna baru menyadari kalau di situ ada Roy, dia pun melangkah mendekati Roy.
"Kau bukannya asistennya Nando ya? Kenapa ikut mengantri di sini?" tanya Mirna.
Roy nampak terkejut ketika melihat Mirna yang juga ada di tempat itu.
"Lho, kau juga kenapa ada di sini? Aku di sini karena ingin membeli Bubur pesanan Tuan Nando, dari semalam dia minta aku untuk beli bubur di sini!" sahut Roy.
Mirna sedikit terkesiap mendengar penuturan Roy, Nando juga menginginkan bubur yang sama dengan Sandra.
"Jadi, Nando yang ingin makan bubur ayam ini, aneh!" gumam Mirna.
"Nah kau sendiri beli bubur ayam untuk siapa? Untuk dirimu sendiri atau orang lain?" tanya Roy.
"Untuk Sandra!" jawab Mirna.
Sekarang giliran Roy yang terkejut.
"Apa?? Kenapa bisa kebetulan begini? Apa ini yang di namakan jodoh tersembunyi??" gumam Roy.
"Yah, mungkin itu hal yang wajar karena Sandra ham ..." Mirna langsung menghentikan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan.
"Apa? Sandra Ham apa?? Aku kurang dengar??" tanya Roy.
"Oh ... itu, maksudnya Sandra ... Sandra hampir, hampir ... beli bubur yang tidak enak! Jadi dia minta tolong aku untuk membelikannya di sini!" sahut Mirna agak gugup.
"Oooo ..." Roy membulatkan mulutnya.
__ADS_1
Tiba-tiba sang penjual Bubur sudah menyodorkan bungkusan pesanan bubur Roy.
"Ini buburnya Mas, lain kali budayakan antri ya!" cetus sang penjual bubur.
"Eh Bang, ini teman saya juga tolong di bungkus buburnya!" ujar Roy.
Tak lama kemudian Bubur yang Mirna pesan juga sudah di bungkus dan kini mereka akan beranjak pergi dari tempat itu.
"Kau naik apa? Mau aku antar tidak?" tanya Roy.
Mirna nampak berpikir, jarak dari sini ke kontrakannya lumayan jauh, untuk mencegah bubur menjadi dingin akhirnya dia menganggukan kepalanya dan menerima tawaran Roy.
"Boleh, tapi aku nanti turun di perempatan lampu merah ya, dari situ sudah dekat kok!" sahut Mirna.
"Siap! Ayo naik!" Roy segera masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Mirna.
"Kau dan Sandra tinggal di mana? Aku kaget ternyata kalian bisa selamat dalam kebakaran itu!" tanya Roy.
"Maaf aku tidak bisa memberitahu di mana kami tinggal, yang pasti kami tinggal di kontrakan, dan sekarang kami mulai bekerja dengan halal, walaupun penghasilan pas pasan!" jawab Mirna.
"Kau pasti tau kan ada cinta antara Sandra dan Tuan Nando, mungkin hanya kita yang tau!" ujar Roy.
"Yah, hanya kita ..." sambung Mirna.
Tak lama mereka sudah sampai di perempatan, Mirna bersiap akan turun.
"Iya Mir, kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Roy.
"Aku tidak tau, tunggu saja takdir yang mempertemukan kita!" sahut Mirna yang langsung berbalik dan berjalan cepat memasuki sebuah gang.
Roy hanya terpana melihat kepergian Mirna.
****
Siang ini setelah cek out dari hotel, Nando dan Vania langsung meluncur ke rumah baru mereka yang sudah di persiapkan Ricky.
Sekarang wajah Nando sudah tidak terlalu pucat lagi, perutnya juga sudah enakan saat dia menyantap bubur yang dari semalam dia inginkan.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di sebuah rumah mewah yang ada di dalam perumahan elit di tengah kota Jakarta.
Rumah dengan desain terbaru yang nampak asri dan elegan, rumah yang belum lama di pugar, kini rumah itu terlihat begitu besar dan megah, lengkap dengan sebuah kolam renang yang berada di samping rumah itu.
Vania nampak terkesiap saat berada di rumah baru itu.
"Nando, benarkah ini rumah kita?" tanya Vania tak percaya.
__ADS_1
"Iya Van, ini rumah hadiah pemberian dari Papa dan Ibu!" jawab Nando.
"Wah, bagus sekali, bahkan rumahku saja tidak sebesar rumah ini, bolehkah aku ajak Mama tinggal di sini Nando? Kasihan Mama sekarang sendirian!" tanya Vania.
"Tentu saja Van, ajaklah Mama tinggal di sini, lagi pula di rumah ini juga banyak kamar yang kosong!" jawab Nando.
Vania langsung memeluk Nando dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
"Terimakasih Nando, kau sangat baik, aku sangat bahagia!" ucap Vania terharu.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah itu. Seorang wanita paruh baya dan seorang laki-laki paruh baya datang menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya muda ... saya Mbok Karsih, dan ini Pak Tejo suami saya, saya dan suami akan bekerja melayani Tuan dan Nyonya di rumah ini!" ucap wanita yang bernama Mbok Karsih itu.
"Terimakasih Mbok!" ucap Nando.
Mereka kemudian mulai naik ke kamar mereka yang sangat luar dan indah itu.
"Nando ..."
"Iya Van ..."
"Aku sangat bahagia, kelak rumah ini akan ramai di penuhi oleh anak-anak kita, Nando ingin punya anak berapa?" tanya Vania sambil bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"Hmm, berapa ya? Terserah Tuhan mau kasih anak berapa saja!" sahut Nando.
"Oh so sweet sekali Nando ku, aku makin sayang padamu, aku janji akan menjadi istri yang baik, setia dan selalu ada untukmu!" ucap Vania.
"Terimakasih Van!" balas Nando.
"Nando, aku sangat lelah, ingin sekali tidur di ranjang empuk ini!" ujar Vania.
"Kau beristirahatlah Van, aku mau turun sebentar menemui Roy, mulai sekarang dia akan tinggal di sini bersama kita!" ucap Nando.
"Iya sayang, turunlah, aku menunggumu di sini!" balas Vania.
Nando lalu segera keluar dari kamarnya, lalu dia turun dan berjalan ke arah garasi mobil, Roy nampak sedang mengelap mobil.
"Roy, kamarmu sudah Papa siapkan, kau boleh taruh barangnya di sana!" titah Nando.
"Siyap Tuan, Oya Tuan, tadi saya ketemu si Mirna lho, temannya si Sandra!" ujar Roy.
"Roy, aku memang ingin sekali bertemu Sandra, rasanya begitu rindu hati ini, tapi aku akan berdosa terhadap Vania yang tidak tau apa-apa, sekarang dia istriku, aku akan belajar mencintainya dan setia padanya, dan belajar melupakan Sandra!" ucap Nando.
Roy hanya mendengarkan ucapan Nando dengan termangu sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
****