Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Kegalauan Hati


__ADS_3

Sandra yang sedang mengelap etalase dan menyusun pakaian di gantungan display terkejut saat Vania memeluknya dari belakang.


"San, aku bahagia, sangat bahagia!" ucap Vania.


"Bahagia kenapa? Tiba-tiba kau datang langsung memelukku!" tanya Sandra.


"Nando, dia mau melamarku San, sebentar lagi aku di lamar oleh Nando, dia sendiri yang mengatakannya di depan semua orang!" jawab Vania dengan mata berbinar.


Sejenak Sandra tertegun mendengar ucapan Vania, dia kemudian membalikan tubuhnya menghadap ke arah Vania.


"Oya? Benarkah?" tanya Sandra.


"Iya San, aku juga tidak percaya kalau aku tidak mendengar langsung dari mulutnya sendiri, aku bahagia San, selama ini impianku hanya Nando, seluruh hati dan jiwaku hanya ada dia seorang!" jawab Vania.


"Van, aku turut berbahagia untukmu, selamat ya ..." Sandra mengulurkan tangannya sebagai tanda ucapan selamat. Vania menyambitnya.


"Terimakasih San, selain Nando, kau adalah sahabatku yang paling aku sayang, tetaplah menjadi sahabatku Sandra!" ucap Vania.


"Ya, aku juga sayang padamu Vania, kau dan Tante Rina sudah memberikan aku banyak cinta dan kasih sayang!" balas Sandra.


Ada air mata yang menetes di pipi Sandra, dia tak dapat lagi membendung perasaannya, entah perasaan apa namanya, namun dia juga tidak bisa menahan agar air matanya tidak tumpah.


"Hei Sandra! Kenapa kau menangis?" tanya Vania.


"Aku ... aku terharu Van, akhirnya kau bisa mendapatkan juga cintamu itu, jagalah cintamu pada Nando ya, berikan dia kebahagiaan!" ucap Sandra sambil menyeka wajahnya yang basah.


"Pasti San, aku akan mencintainya dengan sepenuh hatiku, kau tenang saja, aku juga berdoa untukmu, agar kau bisa menemukan jodoh yang sepadan denganmu, dan pastinya sangat mencintaimu!" bisik Vania.


****


Malam itu, sehabis menemani Ibunya di rumah sakit, Nando terus mengajak Roy berjalan mengelilingi kota.


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, namun Nando sepertinya belum berniat akan pulang ke rumahnya.


"Kita mau kemana sih Tuan? Pusing kepala saya dari tadi hanya jalan putar-putar!' sungut Roy.

__ADS_1


"Roy, kita ke klub sekarang!" sahut Nando.


"Apa?? Ke Klub? Tuan mau apa di sana? Aduuuh, nanti kalau Tuan besar tau, dia bisa ngamuk Tuan, tempat itu kan paling di larang oleh Tuan besar!" ujar Roy.


"Aku hanya butuh minuman untuk melupakan sejenak masalahku! Aku pusing Roy!" seru Nando.


"Tuan pusing kenapa sih? Uang banyak, muka ganteng, masih saja pusing, bagaimana saya??" sahut Roy.


"Ibu Roy, aku tidak bisa menolak keinginan Ibu untuk menikahi Vania, saat Ibuku sedang sakit seperti sekarang, mana mungkin aku melukai hatinya!" ucap Nando, dia menjambak rambutnya frustasi.


"Huh! Tuan ini bagaimana sih, Vania itu sudah cantik, baik, masih perawan lagi, apa yang kurang dari Vania?" tanya Roy.


"Tidak ada Roy, tidak ada yang kurang dari Vania, dia sangat baik, lembut dan perhatian!" sahut Nando.


"Tapi kenapa Tuan jadi galau? Harusnya Tuan senang dong!" ujar Roy.


"Sandra Roy, Sandra! Di hatiku hanya ada Sandra! Sandra yang bahkan tidak di lihat dan diakui keberadaannya, tapi aku dengan jelas melihatnya, melihat lukanya, melihat air matanya ... aku tau, Sandra tidak akan mungkin bisa di terima di tengah keluargaku yang sangat terhormat itu!" ungkap Nando.


