
Sandra duduk di sisi tempat tidur setelah dia selesai menyusui Kia.
Bayi mungil itu kini nampak tertidur setelah kenyang menyusu.
Sekilas Sandra melirik ke jam dinding yang terpasang di dinding kamar itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, padahal Nando pergi sudah sejak jam 4 sore tadi. Sandra mulai gelisah.
perut Sandra sudah mulai keroncongan karena lapar, dia lalu beranjak ke dapur, mencari sesuatu yang dapat di makannya, hingga Sandra menemukan mie instan yang ada di lemari dapur itu.
Tanpa berpikir lagi Sandra langsung memasak mie instan itu, sekedar untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Ting .... Tong ...
Baru saja Sandra selesai membuat mie instan, tiba-tiba bel di pintu apartemen itu berbunyi.
Cepat-cepat Sandra membuka pintu apartemen itu, Nando sudah berdiri di depan pintu sambil membawa bungkusan ayam bakar pesanan Sandra.
"Nando?? Kau baru pulang? Lama sekali!" cetus Sandra.
"Maafkan aku San, jalanan macet sekali!" sahut Nando sambil mengehmpaskan tubuhnya di sofa ruang tamu itu.
"Aku baru saja selesai masak mie instan, tuh mie nya belum di makan!" ujar Sandra yang langsung mengambil piring dan membawanya ke meja depan.
"San, kau makanlah ayam bakarnya, jangan makan mie instan! Sayang San, aku beli dua ekor lho!" kata Nando.
Sandra langsung menyantap ayam bakar yang di bawakan Nando karena dia memang sudah sangat lapar, Nando hanya duduk termangu memandangi Sandra yang lahap makan itu.
"Lho, kenapa kau bengong Do? Ayo makan! Kau juga pasti belum makan kan?!" kata Sandra sambil menyodorkan piring makan ke arah Nando.
Nando akhirnya juga menyantap ayam bakar yang dia beli itu, walaupun tidak seantusias Sandra.
"Kau kenapa sih Do? Pulang-pulang bengong kayak sapi ompong gitu!" tanya Sandra.
"Tadi aku ketemu Vania San!" jawab Nando.
"Apa?? Benarkah? Kau ketemu di mana?" tanya Sandra beruntun.
"Di depan kedai penjual ayam bakar, dia pingsan di pinggir jalan, mana keserempet mobil pula, kakinya luka!" jelas Nando.
"Ya ampun Vania, kasihan sekali dia! Apa dia sendirian Do?" tanya Sandra. Nando menganggukkan kepalanya.
"Kasihan Vania, sekarang dia sendirian, seandainya dia masih jadi istrimu, tentunya dia tidak akan sendirian seperti itu, di tambah lagi Mamanya kini tidak ada di sampingnya!" gumam Sandra.
"Iya sih, kasihan Vania, aku paling tidak tahan melihat orang yang kasihan!" tambah Nando.
"Do, kalau kau mau rujuk sama Vania, aku ikhlas!" ucap Sandra tiba-tiba.
__ADS_1
Nando membulatkan matanya.
"Bodoh!!" sungut Nando. Dia langsung menaruh piring makannya yang belum selesai ke atas meja.
"Do, maksudku itu ..."
"Cukup! Aku ngantuk mau tidur!" cetus Nando yang langsung beranjak dari situ dan pergi ke kamarnya, kemudian dia langsung berbaring di samping Kia.
Sandra terhenyak melihat sikap Nando yang berbeda dari biasanya, malam ini Nando terlihat begitu sensitif.
Setelah membereskan makanan yang di atas meja, Sandra lalu menyusul Nando ke kamarnya.
"Nando, kau marah?" tanya Sandra.
"Kau pikir, segala sesuatu bisa di selesaikan hanya dengan menikah?? Kau pikir aku ini barang yang bisa di tukar dan di lempar seenaknya!!" sengit Nando.
Sandra terdiam, baru kali ini Nando terlihat sangat marah dan tersinggung hanya karena Sandra mengatakan hal seperti itu.
"Maafkan aku Nando!" ucap Sandra tertunduk.
"Apa kau tidak sayang padaku? Sehingga kau tega menyuruhku untuk rujuk dengan Vania??" tanya Nando dengan mata memerah.
