Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Operasi Vania


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Vania akan menjalankan operasi pengangkatan rahim.


Semua keluarga besar nampak berkumpul di depan ruang operasi, Nando, kedua orang tua Nando, Tante Rina dan juga Roy.


Mereka menunggu di depan ruang operasi yang kini nampak menyala lampunya itu.


Wajah mereka semua terlihat tegang, Tante Rina tidak henti-hentinya menyeka wajahnya yang selalu menggenang air mata.


Sementara Nando yang terlihat kelelahan karena sudah berapa lamanya menunggui Vania duduk dengan lunglai dengan mata yang mulai terlihat cekung.


Perlahan Lika ibunya mendekati Nando, wanita ini merasa sangat prihatin dengan sedih melihat kondisi putranya itu, terbersit penyesalan karena Lika yang telah meminta Nando untuk cepat menikahi Vania.


"Nando, wajahmu terlihat pucat dan lesu, kita makan dulu ya?" tawar Lika sambil mengelus bahu Nando.


"Tidak usah Bu, aku tidak lapar!" sahut Nando.


"Walaupun tidak lapar, tapi kau harus tetap makan, nanti kau sendiri yang malah drop!" ujar Lika.


"Baiklah Bu!" sahut Nando. Ricky Papanya juga beringsut mendekati Nando.


"Nando, kau uruslah dirimu sendiri, sambil menunggu istrimu di operasi, lebih baik kau pulang, cukur wajahmu yang mulai berkumis dan berjenggot itu, juga rambutmu yang terlihat tambah gondrong!" titah Ricky.


"Baik Pa!" sahut Nando yang langsung berdiri dari tempatnya.


"Roy! Antar aku pulang sekarang!" ujar Nando.


"Siaap Tuan!" sahut Roy.


Nando kemudian mendekati Tante Rina untuk pamit.


"Mama, aku ijin pulang sebentar, Papa menyuruhku pulang untuk mengurus diriku, aku juga ingin makan!" pamit Nando.


"Iya Nando, tapi kau harus cepat kembali,Vania membutuhkanmu!" sahut Tante Rina.


"Tidak apa-apa Nando pulang sebentar Jeng Rina, kasihan dia, sampai dirinya tidak terurus begitu, dia kan juga butuh istirahat dan makan!" ujar Lika.


Nando akhirnya berjalan menyusuri koridor menuju ke parkiran bersama dengan Roy.


Di depan gerbang rumah sakit seorang tukang parkir mengatur mobil yang keluar masuk.


Saat mobil Nando akan keluar dari gerbang, Nando nampak terkejut melihat tukang parkir itu.


"Pak Wiryo??" Pekik Nando tertahan.


Pak Wiryo yang kini jadi tukang parkir tak kalah terkejutnya melihat Nando.


"Hei anak muda! Apakah kau tau di mana Sandra?? Beri tahu aku!!" seru Pak Wiryo dari luar jendela mobil.

__ADS_1


"Maaf Pak!! Urusan kita sudah selesai, sebaiknya kau tekuni pekerjaan halal mu ini! Jangan ganggu Sandra lagi!" sahut Nando sambil menutup jendela mobilnya.


Kemudian Roy langsung melajukan mobilnya cepat menuju arah pulang ke rumah.


Pak Wiryo nampak ingin mengejar, namun apa daya mobil Nando langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu.


"Huh!! Masih hidup ternyata orang itu! Saya kira sudah ko'it!!" sungut Roy.


"Jelas masih hidup lah dia, yang kebakaran itu kan rumah prostitusi Mami Vero, Pak Wiryo kan tidak tinggal di situ!!" sahut Nando.


"Duh kalau sampai orang itu ketemu si Sandra, kasihan betul si Sandra, bisa-bisa Sandra akan di jual lagi dengan Ayah biadab itu!" ujar Roy.


"Tak akan ku biarkan!" cetus Nando.


"Ciyee Tuan, masih aja perhatian sama si ehm ehm!" Goda Roy.


"Diam kau! Jangan memancingku lagi!" sahut Nando gusar.


"Ikan kali di pancing, Tuan ini bisa saja bercandanya!"


"Aku tidak bercanda Roy!! Tapi bisakah kau diam sejenak?!! Kepalaku pusing!!" cetus Nando.


"Iya iya, jangan pakai sewot juga kali, nanti cepat keriput dan saya yang akan lebih ganteng dari pada Tuan!" jawab Roy.


"Diaaammm!!!"