"Ya Tuhan ... Tuanku Nando sudah terjerat cinta si kupu-kupu malam, bagaimana ini?" gumam Roy bingung.


Mereka kemudian sudah sampai di sebuah klub yang cukup besar di kota itu, Roy menemani Nando masuk ke dalam, terdengar suara musik yang bingar bingar, dengan Kilauan lampu berwarna warni, beberapa orang mulai menari-nari.


Sudah beberapa botol minuman habis di tenggak oleh Nando, mata Nando mulai memerah, suaranya sudah terdengar parau.


"Stop Tuan! Jangan minum lagi! Saya tidak kuat mengangkat Tuan kalau mabuk!" sergah Roy.


"Sandra ... aku sayang padamu San! Kenapa takdir begitu kejam, kenapa jalan kita begitu sulit? Kenapa San?" Nando tiba-tiba meracau. Roy mulai bingung.


"Tuan, ayo kita pulang saja, mau jadi apa Tuan lama-lama di sini? Nanti Tuan overdosis, saya yang di penjara!" ujar Roy.


Nando terlihat sudah benar-benar mabuk dan berada di bawah pengaruh alkohol.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Roy segera memapah Nando keluar dari klub itu.


"Roy ... kita mau kemana ... aku tidak Mau pulang, ayo kembali Roy!" ujar Nando dengan suara paraunya.

__ADS_1


"Tidak Tuan, kali ini saya tidak akan menuruti Tuan, ayo kita pulang!" sahut Roy. Dia berusaha memapah tubuh Nando yang tinggi besar itu dengan susah payah.


Namun Nando yang sudah kehilangan keseimbangannya malah jatuh tersungkur di depan klub.


"Aduuuh Nih Tuan nyusahin saja deh jadi orang, pake segala mabuk lagi, kalau saya jadi Tuan, saya tidak akan galau Tuan, saya malah akan poligami, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui!" seloroh Roy.


Roy yang bingung akhirnya mengambil ponsel Nando, berniat akan memberitahu Sandra, karena tidak mungkin dia memberi tahu Vania, apalagi Ibunya Nando sedang sakit.


"Halo ..."


"Halo Sandra, ini Roy, bisa tidak kesini? Ke klub Bintang, Tuan Nando lagi mabuk berat, tidak mungkin saya bawa dia pulang ke rumahnya, kasihan ibunya lagi di rawat di rumah sakit!" ujar Roy.


"Apa? Nando mabuk? Ada apa dengannya? Kalian tunggu di situ ya, aku akan naik taksi ke sana!" sahut Sandra dengan nada cemas.


"Di Klub Bintang ya, jangan nyasar Lho!" ujar Roy.


Sekitar 20 menit menunggu akhirnya nampak sebuah taksi yang Sandra tumpangi datang dan terlihat Sandra turun dari dalam taksi tersebut.


Dia memakai jaket dan masker di wajahnya, takut kalau ada orang yang mengenalinya.


Sandra langsung menghampiri Roy yang masih duduk sambil memangku kepala Nando yang terbaring.


"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" tanya Sandra cemas.


"Entahlah, sejak dia bilang mau menikah dengan Vania, dia malah mengajak saya ke tempat ini, dia terlalu banyak minum, entah sudah berapa botol yang di tenggaknya!" jelas Roy.


"Lalu, dia akan di bawa kemana malam ini?" tanya Sandra.


"Tidak tau, saya tidak mungkin membawa dia pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini!" sahut Roy.


Sandra melirik jam yang melingkar di tangannya. waktu sudah menunjukan jam 1 dinihari.


"Sementara kita bawa dia ke hotel terdekat, besok setelah dia bangun dan sadar, baru kau bawa pulang ke rumahnya!" usul Sandra.


"Oke, itu ide yang bagus, tapi kau temani dia di hotel, dari pada saya tidak bisa tidur karena dia terus meracau, lebih baik saya tidur di mobil saja!" ujar Roy.

__ADS_1


Mereka kemudian berusaha memapah Nando untuk masuk ke dalam mobilnya.


****


__ADS_2