"Do, aku cuma kasihan pada Vania, sama seperti kau juga kasihan padanya!" sahut Sandra.
"Kau kasihan pada Vania, tapi tidak kasihan padaku!' cetus Nando.
Sandra hanya menarik nafas panjang, kemudian dia segera menyusul berbaring di samping Kia yang terlihat masih nyenyak tertidur.
****
Pagi datang menjelang, Sandra mengerjapkan matanya saat sinar mentari pagi sudah masuk dari celah jendela apartemen itu.
Nando masih nampak tertidur, sementara Kia sudah terbangun, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, bayi mungil yang kini montok itu menggerak-gerakan tangan dan kakinya.
"Dih anak Mama sudah bangun, Kia pinter ya tidak menangis, anak Papa Nando memang hebat!" ucap Sandra sambil mengelus pipi bayinya itu.
Subuh tadi Sandra sudah sempat menyusui Kia, jadi pagi ini Kia bangun kembali dengan lincah dan segar tanpa menangis lagi.
Kemudian Sandra mulai menyentuh bahu Nando yang membelakanginya.
"Nando, bangun Do sudah siang, masuk kantor tidak pagi ini?" tanya Sandra.
Nando tetap tak bergeming.
"Nando, kau masih ngambek soal semalam? Aku kan sudah minta maaf, jangan ngambek terus dong, tidak enak tau di cuekin!" ujar Sandra.
Perlahan Nando membalikan tubuhnya, matanya terlihat merah karena masih mengantuk.
__ADS_1
"Maafin aku ya Do, jangan ngambek lagi dong!" bisik Sandra sambil mencium pipi Nando.
"Asal kau janji tidak mengatakan hal itu lagi, itu sama saja kau menyakiti hatiku tau!" cetus Nando.
"Iya iya, aku janji deh, maafin aku ya, sekarang ayo dong senyum, tuh lihat, Kia saja sudah senyum dari tadi!" kata Sandra.
Nando kemudian mengelus pipi Kia lalu menciumi wajahnya.
"Kia, hari ini Papa tidak masuk kantor deh, mau di sini saja bermain sama Kia dan Mama Kia!" ucap Nando.
"Lah, jangan dong, kasihan nanti kantornya jadi apa kalau di bolosin terus!" sahut Sandra.
"Malas ah!" sahut Nando.
"Do, kan Papa Ricky dan Bang Jo pernah bilang, kau harus fokus mengurus perusahaanmu, jangan di tinggal terus dong!" ujar Sandra.
"Iya iya, aku ke kantor sekarang, puas!!" cetus Nando.
Sandra tertawa sambil mencubit gemas pipi Nando.
"Sudah sana mandi duluan! Aku akan siapkan sarapan untukmu, ayam bakar yang semalam masih utuh di kulkas, aku panaskan ya!" kata Sandra yang langsung beranjak dari tidurnya dan langsung menuju ke dapur.
Dengan malas Nando lalu menyambar handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Nando sudah mandi dan kini hendak berpakaian, aroma ayam bakar tercium nikmat di indra penciuman nya.
"San! Tolong ambilkan sarapan ku sekarang! Aku lapar!" seru Nando.
"Siap sayang!" sahut Sandra.
Telolet ... telolet ...
Terdengar suara ponsel Nando, dia langsung meraih ponselnya, dan mengusap layar ponselnya itu.
"Halo!"
"Halo, ini dengan Tuan Nando kan, saya Mumun pembantunya Non Vania, maaf, saya melihat ada nomor ini di ponsel Non Vania, sekarang dia sedang kesakitan perutnya, bisakah tolong bawa Non Vania ke rumah sakit? Kasihan dia Tuan!" kata Mumun.
Nando tertegun mendengar kabar dari Mumun, sekilas dia melirik ke arah Sandra yang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
"Maaf, coba kau cari nama Adi di ponsel Vania, kalau ketemu kau boleh menghubungi dia untuk membawa Vania ke rumah sakit!" kata Nando.
"Maaf Tuan, saya sudah cari-cari nama yang lain, nama laki-laki di ponsel Non Vania hanya ada nama Nando, tidak ada nama Adi!" jawab Mumun.
Bersambung ...
****
__ADS_1