Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Sikap Vania


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang kerumah, Nando dan Vania saling diam dengan pikirannya masing-masing.


Nando juga enggan menanyakan apa-apa, walaupun tadi Nando melihat Vania bersama dengan Adi, padahal Vania adalah istrinya.


Sementara Vania hanya menunggu Nando menanyakan tentang Adi, laki-laki yang baru di kenalnya dan yang menemaninya sepanjang hari ini.


Matahari mulai gelap, jalanan semakin padat merayap, membuat perjalanan pulang ke rumah terasa sangat panjang.


"Nando ..."


"Iya Van?!"


"Kamu tidak mau tau siapa itu Adi?" tanya Vania.


"Kan tadi sudah di bilang, kalau dia itu teman barumu kan?" ujar Nando.


"Do, kau tidak marah sedikitpun?" tanya Vania.


"Marah? Aku hanya bingung kenapa kau pergi tidak pamit Mama, Mama sampai menangis karena mencemaskan mu! Seharusnya kau pamit dulu pada Mama!" jawab Nando.


"Jadi, semuanya hanya karena Mama? Bukan karena kau mengkhawatirkan aku?!" tanya Vania sambil menoleh ke arah Nando.


"Yah, aku juga mencemaskan mu, takut kalau sakit mu kambuh sewaktu-waktu!" sahut Nando.


"Keterlaluan!" gumam Vania.


"Kenapa? Kau marah padaku?" tanya Nando polos.


"Apa kau tidak marah aku jalan dengan laki-laki lain!!" sengit Vania dengan suara tinggi.


Nando baru sadar apa yang Vania maksudkan.


"Oh, maafkan aku Vania, aku sangat percaya padamu kalau kau bisa menjaga dirimu sendiri!" ucap Nando.


Setelah mereka sampai di rumah, Vania langsung turun dan masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.


"Vania tunggu!" panggil Nando.


Namun Vania segera beranjak menuju ke kamarnya tanpa memperdulikan teriakan Nando.


Tante Rina nampak senang akhirnya Vania kembali, tapi dia juga sedih atas perubahan sikap Vania belakangan ini.


"Nando!" panggil Tante Rina.


"Iya Ma!" sahut Nando.


"Di mana kau tadi menemukan Vania?" tanya Tante Rina.

__ADS_1


"Di Ancol Ma, sama teman barunya!" jawab Nando.


"Teman baru? Sejak kapan Vania punya teman baru?" gumam Tante Rina.


"Mereka habis jalan-jalan dan makan bersama Ma!" lanjut Nando.


"Lalu, kau tidak marah??" tanya Tante Rina. Nando menggelengkan kepalanya.


"Bodoh!! Apa kau belum mengerti juga?? Vania pergi karena ingin mencari perhatianmu!! Maka nya kau marah kek! Cemburu kek! Apa kek! Bikin istri senang susah banget!!" sengit Tante Rina.


Nando hanya termangu sambil berpikir maksud perkataan Tante Rina itu.


"Kok malah bengong? Ayo susul istrimu ke kamar!! Dasar laki-laki tidak peka!" sungut Tante Rina.


Nando lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke kamarnya.


Vania napak baru keluar dari kamar mandi dan masih memakai handuk di kepalanya.


Kemudian dia duduk di depan meja rias dan memoles wajahnya, tanpa memperdulikan Nando yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Van, kau kenal Adi dari mana?" tanya Nando.


"Memangnya apa perdulimu aku kenal Adi di mana!" sahut Vania cuek.


"Van, maafkan aku, bukannya aku tidak mencemaskan mu, tapi ...."


Nando hanya termangu melihat sikap Vania yang berbeda dari biasanya, Vania yang dulu selalu manja dan lembut kini berubah menjadi dingin dan cuek.


Sebenarnya Nando tidak masalah Vania berubah, tapi dia tidak ingin perubahan sikap Vania akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri.


Nando kemudian juga berbaring di samping Vania, diankiga merasa lelah setelah berputar-putar mencari Vania.


"Van, aku juga ingin kau mendapat teman orang baik-baik, setidaknya jikalau kau cerita, aku akan mendengarkanmu!" ucap Nando yang tau kalau Vania belum tertidur.


"Untuk apa aku cerita padamu Do? Kau urus saja kehidupan barumu, bukankah kau senang jika aku membebaskan mu, bahkan jikalau kau tidak pulang sekalipun, aku sudah tak perduli lagi!" cetus Vania.


"Vania, bukan seperti ini yang aku inginkan!" tukas Nando.


"Lalu kau mau apa??" Vania berbalik arah menghadap Nando, matanya mulai kembali basah.


"Vania ..."


"Kau ingin aku menggugat cerai darimu begitu?? Atau kau ingin aku bisa berdamai dan akur dengan maduku??Sementara sejak dia kembali


sekalipun aku belum pernah melihatnya!" ungkap Vania.


"Vania, kau sedang tidak stabil, istirahatlah!" ujar Nando.

__ADS_1


"Aku tau kau pria yang baik dan bertanggung jawab, aku tau sampai kapanpun kau tidak akan menceraikan aku, tapi batinku tersiksa Do!" kata Vania yang mulai terisak.


Nando sangat paham apa yang di rasakan oleh Vania, namun dia tidak bisa berpura-pura untuk perduli dan khawatir tentangnya, Nando bisa melakukan apapun untuk Vania, tapi tidak dengan memberikan hatinya.


Nando diam saja tanpa menyanggah lagi ucapan Vania, dia tau semakin menjawab maka pembicaraan akan semakin panjang dan tak ada akhirnya.


Drrt ... Drrrt ... Drrrt


Ponsel Nando bergetar, ada panggilan dari Sandra, demi menjaga perasaan Vania, Nando mengabaikannya.


"Kenapa tidak kau angkat? Bukankah itu dari istrimu yang paling kau cintai??" tanya Sandra.


"Aku sedang tidak ingin mengangkat telepon!" jawab Nando.


Ponsel Nando kembali bergetar, kali ini Lika yang meneleponnya, perlahan Nando mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Ibu ..."


"Halo Do, kau ini bagaimana sih, masa Sandra telepon tidak di angkat?!" cetus Lika ibunya.


"Ada apa Bu?" tanya Nando.


"Kia Do, Kia hilang di stroller bayi saat di ajak jalan-jalan di taman komplek!" ujar Lika.


Nando terkejut dan membulatkan matanya.


"Apa?? Kia hilang?? Kenapa bisa hilang!? Siapa yang mengajaknya jalan??" tanya Nando beruntun.


"Cepatlah kau kesini Nak, Sandra sejak tadi menangis terus karena Kia hilang, ayo Do, jangan buang-buang waktu!" jawab Lika.


"Baik Bu, aku akan ke sana sekarang juga!" sahut Nando sebelum menutup teleponnya.


Nando langsung berdiri dan menyambar jaketnya.


Dia kemudian menoleh ke arah Vania.


"Van, Anakku hilang, aku mau mencarinya, kau jaga diri baik-baik ya!" pamit Nando.


Vania hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Nando langsung melesat meninggalkan kamarnya dan berlari ke luar rumah dan tanpa menoleh lagi dia segera naik ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya.


Roy dan Pak Tejo yang sedang duduk di dekat parkiran heran melihat Nando yang pergi seorang diri.


"Itu mau kemana Tuan Nando??" tanya Pak Tejo.


"Tau Pak, sudah kayak kebakaran jenggot saja!" sahut Roy.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2