****


Sebentar lagi Sandra akan memposting pakaiannya di akun media sosialnya.


Terdengar suara mobil yang memasuki parkiran rumah itu.


Nando dan Roy nampak turun dari mobil yang sudah terparkir itu. Mereka kemudian langsung masuk ke dalam rumah.


"Tuan sudah pulang? Makan siang sudah siap di meja makan Tuan!" sapa Mbok Karsih yang sedang mengepel lantai.


Pak Tejo nampak sedang menggunting rumput di depan.


"Iya Mbok, nanti aku langsung ke meja makan!" sahut Nando.


"Mbok Karsih? Neng Mirna mana?" tanya Roy.


"Tadi sih pamitnya mau ke minimarket sebentar, nanti juga balik!" sahut Mbok Karsih.


"Oke deh, aku tunggu di depan ah ... kangen pisan euy!!" ujar Roy yang langsung ngeluyur ke depan.


Sementara Nando terlihat makan dengan lahapnya di meja makan.

__ADS_1


Selama di rumah sakit Nando nyaris kehilangan selera makannya, bau obat-obatan dan suasana rumah sakit membuat Nando tak berselera makan.


Setelah makan dengan kenyang, Nando kemudian segera naik ke atas menuju ke kamarnya, dia mulai mandi dan membersihkan dirinya, mencukur semua bulu-bulu halus yang kini mulai nampak di wajahnya.


Setelah semuanya rapi dan selesai, Nando mulai menghempaskan tubuh penatnya di tempat tidurnya yang empuk itu.


Rasanya begitu nyaman setelah berapa waktu lamanya dia nyaris tak bisa tidur nyenyak dan nyaman di rumah sakit.


"Mbak Sandra, bisa minta tolong kau atau Mirna jemur kan pakaian di laundry atas? Ini pakaian kotor dari rumah sakit yang baru selesai aku cuci, tolong ya Mbak, lagi tanggung soalnya masakan ku!" pinta Mbok Karsih.


"Iya Mbok!" sahut Sandra.


Sejak tadi Mirna belum balik juga dari minimarket. Akhirnya Sandra naik ke atas lalu berjalan ke arah laundry untuk menjemukan pakaian.


Setelah Sandra menyelesaikan jemurannya, dia berniat akan kembali turun, namun tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang.


Sandra terkejut dan langsung membalikan tubuhnya.


"Nando??!" pekik Sandra kaget. Dia tidak tau kalau Nando akan pulang ke rumah dan sedang ada di kamarnya.


"Sandra, bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar bayi kita?" tanya Nando.


Sandra mundur sambil mengurai pelukan Nando.


"Nando, istrimu sedang di operasi di rumah sakit, tidak sepatutnya kau seperti ini padaku!" ujar Sandra.


"Maafkan aku Sandra, aku hampir tidak bisa menguasai diriku, aku ... aku hanya rindu pada dia, anakku!" ucap Nando lirih.


Sandra terdiam, sebenarnya dia sangat ingin memeluk laki-laki itu, ayah kandung dari calon bayinya itu. Namun pikiran logis menguasainya, walau bagaimana, Nando bukan miliknya.


"Tidak Nando, jangan mendekat, kita bukan siapa-siapa, jangan membuat kesalahan lagi, sudah cukup!" seru Sandra sambil meneteskan air matanya.


"Jangan bohongi dirimu San, akuilah kalau kau sebenarnya sama denganku, kita saling merindukan satu sama lain, walaupun kau menyangkalnya!" ujar Nando.


"Tidak, kau suami Vania, tidak pantas bicara begitu, maaf!" Sandra mendorong lembut dada Nando lalu segera melangkah pergi.


Namun dengan cepat Nando mendahuluinya dan berlutut di depan Sandra, kemudian perlahan Nando mengelus perut Sandra yang membuncit itu.


"Maafkan Papa Nak, maafkan Papa ... Papa ingin sekali mengelusmu setiap saat, sambil membisikan kata-kata cinta untukmu dan Mamamu ... tapi ... kenapa semua itu hanya ada dalam mimpi Papa! Kenapa semesta seolah tidak membiarkan kita bertiga bahagia!" ucap Nando yang matanya terlihat mulai memerah.


Nando kemudian mengecup perut Sandra. Saat itulah genangan air yang ada di pelupuk mata Sandra tumpah seketika.


Bersambung ...


****


Halo guys ... jangan lupa dukung author ya...

__ADS_1


Kisah ini akan berakhir happy ending lho ...😁😉


__ADS_2